Kekuatan Kenangan Cinta Pertama

Date November 18, 2007

Bagi orang yang melankolis, percaya atau tidak, kenangan akan cinta pertama begitu membekas. Luka karena cinta pertama sangat sulit diobati. Bahkan ketika luka tersebut sembuh, bekasnya akan tetap ada di sana. Setiap perkataan, sikap, benda, permintaan, apa saja darinya mengendap dalam otak dan bangkit kapan saja setiap kita menemukan hal-hal yang bisa membangkitkan kenangan.

Dulu, waktu awal-awal saya di Jakarta, ia pernah berkata (kurang lebih) begini di telepon, “Mas, aku minta dibawakan kerak telor!” Permintaan yang susah, karena kerak telor hanya ada di malam hari dan cepat basi. Tetapi akibatnya, sekarang setiap saya menemui penjual kerak telor betawi, kata-kata itu kembali terngiang di telinga saya. Gila! :))

Masih banyak lagi hal-hal yang bisa membangkitkan kenangan. Padahal semua itu kecil-kecil dan sepele. Ya.. seperti kerak telor tadi. Hal seperti ini tanpa disadari merupakan sebuah jebakan lembah waktu yang membuat kita tak bisa menatap masa depan. Terjebak dalam lembah waktu seperti ini membuat kita terus terilusi (ilusi — meminjam istilah dnial) dan luka tersebut tidak akan pernah sembuh.

Beberapa orang memiliki cara untuk lepas dari jebakan-jebakan perasaan tersebut. Jebakan ini memang bukan hal yang ringan untuk melaluinya, jadi beberapa orang memutuskan mengambil cara frontal dengan membuang semuanya, memutus tali silaturahmi. Tak heran jika ada lagu yang memiliki lirik “… merubah cintaku jadi benci.” Ada orang yang saling membenci dan memusuhi satu sama lain. Mereka lupa bahwa cinta pernah mempersatukan mereka. Cinta pernah membuat mereka mengagumi, menghormati, menyayangi, dan memuja satu sama lain. Mereka bahkan lupa apa yang menyebabkan mereka bisa pernah saling menyayangi (disarikan dari kata-kata Julia Roberts dalam film Notting Hill).

Saya bisa mengerti kenapa ada yang mengambil cara frontal seperti itu. “Akal-akalan” wanita setelah menolak dengan kata-kata, “Tetapi kita tetap bisa berteman baik…” adalah hal yang berat bagi pria. Sekali pria jatuh cinta, ia tidak bisa kembali ke state “berteman baik” lagi. Ia akan terus salah mengartikan senyuman yang tulus, ia akan terus membangun harapan biarpun sedemikian kecilnya. Dan itu tentu saja sia-sia. Itu hanya membuat pria terjebak dalam jebakan waktu lebih lama lagi.

Aha, saya mungkin tidak menyadari bahwa saya masih membangun harapan ketika pulang dari rumahnya untuk berkenalan dengan calonnya. Ditemani hembusan angin menjelang maghrib, saya tersenyum sambil membatin, “Mas, tidak ada yang perlu kamu cemburui dari aku, kamu telah mendapatkan cintanya, sesuatu yang tidak pernah lagi aku dapatkan.”

Wew… saya kira, hanya ada satu cara untuk keluar dari jebakan ilusi tersebut. Figur baru! Yeah, hanya figur baru yang bisa membuat kita membangun harapan yang benar-benar baru, membuat kita kembali bersemangat. Tidak dapat dibohongi, kita tetap membutuhkan cinta yang berbalas. Kita butuh curhat pada orang yang juga menyayangi kita juga. Itu manusiawi.

Jadi, janganlah lama-lama terjebak dalam ruang waktu masa lalu. Buka diri, buka hati, selalu membuka diri terhadap figur baru. Kegagalan demi kegagalan hanyalah keberhasilan yang tertunda. Ketika pada saatnya nanti kita berhasil, kita akan lebih menghargai keberhasilan itu. Seperti yang pernah saya katakan, cintailah dan sayangilah orang yang mencintaimu, jangan buat dia bersedih, karena masih banyak orang yang belum mendapatkan anugerah seperti itu. Saya mungkin menyesal pernah terlalu cinta pada seseorang pada saat yang salah, tapi saya tidak menyesal karena setiap kegagalan selalu membawa pelajaran baru.

Don’t ever give up, let’s see a new day has come for you.

15 Responses to “Kekuatan Kenangan Cinta Pertama”

  1. nRa said:

    hiks… nasib mu teman,
    sabar yah teman… nasib kita sama, wkk :)

    btw, aku melankolis gak yah?

  2. Hedi said:

    ah itu kan hanya perasaan nak Galih saja :D

  3. Juminten said:

    ehehehe…
    kayaknya kita pernah ngobrol2 soal ini yah di YM? :D
    ehmmm… jd skrg, udh dapet “yg baru”? :P

  4. rd Limosin said:

    hm, cinta pertamax saya … :">

    gak usah dibahas deh, membahagiakan sekaligus menyakitkan

  5. gatra said:

    udah dapet ganti belum????:D

  6. Galih Satria said:

    #nRa:
    kalau cepet dapat ganti, artinya ndak melankolis :D

    #Hedi:
    hehehehe

    #Juminten, gatra:
    kayaknya belum tuh :P

  7. Tuts said:

    have you ever wonder if she reads all your melankolis posting, what will she say?
    ayo lah Lih, waktunya move on. kalau cinta nggak bisa memiliki trus buat apa dikenang?

    -mbakmuygsedangmencobamoveon-

  8. Galih Satria said:

    #Mbak Tuts:
    Hehehe, siapa bilang belum move on? Kan kemarin sudah? :D Ini cuma flashing back doang…. *ngeles mode: on

  9. vino said:

    first love,….nyamnyam

  10. aji putra said:

    cinta pertama saya… cukup… cukup… cukup sudah…
    gak usah diceritain lagi… :)
    *Cinta, Deritanya tiada pernah berakhir…*

  11. tukangmoto said:

    Mas..aku ada temen
    kalau sampeyan mau :)

    hehehehe

  12. anggadoel said:

    emank bener mas galih cinta pertama emang sulit untuk dilupakan
    apa lagi masa-masa indah pada waktu dulu jalan-jalan berdua
    duh keinget lagi deh ama pacar pertama saya ^^

  13. dias said:

    cinta pertama
    he..he..he…
    tidak penah mati pokoknya….

  14. septya said:

    emang bnr kalo’ cnt prtma tu susah tuk dilupain,

    aku ngalaminya sampe’ skrng.kalo blh blng sbnrnya

    q gak mau pisah sm doi tp mau gmana lg keadaan yg

    bwt smuax terjdi.

    cnt prtma emang jd kenangan yg indah dlm hidup se2orang.

  15. kaudanaku said:

    cinta pertama…bukan untuk dimiliki selamanya. buktinya, aku nikah sama suamiku yg sekarang. tapi tenang bro….insyaALLAH pasti lebih bahagia koq. salam kenal ya…

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>