Ketika Satu Lagi yang Melangkah Pergi

Posted by: on Mar 12, 2007 | 12 Comments

Banyak yang telah datang dan pergi. Baik yang membawa cinta lengkap dengan sakitnya. Selalu begitu. Ada yang datang menawarkan cinta namun tak ada chemistry yang bisa menyambut cinta itu. Dan kemudian pergi begitu saja…

Ayat-Ayat Cinta

Posted by: on Mar 9, 2007 | 70 Comments

Penulis: Habiburrahman El Shirazy
Penerbit: Basmala
Sejak dulu aku sudah curiga dengan novel ataupun buku cerita bertemakan Islami. La Tahzan, Ayat-Ayat Cinta, adalah buku yang kulihat sekilas dan tak disentuh meskipun menempati bagian Best Seller di Gramedia. Menurutku, kebanyakan novel islami itu lebih mirip buku agomo dan eksklusif. Eksklusif di sini adalah, komunitas yang dihidupkan di novel adalah komunitas yang khusus dan tidak umum terjadi di sekitar. Gara-gara Tante Nungki yang promosi La Tahzan itu bagus, dan ternyata di mejanya Mas Aby ada novel ini, aku jadi tertarik untuk membacanya.

Alur cerita novel ini sangat biasa. Mengalir dengan alur maju dengan sudut pandang orang pertama. Seperti catatan harian di blog seseorang. Kelihatannya penulis mengambil langkah aman untuk tidak bermain-main dengan alur karena tokoh utama yang dibawakannya, Fahri Abdullah, adalah tokoh yang istimewa (Nduk Napiah menyebutnya terlalu sempurna).

Bagaimana bukan istimewa dan luar biasa? Ia seorang mahasiswa Al-Azhar dengan guru ngaji syaikh top yang tak semua mahasiswa Al-Azhar bisa jadi muridnya. Ia juga dilukiskan berwajah tampan ala bintang Hongkong. Sifatnya? Tak tercela. Amanah dengan janji, baik hati, ramah dan tulus pada wanita (ini nih senjata mautnya untuk meruntuhkan hati cewek), dan selalu merujuk pada Rasulullah SAW. Ia tak bisa dipegang dan memegang kulit wanita yang bukan mahram dalam keadaan apapun (bahkan Maria yang dalam keadaan sekarat, ia tak mau memegangnya untuk sekedar menolongnya — dan memang akhirnya Maria dinikahinya agar ia bisa memegang tangannya!). Pokoknya, baca tokoh Fahri ini seperti kita lihat tokoh Jackie Chan atau Jet Li, pahlawan pembela kebenaran.

Namun aku heran, tokoh sekaliber Fahri ini begitu rendah menilai diri sendiri. Dengan ilmu dan sifat sehebat itu, ia merasa minder untuk menyatakan cinta, dengan pertimbangan dia berasal dari keluarga miskin dari desa tak pantas bersanding dengan wanita-wanita yang ia suka. Hff… ataukah memang ilmu-ilmu begini (penakluk wanita) hanya didapat dari pengalaman berpetualang dengan berbagai wanita yah?

Kembali ke laptop! eh.. cerita.

Secara konflik yang dibentuk, novel ini memiliki konflik sederhana dan terlalu sinetron. Konfliknya adalah fitnah menghamili orang, dan oleh karenanya tokoh utama dipenjara dan konflik diakhiri dengan plot di pengadilan. Ini mah konflik kuno, mengingatkan aku pada film India. Soal cerita dan alur, novel ini benar-benar tak bisa dibandingkan dengan novel-novel Sidney Sheldon atau Mario Puzo yang rumit dan penuh kejutan.

Tapi menurutku, kekuatan novel ini adalah tokoh utama sendiri yang begitu nyaris sempurna akhlaknya dan romantis ala penakluk hati wanita. Ceritanya juga enak dibaca kok. Endingnya sempurna, sangat happy ending dengan penyelesaian yang praktis (penulis benar-benar mencari jalan yang aman). Tapi untuk ukuran novel yang Islami, novel ini luar biasa, bisa meruntuhkan kecurigaanku dan akhirnya membuatku kembali mampir ke booth buku-buku Islam jika lagi belanja di Gramedia setelah sebelumnya sempat desperate ketika membaca buku Fathimah Az Zahra.

Takkan Ada Cinta yang Lain?

Posted by: on Mar 5, 2007 | 16 Comments

Sayang,
Pertama kali kita berjumpa dulu
Indah… tak pernah aku bayangkan lagi
Saat diriku terlupa, lupakan senyum manismu
Maafkan aku lagi, sayang…

Takkan ada cinta yang dapat merenggut hatiku
Takkan ada cinta yang dapat merebut hatiku
Kecuali… dia!

