Antara Keinginan dan Kebutuhan
Pada awal saya kuliah di Surabaya dulu, tahun 2002, saya kos dan hidup dari uang kiriman ortu tercinta. Sarana transportasi hanyalah sepeda. Waktu itu handphone belum begitu populer dan belum masuk ke masyarakat kelas bawah seperti saya. Praktis, pengeluaran hanyalah untuk membayar kos dan kebutuhan rumah tangga seperti makan dan mandi saja. Tak ada keinginan untuk membeli sesuatu, karena memang tak ada yang bisa digunakan untuk itu. Saat itu sungguh enak dibedakan, mana yang kebutuhan mana yang keinginan, karena jika benar-benar butuh, saya harus meminta kepada bunda di rumah.
Oke, seiring waktu berjalan, saya kemudian bisa bekerja sambil kuliah, sebagai freelancer dan akhirnya sebagai mahasiswa magang di UPT Puskom ITS. Mulai saat itulah keinginan mulai muncul menggebu-gebu. Setiap kali ada kelebihan, saya ingin membeli sesuatu yang menurut saya adalah kebutuhan. Beli TV Tuner, nambah memory PC, nambah hardisk, dan semacamnya. Namun masih terkendali. Saya telah terlatih mengatur pengeluaran dan pemasukan. Di awal masa kuliah, setiap hari saya selalu mencatat pengeluaran saya, mengawasi pos-pos belanja yang kritis, membatasi anggaran untuk pos belanja tertentu sehingga uang kiriman dari ortu tetap terjaga berapapun jumlahnya. Saya tak pernah meminta suatu besaran karena saya tahu, bunda dan ayah pasti bekerja amat keras untuk bisa meng-kuliahkan saya. Dan akhirnya saya hafal mengatur anggaran tanpa harus mencatat pengeluaran setiap hari. Lagipula, fasilitas untuk menghabiskan uang tanpa terkendali kurang ada di Surabaya (hmm.. peluang bisnis? ). Untuk ke Gramedia (Gramedia Manyar yang terdekat dengan kampus), perlu dua kali naik angkot. Untuk ke mall, ya cuma ke Tunjungan Plaza yang enak, itupun jauh. Itulah sebabnya hingga tingkat dua, saya sering ditertawakan karena tak tahu jalan ke TP. Aih… kuper pisan atuh…
Ah, ternyata kemampuan mengatur anggaran di Surabaya yang saya banggakan itu tak ada artinya di sini, di Jakarta ini. Secara besaran, pemasukan jelas lebih besar daripada semasa kuliah, namun kenapa bulan pertama saya begitu hancur-hancuran? Jakarta adalah tempat yang sangat tepat untuk menghabiskan uang dengan cepat. Tilik saja dari radius kos-kosan saya di Pancoran. Ke timur sedikit ada Giant di Plaza Kalibata. Ke utara ada Carrefour Cawang. Hypermarket dimana segalanya ada. Jalanlah dari ujung sini ke ujung sana di dalam mall itu. Kebutuhan yang pada awalnya cuma ingin beli pasta gigi dan sabun mandi saja tiba-tiba bisa membengkak menjadi sepuluh kebutuhan yang berbeda. Ingin buku? Gramedia tersedia di Hero Pancoran, yang besar ada di Matraman. Restoran fast food? KFC, McDonnald, PizzaHut tersebar di mana-mana. Berbeda sekali dengan di Surabaya yang McD ada di Mulyosari. Saya sampai terheran-heran sendiri waktu akhir bulan, ngapain saja saya bulan ini?
Mungkin wajar juga bagi anak muda seperti saya. Apalagi tak ada yang mengontrol kecuali diri sendiri. Saya bahkan sampai kesulitan membedakan mana yang kebutuhan dan keinginan (Terimakasih buat adekku Tiwik [dah S.Kom ya wik ], yang membantu buat mendefinisikan yang mana saja kebutuhan dan keinginan). Seiring membesarnya pemasukan, ternyata tanpa sadar keinginan pun juga membesar. Begitu banyak wish list saya ketika saya coba catat. Mungkin juga karena dulu saya tidak mungkin untuk mewujudkan wish list itu.
