Entries from July 2007

Tari Merak

Date July 31, 2007

FLICKR
Lokasi: Stadion Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Jakarta Selatan
Event: Pembukaan Petro Cup 2007
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm | 1/125 s | F/13

Dari event pembukaan Petro Cup 2007. Petro Cup adalah turnamen olahraga dan seni antar perusahaan minyak dan gas yang beroperasi di Indonesia. Tampak di foto adalah tari merak yang dimodifikasi digabungkan dengan mini opera, rancangan tim defile Vico Indonesia. Ini adalah penampilan dari tim defile Vico Indonesia yang berhasil meraih juara sebagai tim defile dengan penampilan terbaik. Terlihat di foto adalah Mbak Kiky :x yang berperan sebagai Ratu.

Saya mendapatkan banyak pelajaran di sini, khususnya dalam memotret penampilan budaya seperti tari-tarian yang ditonton orang banyak seperti ini. Kesulitan yang didapat dalam kondisi ini antara lain:

  • Background yang sibuk. Dalam memotret, carilah background yang bersih agar POI (Point of Interest) dapat terekspose dengan baik. Masalahnya, kita sulit mencari background yang bersih karena orang nonton ada di mana-mana.
  • Momment yang bergerak cepat. Kita harus ekstra peka dalam menangkap objek yang menarik untuk difoto.
  • Mau pakai lensa tele, atau wide?
    Keuntungan lensa tele adalah, kita bisa dapat ekspresi penari dengan background yang bersih karena efek lens blur. Tapi kita tidak bisa dapat kesan suasana kemeriahan waktu tarian. Efek kemeriahan ini berhubungan dengan poin di bawah ini.
  • Foto dokumentasi ataukah candid?
    Saya kemarin di situ bertugas mendokumentasikan acara. Syarat foto dokumentasi adalah semua bagian harus setajam silet. Maka di situ saya pakai lensa saya yang wide-midrange dengan bukaan kecil (F/13). Kemeriahan suasana acara dapat, tapi kalau untuk kebutuhan art photography, jadi sedikit susah. Akhirnya harus ditambal sulam pakai Photoshop CS 3 :D

Jadi begitulah, jika Anda punya saran-saran dan pengalaman ketika memotret event seperti ini, sudilah berbagi dengan saya. Terima kasih :)

Kisah Cinta Sri Jayendra Dyah Dewi Gayatri

Date July 30, 2007

Kitab Negara Kertagama yang ditulis Prapanca, dan juga Kitab Pararaton, menyebutkan bahwa Raja pertama Majapahit, Raden Wijaya, memiliki empat isteri dari putri Raja Singhasari yang terakhir, Kertanegara, yaitu:

  • Tribhuaneswari, bergelar Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuaneswari
  • Narendraduhita, bergelar Sri Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita
  • Pradnya Paramitha, bergelar Sri Jayendra Dyah Dewi Pradnya Paramitha
  • Gayatri, bergelar Sri Jayendra Dyah Dewi Gayatri

dan satu lagi isteri bernama Dyah Petak. Dia merupakan putri seserahan dari Dharmasraya.

Aku tahu sedikit mengenai sejarah Majapahit dari dua novel sejarah yang aku baca, yaitu Senopati Pamungkas karangan Arswendo Atmowiloto, dan Gajah Mada: Sumpah Palapa karangan Langit Kresna Hadi. Dua novel ini secara kebetulan menceritakan kisah cinta Gayatri dibalik pernikahannya dengan Raden Wijaya. Kebetulan inilah yang membuatku sedikit tergelitik.

Seperti yang telah diketahui, setelah Raden Wijaya wafat dan digantikan oleh Jayanegara (Kalagemet) anak dari Dyah Petak, Gayatri memutuskan untuk menjadi biksuni. Aku melihat, celah ini diisi novelis untuk membuat dramatisasi novelnya. Dalam pikiranku yang dipengaruhi dua novel ini, Gayatri menjadi biksuni karena kecewa. Kecewa karena dia harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai dan ia menikah karena sebuah keharusan. Gayatri diramalkan akan menurunkan raja-raja Majapahit yang perkasa.

