Menjadi Diri Sendiri

Date June 30, 2007

Jadilah dirimu sendiri

Hmm… sebenarnya bagaimana sih menjadi diri sendiri itu? Bukankah kita sebenarnya adalah aktor dari sebuah peran yang kita tentukan sendiri di panggung sandiwara ini? Citra, atau image apa yang kita ingin tunjukkan kepada setiap orang yang berinteraksi dengan kita? Apakah citra seorang pemuda berandalan yang suka dugem di tempat hang out? Ataukah sebagai orang yang taat agama dan rajin mengaji? Ataukah playboy kelas kakap yang tak bisa lagi merasakan bagaimana jatuh cinta dan patah hati?

Banyak template yang bisa kita pakai dalam membangun citra. Citra juga bisa dibangun dari sebuah kebiasaan. Ambil contoh, misalnya sejak kecil kita adalah juara kelas. Secara bertahun-tahun kita tak sadar bahwa citra pelajar pandai telah melekat erat pada diri kita. Aura yang berbeda terpancar tatkala sang pelajar pandai itu berinteraksi dengan teman-temannya yang “biasa-biasa” saja secara akademis. Aura yang membuat sungkan, ewuh pakewuh.

Dengan mudah pula kita bisa membangun citra sebagai orang yang taat beragama. Citra bisa dibentuk dengan bersering-sering berkumpul dalam pengajian, majelis taklim, dan suka mengaji. Bila perlu, perbanyak kosa kata berfont arabic dalam rangkaian kalimat yang keluar dari mulut kita. “Beruntungnya”, citra ini seringkali dinilai sebagai citra yang baik dan benar. Orang sering tidak memperdulikan apa yang ada di balik sampul yang bernama citra ini. Apakah kita telah berkepribadian jempolan sesuai yang dicitrakan oleh sampul ini.

Jadi, kapan kita menjadi diri sendiri? Siapa diri sendiri itu sebenarnya? Bukankah kita selalu memakai topeng citra yang membuat kita tampak kemilau disinari lampu-lampu citra? Bukankah diri sendiri itu hanyalah sebuah tumpukan identitas yang dipakaikan ke diri kita?

Jika benar, mungkin ungkapan di atas boleh digeser sedikit menjadi, Jadilah aktor sesuai dengan peran yang kamu inginkan. Aktor yang selalu konsisten dengan perannya, atau konsisten mengubah peran yang ingin dia lakoni tanpa dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.

Kalau begitu, apa yang harus kita nilai dari sebuah peran seseorang?

*sebuah pertanyaan dari seorang yang sedang mencari peran baru untuk dirinya. 

11 Responses to “Menjadi Diri Sendiri”

  1. purna said:

    pertamax! :D

    Postingan yang mencerahkan. Menurut saya menjadi diri sendiri adalah menjalani hidup ini sesuai apa yang kita inginkan tanpa melanggar rambu-rambu yang ada di sekeliling kita untuk menjaga stabilitas Nasional :D
    *Kok jadi pelajaran PPKN ;))*

  2. rd Limosin said:

    kata orang, manusia tuh ternyata sering memakai topeng?? maksudnya apa ya?? tidak menjadi diri sendiri kah??

  3. Nilla said:

    Peran? wekz… jd ingat teater… :P
    …sesuatu yg sangat identik dgn ‘karakter’, dimana setiap orang pasti punya dan biasanya unik!
    Kapan kita bisa menjadi diri sendiri?
    Menurut aku adalah ketika kita menjadi seseorang yg sesuai dengan karakter kita.
    …sesuai dengan apa adanya kita…
    Yg membentuk karakter biasanya adalah lingkungan jg, terutama keluarga.
    Apa yg harus kita nilai dr peran seseorang?
    Yah, ingat aja kalimat ini, “Sebaik2nya manusia adalah manusia yg bermanfaat bagi manusia lainnya…” (bener ga sih? :|)
    Yah, itu sih kalo menurut aku, loh… ;)

  4. Galih Satria said:

    #purna:
    halah!

    #rd Limosin:
    yes, manusia suka memakai topeng untuk mengesankan sebuah citra di mata orang lain. :)

    #Nilla:
    Nah, sekarang, apa itu karakter? karakter kita yang sebenarnya itu bagaimana? misalnya, sejak dulu kita berkarakter pendiam, ceria, dkk. tapi, bukankah hal itu bisa dibuat? semuanya bisa dipelajari, seperti ketika kita berperan di dunia teater. kita bisa saja bilang, “inilah karakterku” kapan saja.

  5. Nilla said:

    Yuph! That’s right! Karakter bisa dipelajari, bisa dibuat2. Tp karakter yg dibuat2 itu adalah yg BUKAN diri kita. Karakter kita yg sebenarnya adalah apa adanya kita, sikap dan sifat kita yg sebenarnya. Bagaimana kita menghadapi dan melakukan sesuatu secara natural. Itu baru karakter kita yg sebenarnya! Tanpa ada embel2 “dibuat2″. Sesuatu yg sifatnya “refrleks”, tanpa rencana atau ancang2.

    Karakter timbul karena adanya pemahaman terhadap sesuatu. Yg menentukan bagaimana karakter kita adalah jiwa kita. Jiwa kita yg menentukan “suka” atau “tidak suka”, “bagus” atau “tidak bagus”, dsb…

    Halah… udh kayak psykolog aja, neh! :P
    Itu cuma pendapat dan pandangan aku aja, loh! ;)
    Maaph kalo ada yg salah… ^:)^

  6. agung said:

    justru kita akan nyaman dengan apa adanya diri kita.. tapi juga sulit mencari orang yang bisa menerima kita apa adanya :D.

    dan ada beberpa hal yang memang perlu kita ubah dari krpibadian kita untuk menjadi lebih baik.

  7. dnial said:

    Kalo katanya Stephen Covey di 7 Habbit itu, tindakan->kebiasaan->karakter->takdir…

    Mbahas masalah ini sampek kapan aja nggak bakal selesai seh sebenernya. Dan jawabannya juga banyak dan arguable.

    Kalo aku sih asik2 aja… asal kamu nggak nyenggol ya nggak disenggol, kalo nyenggol bacok :D .
    Kalo butuh marah ya marah, kalo butuh sabar ya sabar, kalo butuh misuh ya misuh, kalo butuh memuji ya memuji.

    Buatku jadi diri sendiri adalah melakukan apa yang terbaik menurut pendapat kita saat itu, dan konsekuen sama pilihan kita.

    Tapi kita bisa beda kan?

  8. Ali S Kholimi said:

    Galih sedang berlatih menjadi lakon yang diperankannya :D

  9. Galih Satria said:

    #mas kholimi:
    benarkah? :D

  10. rani said:

    “jadilah dirimu sendiri” atawa bahasa enggrisnyah “be yourself” adalah motto favorit para gadis sampul jaman saya muda dulu. haha, sok tua gue :D

  11. in said:

    bagaimanapun karakter yang qta miliki selama ia tidak menyakiti dan mengganggu orang lain, it’s fine2 aja.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>