Lensa dan Optical Zoom
Jika Anda sedang melihat-lihat dan bermaksud membeli kamera digital, umumnya hal yang akan Anda cari adalah berapakah megapixel-nya. Telah menjadi sebuah kesalahan kaprah di mata awam bahwa semakin besar megapixel, maka kualitas sebuah kamera akan semakin bagus. Kemudian hal yang kedua adalah berapa kali optical zoom dan digital zoom-nya. Kemudian mungkin yang ketiga adalah fitur image stabilizer, vibration reduction, atau apalah namanya. Kali ini, saya akan membahas soal zooming.
Faktor utama dari sebuah kamera, tentu saja adalah lensa sebagai matanya. Bagian ini adalah bagian yang paling penting dalam menghasilkan sebuah gambar yang bagus. Seharusnya, orang melihat sisi ini, sayangnya arus marketing telah membelokkan persepsi umum. Ah, betapa dahsyat sebuah edukasi marketing, lepas itu benar atau malah menyesatkan.
Focal Length
Dalam komponen lensa, ada komponen penting bernama focal length, yang secara awam bisa diterjemahkan sebagai seberapa luas jangkauan sudut bidik dari lensa. Semakin pendek nilai focal length, maka sudut bidiknya semakin luas. Studi kasus: biasanya kita mesti mundur-mundur kalau mau mengambil foto keluarga besar yang berbaris melebar. Lensa wide (focal length kecil) bisa mengambil sudut luas itu tanpa harus mengambil jarak ke belakang yang jauh. Sangat berguna untuk digunakan pada foto-foto dokumentasi di ruangan yang sempit. Lensa yang dikategorikan sebagai lensa wide adalah sekitar 12 mm hingga 18 mm. Lensa yang superwide, hingga menyerupai mata ikan (oleh karena itu biasa disebut lensa fish eye) memiliki focal length sekitar 10.5 mm.
Sebaliknya, focal length yang panjang, maka sudut bidiknya akan semakin sempit dan jauh ke depan. Karena sudut bidik sempit, maka benda di kejauhan akan terekam besar di kamera. Detailnya pun akan terlihat jelas. Inilah yang dimaksud dengan zooming itu. Lensa tele biasanya memiliki focal length mulai 70 mm hingga 500 mm. 70 mm biasa digunakan untuk menangkap ekspresi orang-orang (candid), sedangkan lensa panjang 500 mm biasa digunakan untuk motret kehidupan alam bebas (wildlife).
Lensa midrange, yang biasa digunakan untuk sehari-hari biasanya memiliki focal length 18 mm – 55 mm. Adapun lensa mata manusia memiliki focal length sekitar 52 mm. Lensa midrange selalu siap menangkap momen apa saja, namun tanggung. Tidak terlalu wide jika ingin merekam seuatu yang luas, tapi tidak terlalu zoom jika ingin merekam wajah wanita cantik yang sedang lewat di jalan.
Optical Zoom
Nah, sekarang, apa maksudnya sekian kali optical zoom itu? Seberapa kali kah pembesaran yang dapat dilakukan oleh suatu lensa kamera? Dari pertanyaan tersebut tentunya bisa diambil kesimpulan bahwa faktor pengali ini didapatkan dari focal length terpanjang dibagi dengan focal length terkecil. Lensa kit saya memiliki focal length 18 mm – 55 mm. Sehingga, kamera saya jika dimasuki lensa ini akan memiliki faktor zooming sebanyak 3 kali optical zoom. Lensa tele saya memiliki focal length 55 mm – 200 mm. Itu artinya, jika dimasuki lensa ini, kamera saya memiliki 3,6 kali optical zoom. Dan jika saya membawa dua lensa itu dan mengganti-gantinya, kamera saya akan memiliki 11 kali optical zoom.
Jadi, jika ingin membeli kamera, jangan lupa lihat focal length-nya berapa. Masuk dalam kategori apa lensa kamera yang akan anda beli. Apakah wide? Apakah tele? Ataukah midrange? Kamera poket saya yang Canon Powershot A400 memiliki focal length antara 5.9 mm – 13.2 mm sehingga memiliki faktor pembesaran 2.2 kali. Sekilas, lensa ini menjanjikan bahwa dia superwide. Tapi sayangnya, sensornya juga kecil, tidak sebesar sensornya DSLR. Sehingga meskipun focal length termasuk wide, kamera ini memiliki lensa midrange, untuk general purpose, seperti sudah seharusnya fungsi sebuah kamera poket.
Sampai di sini dulu, selanjutnya dalam teknis fotografi, kita akan bicarakan apperture, atau bukaan diafragma, salah satu komponen terpenting dalam fotografi. (ah, akhirnya bisa juga bikin postingan… )
Gambar dicolong dari: http://www.kenrockwell.com
Sumber: Forum Photography Review
Wazzup?!?
