Dilema Seorang Fotografer

Posted by: on Jul 12, 2007 | 10 Comments

Halah, judulnya kayak saya sudah pakarnya motret selama bertahun-tahun saja, padahal pegang shutter pun masih gak bener. Tapi saya rasa, apa yang akan saya ceritakan ini pernah atau pasti dialami oleh fotografer baik yang profesional atau amatir, bahkan juga yang asal jepret pokok PeDe seperti saya.

Bagi saya, motret yang paling mudah sekaligus menyenangkan adalah motret landscape dan arsitektur bangunan. Tinggal menunggu golden hour, cari komposisi yang paling tepat, selesai. Kamera poket pun bisa menghasilkan gambar yang luar biasa, apalagi kalau retouch Photoshop ikut campur.

Motret yang menyenangkan tapi sulit adalah motret model. :”> Motret model harus bisa mengarahkan model, pandai menangkap aura dan ekspresi model, tahu cara cahaya jatuh di tubuh model, tahu bukaan yang tepat, tahu shutter speed yang tepat, dan sederet teknis yang ampun-ampun. Tapi menyenangkan, lhawong modelnya cewek cakep-cakep. ) Coba kalau modelnya janda-janda tua, hmm… pasti workshop photogaphy lighting technique tak banyak yang laku deh.

Memotret human interest adalah hal yang paling dilematis. Bukan apa-apa, karena hal yang kita jadikan objek adalah manusia juga. Dilematis, di satu sisi saya ingin mengungkap suatu sisi kehidupan manusia, misalnya kehidupan masyarakat kelas bawah. Saya, dengan memotret itu ingin menyampaikan pesan bahwa masih banyak orang yang tidak seberuntung saya, dan oleh karenanya apa yang saya dapat harus saya syukuri. Di lain pihak, apa yang saya lakukan bisa dikatakan sebagai eksploitasi penderitaan orang lain. Saya menikmati penderitaan mereka dengan memotret sana sini tanpa melakukan sesuatu untuk membantu mereka. Lihat saja kemarin waktu banjir Jakarta, berapa orang yang datang menonton banjir dan berfoto sana sini seperti layaknya sedang berwisata.

Ketika saya motret pemetik teh di kebun teh Cisarua, Puncak, saya datang baik-baik ke ibu itu, dan minta permisi untuk mengambil gambarnya. Namun, betapa terkejutnya saya melihat reaksi ibu itu setelah saya potret, ibu itu minta uang sebagai ganti. Saya cuma bisa mengelus dada, di mana letak keramahan khas Indonesia yang saya baca di buku pelajaran waktu SD dulu? Apakah itu hanya bull shit yang telah digilas oleh kebutuhan ekonomi? Ataukah memang masyarakat kita sekarang sudah pandai memanfaatkan kesempatan? Sekecil apapun kesempatan bisa untuk mencetak uang. Semua tak ada nilainya, kecuali jika diganti dengan uang.

Saya mungkin masih bisa memotret pedagang asongan, namun ketika saya menyusuri stren kali Ciliwung yang membelah Jakarta, atau menyusuri jalan kereta api dalam kota Jakarta, saya tak mampu. Terlalu menyedihkan untuk diframe dan dipasang di flickr. Atau jika Anda ingin, suatu saat saya akan memotretkan untuk Anda, kalau saya sudah mampu melawan dilema.

Suatu Pagi di Stasiun Cepu

Posted by: on Jul 10, 2007 | 11 Comments

FLICKR
Kereta api malam Sembrani jurusan Jakarta-Surabaya pagi itu tiba dan berhenti sejenak di stasiun Cepu, Jawa Tengah. Para pedagang asongan dengan semangat bangkit menyambut kedatangan kereta dan segera berteriak menjajakan dagangannya, “Wingko babat… wingko.. wingko… nasi… nasi pecel…!” Namun sayang, ibu ini mesti kecewa karena tak diizinkan masuk kereta oleh petugas yang membentak. Tak lama berselang, matanya menangkap sosok dari balik jendela yang sedang membidikkan lensanya. Segera ia memalingkan muka dan tersenyum malu sembari memekik, “Aku difoto!”. Sang fotografer tersenyum, menganggukkan kepala tanda terima kasih. Sang ibu pedagang asongan akhirnya juga tersenyum dan melambai, tak lupa meneriakkan dagangannya, mengiringi Sembrani yang bergerak malas meneruskan perjalanannya ke Surabaya…

***

*Oleh-oleh perjalanan Jakarta-Surabaya-Tulungagung-Jakarta, diambil dari balik jendela gerbong II, kereta api Sembrani.

