Kuis Berhadiah Umroh?

Posted by: on Oct 4, 2007 | 20 Comments

Dagelan apa lagi ini? =))

Ramadhan tahun ini, acara pengajian bermutu memang bukan menjadi primadona lagi. Dulu masih ada KH. Abdullah Gymnastiar, sebelumnya lagi ada KH. Zainuddin MZ. Sekarang tayangan mayoritas dipenuhi dengan dagelan gak mutu ala Tukul dan Patrio. Dagelannya buanyak, sedangkan ustadz yang sering muncul paling-paling hanya Ustadz Jefri Al-Bukhori (Uje) dkk. Karena hanya saat sahur saja saya menonton TV, maka saya ambil sampel tayangan saat sahur.

Acara dagelan contohnya ada di RCTI, AnTeve, Trans TV, dan Trans 7. Indosiar bersikap moderat, tidak berani mengambil banyak risiko dengan jualan utama lomba pengisah cerita islami dengan format mirip dengan Mama Mia (, acara yang amat digemari ibu rin, ). Metro TV, seperti biasa, mendiferensiasi diri dengan tayangan Tafsir Al-Misbah yang diasuh oleh Quraish Shihab. SCTV menjual Deddy Mizwar dengan sinetron Para Pencari Tuhan. Sinetron yang idenya tidak baru, mirip Lorong Waktu dan Kiamat Sudah Dekat. Tapi dari semua acara, acara inilah yang saya ikuti setiap hari.

Nah, di antara acara-acara tersebut, tentu saja ada “kuis” berhadiah yang pesertanya harus daftar lewat SMS (ketik REG sepasi bla bla bla). Ada yang hadiahnya lucu, yaitu ibadah umroh. Hmm.. mentang-mentang temanya islami, hadiahnya ibadah islami pula. Menurut saya, ini seperti ibadah umroh dengan uang hasil judi di kasino. Kok bisa? Lho? Menurut Anda, kuis SMS itu bukan judi toh? Kita pertaruhkan uang via biaya pulsa, dan hadiahnya diambil dari pengumpulan uang tersebut. Apa bedanya dengan judi rolet, kartu, domino, dadu, dkk? Fatwa MUI telah mengharamkan kuis model begini. Meskipun masyarakat Indonesia yang mayoritas Islam, cerdas, dan pintar bicara ini sangat tidak menghargai MUI — ulamanya sendiri –suka atau tidak suka, fatwanya haram. Jadi, uang haram dipakai umroh? Hmm…

Menulis itu Memang Perlu Komitmen dan Energi

Posted by: on Oct 3, 2007 | 9 Comments

Kemarin, ada teman saya yang lewat dan sepintas lalu melihat saya menulis dalam kotak writing di WordPress. Sambil lalu dia berujar, “Heran gw lihat orang-orang itu, kok bisa-bisanya punya energi buat menulis…, gw bener-bener ngga punya energi buat itu.”

Yeah, menulis memang perlu energi dan komitmen. Namun yang lebih penting sebenarnya adalah faktor kecanduan dan cinta. Sesibuk apapun (bloody busy — kalau meminjam istilah ibu dosen ini), kalau sudah kecanduan untuk menulis, apapun bisa jadi posting. Seperti saya sekarang ini, hehehe… Tiba-tiba ide bahan tulisan muncul di setiap waktu.

Hal yang paling mudah untuk ditulis tentu saja adalah catatan harian. Topik ini juga dapat dikonsumsi oleh siapa saja. Ringan. Jika ingin mengundang banyak komentar, cobalah menulis dengan sedikit kontroversial, bila perlu mengundang perdebatan. Para blogger selebritis sangat lihay dalam menulis posting semacam ini. Kontroversial, tapi halus, kalem, mengalir, dan tidak vulgar. Kita tidak sadar tiba-tiba telah mengetik di kotak komentarnya.

Di lain pihak, topik-topik yang berat-dan-menusuk lebih sulit untuk ditulis. Memerlukan energi yang jauh lebih besar. Postingan saya mengenai Isolasi Objek pada Sebuah Foto menghabiskan waktu istirahat siang saya. Topik-topik berat juga jarang mengundang komentar karena tidak semua orang nyambung dengan topik ini. Tetapi jika dilihat dari statistik blog saya, top hit justru pada topik-topik yang berat. Secara periodik diklik via referensi dari search engine. Itu yang membuat saya terus semangat untuk menulis topik berat.

Namun, menulis topik berat semacam tutorial fotografi atau ilmu komputer rawan mematahkan semangat dan mematikan ide. Ya, secara perlu energi yang lebih besar untuk menuliskannya. Perlu waktu yang lebih panjang untuk menguraikan. Kalau sedang sangat sibuk, topik-topik semacam ini sulit untuk ditulis. Ide ada, tapi energi habis. Oleh karena itulah saya tidak mampu membuat blog niche. Ketika saya sangat sibuk, untuk tetap mempertahankan mood menulis, saya menulis topik-topik ringan. Misalnya tentang Sandal yang Hilang . Seringkali hanya posting foto yang praktis dan cepat. Jika saya membiarkan dan berhenti menulis karena tidak ada waktu untuk menulis topik berat, lambat laun ketika saya punya waktu untuk menulis pun, saya merasa bahwa saya tak punya energi untuk itu.

Isolasi Objek Pada Sebuah Foto

Posted by: on Oct 2, 2007 | 9 Comments

Sebuah foto yang baik sebaiknya memiliki objek yang ditonjolkan yang lebih dikenal sebagai POI (Point of Interest). POI menceritakan tentang tema sebuah foto dan menceritakan apa yang ingin diceritakan oleh sang fotografer. POI adalah sebuah titik dimana mata manusia akan tertarik untuk mengamati titik tersebut dengan lebih detail daripada titik yang lain. Membuat sebuah foto memiliki POI gampang-gampang susah, tapi dengan semakin sering menekan shutter dan menambah jam terbang, hal ini bisa terbentuk dengan sendirinya.

Berdasarkan dari apa yang saya ketahui, paling tidak ada beberapa hal yang bisa dijadikan patokan untuk membuat sebuah foto memiliki POI. Saya namakan teknik ini sebagai isolasi objek. Mari kita bahas satu per satu:

Switch to our mobile site