Masjid Agung Al-Munawwar

Posted by: on Oct 30, 2007 | 3 Comments
Seri Oleh-Oleh dari Kampung
Lokasi: Alun-Alun Kota Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55mm | 1/50s | F/9

Masjid Jami’ yang baru saja dipugar. Meskipun jadi jauh lebih bagus, tapi jadi terkesan sempit. Entah apa yang menyebabkannya.

Asyiknya Sangu Riyaya

Posted by: on Oct 30, 2007 | 5 Comments
Seri Oleh-Oleh dari Kampung
Lokasi: Ds. Sanan, Kec. Pakel, Kab. Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55mm | 1/60s | F/4

Sangu Riyaya, atau angpao lebaran, adalah hal yang paling ditunggu oleh anak-anak, termasuk sepupu saya ini, Zein. Betapa tidak, karena dari angpao inilah anak-anak bisa membeli sesuatu yang diidam-idamkan sejak lama. Bisa jadi mobil-mobilan, mainan baru, Nintendo, Sega, Gamewatch (gembot), Play Station atau XBox kalau zaman sekarang. Tapi tidak untuk pakaian baru karena sudah dibelikan oleh orang tua. Barang-barang idaman ini mungkin hanya bisa dibeli oleh uang hasil tabungan dari angpao yang diberikan oleh saudara-saudara waktu unjung-unjung (silaturahmi) lebaran. Tidak mungkin merengek ayah dan ibu untuk membelikan. Terlalu tidak bermanfaat, mudah bosan, nanti lama-lama akan dibuang percuma adalah alasan klise mereka.

Boleh percaya atau tidak, lebaran tahun ini adalah lebaran pertama saya tidak mendapatkan angpao lagi . Tahun lalu, saya masih mendapatkan dari Nenek. Sekarang tidak lagi. Tapi tentu saja itu tidak menyurutkan kebahagiaan pada lebaran tahun ini karena tahun ini sekaligus adalah tahun pertama saya bisa mulai memberikan angpao kepada adik-adik dan sepupu-sepupu saya. Semoga tahun depan, untuk keponakan saya . (sekarang masih 7 bulan dalam kandungan ibunya)

Namanya: Rifi

Posted by: on Oct 29, 2007 | 2 Comments
Seri Oleh-Oleh dari Kampung
Lokasi: Ds. Ringinpitu, Kec. Kota, Kab. Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55mm | Nissin Digital Di622 for Nikon | 1/60 s | F/3.5

Cowok yang kelak pasti akan banyak mematahkan hati para cewek ini adiknya Intan (int).  Namanya Rifi. Saya diminta memotretnya karena kata int giginya mulai tumbuh. Rifi paling suka difoto. Bahkan ketika saya sudah selesai, dia nggak terima dan mencoba meraih kamera saya. Hehehe…

Foto ini adalah foto dengan flash yang berhasil setelah sekian lama gagal. Setidaknya, paling memuaskan saya. Lighting seperti ini namanya Bouncing Flash. Flash saya arahkan ke atas dengan kekuatan penuh supaya memantul kembali ke bawah. Hasilnya, cahaya yang jatuh ke objek halus dan merata, tidak kasar (harsh).

Hanya Rumah Tua

Posted by: on Oct 29, 2007 | 9 Comments
Seri Oleh-Oleh dari Kampung
Lokasi: Ds. Sanan, Kec. Pakel, Kab. Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55mm | 1/640 s | F/4

Rumah berdinding bambu itu, atau gedhek dalam bahasa Jawa, tentu sudah setua penghuninya. Saya masih ingat, jalan depan rumah ini adalah jalur saya bermain balapan sepeda waktu masih SD kelas 1. Sekarang jalanan itu masih sama, persis 16 tahun yang lalu. Hanya sedikit yang berubah, kecuali pembalap sepeda kanak-kanak itu yang kini telah beranjak tua.

Windows Vista dan Internet

Posted by: on Oct 28, 2007 | 14 Comments

Windows Vista tidak cocok untuk digunakan di daerah fakir bandwidth. Terlalu banyak “spyware” legal yang berjalan.