Aku suka snapshot ini. Sang model adalah anaknya section head-ku (bussiness application). Diambil dari kebun teh Cisarua Puncak Bogor. Anak ini sedang bengong di bagasi Honda CRV-nya. Disuruh senyum sulitnya minta ampun dan akhirnya jadilah ekspresi ini. Sinis-sinis gimanaaa gitu ) Hmm… kelak dia pasti akan bikin banyak wanita jatuh cinta dan patah hati
Hunting Bareng FN-021 Jakarta: Seru!!
Akhirnya bisa juga hunting bareng dengan anak-anak Fotografer.Net. Lokasinya di Pelabuhan Sunda Kelapa, lalu dilanjut ke Kawasan Kota Tua. Mungkin ini adalah kunjungan ke kota tua yang terakhir karena kabarnya mulai minggu depan Pemkot DKI akan memugar habis-habisan kawasan ini. Sempat juga diundang untuk ikut meliput acara pembukaan pemugaran, dengan akses tak terbatas hingga ke dalam rumah-rumah hantu tua zaman Belanda itu. Sayangnya, minggu depan aku mesti motret sepupuku yang menikah.
Meskipun baru ketemu pertama kali, tapi keramahan dan keceriaan khas fotografer sangat kentara. Sepertinya kita telah berkawan lama sekali. Joke-joke segar tak hentinya muncul dari mulut-mulut yang gokil semua. Waktu foto keluarga bareng ada aja yang nyeletuk, “lagi-lagi-lagi.. kameranya belum berasap tuh!” Jadilah acaranya penuh canda tawa. Anehnya, biasanya fotografer itu malu kalau difoto, lha yang ini malah narsis semua kalau dekat dengan lensa. Waah.. pokoknya seru. Liputan acara ini ada di forum ini. Thanks buat Mbak Dini sebagai pencetus ide, Om Tony yang muka tebel dengan lihai-nya mencari model-model dadakan (ada obeng bang ton? ).
PS: WiWiy, foto lu yang ini gua colong )
Garis Lembah
Hehe, landscape lagi . Ini Flickr-nya dan ini Fotografer.net-nya
Seperti biasanya, sehabis subuh, aku tak bisa tidur lagi sampai pagi. Karena ini adalah suasana liburan, aku lihat dari jendela kaca villa yang super lebar, landscape yang hmm.. tak terlalu dramatis sih, tapi cukup menarik untuk dinikmati. Segera kusambar kamera, tak lupa menjambret tripod-nya Pak Revin, aku lari ke halaman dan hilir mudik di situ, mencari sudut bidik. Sudah kukatakan, Puncak terlalu banyak villa sehingga merusak pemandangan bukitnya yang seharusnya indah.
Foto ini adalah landscape terbaik yang bisa kudapat dari villa. Aku tak bisa mengambil puncak bukit sebagai background, karena foreground-nya benar-benar jelek. Namun aku agak sebel juga baca komentar orang di FN yang menyuruh menghilangkan antenna BTS dan memperbanyak lampu kota. Weits… ini fotografi, bukan seni olah digital
Fantastic Four Premiere: @EX-Plaza Indonesia
Nonton bareng premiere-nya Fantastic Four di EX Plaza Indonesia dengan teman-teman kantor. Seru! Gila semua! Thanks buat Mas Pun yang nraktir kita-kita . Sori ndak ada review, lagi nggak mood bikin posting panjang-panjang. Buat si pemilik nick name echo hikaru, pesenannya ntar ya, cari mood dulu
Foto dijepret oleh Pak Nixon Glenn.
The Cattz!
Lokasi: Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta
Detail teknis silakan lihat galeri flickr-ku
Ini adalah kucing di pelabuhan Sunda Kelapa. Minggu pagi, langsung meluncur ke barat laut mengejar matahari terbit di Sunda Kelapa. Lewat Otista – Kampung Melayu – Jatinegara – Senen – Mangga Dua. Sekedar survey lokasi untuk hunting bareng anak-anak FN minggu depan .
(wah, aku kaya foto hari-hari ini )
Sendiri
Tuhan,
Apakah memang berat, ya Tuhan?
Apakah berat ketika mendapati bahwa aku sendirian di sini?
Apakah memang berat ketika sadar bahwa sekarang aku benar-benar sendiri?
Benarkah seberat ini ya Tuhan?
Tuhan,
Aku tahu, aku telah memilih jalan ini
Karena aku takut akan mendapat cobaan yang lebih berat lagi di jalan itu
Aku tak akan sanggup di situ
Tapi, aku tak mengira kalau jalan ini benar-benar sepi
Angin dingin berhembus kencang melawanku
Sakit, seperti ingin terlempar di jalan itu
Ketika satu per satu, sahabat-sahabat seperti meninggalkan dan berjalan di situ
Semakin lama semakin sendiri saja aku ini, ya Tuhan
Sendiri,
Sepi,
Entahlah, mungkin aku harus mengukur langkah lagi dalam diam
Menyusuri jalan sepi ini dalam hampa
Meskipun perih, Tuhan….
Aku harus berkata, Karena kesendirian, adalah hal yang paling indah…
Jakarta, 8/6/2007
Ketika semakin akrab dengan sepi…
Comments