Saya Perlu Sekolah Kepribadian

Date November 2, 2007

Kemarin malam, berdua di ruang kantornya yang luas di Medan Merdeka Barat 9, Pak Ari Santoso menasihati saya mengenai kenapa saya selalu tidak beruntung dalam masalah pencarian pendamping hidup. Biasa, sisi terlemah saya yang selalu diserang adalah ini. Kalau yang lain saya selalu bisa mengelak dan menyerang balik. Tapi kalau soal ini, saya sama sekali tak bisa menghindar.

“Lih, mungkin kamu itu perlu sekolah kepribadian sana,” katanya memulai serangan.
“Kenapa memangnya, Pak?” Saya sudah hapal arah pembicaraan ini, tapi saya juga ingin tahu ada apa yang salah dengan saya. Jadi saya teruskan.

“Tipe-tipe sepertimu itu tidak bisa menyenangkan seorang wanita. Hanya sedikit cewek yang senang dengan tipe-tipe seperti ini. Kamu tidak bisa ngobrol dengan akrab jika berdua dengan cewek.”

Hmmm… betapa benarnya kata-kata ini. Saya jadi semakin maklum kalau saya selalu gagal. Memang saya paling tidak bisa berkomunikasi dengan wanita. Inilah saya, diam dan angkuh jika berhadapan dengan orang baru dan (apalagi) tidak dikenal.
Waduh, lalu, bagaimana saya bisa memenuhi permintaan Kakak yang satu ini ya? Dalam pernikahannya nanti, ia ingin saya datang membawa pasangan. Saya akan ditendang keluar jika datang sendiri. Permintaan yang harus saya penuhi… saya kira…

Wew… :-S

15 Responses to “Saya Perlu Sekolah Kepribadian”

  1. nana said:

    loh Lih, bukannya sudah dapat tips & trick dari Ust. Cinta ? :)

  2. rd Limosin said:

    pernah baca Personality Plus Lih??

    ada Sanguinis, Melankolis, Plegmatis, Koleris. Coba cek deh kepribadian di buku tsb.

  3. budi said:

    no comments

  4. Galih Satria said:

    #kang nana:
    hmm… kayaknya bisa dicoba tuh tips dan triknya :D

    #ardy:
    aku termasuk yang melankolis berat

    #budi:
    ;))

  5. nana said:

    tips tambahan, link ini :)

  6. Hedi said:

    Apa iya ada hubungannya dengan kepribadian, sejauh tak ada hal abnormal di diri manusia itu sendiri….

  7. tukangmoto said:

    look at her eyes..
    touch her heart

    halah..

  8. Galih Satria said:

    #Hedi:
    Benarkah tak ada hubungannya? Mohon petuah, suhu… :D

    #tukangmoto:
    ah, teori :P

  9. Xendro said:

    Halah…Galih..itu ma masih belum niat aja, cari pendampingnya…

    Wis ta..Niat itu mengalahkan keangkuhan, Niat itu membuat jadi percaya diri, niat itu menjadikan kita enjoy.

    Saya percaya…Galih Pasti bisa mengatasi masalah ini, tidak serumit Java koq…:), asalkan kalo sudah niat.

    Selama ini saya amati dari dulu masalahnya cuma satu..
    Kamu Belum Niat cari pendamping hidup Lih…Vivat.ITS CUK!

  10. Galih Satria said:

    #Xendro:
    :)

  11. dnial said:

    Bukannya sekolah kepribadian itu baru penting setelah punya mobil pribadi, rumah pribadi, pesawat pribadi :D

    Kalo cuman takut ditendang bawa aja pasangan, siapa aja, mau cowok, mau cewek juga bisa…
    =))

  12. Galih Satria said:

    #dnial:
    dasar orang IT, tak tahu bagaimana mengartikan kalimat konotatif :P

  13. Paman Tyo said:

    Ah, belum ada cewe yang nyantel di hati saja, Dik Galih. Ndak masalah. Namanya juga jodoh, dianya mau, kita ogah. Kitanya pengin, dianya (yang lain) cuma mau berteman.

  14. listiya said:

    Aq baru tau alasan u mosting ini…. Selamat menikmati masa “itu” lagi…. Tetep smangat yach! Tenang aza, 2 tahun mah ga lama.

  15. – A New Day Has Come » Blog Archive » Lagi, Lagi, Lagi… dan Lagi said:

    […] saya. Lari ke sana, bukan. Lari ke situ, eh, ternyata juga bukan. Saya ingat komentar Paman Tyo di sini, sangat mengena, Ah, belum ada cewe yang nyantel di hati saja, Dik Galih. Ndak masalah. Namanya […]

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>