Tekun Bekerja

Posted by: on May 14, 2007 | 15 Comments

Lokasi: Taman Nasional Ujung Kulon, Banten
Kamera: Canon Powershot A400
Apperture: F/5.6
Speed: 1/600 s

Link di Fotografer.Net: http://www.fotografer.net/isi/galeri/lihat.php?id=490992

Sepeda Motor, Transportasi Paling Masuk Akal di Jakarta

Posted by: on May 13, 2007 | 20 Comments

Hukum pasar mengatakan bahwa, jika ada permintaan maka ada penawaran dan disitulah akan terbentuk harga pasar. Masyarakat akan selalu mencari penawaran yang paling menguntungkan bagi kebutuhannya. Demikian pula dengan sarana transportasi di Jakarta yang serba macet ini. Masyarakat akan mencari sarana transportasi yang paling masuk akal di sini. Dan menurutku, sepeda motor, adalah transportasi yang paling masuk akal di Jakarta. Bagaimana bisa, mari kita lihat satu per satu:

Angkutan Umum: Angkot, Metromini, dan Kopaja

Penuh sesak, ugal-ugalan di jalan raya, keselamatan tak dijamin (naik turun metromini harus loncat, seringkali musti bergelantungan di pintu karena terlalu penuh). Mungkin sopir-sopirnya berprinsip, “Murah njaluk slamet?” (Jawa: murah minta selamat). Weit.. weit e minet… murah? Memang, untuk sekali perjalanan jauh dekat, kita hanya perlu mengeluarkan uang Rp. 2000 rupiah saja. Tapi seringkali kita tak bisa menempuh perjalanan dengan angkutan umum dengan sekali naik saja. Waktu saya di Halim, untuk menuju kantor di Kuningan, saya harus naik tiga kali. Sehingga praktis, perjalanan pulang pergi memerlukan biaya Rp. 12.000. Lima hari kerja, untuk sebulan seminggu, biaya transportasi adalah sekitar Rp. 60.000.

Selamat Bekerja, Pak Nuh!

Posted by: on May 8, 2007 | 18 Comments

Menjelang bubu’ tadi malam, Metro TV menyiarkan acara Metro Realitas yang membahas Reshuffle Kabinet Presiden SBY. Hal yang paling membanggakan adalah bahwa Menkominfo Pak Sofyan Djalil diganti oleh Pak Muhammad Nuh, DEA, mantan rektor ITS (2003-2006). Hehehe.. mantab punya, ITS punya menteri lagi, Kominfo lagi

Sebagai orang yang pernah menjadi mahasiswa ITS di masa kepemimpinan beliau, dan sempat dua tahun menjadi pegawai magang di salah satu departemen di ITS, sedikit banyak aku tahu profil pak Nuh. Beliau adalah sosok pekerja keras. Banyak kemajuan yang dialami di ITS (spesifically di bidang ICT, yang kutahu cuma bidang itu) pada saat kepemimpinan beliau, apalagi eksekutor ICT juga pekerja keras yang tak kenal lelah juga, Pak Bos Ari Santoso.

Salah satu hal yang paling berkesan bersama Pak Nuh adalah, ketika malam pengumuman SPMB, saat itu aku kebetulan menjadi operator penjaga server agar tidak mati. Sore hari setelah Maghrib, saat itu load sedang banyak-banyaknya, aku dan kak Sokam dipanggil ke rektorat untuk mengambil nasi kotak. Halah, sempat-sempate Pak Bos iki ngongkon ninggal server. Whe, dapat akses khusus masuk Rektorat. Dengan wajah kucel belum mandi, sandal jepit, kami masuk ruang Rektorat yang di situ berkumpul para penggede ITS. Pak Nuh, Pak Jazidie, Bu Noor Endah, dan Pak Ari. Bu Noor dengan ramah malah menyuruh kami bekerja di ruangan beliau. Pikir kami, “walah, mana bisa bekerja dengan nyaman kalau di situ” Nyaman di sini maksudnya, sambil angkat kaki ke meja, sambil berteriak-teriak mengikuti lagu-lagunya Dream Theater…

Overall, selamat bekerja Pak Nuh! I’m proud to be ITS member ’cause of you. ITS cuk!!!! Vivaaat!!!!