Well, akhirnya saya pakai cara lama. Cara yang saya gunakan semasa awal kuliah saya. Saya coba catat pos-pos belanja setiap hari. Saya coba alokasikan anggaran untuk setiap pos belanja. Saya alokasikan berapa saya harus menyisakan. Dengan demikian saya bisa mendeteksi setiap pengeluaran dan melakukan prioritas kebutuhan. Mungkin semua kebutuhan (atau keinginan?) itu bisa terpenuhi, namun karena ada batas alokasi anggaran, maka saya bisa menunda kebutuhan itu di anggaran bulan depan. Ajaib… keinginan yang banyak itu lambat laun memudar. Sesuatu yang sangat saya inginkan dulu sekarang tak ingin saya punyai lagi. Dan akhirnya, saya bisa hidup dengan tenang lagi . Tak perlu pelit terhadap diri sendiri, namun tetap cermat mengawasi pengeluaran. Darah muda bahaya jika tak diawasi, hehehe…
Yang harus dilakukan kini hanyalah disiplin dan telaten mencatat pengeluaran setiap hari. Jakarta benar-benar tak bisa dianggap main-main dalam hal pengeluaran. Namun demikian, ada pelajaran berharga dari kota Jakarta; ternyata makin besar penghasilan, pengeluaran makin bertambah pula. Ketika kita memasuki kelas sosial yang lebih tinggi, pengeluaran pun ikut tinggi. Jadi apakah definisi kaya itu? Jadi apakah definisi kemakmuran itu? Apakah orang bermobil BMW dan tinggal di apartemen mewah adalah makmur? Belum tentu, karena pastinya pengeluaran mereka juga besar. Jadi bagaimana dong? Ya… Welcome to the capital city, Galih! <):)
Yakin tah Kita Tidak Akan Seperti Mereka?
Hari ini, postingan Paman Tyo sangat dramatis dan menyentuh. Paman mampu menciptakan atmosfer baca yang menggerakkan perasaan. Maklum, orang media :p. Saya terkesan dengan majalah KomputerAktif yang susunan kalimatnya begitu santun. Posting itu menceritakan soal banjir di Jakarta dari sudut pandang sosial. Bagaimana gambaran para korban banjir yang sengsara, namun ada banyak orang yang malah memanfaatkan kejadian itu sebagai hiburan, tontonan, aksi promosi diri, dan semacamnya. Sangat tidak berperasaan.
Saya tertarik dengan begitu banyak komentar yang masuk. Kebanyakan komentar adalah komentar penuh emosi, kebanyakan mengecam kaum pejabat dan para isterinya serta kaum-kaum the have yang tidak berperasaan, tak punya empati sedikitpun kepada para korban banjir. Aih… saya berkomentar, “Yakin tah kita tidak akan berbuat begitu pula jika kita berada di posisi mereka?” Jangan sok suci, sok bijak, jika boleh berkata agak kasar, kita bisa ngomong begitu karena memang tidak terfasilitasi untuk berposisi menjadi kaum yang “tak berperasaan” itu.
Kenapa saya sampai berkomentar seperti itu? Karena menurut saya, ya beginilah kultur negeri ini. Terlalu banyak orang yang pintar ngomong tapi tanpa aksi yang sama dengan mulutnya. Kacau balau bukan lagi sesuatu yang aneh, akan tetapi ya itulah ciri khas negeri kita. Pelajaran PPKn semasa SD yang kini masih diajarkan itu hanyalah seperti cerita dongeng sebelum tidur. Protes? silakan, tapi tolong coba renungkan dulu pertanyaan saya sebelum protes:
Apakah Anda pernah ngebut melampaui batas kecepatan maksimal yang diizinkan di jalan tol? Apakah Anda pernah menyerobot lampu merah ketika Pak Polisi sedang tidak bertugas? Apakah Anda pernah memakai bahu jalan dengan alasan dikejar waktu? Apakah Anda pernah memakai jalur busway dengan kendaraan non trans-jakarta? Apakah Anda pernah mengendarai sepeda motor dengan zig-zag? Apakah Anda pernah mengumpat ketika jalur Anda diserobot? Apakah Anda sering mengklakson orang di depan Anda dengan tidak sabar?
Di mall, apakah Anda selalu menggunakan jalur kiri atau jalur kanan eskalator? Pernah membuang sampah di tempat sampah meskipun andai tempat sampah ada di lantai basement? Pernah merokok di tempat umum, di angkot, di metromini?
Sulit untuk berlaku tertib di kala ketidaktertiban menjadi sebuah kebiasaan. Aneh rasanya di jalan jika kita lurus-lurus saja di jalur kiri, diserobot kanan kiri pengendara yang bermanuver ala Valentino Rossi. Sedikit saja diserobot, emosi terpancing dan ingin ikut-ikutan ngebut. Tapi bukankah menjadi kebanggaan tersendiri jika kita bisa berbeda dari orang kebanyakan? Di saat ketidakteraturan menjadi hal yang umum, bukankah bangga jika kita sendiri yang berbeda? Menjadi berbeda kan tak harus berbeda yang negatif, iya kan?
Kalimat untuk Valentine?
Hari itu Minggu sore yang temaram, 4 Februari 2007. Jakarta pas parah-parahnya kebanjiran. Aku kehabisan ransum makanan dan pergi ke Hero Pancoran buat cari persediaan makanan untuk satu minggu. Sebelum ke Hero yang ada di lantai basement (bawah tanah), aku mampir ke Gramedia lihat-lihat buku. Kali-kali aja ada yang menarik perhatian mataku. Dan aku akhirnya cuma beli majalah Mix saja.
