Entries from September 2007

Sandalku Hilang!

Date September 30, 2007

Dapatkan Anda menebak di mana saya kehilangan sandal? Yeah, Anda betul: Masjid. :) Tepatnya di Masjid At-Tiin, kompleks Taman Mini Indonesia Indah. Bersama BDI (Badan Dakwah Islam) kantor, saya iktikaf di situ mulai Sabtu siang hingga Minggu pagi tadi. Saya bukannya tidak mau mengambil langkah-langkah preventif, tapi entah apa yang mendorong saya sehingga saya memilih menyimpan sandal itu di satu sudut masjid dan meninggalkannya di situ. Saya khusnudzon, berprasangka baik, bahwa semua orang yang ada di masjid berniat baik untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pengasih.

Well, ternyata saya mendapati sandal saya sudah tidak di tempat pada pagi waktu akan meninggalkan masjid. Saya hanya tersenyum maklum. Saya tak mau mengotori ibadah saya dengan memaki-maki atau malah mengembat sandal sebelah. Bisa jadi sandal saya hilang bukan karena sengaja dicuri. Bisa jadi dipakai untuk berjalan ke sisi yang lain dari masjid yang luas itu, atau malah menjadi korban dari korban yang kehilangan sandal juga. Jadi berantai gitu :D

Semoga sandal saya itu bermanfaat bagi pemilik yang kini telah memakainya. Amin.

Tinggalkan Microsoft Office? Ntar dulu kali yee…

Date September 30, 2007

Melanjutkan postingan ini.

Ada banyak hal ternyata — yang baru saya sadari — kenapa orang tidak mau pindah ke open source dan tetap bertahan di software propietary. Mari saya daftar satu per satu.

Ketergantungan dan Kebiasaan

Faktor utama tetap, tentu saja, yaitu ketergantungan dan faktor kebiasaan yang telah mendarah daging sejak era Windows 95. Dulu dan hingga sekarang, Windows dan Office telah menjadi standar pelatihan-pelatihan kerja. Tadi waktu lewat jalan Dewi Sartika, saya bahkan masih menemukan spanduk reklame pelatihan Microsoft Office. Saya belum pernah melihat ada spanduk reklame lembaga pelatihan kerja yang menggunakan OpenOffice.org :D

Ketidaktahuan Bahwa Office itu Harus Bayar

Ini ironis. Ternyata masih banyak yang tidak tahu kalau Windows dan Office itu pemakaian software-nya harus bayar, dan bahwa software yang dipakainya adalah bajakan. Ini dialami di kota-kota kecil macam Tulungagung, kampung halaman saya. Seorang pengajar komputer di sebuah SMA bertanya ketika saya menunjukkan aplikasi OpenOffice, dan dari dialog, dia baru tahu kalau selama ini ia mengajar software yang telah dibajak.

Bagaimana dengan saya sendiri? Ternyata, saya tidak berani berkampanye soal Free and Open Source Software (FOSS). Ketika saya membelikan sepupu sebuah notebook ber-brand Acer yang tidak ada sistem operasinya, saya tidak berani menginstallkan sebuah Ubuntu di situ. Mungkin kalau saya di dekatnya, saya bisa mengajarinya pelan-pelan. Tapi untuk sebuah instalasi Linux yang dimana saya tidak ada di dekatnya untuk memberikan support, saya tidak berani. Walhasil, saya menyerah dan menginstall Windows dan memberikan OpenOffice sebagai Microsoft Office.

Citra

Nah, ini masalah citra yang terlanjur terbentuk di wajah FOSS. Kesalahan besar yang mungkin dilakukan oleh para pengenal FOSS di jagad Indonesia. Bahwa FOSS itu identik dengan gratis! Ini sangat tidak sejalan dengan image building, khususnya untuk suatu perusahaan. Jumat kemarin, sebuah perusahaan asuransi, CAR, melakukan presentasi. Notebook yang dipakai adalah Acer ber-Windows XP. Presentasi yang dipakai adalah OpenOffice Impress (PowerPoint-nya OpenOffice). Meskipun presentasinya bisa dilihat (tapi jangan dibandingkan dengan PowerPoint 2007), spontan saya nyeletuk berbisik di telinga teman saya, “Eh, dia nggak kuat beli Office tuh… ;)) ”

Alternatif yang gratis yang sedang melawan dominasi market leader yang mahal, ternyata menimbulkan kesan seperti itu di kepala saya dan sangat mungkin di benak banyak orang awam. Ini jelas merusak kesan yang ingin dibentuk para presenter handal itu.