Andai diriku ini tetap seperti dulu
Tak pernah kukhianati cintamu pada diriku
Saat diriku terlupa, lupakan senyum manismu
Maafkan aku lagi, oh sayang…

Kecuali Dia — Seurieus (OST. Jomblo)

Apa yang menyebabkan seseorang begitu sulit melupakan orang yang dicintainya? Padahal di lain pihak, ada juga orang yang… ketika mesti berpisah dengan kekasihnya… tunggulah dua atau tiga bulan lagi, ia sudah bergandengan dengan kekasih baru, seakan-akan, tangis pedihnya beberapa bulan lalu tak pernah terjadi.

Apa yang menyebabkan orang menjadi begitu bodoh harus menutup pintu hati kepada seorang yang baru? Kenapa tidak ada seorang figur baru yang bisa membuatnya jatuh cinta sedemikian rupa seperti ketika ia jatuh cinta kepada cinta pertamanya? Benarkah jatuh cinta seperti itu hanyalah kepada cinta pertama? Cinta selanjutnya tak sedahsyat cinta pertama?

Kini, orang itu tetap berdiri, menatap sinar matahari yang menerpa wajahnya dan berkata dalam hatinya,

kalaulah kelak cinta itu kembali datang,
kalaulah kelak hati ini dilanda gelombang cinta yang mengguncang jiwa,
kalaulah memang ada seseorang yang bisa membuat hati ini kembali terguncang dan bergolak,
kalaulah memang ada yang bisa seperti itu
kalaulah orang itu mau tersenyum padaku sedikit saja…
sedikit.. aku tak perlu banyak.. sedikit saja…
akan kucoba tawarkan padanya,
kalaulah ia mau menemani aku hingga ujung usia ini
dengan janjiku untuk mencintainya
dengan janjiku untuk mengajaknya menjadi sahabat sejati di dunia dan di akhirat

Karena kata novel yang baru saja dia baca, cinta yang sejati hanyalah cinta setelah menikah. Tak ada cinta sebelum itu.

*mencoba nulis dalam sudut pandang orang ketiga tunggal, tapi kerasa sekali ke-aku-annya masih ada. Namanya juga belajar, jadi pelan-pelan hehehehe… 

Refreshing dan Reuni

Posted by: on Mar 3, 2007 | 5 Comments

Tiap hari kok ya bosen juga melototi kode-kode Java dicampur bumbu-bumbu Oracle. Apalagi kalau ketemu dengan HTML. Wueh… mualess (hah..? Galih yang meledak-ledak itu ternyata bisa males juga to?) Hehehe… lagi nggak mood buat itu, jadi maka dari itu… aku mesti cari bahan untuk refreshing sejenak.

Pas baca-baca email dari mailing list kantor yang ndak jelas itu, kok hati punya krenteg untuk bereuni dengan Visual Basic. Wah Yes! Punya bahan refreshing nih. Kepenginannya sederhana, pengen ngitung berapa email yang sudah dikirim masing-masing anggota. Si A berapa buah, si B berapa ratus buah, dan seterusnya. Hmm… gimana caranya yah, secara gw dah lama banget ninggalin Visual Basic, apalagi VBA, Visual Basic for Application.

Karena aplikasi yang kugunakan adalah Microsoft Outlook, kita bisa bikin macro outlook yang dapat di-run dan di-edit. Bisa kan bikinnya? [Tools] - [Macro][Macros..] Di dialog yang muncul ketikkan nama macro dan tekan tombol [Create]. Kamu akan dibukakan sebuah VBA editor yang… ngg.. bagiku udah ketinggalan jaman kalau dibandingkan dengan IDE-IDE Java, hehehe…

Let’s jump to the code… :p Aku cuma akan menerangkan garis-garis besarnya aja. Pada intinya, langkah awal yang kita tuliskan di code adalah…

Dim folder As Outlook.MAPIFolder, inbox As Outlook.MAPIFolder
Dim namespace As Outlook.namespace, item As Outlook.MailItem

Set namespace = Application.GetNamespace(“MAPI”)
Set inbox = namespace.GetDefaultFolder(olFolderInbox)

Set folder = inbox.Folders(“Milis Ndak Jelas Blas”)

Langkah ini digunakan untuk mendapatkan pointer subfolder di dalam folder Inbox dalam account email kita. Subfolder ini bernama Milis Ndak Jelas Blas. Dari pointer yang kunamakan folder ini, kita bisa memanipulasi setiap email-email di dalam folder itu. Nah, untuk mendapatkan setiap email, kita bisa ambil dengan,

folder.Items untuk dapat array yang berisi semua email, atau folder.Items(x) untuk mendapatkan email tunggal pada indeks ke-x. Untuk mendapatkan jumlah seluruh jumlah email dalam folder itu (kali-kali aja untuk kebutuhan looping seluruh email), menggunakan perintah folder.Items.Count.