Java Decompiler

Posted by: on May 6, 2007 | 21 Comments

Sebuah Java Decompiler, seringkali diperlukan untuk mengetahui source code suatu binary Java yang diakhiri dengan ekstensi *.class itu. Mungkin untuk mengetahui alur sebuah library yang tidak menyertakan source code-nya, atau juga mungkin untuk mem-bypass fungsi keamanannya hihihi… ) Berbeda dengan program-program yang dikompilasi dengan menggunakan native compiler seperti GCC atau C/C++, kode binary Java dikompilasi hingga tingkat medium (disebut byte code) yang akan di-interpretasikan oleh Java Virtual Machine. Walhasil, proses dekompilasinya akan menghasilkan sebuah source code Java yang benar-benar cantik dan mudah dibaca. Bandingkan dengan hasil dekompilasi program binary yang dikompilasi dengan native compiler, hasil maksimal decompiler adalah bahasa assembler-nya (hiii… takuut).

Saat ini, saya mengandalkan JAD sebagai decompiler yang cepat dan handal. Sebuah tool command-line-based yang cerdas, yang bisa melakukan dekompilasi sebuah source Java dengan nyaris sempurna. Lisensinya juga free. Program ini melakukan dekompilasi sebuah file *.class dan dikembalikan dalam bentuk file *.jad. File ini berisi source code Java dari *.class tersebut.

Antar Muka Grafis

Menggunakan command line, terkadang menyesakkan. Oleh karena itu, ada banyak program-program yang membuat antar muka yang nyaman untuk menjalankan program ini. Tinggal membuka file *.class dengan antar muka tersebut, maka program tersebut memerintahkan JAD untuk mendekompilasi, dan hasilnya langsung dibuka di text editor milik antar muka ini sehingga rasanya, membuka file *.class serasa membuka file teks berisi source code Java saja. Sangat nyaman.

Program antar mukanya, seperti yang di-list oleh homepage JAD, ada cukup banyak. Ada beberapa yang saya coba, di antaranya adalah DJ Java Decompiler, FrontEnd Plus, dan Cavaj Java Decompiler. Dari ketiga tools ini, menurut saya DJ-lah yang paling nyaman. Sayangnya, DJ tidak free dan harus bayar (baca: ngecrack). Untuk Cavaj, saya tak berhasil dalam instalasi sehingga tak bisa berbicara banyak mengenai antar muka ini. Paling masuk akal adalah FrontEnd Plus, ia juga free untuk digunakan. Sayangnya, program ini termasuk program Jadul dan development-nya terhenti di tahun 2001. Jadi tampilannya, sangat jadul dan jelek.

Sebenarnya ada satu lagi yang sangat menarik perhatian. Ia adalah JadClipse. Antar muka ini adalah plugin Eclipse. Jadi, dengan plugin ini, Eclipse memiliki kemampuan tambahan untuk membuka file *.class dengan Java editornya yang sangat hebat (syntax coloring, formatting, folding, dll). Sangat menggiurkan jika Eclipse memiliki fitur seperti ini. Sayangnya, saya tak berhasil melakukan instalasi plugin ini. Meskipun secara teori sudah terinstall dengan baik, namun ia tetap gagal melakukan dekompilasi. File *.class tetap dibuka oleh viewer default Eclipse, yang hanya menyajikan hasil disassembling-nya, bukan decompiling-nya. So sad Ada yang bisa bantu saya dengan share pengalaman tentang plugin ini?

Mungkin, kalau nanti ada waktu luang, saya akan membuat plugin sendiri untuk saya sendiri. Saya sangat tertarik dengan fitur ini di Eclipse.

Suatu Hari Nanti

Posted by: on May 5, 2007 | 9 Comments

5 Mei 2007, Masjid Baitul Ilmi, Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Kuharap,
Kelak aku bisa setegar hari ini
Kelak aku bisa tersenyum seperti hari ini
Kelak aku bisa tertawa seperti hari ini
Tanpa rasa sedih, tangis, dan luka lagi

Suatu hari nanti, hari yang pasti akan datang
Hari dimana aku tak tahu harus bersikap apa
Hari dimana tak akan ada lagi senyuman manis
Hari dimana tak akan ada lagi kata-kata lembut yang menyejukkan
Tak akan ada lagi suara-suara yang merajuk

Aku hanya berharap,
Semoga aku bisa setegar hari ini dalam menghadapinya
Semoga aku tetap bisa tersenyum untuknya
Demi kebahagiaannya…

Want You to Know

Posted by: on May 2, 2007 | 8 Comments

Want you to know you make me happy
Want you to know you make me sad
Want you to know you make me happy
You are the best thing that I ever had

– Freelance Hellrais, soundtrack iklan Sonny Erricsson versi Happy Anniversary, I love our song.

Makasih buat mbakku Tutik yang ngasih lagu ini, dengan sedikit nasihatnya tentang kembali ke realita . Thanks, but I guess I’ve already in my reality. It’s not about broken heart anymore.

(hehe.. sori belum bisa posting postingan yang bermutu, needs more spare time to write )

Switch to our mobile site