Busway Koridor Kesekian…

Date September 28, 2007

Kemarin malam sepulang dari acara bukber di Setiabudi Building, saya pulang ke kos-kosan di daerah Pancoran Barat melalui kompleks Patra Jasa yang menembus di samping Menara Bidakara dan akhirnya lewat perempatan ruwet Pancoran. Sejak saya menemukan rute ke kantor yang ada di Gatot Subroto via Mampang-Tegal Parang-Pancoran Barat, saya jarang melewati perempatan ini. Dan ternyata ada hal yang bikin saya kaget: pembangunan jalur busway koridor kesekian.

Proses pembangunan ini sungguh kilat khusus ekspress. Jalur ini memakan satu jalur arteri paling kanan Gatot Subroto dan bersisian langsung dengan tol dalam kota. Di Pancoran yang ke arah Cawang (MT. Haryono), menjelang perempatan Cawang-Pasar Minggu-Tebet, jalur ini mengalami penyempitan menjadi dua jalur, karena dua jalur lain naik flyover. Nah, sebelum ada jalur busway, arus lalu lintas mengalami bottle neck di sini. Jam lima sore sampai delapan malam adalah saat-saat yang paling parah dari segala kemacetan lalu lintas di Jakarta. Nggak usah saya ceritakan, pokoknya bagi pengguna Kopaja/Metromini/Bus Kota, terjebak kemacetan di sini pada waktu jam pulang kantor adalah penderitaan hebat yang harus dialami tiap hari.

Jalur bottleneck ini sekarang dipersempit dengan adanya jalur busway. Tinggal sisa satu jalur saja. Tampaknya perancang tidak belajar dari pengalaman pembangunan jalur busway Ragunan-Mampang atau Pasar Rebo-Cililitan. Entah seperti apa kemacetan yang akan terjadi ketika jalur ini telah selesai. Oh iya, penyempitan tak masuk akal ini juga terjadi di jalur Tamini Square TMII hingga Pasar Rebo.

Memutuskan memakai trans-jakarta sebagai pilihan juga repot. Armadanya kuraaaang! Selain harus menunggu lama, kita juga harus berdiri. Nggak nyaman! Padahal operatornya sudah mengeluh karena pembengkakan biaya operasional dan akan mengurangi armada yang beroperasi jika tarif tidak dinaikkan. Halah!

Entahlah… siapa suruh datang Jakarta? :)

Firefox.. oh Firefox…

Date September 28, 2007

Habis sudah kesabaran saya dengan browser satu ini. Browser ini bagi saya adalah browser terbaik dan sangat cocok untuk developer seperti saya. Merender HTML dengan nyaris sempurna membuat saya sangat nyaman berselancar dengan browser ini. Extension yang banyak juga sangat mengasyikkan. Extension yang telah saya pasang adalah Firebug Javascript Debugger ketika saya bercengkerama dengan Javascript. Lalu Tada Downloader sebagai Download Manager menggantikan FlashGet dan DownloadAccelerator yang diblock oleh proxy kantor.

Sungguh, saya telah jatuh cinta dengan browser ini dan malas pindah ke lain hati….

.. kalaulah tidak ada hal yang sangat menyebalkan dari Firefox. Update demi update terus datang membuat browser ini semakin gendut dan semakin berat. Sangat tidak responsif. Apalagi jika telah membuka tab lebih dari 10 buah. Bisa diam lama sekali dia tak bisa diapa-apain. Penyebab utama mungkin karena fleksibilitasnya terhadap extension, sehingga dia memerlukan waktu yang lama untuk memproses.

Akhirnya, hari ini, firefox saya pensiunkan dan hanya digunakan untuk debugging Javascript dan download saya. Lalu untuk browsing, saya pakai apa? Saya tak mau pakai Internet Explorer. Jadi akhirnya, terpaksa pakai Opera. Meskipun rendering HTML dan Javascript-nya agak payah, tapi saya suka kecepatan dan responnya yang terkesan ringan. Setidaknya hingga saat ini.

Bug Serius MS Excel 2007

Date September 26, 2007

Dapat dari forward-an email dari Mbak Ninna, ternyata Excel 2007 tidak menghitung perkalian secara benar bilangan 850 dikalikan 77,1. Jika sel A1 adalah 850 dan sel B1 adalah 77.1 maka jika sel C1 memiliki rumus A1*B1, maka Excel 2007 mengeluarkan hasil 100.000. Padahal jika dihitung pakai tangan akan menghasilkan nilai 65.535
Saya telah mencobanya juga. PC saya Pentium 4 HT 3.0 GHz. Ada yang bilang prosesor AMD bisa mengerjakan ini dengan benar. Wah, seru sekali. Another bug of Microsoft Office 2007. Dasar Microsoft, hehehe.. ;))

Referensi: Excel can’t Multiply di http://www.appscout.com