Stasiun Tulungagung

Posted by: on Jul 9, 2007 | 51 Comments

FLICKR

Aku ambil gambar sore menjelang aku naik kereta senja Gajayana untuk kembali ke Jakarta. Handheld, tanpa tripod. Ternyata tanganku masih lumayan di kecepatan 1/15 sec. Inilah stasiun Tulungagung, stasiun kota kecil yang meskipun kecil, kereta eksekutif Malang-Jakarta, Gajayana, mau berhenti di sini. Trenggalek, kota tetangga Tulungagung bahkan tak punya stasiun kereta api )

Kepulanganku ini dalam rangka menghadiri pernikahan temanku (di posting sebelum ini) di Surabaya. Mampir pulang sebentar ke rumah. Brr… capeks… tua di jalan Thanks buat my best friends, Int (untuk kesekian kalinya) yang mau aja kuajak hunting ke Srabah, jadi model dadakan (awakmu kok tambah lemu seh nduk?), terus Dika — as always — untuk es campur di warungnya hehe… Gila kalian semua ini, masak ikutan nganterin pulang balik sampai stasiun? Thanks yach!!!

Sunrise

Posted by: on Jul 6, 2007 | 8 Comments

FLICKR
Selamat menempuh hidup baru, kawanku IF-ITS 2002,
Ciptian Y Prasetya, a.k.a Bophi
Menikah tanggal 070707 di Banyu Urip, Surabaya

Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah

Doakan aku agar segera memiliki mental sepertimu
Agar tidak bingung ketika diajak cepet-cepet nikah )
A New Day has really come to you, buddy…

Untuk Esok Hari

Posted by: on Jul 5, 2007 | 10 Comments

FLICKR
Bapak pedagang asongan di kawasan kota tua Jakarta ini tetap semangat menyandang kotak dagangannya. Demi esok hari. Entah hari ini, entah pula esok hari. Sebuah potret untuk mengingatkan kita semua untuk selalu mensyukuri apa yang telah dikaruniakan oleh-Nya pada hari ini. Seringkali kita mengeluh, seringkali kita merasa kekurangan. Seringkali kita selalu memandang ke atas. Seringkali kita pergi ke mall-mall yang berkilau bermandikan cahaya lampu. Namun jarang kita memandang ke bawah. Apa yang telah kita lakukan hari ini?

***

Motret human interest amat sulit, apalagi jika hanya berbekal lensa kit 18-55 mm. Bokeh-nya juga tidak terlalu nendang, jadi inilah seadanya saja. Filter BW (Black and White) dioprek habis di Adobe Photoshop CS 3 lisensi GPL (Glodok Public License) )

Hanya Mengingatkanku kepada…

Posted by: on Jul 4, 2007 | 10 Comments

Membaca sketsa-sketsa melankolis romantis dari mbah ndoro kakung, memaksa saya mau tidak mau mengenang dan menengok sedikit sebentar ke belakang. Bahwa saya juga memiliki cerita yang melankolis juga, meskipun sangat berbeda dengan sketsa tersebut. Bahwa saya pernah terluka, yang meskipun ketika luka itu sembuh, luka itu membuat saya semakin tegar dan semakin bisa melihat kenyataan yang ada.