Itu adalah kesimpulan saya tentang sistem operasi ini. Ceritanya, saya dipinjami notebook yang berisi Windows Vista Bussiness agar saya bisa bekerja di rumah. Saya bekerja dan terhubung dengan internet menggunakan koneksi GPRS IM3 dengan ponsel Sony Ericcson W200i saya. Vistanya masih baru, jadi segala setting masih default.

Saya pun segera terhubung ke internet berbekal pulsa Rp. 5000. Perkiraan saya, dengan digunakan hanya untuk chatting pakai Pidgin, pulsa sebanyak ini bisa tahan hingga tiga hari. Tapi tak lebih dari lima menit, pulsa saya habis! Padahal saya tidak browsing webpage. Ada koneksi diam-diam tanpa seizin saya tapi diizinkan oleh Windows. Bahkan oleh Norton Protection Center yang (kebetulan) terinstall. Selidik punya selidik, program itu adalah Windows Update. Secara default, Windows Update akan mencari update terbaru dan mendownloadnya. Hmm.. pantesan 5 MB saya habis! Tak sampai kejapan mata, saya habisi Windows Update supaya tidak buat koneksi seenaknya! Setelah itu lancar. Bandwidth keluar sesuai dengan kontrol.

Sampai tadi ketika saya terhubung dengan internet sambil mendengarkan musik dengan Windows Media Player. Pengalaman dengan Windows Update, segala opsi yang berhubungan dengan internet sudah saya matikan. Tapi traffic data begitu derasnya. Lagi-lagi yang terdeteksi terhubung dengan internet hanya Pidgin saja. Aplikasi ini sudah terjamin tidak menggunakan bandwidth secara misterius. Transparan. Ketika saya mematikan Windows Media Player, traffic data normal kembali. What a goddamned Windows! Apa itu bukan spyware namanya? Dasar. Karena tak ada Winamp, saya pakai VLC Media Player. Jauh lebih bersih dari koneksi misterius.

Saya jadi ingat quote dari Section Head saya ketika bicara tentang Internet Explorer dan Mozilla Firefox,

Microsoft mah bikin aplikasi jelek dan buruk gak masalah. Yang penting bagi dia adalah, meskipun jelek tapi semua orang pakai. Orang nggak tahu apa itu Firefox, yang tahu cuma yang sedikit ngeh sama komputer. Orang cuma tahu IE. Titik.

Wow!

Obat Rasa Sakit adalah Sibuk

Posted by: on Oct 26, 2007 | 7 Comments

Judul di atas adalah sebuah kata-kata dalam novel The Rage of Angels karya Sidney Sheldon. Betapa benarnya kata-kata ini. Benamkan diri dalam pekerjaan, paksa tubuh hingga mencapai titik lelahnya hingga tidur bisa nyenyak tanpa terganggu mimpi-mimpi buruk.

Apa yang dapat saya lakukan lagi selain membenamkan diri? Tempat itu ternyata masih belum memberikan keberuntungan bagi saya. Matahari belum terbit. Badai belum berlalu. A New Day has not come yet. Cinta, deritanya memang tiada pernah berakhir. Apa yang dapat saya lakukan lagi selain membenamkan diri? Tak ada hiburan yang lebih menenangkan daripada itu.

Entah sampai kapan? Only heaven knows, tapi saya yakin kalau saya masih punya banyak waktu. Untuk apa? Untuk jatuh dan sakit berkali-kali?

Tidak ada yang mengagetkan saya kali ini. Seperti yang saya bilang, mungkin saya hanya bisa tersenyum sambil berkata, “Yak ampun… lagi Lih?”

Nikon D40 atau Canon EOS 350D?

Posted by: on Oct 24, 2007 | 38 Comments

Ini adalah mandatory posting dari sahabat saya, nRa. Semoga memuaskan ya ndrak?

Lho, Sony Alpha kok nggak saya masukkan di sini? Well, ada beberapa alasan kenapa saya hanya memilih dua merek DSLR yaitu dari Nikon dan Canon, antara lain:

  • Saya belum pernah tahu seperti apa kualitas Sony, meskipun mungkin karakter warna-nya sama mirip dengan Nikon, secara Nikon memakai teknologi sensor CCD-nya Sony.
  • Third party vendor, baik lensa maupun asesoris yang lainnya, kebanyakan hanya menyediakan produk yang kompatibel dengan Nikon dan Canon saja.