Setiap email tunggal disimpan dalam objek yang namanya Outlook.MailItem. Objek ini memiliki properti dan method lengkap yang berhubungan dengan email tersebut, sebut saja To, SenderName, Bcc, Cc, Body. Sedangkan method-nya yang paling penting adalah Send, untuk mengirim email itu sendiri.

Oke, dari informasi ini sudah cukup untuk bermain-main dengan suatu folder dalam Microsoft Outlook kan? Selamat bermain-main dengan Macro

Berikut ini adalah resource yang mungkin bisa membantu:
- Script Macro untuk memindahkan suatu email ke folder tertentu
- Objek Items yang didapatkan dari suatu folder (MSDN Resource)
- Objek Folders yang didapatkan dari namespace (MSDN Resource)
- Objek MailItem yang merepresentasikan satu email tunggal (MSDN Resource)

Have fun

Aliran Kehidupan

Posted by: on Mar 1, 2007 | 6 Comments

Suatu perenungan. Karena hari semakin tua, wajah semakin lelah, warna mata semakin keruh. Apa yang sesungguhnya aku kejar di dunia ini?

Enam tahun aku habiskan belajar di SD. Ibu telah melatihku untuk terbiasa bekerja keras. Apa yang kukejar adalah menjadi yang terbaik. Bukan terbaik dengan perbandingan orang lain, namun yang terbaik bagiku sendiri. Adalah suatu kewajiban untuk mengerjakan sesuatu dengan apa yang terbaik yang kumiliki. Entah apapun hasilnya, entah buruk entah baik, itu adalah nomor dua, nomor satunya adalah kepuasan bahwa aku telah mengerjakannya dengan seluruh kemampuan yang kumiliki. Kalaupun ternyata hasilnya adalah terbaik juga diantara lingkunganku, itu adalah efek sekunder, bukan primer. Demikian pula ketika SMP, SMA, hingga kuliah, bahkan hingga sekarang.

Rutinitas ataukah monotonitas? Setiap pagi melewati jalan yang itu-itu saja, bertemu dengan orang-orang yang itu saja. Hanya ketika aku meninggalkan lingkungan dan bertemu lingkungan baru saja yang mengubah itu. Jalan-jalan setapak, kebun-kebun tetangga yang menembus pintu dapur belakang rumah diterobos selama tujuh tahun. Tiga tahun kemudian, angdes Tulungagung – Pakel – Bandung aku akrabi. Tiga tahun kemudian, jalur Campurdarat – Boyolangu ditempuh ditemani Suzuki Tornado yang hingga sekarang masih setia. Empat tahun lagi dihabiskan di kawah Candradimuka Surabaya untuk mendalami ilmu komputer. Dan ah.. setiap hari sekarang aku bertemu dengan bus pegawai BATAN yang bersiap berangkat ketika aku berbelok masuk kantor. Selalu itu-itu saja.

Matahari pagi warnanya tetap kuning hangat seperti biasa. Matahari sore selalu muram dan suram, seperti enggan berpisah dengan diriku, namun ia selalu tak lupa untuk berjanji kalau esok mungkin dia kan menyapa lagi dengan sinarnya yang tetap hangat.

Mungkin benar kata orang tua bahwa hidup laksana mampir untuk minum di dalam satu rangkaian perjalanan amat panjang. Seberapa cepat satu minggu berlalu bagimu? Bagiku sangatlah cepat. Dan ketika waktu terus berputar tanpa ampun untuk melambatkan sedikit pun iramanya, apakah yang telah aku perbuat? Apakah hidupku telah cukup bermanfaat untuk orang di sekitarku? Apakah ilmu yang telah dianugerahkan padaku telah bermanfaat? Ataukah malah belum? Apakah yang harus kukatakan di hari pertanggungjawaban nanti jika aku masih seperti ini?

Ya Allah,

Hari ini, ketika warna putih mata ini semakin keruh, izinkan aku berdoa dan meratap serta memohon kepada-Mu untuk kesekian kalinya, berikanlah aku kesempatan untuk bisa memuja-Mu sepenuhnya, berikanlah aku kesempatan untuk bisa membuat ayah ibuku bangga kepadaku, berikanlah aku kesempatan untuk bisa bermanfaat bagi orang-orang dan lingkungan di sekitarku.

Amin.

Switch to our mobile site