The Villa

Posted by: on Jun 8, 2007 | 14 Comments

Lokasi: Villa Ciburial – Puncak Bogor
Long weekend 1 Juni 2007
Kamera: Nikon D40
Lensa: AF-S DX Zoom Nikkor 18-55 mm f/3.5-5.6 G ED
Data teknis selengkapnya, silakan lihat di galeri flickr-ku.

Aku paling suka motret arsitektural pada saat malam hari. Suka melihat kilauan cahaya yang masuk lensa. Foto ini adalah foto Villa tempat kami bermalam waktu liburan long weekend kemarin. Puncak memang sejuk dan berpemandangan indah. Lokasinya yang dekat dengan Jakarta membuat orang membuat tempat peristirahatan di sini. Selain indahnya udara sejuk dan cantiknya kebun teh, Puncak tak lebih dari tempat yang berjalanan macet total dan terlalu banyak villa sehingga merusak esensi dari berlibur itu sendiri.

Javascript:parseInt

Posted by: on Jun 6, 2007 | No Comments

Fungsi yang bernama parseInt (parse integer, bukan parseInt*** ), banyak ditemukan di bahasa pemrograman, antara lain Javascript. Fungsinya untuk menerjemahkan suatu angka dalam tipe String ke dalam tipe integer sehingga bisa dimanipulasi lebih lanjut, misalnya untuk kebutuhan penghitungan Matematis.

Fungsi ini adalah fungsi global JS, sehingga bisa langsung dipanggil tanpa harus menginstansiasi suatu objek tertentu. Bentuk umumnya adalah sebagai berikut:

parseInt( valueInString [, radix] )

valueInString adalah angka dalam tipe data String yang akan diterjemahkan ke dalam integer. Nah, kemudian parameter kedua ini yang seringkali dilupakan. Parameter ini memang opsional, bisa disertakan atau tidak. Radix adalah ke dalam bilangan basis berapa nilai string tersebut dikonversi, apakah desimal, oktal, dan lainnya. Nah, jika parameter ini tidak disertakan, maka Javascript akan menerjemahkan nilai string dengan aturan sebagai berikut:

  • Jika string dimulai dengan “0x”, maka JS akan mengkonversi ke dalam bilangan heksadesimal (basis 16).
  • Jika string dimulai dengan “0″, maka JS akan mengkonversi ke dalam bilangan oktal (basis 8).
  • Jika string dimulai dengan nilai selain itu, JS akan mengkonversi ke dalam bilangan desimal (basis 10).
  • Jika string tidak dapat dikonversi, maka return value-nya adalah NaN (Not a Number).

Jadi, melihat aturan ini, kita harus sedikit hati-hati dalam memanggil fungsi parseInt tanpa menyertakan radix-nya. Tadi aku dipusingkan oleh konversi string “08″ yang menjadi angka 0, bukan 8. Ternyata memang JS mengkonversinya ke dalam bilangan oktal, pantesan deh hehehehe…

Catatan pengingat ini bersumber dari artikel ini.

Pengalaman Pertama dengan Nikon D40

Posted by: on Jun 4, 2007 | 20 Comments

Pengalaman pertama yang sangat mengasyikkan. Kenikmatannya sama dengan ketika menjepret shutter release milik Nikon FM10, namun yang lebih seru, review-nya bisa dilihat di LCD yang super besar. Jadi kalau ada yang salah, misalnya terlalu over exposed / under exposed, focus yang lari, ISO yang salah, white balance yang salah, metering yang ngaco, langsung bisa diatur lagi dan siap dengan jepretan berikutnya. Mengasyikkan!

Orang mungkin bilang, belajar mendapatkan sense of photography adalah dengan mengasahnya terus-menerus dengan kamera manual. Kamera digital membuat pekerjaan memotret menjadi seperti tinggal “point and shoot” saja. Mungkin idiom ini benar, tapi harus diingat, memotret dengan kamera manual butuh lebih banyak waktu dan biaya. Biaya film yang harus dibuang, biaya pemrosesan negatif hingga cetak foto dan seterusnya. Kamera digital mengatasi permasalahan ini. Jadi, meskipun secara sense masih kalah, tapi kemampuan mengolah komposisi, cahaya, dan membidik moment yang tepat bisa dikejar dengan mengasahnya terus-menerus. Keep jepret, kata anak-anak FN

Kamera DSLR, memang sangat memudahkan fotografer. Ada banyak faktor dimana kecanggihan teknologi sangat membantu. Satu: Auto focus. Tinggal menset titik fokus lensa (D40-ku “cuma” punya tiga titik — itu sudah luar biasa bagiku — EOS 400D punya 7 titik fokus atau lebih!), tekan shutter release setengah dan tunggu bunyi tit, objek sudah terfokus sempurna. Bandingkan dengan alat bantu fokus manual milik Nikon FM10 yang sebuah lingkaran kecil di tengah berkaca belah. Kau harus membuat garis di lingkaran itu lurus, maka itulah objek yang terfokus. Ampun ampuun.. (

Dua: Apperture Priority, Shutter Priority. Kita cukup menset salah satunya dan kamera dengan cerdas akan memilih pasangan yang cocok dengan keadaan. Misalnya, di cahaya ruangan, kalau kita menset diafragma di F/3.8, maka shutter speed akan diset secara otomatis di sekitar 1/30s.

Tiga: Metering yang canggih. Tinggal set titik-titik metering. Selesai. Apalagi ada electronic exposure display yang secara live mengatakan bahwa foto yang akan dibidik akan under exposed atau over exposed. Di Nikon FM10, indikator ini cuma dilayani oleh lampu LED (+) dan (-). Bahkan di kamera Ricoh tua milik Bang Uki, indikator ini berupa jarum seperti speedometer )
Walhasil, dengan kombinasi itu, memotret menjadi sangat mengasyikkan. Ingin foto backlit, atau siluet, atau tegas dengan flash light, freezing object, membuat efek gerakan, dooh.. dan masih banyak lagi.

Well, pengalaman pertama dengan D40 adalah Kebun Teh Cisarua, Puncak. Salah satu fotonya ada di posting sebelum ini. Sangat surprise dengan warna-warni D40 yang menyala. Tak perlu lagi diretouch sehingga aku bisa kembali ke idealisme seorang fotografer pemula, bukan potosoper. Saat itu kebetulan ada teman yang bawa Canon EOS400D. Pas aku coba, D40 jauh terasa lebih nyaman. Ketika melihat gambar hasilnya, aku tak menyesal memilih Nikon. Yeah, ini sudah pendapat subjektif seorang Nikonian… )

Kiri ke kanan: Ferdy, Joko, Titik, Aby, Ninna, Yuli, Galih
Jongkok: Danang BP

Pemetik Teh

Posted by: on Jun 4, 2007 | 8 Comments

Lokasi: Perkebunan Teh Bumi Mas, Cisarua, Puncak Bogor
Kamera: Nikon D40
Lensa: AF-S DX Zoom Nikkor 18-55 mm f/3.5-5.6 G ED
Apperture: F/5.6
Shutter Speed: 1/800 s
Focal Length at: 55 mm
ISO: 400
Metering: Center Weighted Average

Switch to our mobile site