Review: Nissin Di622 Speedlite for Nikon
October 8, 2007
Wafer Nissin? Biskuit Nissin? ![]()
Hehehe.. bukan, ini merk speedlite (flash eksternal) yang dibuat oleh Nissin Digital. Sebuah speedlite third party yang dibuat sebagai alternatif speedlight buatan Nikon dan speedlite buatan Canon. Karena buatan pihak ketiga, tentunya hal yang paling dijual adalah harga yang jauh lebih murah daripada buatan Nikon atau Canon.
Untuk perbandingan, saya tampilkan tipe-tipe Speedlight dari Canon dan Nikon. Diurutkan dari kelas yang paling rendah.
Nikon:
(1). SB-400
(2). SB-600
(3). SB-800
Canon:
(1). 430EX
(2). 580EX
Spesifikasi
- Guide Number: 44m di focal length 105mm, ISO 100. Sekelas 430EX di Canon, dan nyaris menyamai kekuatan SB-800.
- Bisa mengangguk-angguk, bisa nolah-noleh. Maksudnya, arah lampu bisa diarahkan ke atas hingga sudut 180 derajat, bisa ke kiri dan ke kanan 90 derajat, juga bisa diputar ke belakang.
- Tidak ada LCD display, hanya tombol power dan pengatur kekuatan lampu.
- Support iTTL, mode otomatis-nya Nikon yang bertugas mengatur besar kecilnya kekuatan cahaya yang keluar.
- Support slave flash ; flash ini bertindak sebagai slave dan ditrigger dengan cahaya yang memancar dari flash utama.
- Baterai: 4 kali AA. Untuk baterai alkaline bisa tahan hingga 200-300 kali jepretan.
- Spesifikasi Lengkap lihat di sini.
Harga
Sekelas SB-400.
Kemampuan dan Harga
Untuk harga sekelas SB-400 dengan fitur yang nyaris mendekati SB-600, ini benar-benar menggiurkan. Tepat untuk penghobi fotografi amatir yang memiliki kantong cekak. Namun sebenarnya, dalam memilih suatu barang yang akan dibeli, hal yang paling penting adalah apa kebutuhan kita. Flash ini didesain bagi fotografer yang hanya memerlukan kegunaan dasar dari flash eksternal seperti guide number yang lebih besar, kemampuan bouncing, dan mungkin slave flash. Nikon SB-600 memiliki fitur yang jauh lebih banyak daripada itu, tetapi apakah semua fitur tersebut kita gunakan? Nikon SB-400 yang berharga sama memiliki guide number yang jauh lebih kecil dan tidak bisa digunakan untuk bouncing ke kanan/kiri — suatu hal yang harus dimiliki oleh sebuah flash eksternal.
Subjective Review
Jika Anda menginginkan sebuah flash bertenaga besar dan hanya memerlukannya untuk bouncing dan diffussing light, flash ini mantabs. Cuma, iTTL-nya seringkali ngaco, lebih sering under-exposure daripada tepat, jadi saya lebih sering menggunakannya dalam mode manual dengan kamera diset pada M (biasanya saya memakai Apperture Priority). Saya lebih sering menggunakannya untuk foto-foto dokumentasi di indoor yang kurang cahaya. Untuk foto art di outdoor, sejak dari awal saya memang tidak menyukai penggunaan flash, jadi saya tak pernah pakai flash ini.
Secara ukuran, speedlight ini raksasa. Berat dan besar. Jika dipasangkan dengan Nikon D40 yang mungil, flash ini terlalu besar. Cukup menyiksa tangan karena menjadi cepat pegal-pegal dan tidak bisa steady di bawah shutter speed 1/30s.

Untuk contoh-contoh foto dengan speedlight ini, Anda bisa lihat foto-foto saya di posting setelah ini. Stay tuned! *halah!*
Foto:
Thanks to: Pak Revin M
Posted in 












October 9th, 2007 at 12:15 am
lih.. takon2.
lek kepengen tuku kamera DSLR opo yoh seng apik.
budget menengah… aku rodo bingung saiki menentukan pilihan.
antara Nikon D40, Canon EOS 400D n Sony Alpha 100.
dengan pengalaman mu seng luweh akeh… ak njaluk saran.
thx.
