Entries from October 2007
October 26, 2007
Judul di atas adalah sebuah kata-kata dalam novel The Rage of Angels karya Sidney Sheldon. Betapa benarnya kata-kata ini. Benamkan diri dalam pekerjaan, paksa tubuh hingga mencapai titik lelahnya hingga tidur bisa nyenyak tanpa terganggu mimpi-mimpi buruk.
Apa yang dapat saya lakukan lagi selain membenamkan diri? Tempat itu ternyata masih belum memberikan keberuntungan bagi saya. Matahari belum terbit. Badai belum berlalu. A New Day has not come yet. Cinta, deritanya memang tiada pernah berakhir. Apa yang dapat saya lakukan lagi selain membenamkan diri? Tak ada hiburan yang lebih menenangkan daripada itu.
Entah sampai kapan? Only heaven knows, tapi saya yakin kalau saya masih punya banyak waktu. Untuk apa? Untuk jatuh dan sakit berkali-kali?
Tidak ada yang mengagetkan saya kali ini. Seperti yang saya bilang, mungkin saya hanya bisa tersenyum sambil berkata, “Yak ampun… lagi Lih?”

Posted in Melankolis
7 Comments »
October 24, 2007
Ini adalah mandatory posting dari sahabat saya, nRa. Semoga memuaskan ya ndrak? 
Lho, Sony Alpha kok nggak saya masukkan di sini? Well, ada beberapa alasan kenapa saya hanya memilih dua merek DSLR yaitu dari Nikon dan Canon, antara lain:
- Saya belum pernah tahu seperti apa kualitas Sony, meskipun mungkin karakter warna-nya sama mirip dengan Nikon, secara Nikon memakai teknologi sensor CCD-nya Sony.
- Third party vendor, baik lensa maupun asesoris yang lainnya, kebanyakan hanya menyediakan produk yang kompatibel dengan Nikon dan Canon saja.
Jadi pertanyaannya, D40 atau EOS 350D?
Well, ini pertanyaan super sensitif di dunia fotografi. Bisa membuat debat kusir yang berdarah-darah. Tapi orang selalu bertanya ini, dan meskipun mereka tidak pernah menemukan jawaban pasti, mereka paling tidak terpuaskan dengan membaca argumen-argumen pembela Nikon dan Canon. Jadi saya akan menjawabnya dari sudut pandang pengguna Nikon…. D40 
Ini adalah pertanyaan yang sama ketika saya akan membeli kamera DSLR. Saya sudah sempat memegang-megang EOS 350D karena secara harga, dua kamera ini BBT (Beda-Beda Tipis). Alasan saya kenapa memilih D40 instead of EOS 350D adalah:
- Warna-warni Nikon D40 jauh lebih hangat daripada EOS 350D. Hangat di sini maksudnya saturasi dan kontrasnya. Ngejreng. Saya adalah fotografer yang dididik oleh Fotografer.Net, dan FN mengajari saya untuk membuat foto yang mencolok, ngejreng, hangat, dan hampir selalu di-make-up oleh Photoshop.
EOS 350D di lain pihak, seperti karakter sensor CMOS Canon pada umumnya, memiliki warna yang lebih natural. Orang bilang, warna kulit manusia (skin tone) yang dihasilkan sangat alami. Kalau Anda motret cewek berkulit putih mulus, di Canon akan tampak putih mulus, sedangkan di Nikon akan terlihat lebih cokelat. Meskipun demikian, selera saya akan bilang kalau warna Canon cenderung lebih pucat.
- D40 lahir lebih muda, tentunya membawa teknologi yang lebih muda. Tidak sesuai jika membandingkan D40 dengan 350D, karena yang keluar hampir bersamaan dengan D40 adalah EOS 400D, sehingga yang pantas dibandingkan adalah D40x dengan EOS 400D.
- Lensa.
Yes, inilah kelemahan terbesar D40. Pilihan lensa sangat sedikit. Dengan EOS 350D, Anda bisa memakai lensa Canon apa saja, mulai dari yang murah meriah seri EF-S yang sejuta dua juta hingga seri L (Luxurious) yang di atas 8 jutaan. Dan kita tentu saja bisa menggunakan lensa-lensa third party yang sangat banyak, misalnya Tamron, Sigma, atau Tokina. Dan tentu saja, murah meriah
Di lain pihak, pilihan lensa D40 sangat terbatas. Lensa tipe AF-S rata-rata di atas 5 juta. Hanya sedikit yang dibawah lima juta. Beberapa yang saya tahu adalah lensa kit 18-55 dan lensa tele 55-200 VR. Lensa wide 12-24-nya? Ampun-ampun, tujuh jutaan ke atas! Anda tidak bisa pakai lensa tipe AF lama-nya Nikon, padahal banyak diantaranya yang legendaris dan murmer. Anda juga tidak bisa pakai lensa third party karena belum banyak yang support untuk D40.
