It’s Nothing but Patterns!
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm | Kolase: Adobe Photoshop CS 3
Hehe, meski nggak nyambung dengan fotonya, aku sangat ingin mengutip lirik lagunya Naif ini:
Aku tak tahu apa yang terjadi antara aku dan kau…
Yang kutahu pasti ; ku benci tuk mencintaimu
Welcome Back to the Jungle!
Hehehe…
Welcome back lah… )
macet
three in one
kode java
Apa lagi yaw… capek aku… pingin tidur dulu…
Panduan Dasar Instalasi openSUSE 10.3
Sudah lama saya tidak menulis panduan dan tutorial IT yang “membumi”. Kalaupun menulis, apa yang saya tulis sangat spesifik sehingga tidak semua orang mengerti maksud dari tulisan saya . Maklum, saya menulis untuk mendokumentasikan pengalaman saya saja. Saya tidak bisa menulis tutorial on demand — karena paksaan permintaan.
Nah, kebetulan, saya baru saja mencoba melakukan instalasi Linux openSUSE 10.3 seiring dengan rilisnya versi terbaru ini. Mungkin karena sudah lama sekali saya tidak menggunakan Linux sehingga saya sudah sangat ketinggalan zaman. Saya kagum ketika instalasi berjalan dengan otomatis — semua dilakukan oleh installer: partisi hardisk, deteksi hardware, instalasi driver, dan segala hal yang dulu harus saya lakukan manual. Saya masih ingat ketika saya harus mengetikan secara manual snd-via82x untuk instalasi driver sound card saya. Sekarang, hmm… tak ada lagi. Semuanya telah dilakukan installer. Kita tinggal tekan Next-Next-Next, semudah instalasi Windows.
Saya merasa lebih ketinggalan zaman lagi ketika menggunakannya. Mencolokkan apa pun di USB: flash disk, hard drive external, modem GPRS, hingga kamera digital SLR saya, semuanya langsung dideteksi secara otomatis dan langsung disuguhi dialog apa yang akan dilakukan dengan device yang baru saja dicolokkan tersebut. Wew… canggih juga openSUSE, pikir saya pertama kali ketika saya mengalami ini. Saya kemudian dengan agak geli berpikir mungkin saja semua generasi Linux terbaru telah mampu melakukan hal “sepele” ini. Kemudian saya lagi-lagi ingat bahwa saya harus selalu mengetikkan perintah mount /dev/sda1 /media/flashdisk ketika mencolokkan flash disk. Zaman telah berubah Lih!
Saya pikir, saya juga orang yang awam mengenai sistem operasi ini. Banyak pertanyaan yang mesti dijawab antara lain: bagaimana cara koneksi internet, kenapa sama sekali tidak ada media codec yang bisa memutar mp3, mpeg, dkk? Kenapa YasT masih belum bisa mengalahkan kemudahan apt-get install-nya Debian? Saya yakin, teman-teman di komunitas openSUSE punya jawabannya
Dan semoga panduan dasar ini bisa menjadi sedikit sumbangsih bagi perkembangan FOSS (Free and Open Source Software) di Indonesia. Halah! )
Silakan didownload di: Panduan Dasar Instalasi Linux openSUSE 10.3 [PDF Format].
Segera diupload: koneksi internet dengan HP ber-GPRS dengan openSUSE 10.3! Ditunggu yaaa…. )
PS: Kenapa saya tidak pernah tertarik untuk menjadi penulis Ilmu Komputer yach? Padahal saya kepingin juga loh, tapi kalau melihat banyaknya kontributor IKC, saya jadi minder. Mas Romi? Ada saran?
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428H
Galih sekeluarga mengucapkan,
Selamat Hari Raya Idul Fitri,
Mohon maaf lahir dan batin….
Itu adalah salah satu greeting saya lewat SMS. Ternyata ada yang protes, “GALIH SEKELUARGA?? kapan rabine?” Hehehe… ) Meskipun saya belum tahu siapa yang akan menemani sisa hidup saya nantinya, namun saya yakin, dia ada untuk saya di suatu tempat. Entah sedang sibuk belajar, entah sedang tersenyum, entah sedang memasak… ) Jadi, tidak ada salahnya jika saya mengikutkannya dalam greeting saya
Selamat tinggal Ramadhan 1928H 1428H,
Selamat datang bulan yang fitri,
Semoga amalan kita di bulan Ramadhan diterima oleh-Nya
dan apa-apa yang telah kita capai di bulan Ramadhan tetap terjaga,
sehingga jika kita dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan,
kita akan menjalaninya jauh lebih baik daripada tahun ini…
Amin…
Mudik!
Akhirnya, setelah hanya menjadi penonton liputan arus mudik, lebaran tahun ini saya menjadi peserta dalam perhelatan masal ini. Mungkin ada yang bilang ritual mudik itu absurd, tapi inilah uniknya Indonesia. Budaya yang masih asli kita miliki (perlukah kita patenkan sekarang? ).
Hari terakhir di kantor sebelum cuti adalah: membuat flyer/greeting ucapan selamat Idul Fitri untuk divisi SCM & ICT, mailing list BDI, memotret divisi Commercial and Legal untuk greeting mereka, dan memotret dari Executive (Mbak Chlara dan Mbak Yvonne).
Oke friends, selamat mudik, semoga tak ada aral melintang di tengah jalan dan bisa berkumpul dengan keluarga yang telah dirindukan. Semoga saya nanti tidak terjebak macet dan tidak ada halangan yang melintang dalam perjalanan dengan kereta api Sembrani Gambir-Pasar Turi dilanjutkan dengan bus Surabaya-Tulungagung.
