Menjadi Diri Sendiri
Jadilah dirimu sendiri
Hmm… sebenarnya bagaimana sih menjadi diri sendiri itu? Bukankah kita sebenarnya adalah aktor dari sebuah peran yang kita tentukan sendiri di panggung sandiwara ini? Citra, atau image apa yang kita ingin tunjukkan kepada setiap orang yang berinteraksi dengan kita? Apakah citra seorang pemuda berandalan yang suka dugem di tempat hang out? Ataukah sebagai orang yang taat agama dan rajin mengaji? Ataukah playboy kelas kakap yang tak bisa lagi merasakan bagaimana jatuh cinta dan patah hati?
Banyak template yang bisa kita pakai dalam membangun citra. Citra juga bisa dibangun dari sebuah kebiasaan. Ambil contoh, misalnya sejak kecil kita adalah juara kelas. Secara bertahun-tahun kita tak sadar bahwa citra pelajar pandai telah melekat erat pada diri kita. Aura yang berbeda terpancar tatkala sang pelajar pandai itu berinteraksi dengan teman-temannya yang “biasa-biasa” saja secara akademis. Aura yang membuat sungkan, ewuh pakewuh.
Dengan mudah pula kita bisa membangun citra sebagai orang yang taat beragama. Citra bisa dibentuk dengan bersering-sering berkumpul dalam pengajian, majelis taklim, dan suka mengaji. Bila perlu, perbanyak kosa kata berfont arabic dalam rangkaian kalimat yang keluar dari mulut kita. “Beruntungnya”, citra ini seringkali dinilai sebagai citra yang baik dan benar. Orang sering tidak memperdulikan apa yang ada di balik sampul yang bernama citra ini. Apakah kita telah berkepribadian jempolan sesuai yang dicitrakan oleh sampul ini.
Jadi, kapan kita menjadi diri sendiri? Siapa diri sendiri itu sebenarnya? Bukankah kita selalu memakai topeng citra yang membuat kita tampak kemilau disinari lampu-lampu citra? Bukankah diri sendiri itu hanyalah sebuah tumpukan identitas yang dipakaikan ke diri kita?
Jika benar, mungkin ungkapan di atas boleh digeser sedikit menjadi, Jadilah aktor sesuai dengan peran yang kamu inginkan. Aktor yang selalu konsisten dengan perannya, atau konsisten mengubah peran yang ingin dia lakoni tanpa dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.
Kalau begitu, apa yang harus kita nilai dari sebuah peran seseorang?
*sebuah pertanyaan dari seorang yang sedang mencari peran baru untuk dirinya.Â
Feel the Light
Sang model dadakan adalah Dimsy, hasil rayuan Om Anthony Christiaan waktu hunting bareng FN-ers Jakarta di Pelabuhan Sunda Kelapa dan Kota Tua. Diambil di depan Museum Fatahillah. Maaf jika hasilnya tidak terlalu maksimal, aku belum pernah sama sekali motret model. Teknik lighting juga tak punya. Hanya menggunakan fill in flash untuk melawan matahari yang datang dari atas, untuk mencegah siluet dan tertutupnya detail shadow si model.
Buat Dimsy: Maaf ya, saya publish foto ini tanpa ada catatan model release dari Anda. Karena model dadakan, jadi tak sempat mencatat email (tidak juga nomor HP? Ah Galih payah!). Jika Anda tahu foto ini dan berkeberatan untuk dipublish, mohon saya diberi tahu. Ini bukan untuk tujuan komersil, hanya have fun dan pembelajaran belaka ) Thanks
Cafe Batavia
Sisa-sisa kejayaan Belanda di Batavia. Cafe ini terletak di depan Museum Fatahillah dan berada di kawasan kota tua. Berada di bangunan-bangunan kota tua memang serasa berada di zamannya si Pitung. Katanya, cafe ini tetap buka, tetapi by demand — harus ada permintaan dari pelanggan, baru cafe ini buka.
Museum Fatahillah
Dari Museum Fatahillah, Jakarta, 10 Juni 2007. Thanks to Farid yang telah menemani hunting dari pelabuhan Sunda Kelapa hingga Museum Fatahillah.
Pemburu Pagi
Siluet teman-teman fotografer waktu hunting bareng di Pelabuhan Sunda Kelapa. Maksud hati menyapa sang mentari yang muncul di ufuk cakrawala, apa daya mendung memayungi persada langit dan bumi. Ide orisinilnya sebenarnya bukan dari aku sendiri, tapi dari bang uq. Aku tertarik dengan idenya soal siluet fotografer yang menapak pagi di pantai Kenjeran, Surabaya. Dengan Ricoh tuanya, hasilnya mantap bo’. Sabar ya, kalau blog-nya udah selesai ku setup, akan kuperkenalkan lebih jauh lagi orang yang menjadi guruku desain komunikasi dan visual ini.
Quick Workshop: Bagaimana bikin foto ini? Gampang… Untuk membuat siluet, pastikan cahaya kuat datang dari depan lensa dan objek membelakangi sumber cahaya kuat tersebut. Set bukaan diafragma dalam mode kecil, set shutter speed secukupnya, dan selesai. Bila perlu, set white balance di mode cloudy agar warna kuningnya semakin kuat. Agar tidak over expose pada sumber cahaya, buat objek menutupi sumber cahaya yang paling kuat. Matahari pada gambar ini sudah cukup tinggi, tapi masih kuning keemasan. Dengan pengaturan komposisi sesuai selera (aku suka low angle), jadilah siluet berbackground warna gradasi pagi yang kuning keemasan.
Hunting WishList
- Masjid-masjid di Jakarta (Istiqlal, Muara Angke, Sunda Kelapa).
Buat bikin publikasi BDI kalo lagi ngadain acara. Nggak enak terus kalo mesti nyolong foto-foto orang lain - Night Street Hunting at Jakarta
Jakarta indah di malam hari dengan warna-warni lampunya. Aku ingin motret air mancur bunderan HI, kilau lampu mobil di jembatan Semanggi, atau megahnya pencakar langit di Mega Kuningan. Tapi nggak berani sendiri, cari penyakit namanya itu - Motret Human Interest
Pasar, tentu saja, itu sasarannya. Mungkin yang ini mesti pulang kampung dulu deh, lalu street hunting ke Pasar Ngrance atau Pasar Wage - Motret kota kelahiran Tulungagung
Sejak dulu, ingin motret view Tulungagung dari bukit Srabah.Tapi mesti pagi-pagi sekitar sunrise. Setelah itu mungkin bisa dilanjut nyolong (candid) muda-mudi yang berasyik masyuk di hutan belukar Wonorejo. Mestinya lensa 55-200 mm sudah bisa buat nyolong ekspresi mereka yang penuh “semangat”. Cuma bisa geleng-geleng aja kalo lihat begituan. Nggak tahu mesti sedih atau ironis. Begitu suksesnya pembunuhan karakter ala globalisasi sehingga orang bisa berbuat begitu kepada yang bukan mahram-nya. - Dan tentu saja… Yogyakarta
Aku tahu, kota ini menarik karena kode 0274. Wartel Sakinah, kampus ITS disaat HP belum populer. Teddy Bear. Entahlah… (hey.. wake up from your dream kid! wake up…. please… i wanna wake up from this fu***** dream…)
Ada yang mau nemeni hunting?
Comments