Novel Senopati Pamungkas menceritakan hal ini secara blak-blakan. Upasara Wulung, tokoh protagonis-pahlawan novel ini, yang sebenarnya dicintai oleh Gayatri. Namun apa daya, Gayatri harus menyerah pada takdir bahwa ia adalah seorang putri Raja Kertanegara. Bagi Raden Wijaya, menikahi keempat putri Kertanegara sangat penting untuk posisi politiknya, selain untuk memindahkan “wahyu raja” ke dinasti yang baru: Wangsa Kertarajasa. Seperti halnya tokoh protagonis pahlawan, Upasara Wulung terlalu jujur dan terlalu baik untuk masuk kancah politik kerajaan. Ia tak bisa apa-apa, apalagi untuk menentang itu. Namun demikian, hanya Gayatri yang bisa mengguncangkan hatinya. Begitu juga bagi Gayatri, hanya Upasara Wulung yang dapat mengisi hatinya. Berawal dari sini, Arswendo menciptakan sebuah alur drama percintaan yang tragis dan menyentuh.

Novel Gajah Mada dalam seri Sumpah Palapa juga mirip, meskipun tidak sangat gamblang. Tentu saja, karena novel ini bersetting waktu masa pemerintahan Tribhuana Tunggadewi dan Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa. Di sini diceritakan, bahwa masa muda Ibu Suri Gayatri penuh dengan lika-liku cinta. Ia jatuh cinta pada seorang maling bernama Wirota Wiragati yang menyelamatkannya pada saat keruntuhan Singhasari karena diserbu Raja Gelang-Gelang. Wirota Wiragati pernah berjanji akan kembali untuk menikahinya, namun sayangnya, janji ini tak kunjung ditepati hingga Gayatri diperisteri Raden Wijaya. Kisah cinta yang sama seperti novel Arswendo, tragis dan tak sampai.

Tentu saja benar atau tidaknya alasan Gayatri menjadi biksuni dan kisah cinta Gayatri hanyalah fiktif. Kitab Negarakertagama dan sumber sejarah Majapahit tidak sedetail itu. Tapi, bumbu-bumbu inilah yang membuat pelajaran sejarah Majapahit menjadi menarik untuk diikuti. Jauh lebih menyenangkan daripada membaca Kitab-kitab itu, dan bahkan buku-buku sejarah milik anak sekolahan. :)

Kasih Sayang (2)

Date July 28, 2007

FLICKR
Lokasi: Kebun Binatang Ragunan, Jakarta
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR | 1/250 s | F/5.6

Masih dari hunting satwa sekaligus anak-anak. Capek keliling area kebun binatang yang sangat luas, sehabis membuntuti pasangan yang sedang mencari tempat mojok, :D saya duduk-duduk sambil menghabiskan segelas plastik air mineral. Di depan mata saya, ada anak kecil asyik bermain bola. Agak tergesa saya mengambil D40 dan segera membidik. Jepret.. jepret.. jepret, satu dua frame tersimpan. Aduh, rupanya jari anak itu terkena sesuatu yang membuatnya kesakitan. Segera ia mengadu kepada papa…

Love you, dad…

Owa Jawa

Date July 28, 2007

FLICKR
Lokasi: Kebun Binatang Ragunan, Jakarta
Nikon D40 | Nikkor 55-200 mm VR | 1/40 s | F/5.6

Owa Jawa, kalau salah mohon dibetulin yak… Ditambahi sedikit efek radial blur, sedikit vetsin framing untuk penyedap rasa dari Photoshop CS 3. Selamat menikmati :)

Sang Elang

Date July 26, 2007

FLICKR
Lokasi: Kebun Binatang Ragunan, Jakarta
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR | 1/200 s | F/5.6

Tentang nama latinnya, saya tak tahu, saya lupa nama yang tercantum di kandangnya. Mbah Mbilung pasti tahu apa nama latin elang ini. Seingat saya sih Elang Jawa, tapi entahlah. Tapi lihatlah wibawanya, sorot mata yang tajam, sikap bertengger yang anggun, seperti menyiratkan bahwa dia adalah sang raja. Raja yang menguasai udara.