Have nice holiday!
Review: Nissin Di622 Speedlite for Nikon
Wafer Nissin? Biskuit Nissin?
Hehehe.. bukan, ini merk speedlite (flash eksternal) yang dibuat oleh Nissin Digital. Sebuah speedlite third party yang dibuat sebagai alternatif speedlight buatan Nikon dan speedlite buatan Canon. Karena buatan pihak ketiga, tentunya hal yang paling dijual adalah harga yang jauh lebih murah daripada buatan Nikon atau Canon.
Untuk perbandingan, saya tampilkan tipe-tipe Speedlight dari Canon dan Nikon. Diurutkan dari kelas yang paling rendah.
Nikon:
(1). SB-400
(2). SB-600
(3). SB-800
Canon:
(1). 430EX
(2). 580EX
Spesifikasi
- Guide Number: 44m di focal length 105mm, ISO 100. Sekelas 430EX di Canon, dan nyaris menyamai kekuatan SB-800.
- Bisa mengangguk-angguk, bisa nolah-noleh. Maksudnya, arah lampu bisa diarahkan ke atas hingga sudut 180 derajat, bisa ke kiri dan ke kanan 90 derajat, juga bisa diputar ke belakang.
- Tidak ada LCD display, hanya tombol power dan pengatur kekuatan lampu.
- Support iTTL, mode otomatis-nya Nikon yang bertugas mengatur besar kecilnya kekuatan cahaya yang keluar.
- Support slave flash ; flash ini bertindak sebagai slave dan ditrigger dengan cahaya yang memancar dari flash utama.
- Baterai: 4 kali AA. Untuk baterai alkaline bisa tahan hingga 200-300 kali jepretan.
- Spesifikasi Lengkap lihat di sini.
Harga
Sekelas SB-400.
Kemampuan dan Harga
Untuk harga sekelas SB-400 dengan fitur yang nyaris mendekati SB-600, ini benar-benar menggiurkan. Tepat untuk penghobi fotografi amatir yang memiliki kantong cekak. Namun sebenarnya, dalam memilih suatu barang yang akan dibeli, hal yang paling penting adalah apa kebutuhan kita. Flash ini didesain bagi fotografer yang hanya memerlukan kegunaan dasar dari flash eksternal seperti guide number yang lebih besar, kemampuan bouncing, dan mungkin slave flash. Nikon SB-600 memiliki fitur yang jauh lebih banyak daripada itu, tetapi apakah semua fitur tersebut kita gunakan? Nikon SB-400 yang berharga sama memiliki guide number yang jauh lebih kecil dan tidak bisa digunakan untuk bouncing ke kanan/kiri — suatu hal yang harus dimiliki oleh sebuah flash eksternal.
Subjective Review
Jika Anda menginginkan sebuah flash bertenaga besar dan hanya memerlukannya untuk bouncing dan diffussing light, flash ini mantabs. Cuma, iTTL-nya seringkali ngaco, lebih sering under-exposure daripada tepat, jadi saya lebih sering menggunakannya dalam mode manual dengan kamera diset pada M (biasanya saya memakai Apperture Priority). Saya lebih sering menggunakannya untuk foto-foto dokumentasi di indoor yang kurang cahaya. Untuk foto art di outdoor, sejak dari awal saya memang tidak menyukai penggunaan flash, jadi saya tak pernah pakai flash ini.
Secara ukuran, speedlight ini raksasa. Berat dan besar. Jika dipasangkan dengan Nikon D40 yang mungil, flash ini terlalu besar. Cukup menyiksa tangan karena menjadi cepat pegal-pegal dan tidak bisa steady di bawah shutter speed 1/30s.
Untuk contoh-contoh foto dengan speedlight ini, Anda bisa lihat foto-foto saya di posting setelah ini. Stay tuned! *halah!*
Foto:
Thanks to: Pak Revin M
Weekend yang Nyaris Sempurna
Wew… hari ini adalah weekend yang nyaris sempurna! Setelah malam harinya menghabiskan malam bersama teman-teman untuk makan seafood sebagai sahur di Muara Karang (Muara Angke), pagi hingga siang saya tidur sepuas-puasnya. Bangun jam 11 siang, nonton kualifikasi F1 di Global TV cuma dapat Q1 dan Q1 saja, mata terasa berat dan tidur lagi.
Jam 14:00 bangun dengan sedikit terkejut karena belum sholat dzuhur. Mandi bersih dan segar, dan bayangkan betapa nikmatnya bisa sholat dengan tubuh segar seperti itu, di bawah hembusan udara dingin kamar yang AC-nya sengaja diset ke yang paling dingin.
Nonton Money Talks yang diasuh oleh Safir Senduk di MetroTV. Laki-laki single dan sedikit kesepian seperti saya memang sangat perlu menonton acara semacam ini agar manajemen keuangan bisa tetap baik. Saya ingat kalau saya sudah bosan dengan Knoppix dan ingin mencoba openSUSE. Maka saya keluar dan menuju ke Mal Ambassador tempat toko GudangLinux berada. We.. lha, sabtu sore malam minggu, jalanan depan mal macet abis. Sepeda motor aja mesti merangkak pelan-pelan, apalagi mobil, pasti parkir (maksudnya berhenti tak pernah bisa bergerak maju). Sampai di depan jalan masuk, mesti kecewa, karena ternyata parkir di dalam telah penuh. Malas mencari tempat parkir di pinggir jalan, saya pulang. Dan akhirnya… ngeblog deh .
Dah dulu, saya mau buka puasa. Hmm menu hari ini apa yach… opor ayam kayaknya mantabs deh.. ^_^
Comments