Lalu kenapa saya tetap pilih D40? Karena saya cuma fotografer hobi. Saya cukup punya lensa kit dan tele saja. Dan karena harganya masih masuk akal buat saya, jadi saya pilih D40. Saya juga diselamatkan dari keinginan untuk mengoleksi lensa-lensa jika saya punya D40.
- Ergonomi.
Dua kamera ini sama-sama ringan, kecil, tapi tidak mantap digenggam. Bandingkan dengan Nikon D200 atau Canon EOS 40D yang berat tapi mantap digenggam. Tapi saya lebih suka pegangannya D40 daripada 350D. Itu yang membuat saya memilih D40 dulu.
Apa lagi yah… Kalau secara teknis, tentang noise, ISO, ketajaman, dan lainnya, hal itu tidak banyak berbeda secara berarti saya kira. Soalnya dua kamera ini sama-sama bermain di kelas DSLR pemula. Jadi ya.. tetap noisy di ISO tinggi. 
Gitu aja dulu. Gimana ndrak? Puas?
Ada yang perlu ditanyakan?
Posted in Fotografi
12 Comments »
October 23, 2007
Lokasi: Pasar Ikan Muara Karang, Muara Angke, Jakarta Utara
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm | Kolase: Adobe Photoshop CS 3
Hehe, meski nggak nyambung dengan fotonya, aku sangat ingin mengutip lirik lagunya Naif ini:
Aku tak tahu apa yang terjadi antara aku dan kau…
Yang kutahu pasti ; ku benci tuk mencintaimu
Posted in Fotografi
6 Comments »
October 22, 2007
Hehehe…
Welcome back lah… 
macet
three in one
kode java
Apa lagi yaw… capek aku… pingin tidur dulu…
Posted in Catatan Harian
3 Comments »
October 18, 2007
Sudah lama saya tidak menulis panduan dan tutorial IT yang “membumi”. Kalaupun menulis, apa yang saya tulis sangat spesifik sehingga tidak semua orang mengerti maksud dari tulisan saya
. Maklum, saya menulis untuk mendokumentasikan pengalaman saya saja. Saya tidak bisa menulis tutorial on demand — karena paksaan permintaan.
Nah, kebetulan, saya baru saja mencoba melakukan instalasi Linux openSUSE 10.3 seiring dengan rilisnya versi terbaru ini. Mungkin karena sudah lama sekali saya tidak menggunakan Linux sehingga saya sudah sangat ketinggalan zaman. Saya kagum ketika instalasi berjalan dengan otomatis — semua dilakukan oleh installer: partisi hardisk, deteksi hardware, instalasi driver, dan segala hal yang dulu harus saya lakukan manual. Saya masih ingat ketika saya harus mengetikan secara manual snd-via82x untuk instalasi driver sound card saya. Sekarang, hmm… tak ada lagi. Semuanya telah dilakukan installer. Kita tinggal tekan Next-Next-Next, semudah instalasi Windows.
Saya merasa lebih ketinggalan zaman lagi ketika menggunakannya. Mencolokkan apa pun di USB: flash disk, hard drive external, modem GPRS, hingga kamera digital SLR saya, semuanya langsung dideteksi secara otomatis dan langsung disuguhi dialog apa yang akan dilakukan dengan device yang baru saja dicolokkan tersebut. Wew… canggih juga openSUSE, pikir saya pertama kali ketika saya mengalami ini. Saya kemudian dengan agak geli berpikir mungkin saja semua generasi Linux terbaru telah mampu melakukan hal “sepele” ini. Kemudian saya lagi-lagi ingat bahwa saya harus selalu mengetikkan perintah mount /dev/sda1 /media/flashdisk ketika mencolokkan flash disk. Zaman telah berubah Lih!
Saya pikir, saya juga orang yang awam mengenai sistem operasi ini. Banyak pertanyaan yang mesti dijawab antara lain: bagaimana cara koneksi internet, kenapa sama sekali tidak ada media codec yang bisa memutar mp3, mpeg, dkk? Kenapa YasT masih belum bisa mengalahkan kemudahan apt-get install-nya Debian?
Saya yakin, teman-teman di komunitas openSUSE punya jawabannya 
Dan semoga panduan dasar ini bisa menjadi sedikit sumbangsih bagi perkembangan FOSS (Free and Open Source Software) di Indonesia. Halah! 
Silakan didownload di: Panduan Dasar Instalasi Linux openSUSE 10.3 [PDF Format].
Segera diupload: koneksi internet dengan HP ber-GPRS dengan openSUSE 10.3! Ditunggu yaaa…. 
PS: Kenapa saya tidak pernah tertarik untuk menjadi penulis Ilmu Komputer yach? Padahal saya kepingin juga loh, tapi kalau melihat banyaknya kontributor IKC, saya jadi minder. Mas Romi? Ada saran? 
Posted in Linux
17 Comments »