Sebuah kalimat terngiang di benak saya, “Jika kamu ingin sembuh, maka kamu harus tega terhadap dirimu sendiri.” Masalahnya, terkadang kita justru menikmati luka-luka yang ditimbulkan. Be Gees bilang, love is such a beautifull pain. Kita tidak mau beranjak dari masa lalu karena sesakit apa pun masa lalu tetaplah indah. Bagaimana sakitnya ketika kita mesti menahan untuk tidak mengirim SMS kepadanya. Bagaimana sakitnya ketika kita mesti menahan diri untuk tidak meneleponnya dan mendengarkan keceriaannya di seberang sana. Bisa mendapatkan keceriaan darinya rasanya sudah lebih dari cukup. Namun, manusia tak pernah mengenal kata cukup, tentu saja

Tapi hidup adalah pilihan. Life is a matter of choices. The best you choose, the best you have, itulah motto dari salah satu kawan saya yang saya baca di album kenangan SMA. Kita tidak mungkin hidup hanya dengan membangun harapan-harapan kosong, seindah apapun itu. Karena harapan adalah cita-cita, cita-cita membentuk motivasi, motivasi membuat diri tergerak untuk menggapainya. Jika harapan telah kosong, lalu buat apa membangun harapan kosong? Bukankah kita selalu diberi pilihan untuk membangun harapan baru yang lebih bermakna daripada sekedar membangun harapan kosong yang sia-sia? Bukankah itu sebenarnya dari makna A New Day Has Come itu?

*sekedar menengok kembali dan mengenang saat-saat indah itu.

The LightMagz Magazine

Posted by: on Jul 3, 2007 | 2 Comments

Dari rekan-rekan blogosphere, aku tahu majalah ini dan akhirnya subscribe mailing list-nya. Setelah download, dan membaca empat edisi terakhirnya, majalah ini sangat lain daripada yang lain dan memaksaku untuk mereview-nya.

Keunikan pertama adalah bahwa majalah ini gratis. Gratis, dalam artian Anda harus membayar biaya bandwidth untuk download karena majalah ini didistribusikan dalam bentuk e-book. Redaksi TheLightz kelihatannya sangat cerdik melihat celah ini. Dunia fotografi digital telah memasukkan internet ke dalam satu kesatuan tak terpisahkan darinya. Fotografer digital biasa bertemu dalam komunitas di internet, men-share foto dalam galeri di internet, sehingga sangat cerdik jika sebuah majalah yang menyasar pasar pengguna internet didistribusikan lewat internet juga. Tak perlu disibukkan dengan urusan cetak mencetak dalam jumlah besar, hingga proses pendistribusian yang memusingkan perancang budget. Distribusi melalui internet adalah distribusi yang luar biasa besar dan cepat dan tentu saja sangat efisien.

Kemudian, dari segi isi, TheLightz juga memiliki isi yang unik. Majalah lain pada umumnya memperbanyak isi pada pembahasan teknik-teknik memotret secara step-by-step, atau review kamera DSLR terbaru, review lensa-lensa, pembahasan digital processing pasca pemotretan, teknik pencahayaan studio, hingga segala tetek bengek yang berbau teknis fotografi. TheLightz mendiferensiasi dirinya dengan sama sekali tidak membahas hal itu. TheLightz memuat liputan wawancara dengan fotografer profesional dengan spesialisasi-spesialisasi tertentu. Ada fotografi wedding, landscape, sport, fashion, travel, dan komersial dilengkapi dengan foto-foto yang sangat “wah”.

Dari isinya, terlihat TheLightz menyasar fotografer menengah hingga tingkat ahli. Pembaca TheLightz diasumsikan telah mengerti dasar-dasar teknik fotografi seperti komposisi, bukaan diafragma, shutter speed, dan lighting. TheLightz mengklaim bahwa dengan membaca kisah perjalanan para fotografer profesional, pembaca bisa belajar selangkah lebih dalam daripada sekedar menghafalkan teknik step-by-step dalam memotret. Pembaca diharapkan belajar ruh dan aura sebuah foto, filosofi sebuah foto, dengan membaca wawancara yang dilakukan oleh TheLightz. Di sinilah TheLightz memposisikan diri dan mendiferensiasi diri.

Empat edisi perdana mendapat sambutan yang sangat baik dari komunitas fotografi Indonesia, terlihat dari jumlah halamannya yang menebal dan kualitas tulisannya yang membaik. Apakah TheLightz bisa bertahan dalam idealismenya yang unik? Apakah strategi unik dengan mendistribusikan majalah secara “gratis” ini bisa bertahan melawan majalah-majalah fotografi konvensional yang telah eksis? Kita tunggu saja kiprahnya.

Switch to our mobile site