Entries from March 2007
March 17, 2007
Atas permintaan Mbak Primanita Dewi, Mbak Rhani, dan akhirnya Nilla, saya mengangkat topik baru di blog saya ini, yaitu topik Desain Web. Meskipun risikonya adalah apa yang saya angkat di blog ini semakin meluas, namun demi memuaskan penggemar (halah.. sok seleb
), saya memulai kategori baru ini. Nantinya, kategori ini akan membahas masalah desain website, mulai tingkat yang paling dasar hingga yang paling mahir semampu saya (karena saya pun juga sedang belajar).
Well, dibangun dari apa sesungguhnya website itu? Tampilan yang indah mahakarya webmaster-webmaster yang Anda lihat, ada apa sebenarnya di balik selubung web yang indah itu? Banyak hal, tapi yang paling berhubungan dengan desain web adalah apa yang dinamakan HTML (Hypertext Markup Language).
Read the rest of this entry »
Posted in Desain Web
18 Comments »
March 15, 2007
Udah lama juga nggak cerita soal kehidupan sehari-hari. Postingan terakhir kalau nggak tekniiiis ya nangis cengeng. Ah, aku memang cengeng kalo urusan cewek. Dan bagi sifat melankolis ini, adalah suatu risiko harus tersakiti berkali-kali oleh perasaan sendiri yang kadang melankolisnya keterlaluan. Hati bisa terguncang hebat hanya karena -misalnya- orang yang secara postur sangat mirip kenangannya sekedar lewat di depannya. Meskipun sebenarnya, cara ini adalah cara yang benar-benar bodoh (kapan-kapan aku tulis deh bagaimana PDKT yang baik dan “maut”
). Yadaw, wong sudah begitu mau bagaimana lagi, yang jelas kalau penyakitnya nggak kambuh seperti ini, enakan nulis yang sehat-sehat saja.
Kalau urusan kerjaan, tak ada yang lebih menyenangkan daripada ngoding di Java atau ndesain layout HTML di Dreamweaver. Menyusun baris demi baris kode, memeras ide dan logika, dan menuliskannya dengan penuh cinta. Kok ternyata tidak jalan semestinya padahal secara teoritis sudah pasti jalan, itulah seni pemrograman. Itulah seni dunia ICT, ilmu pasti yang tidak pasti.
Tak terasa sudah empat bulan aku berkecimpung di dunia baru ini, setelah 17 tahun di dunia akademik, banyak hal baru pula yang bisa dipelajari. Jika di dunia akademik (baca: kuliah), otak diperas untuk mempelajari konsep yang bersifat fundamental, mengeksplorasi teknologi baru untuk diteliti lebih lanjut, di dunia baru ini, otak diperas untuk menggunakan teknologi untuk menyelesaikan masalah secara praktis. Kelihatannya jauh lebih mudah? Ah, tidak juga. Teknologi praktis sangat cepat berubah. Hari ini populer, besok mungkin sudah tenggelam. Makanya kita dituntut untuk bisa mengerti konsep sebuah teknologi secepat kilat. Dan itu bukan hal yang mudah, karena satu teknologi praktis bisa memiliki 1000 halaman dokumentasi. Tapi percayalah, kalau konsepnya sudah terpegang, 1000 halaman itu bisa habis dalam 2 hari saja. Caranya? Hehehe.. mau aku kasih tahu?

Beruntung sekali tempatku bekerja saat ini sangat memfasilitasi untuk tetap bisa belajar dan mendalami teknologi sedalam-dalamnya. Setelah menyelesaikan beberapa project Java, aku menangani konfigurasi Oracle Application Server (spesifik ke OC4J) dengan cukup dalam. Hal-hal yang ketika kuliah hanya bisa dipelajari di waktu luang. Kini aku sedang mencoba memindahkan aplikasi Action Request buatan BMC software. Tantangan besar buatku karena aku sama sekali belum pernah tahu aplikasi yang memiliki arsitektur cukup rumit ini. I need more time to do this.
Tapi aku sudah mulai rindu dengan dunia akademis. Entah mengajar atau sekolah lagi, yang penting hidup kembali di dunia kampus. Hehehehe….
Posted in Catatan Harian
8 Comments »
March 12, 2007
Banyak yang telah datang dan pergi. Baik yang membawa cinta lengkap dengan sakitnya. Selalu begitu. Ada yang datang menawarkan cinta namun tak ada chemistry yang bisa menyambut cinta itu. Dan kemudian pergi begitu saja… Read the rest of this entry »
Posted in Catatan Harian, Melankolis
12 Comments »
March 9, 2007
Penulis: Habiburrahman El Shirazy
Penerbit: Basmala
Sejak dulu aku sudah curiga dengan novel ataupun buku cerita bertemakan Islami. La Tahzan, Ayat-Ayat Cinta, adalah buku yang kulihat sekilas dan tak disentuh meskipun menempati bagian Best Seller di Gramedia. Menurutku, kebanyakan novel islami itu lebih mirip buku agomo dan eksklusif. Eksklusif di sini adalah, komunitas yang dihidupkan di novel adalah komunitas yang khusus dan tidak umum terjadi di sekitar. Gara-gara Tante Nungki yang promosi La Tahzan itu bagus, dan ternyata di mejanya Mas Aby ada novel ini, aku jadi tertarik untuk membacanya.