October 9th, 2007 at 7:23 am
#nRa:
sek… ditulis neng posting wae pisan
October 14th, 2007 at 8:01 am
berarti fiturnya lebih bagus daripada 430 ya?wah padahal barusan beli je, jadi agak nyesel….
October 14th, 2007 at 3:59 pm
#fisto:
bagaimanapun juga secara kualitas tetap jauh lebih bagus 430. Jadi nggak perlu menyesal hehehe…
October 22nd, 2007 at 1:54 am
thanks reviewnya. saya juga lagi cari external flash yang murah meriah untuk Nikon D40. mau beli SB400 iTTL nya katanya bagus, tapi kok ndak bisa noleh-noleh jadi ragu. mendingan SB600 aja kali ya
December 18th, 2007 at 4:09 pm
thanks reviewnya. Berharga buat saya yang amatir dan baru belajar photography. Saya mo tanya, apakah Nissin Di622 bisa dipakai di Canon 350D? kebetulan saya pake Canon 350D dan lagi cari flash yang murah meriah tapi gak murahan. Thanks atas jawabannya.
December 18th, 2007 at 4:42 pm
#PapaGavin:
Saya rasa, setelah memakai Nissin, jika ada uang berlebih, lebih baik sekalian SB600 atau nabung dulu. Direct flash milih built-in-flash jauh lebih cantik internal flash daripada si Nissin ini.
#sandmanzz:
Bisa, asal cari yang Nissin for Canon.
December 25th, 2007 at 11:20 am
[…] FLICKR Lokasi:Aula Benih Palawija, Lawang, Malang Pernikahan Ria dan Ferdy, 23 Desember 2007 Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR | 1/15s | F/5 Saya tidak pernah secapek hari Minggu kemarin selama saya memotret dan meliput event. Rasanya benar-benar all out, semua kemampuan dan pengetahuan fotografi saya kerahkan untuk meliput jalannya pesta pernikahan Mas Ferdy Ferdian di Lawang, Malang, 23 Desember 2007. Meskipun capek, banyak pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan dalam meliput sebuah wedding event. Dan akhirnya, hasil yang memuaskanlah yang mengobati pegal-pegal badan. Mari saya share pengalaman dalam meliput wedding, khususnya dengan piranti fotografi Nikon D40, lensa midrange Nikkor AF-S 18-55mm, lensa tele Nikkor AF-S 55-200mm VR, dan sebuah speedlight Nissin Di622 for Nikon. […]
March 14th, 2008 at 2:01 pm
Mas Galih, thanks a lot utk review Nissin-nya. Sy juga nemuin problem yg sama dgn i-TTL nya di D70s saya. Saya sering kesel di TTL-nya nemuin kasus exposure yang tiba2 berubah. Saya pernah buat percobaan moto objek sama, jarak sama dgn siklus mulai dari TTL -> full power (M-1)-> M-2 s/d M-64 lalu balik lagi ke TTL; dan hasil exposurenya berbeda antara di awal siklus dgn akhir siklus..
Ada saran mas? Saya rencana mau pakai utk candid di wedding.. Thanks
June 3rd, 2008 at 11:04 am
thank’s buat reviewnya…jadi nih kayaknya beli Nissin Di622 buat D40 ku tersayang..heheh..maklum amatiran…
August 5th, 2008 at 1:05 am
Mas minta saran donk,
saya baru beli Nissin DI622 tiga hari lalu, waktu pertama menghidupkan powenya kok ada suara kreckkrrrt… dari dlmnya, apa memang begitu karakternya?… trus ketika saya mau off powernya (matikan), susah bener matiinya, setelah mati lampnya… ga lama hidup sendiri. apa kurang lama saya menekan tombol offnya?…
Salam.
August 5th, 2008 at 7:52 am
#yhara:
memang karakternya begitu. itu mekanisme zoom dari speedlite-nya. kasar. soal mematikan power, itu kelamaan megangnya. soalnya kalau sudah mati terus tombolnya masih dipencet, dia bakalan hidup lagi he he he…
August 8th, 2008 at 10:03 pm
Tanks Mas Galih, he he he…
nanya lagi ach. Klo untuk mengaktivkhan Slavenya gimana sih, saya dah coba pencet2 modenya tapi tetep gak bisa saya triger pake flash camera canon 400D saya. si Nissinnya gak mau nyala ketika saya pancing pake flash lain juga. Intinya saya bingung membedakan/menggunakan modenya .
Salam