Jadi pertanyaannya, D40 atau EOS 350D?

Well, ini pertanyaan super sensitif di dunia fotografi. Bisa membuat debat kusir yang berdarah-darah. Tapi orang selalu bertanya ini, dan meskipun mereka tidak pernah menemukan jawaban pasti, mereka paling tidak terpuaskan dengan membaca argumen-argumen pembela Nikon dan Canon. Jadi saya akan menjawabnya dari sudut pandang pengguna Nikon…. D40

Ini adalah pertanyaan yang sama ketika saya akan membeli kamera DSLR. Saya sudah sempat memegang-megang EOS 350D karena secara harga, dua kamera ini BBT (Beda-Beda Tipis). Alasan saya kenapa memilih D40 instead of EOS 350D adalah:

  1. Warna-warni Nikon D40 jauh lebih hangat daripada EOS 350D. Hangat di sini maksudnya saturasi dan kontrasnya. Ngejreng. Saya adalah fotografer yang dididik oleh Fotografer.Net, dan FN mengajari saya untuk membuat foto yang mencolok, ngejreng, hangat, dan hampir selalu di-make-up oleh Photoshop.

    EOS 350D di lain pihak, seperti karakter sensor CMOS Canon pada umumnya, memiliki warna yang lebih natural. Orang bilang, warna kulit manusia (skin tone) yang dihasilkan sangat alami. Kalau Anda motret cewek berkulit putih mulus, di Canon akan tampak putih mulus, sedangkan di Nikon akan terlihat lebih cokelat. Meskipun demikian, selera saya akan bilang kalau warna Canon cenderung lebih pucat.

  2. D40 lahir lebih muda, tentunya membawa teknologi yang lebih muda. Tidak sesuai jika membandingkan D40 dengan 350D, karena yang keluar hampir bersamaan dengan D40 adalah EOS 400D, sehingga yang pantas dibandingkan adalah D40x dengan EOS 400D.
  3. Lensa.
    Yes, inilah kelemahan terbesar D40. Pilihan lensa sangat sedikit. Dengan EOS 350D, Anda bisa memakai lensa Canon apa saja, mulai dari yang murah meriah seri EF-S yang sejuta dua juta hingga seri L (Luxurious) yang di atas 8 jutaan. Dan kita tentu saja bisa menggunakan lensa-lensa third party yang sangat banyak, misalnya Tamron, Sigma, atau Tokina. Dan tentu saja, murah meriah

    Di lain pihak, pilihan lensa D40 sangat terbatas. Lensa tipe AF-S rata-rata di atas 5 juta. Hanya sedikit yang dibawah lima juta. Beberapa yang saya tahu adalah lensa kit 18-55 dan lensa tele 55-200 VR. Lensa wide 12-24-nya? Ampun-ampun, tujuh jutaan ke atas! Anda tidak bisa pakai lensa tipe AF lama-nya Nikon, padahal banyak diantaranya yang legendaris dan murmer. Anda juga tidak bisa pakai lensa third party karena belum banyak yang support untuk D40.

    Lalu kenapa saya tetap pilih D40? Karena saya cuma fotografer hobi. Saya cukup punya lensa kit dan tele saja. Dan karena harganya masih masuk akal buat saya, jadi saya pilih D40. Saya juga diselamatkan dari keinginan untuk mengoleksi lensa-lensa jika saya punya D40.

  4. Ergonomi.
    Dua kamera ini sama-sama ringan, kecil, tapi tidak mantap digenggam. Bandingkan dengan Nikon D200 atau Canon EOS 40D yang berat tapi mantap digenggam. Tapi saya lebih suka pegangannya D40 daripada 350D. Itu yang membuat saya memilih D40 dulu.

Apa lagi yah… Kalau secara teknis, tentang noise, ISO, ketajaman, dan lainnya, hal itu tidak banyak berbeda secara berarti saya kira. Soalnya dua kamera ini sama-sama bermain di kelas DSLR pemula. Jadi ya.. tetap noisy di ISO tinggi.

Gitu aja dulu. Gimana ndrak? Puas? ) Ada yang perlu ditanyakan?

Switch to our mobile site