Alur cerita novel ini sangat biasa. Mengalir dengan alur maju dengan sudut pandang orang pertama. Seperti catatan harian di blog seseorang. Kelihatannya penulis mengambil langkah aman untuk tidak bermain-main dengan alur karena tokoh utama yang dibawakannya, Fahri Abdullah, adalah tokoh yang istimewa (Nduk Napiah menyebutnya terlalu sempurna).
Bagaimana bukan istimewa dan luar biasa? Ia seorang mahasiswa Al-Azhar dengan guru ngaji syaikh top yang tak semua mahasiswa Al-Azhar bisa jadi muridnya. Ia juga dilukiskan berwajah tampan ala bintang Hongkong. Sifatnya? Tak tercela. Amanah dengan janji, baik hati, ramah dan tulus pada wanita (ini nih senjata mautnya untuk meruntuhkan hati cewek), dan selalu merujuk pada Rasulullah SAW. Ia tak bisa dipegang dan memegang kulit wanita yang bukan mahram dalam keadaan apapun (bahkan Maria yang dalam keadaan sekarat, ia tak mau memegangnya untuk sekedar menolongnya — dan memang akhirnya Maria dinikahinya agar ia bisa memegang tangannya!). Pokoknya, baca tokoh Fahri ini seperti kita lihat tokoh Jackie Chan atau Jet Li, pahlawan pembela kebenaran.
Namun aku heran, tokoh sekaliber Fahri ini begitu rendah menilai diri sendiri. Dengan ilmu dan sifat sehebat itu, ia merasa minder untuk menyatakan cinta, dengan pertimbangan dia berasal dari keluarga miskin dari desa tak pantas bersanding dengan wanita-wanita yang ia suka. Hff… ataukah memang ilmu-ilmu begini (penakluk wanita) hanya didapat dari pengalaman berpetualang dengan berbagai wanita yah? 
Kembali ke laptop! eh.. cerita.
Secara konflik yang dibentuk, novel ini memiliki konflik sederhana dan terlalu sinetron. Konfliknya adalah fitnah menghamili orang, dan oleh karenanya tokoh utama dipenjara dan konflik diakhiri dengan plot di pengadilan. Ini mah konflik kuno, mengingatkan aku pada film India. Soal cerita dan alur, novel ini benar-benar tak bisa dibandingkan dengan novel-novel Sidney Sheldon atau Mario Puzo yang rumit dan penuh kejutan.
Tapi menurutku, kekuatan novel ini adalah tokoh utama sendiri yang begitu nyaris sempurna akhlaknya dan romantis ala penakluk hati wanita. Ceritanya juga enak dibaca kok. Endingnya sempurna, sangat happy ending dengan penyelesaian yang praktis (penulis benar-benar mencari jalan yang aman). Tapi untuk ukuran novel yang Islami, novel ini luar biasa, bisa meruntuhkan kecurigaanku dan akhirnya membuatku kembali mampir ke booth buku-buku Islam jika lagi belanja di Gramedia setelah sebelumnya sempat desperate ketika membaca buku Fathimah Az Zahra.
Posted in Review
69 Comments »
March 5, 2007
Sayang,
Pertama kali kita berjumpa dulu
Indah… tak pernah aku bayangkan lagi
Saat diriku terlupa, lupakan senyum manismu
Maafkan aku lagi, sayang…
Takkan ada cinta yang dapat merenggut hatiku
Takkan ada cinta yang dapat merebut hatiku
Kecuali… dia!
Andai diriku ini tetap seperti dulu
Tak pernah kukhianati cintamu pada diriku
Saat diriku terlupa, lupakan senyum manismu
Maafkan aku lagi, oh sayang…
Kecuali Dia — Seurieus (OST. Jomblo)
Apa yang menyebabkan seseorang begitu sulit melupakan orang yang dicintainya? Padahal di lain pihak, ada juga orang yang… ketika mesti berpisah dengan kekasihnya… tunggulah dua atau tiga bulan lagi, ia sudah bergandengan dengan kekasih baru, seakan-akan, tangis pedihnya beberapa bulan lalu tak pernah terjadi.
Apa yang menyebabkan orang menjadi begitu bodoh harus menutup pintu hati kepada seorang yang baru? Kenapa tidak ada seorang figur baru yang bisa membuatnya jatuh cinta sedemikian rupa seperti ketika ia jatuh cinta kepada cinta pertamanya? Benarkah jatuh cinta seperti itu hanyalah kepada cinta pertama? Cinta selanjutnya tak sedahsyat cinta pertama?
Kini, orang itu tetap berdiri, menatap sinar matahari yang menerpa wajahnya dan berkata dalam hatinya,
kalaulah kelak cinta itu kembali datang,
kalaulah kelak hati ini dilanda gelombang cinta yang mengguncang jiwa,
kalaulah memang ada seseorang yang bisa membuat hati ini kembali terguncang dan bergolak,
kalaulah memang ada yang bisa seperti itu
kalaulah orang itu mau tersenyum padaku sedikit saja…
sedikit.. aku tak perlu banyak.. sedikit saja…
akan kucoba tawarkan padanya,
kalaulah ia mau menemani aku hingga ujung usia ini
dengan janjiku untuk mencintainya
dengan janjiku untuk mengajaknya menjadi sahabat sejati di dunia dan di akhirat
Karena kata novel yang baru saja dia baca, cinta yang sejati hanyalah cinta setelah menikah. Tak ada cinta sebelum itu.
*mencoba nulis dalam sudut pandang orang ketiga tunggal, tapi kerasa sekali ke-aku-annya masih ada. Namanya juga belajar, jadi pelan-pelan hehehehe…
Posted in Melankolis
16 Comments »