Masuk Gramedia aku baru sadar kalau bulan ini adalah Februari, bulan kasih sayang, bulan Valentine. Gramedia berhiaskan penuh warna-warni pink, boneka-boneka pink, aneka bunga-bunga yang sepertinya didesain untuk diberikan kepada sang kekasih. Wah, sudah berapa lama ya Valentine tidak berarti apa-apa bagiku, artinya tidak ada seorang yang bisa diberi ucapan, “be my valentine“. Aih.. romantisnyah… terakhir aku bilang begitu waktu kelas 2 SMA berbekal cokelat cadburry. )
Berkeliling di suasana seperti itu, ternyata sisi melankolisku muncul lagi. Ada ide bikin kata-kata yang bisa digunakan untuk ucapan. Karena tak ada ready stock, ujung-ujungnya ya kembali pada sang kekasih abadiku itu. Benarlah kata Jikustik di lagunya terbaru; Puisi (thanks ya Me, udah dikirimi lagu ini ^_^).
Kapan lagi kutulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindahku hanya untukmu
Dan bagaimana kata-katanya? Cukup membuatku tersenyum sendiri karena membayangkan jika kata-kata ini jadi kukirim kepadanya, balasan darinya tak akan kalah gombalnya, tak kalah romantis, yang jika aku tak mengenal dia sudah lama, bisa bikin klepek-klepek ke-ge-er-an.
Aku bertanya-tanya kenapa engkau begitu baik padaku
sehingga rasanya aku tak akan pernah menemukan orang sebaik, sehangat, dan seramah kamu untuk jadi kekasihku.
Tapi sayangnya, yang terbaik itu tak bersedia jadi kekasihku.
Namun demikian, paling tidak izinkan aku untuk sayang padamu…
@};-
Javascript Debugger
Jika saya ditanya, diantara bahasa pemrograman yang banyak itu, bahasa apa yang paling sering dipakai sekaligus paling saya benci, maka saya akan menjawab dengan tegas: Javascript! Saya benci bahasa ini karena, (1) Bekerja di sisi client, sehingga kita harus waspada dengan berbagai macam browser pengolah Javascript yang mungkin akan digunakan oleh pengguna, katakanlah Internet Explorer yang paling populer, Mozilla Firefox yang digandrungi para developer, Safari, Flock, Netscape, Konqueror, Galeon, dan sederetan browser yang entah apa namanya. Biarpun sudah ada standar Javascript dari W3C, namun tetap saja banyak hal yang membuat antar browser itu saling tidak kompatibel satu sama lain. Suck…
Alasan ke (2), Javascript tidak bisa di-debug! Ini yang membuatku paling membenci bahasa ini. Sudah punya banyak standar dan gaya struktur program, tak bisa didebug lagi. Bagaimana kita bisa mengetahui aliran dan nilai setiap variabel per baris-baris kode jika tidak bisa didebug?
Untunglah, hari ini masalah teratasi secara lengkap. Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan cara untuk debugging Javascript di Firefox dengan menggunakan extension Firebug. Penggunaan Firebug cukup simpel. Download dan install extension ini. Kemudian restart Firefox Anda. Setelah itu buka halaman yang akan di-debug pada tab baru. Klik Tools – Firebug, dan pastikan submenu Disable Firebug tidak dicentang (non-aktif). Lihat screenshot dibawah ini,
Apalah Arti Mencinta?
Ketika kita bicara cinta kepada seorang wanita, ketika kita memberanikan diri untuk mengungkapkan, “Aku mencintaimu,” apa artinya kata itu? Apakah hanya sekedar keinginan untuk memiliki? Ataukah hanya hasrat sekejap yang hilang ketika ada wanita lain yang lebih baik datang? Ataukah apa?
Bagi saya, kalimat “Aku cinta padamu” atau “Aku sayang padamu” sungguh berat konsekuensinya. Ungkapan ini adalah suatu totalitas untuk membuat seorang yang kita cintai bahagia dengan cara apapun, meskipun hal itu merugikan atau bahkan menyakiti kita. Hal yang paling berat tentu saja adalah cinta itu tanpa pamrih, tanpa mengharapkan apapun dari sang kekasih. Kebanyakan, orang cinta karena juga ingin memiliki. Ketika harapan itu adalah tepuk sebelah tangan, ketika sang kekasih tak membalas cinta itu, anehnya, cinta itu hilang dan bahkan bisa berubah menjadi benci.
Banyak kawan-kawan saya yang bertanya-tanya kenapa saya seperti tak bisa pindah ke lain hati. Kenapa saya sampai begitu memujanya. Kenapa saya sepertinya masih stuck on her. Padahal semua orang — termasuk saya — juga tahu, bahwa tak ada kesempatan sedikit pun untuk memilikinya. Saya tahu, ini adalah tepukan sebelah tangan.
… karena saya mencintainya. Selagi masih punya kesempatan untuk mencintainya, saya akan mencintainya. Saya terlanjur berkata (saya bahkan masih ingat kata-kata pertama itu), “Maafkan aku, aku tak bisa mempertahankan kemurnian persahabatan kita karena telah kucampur dengan cinta. Aku sayang kamu.”
Ditolak memang pahit. Sangat pahit. Sangat sakit. Namun setelah melewati banyak proses, saya bertanya kembali, Apalah arti mencinta jika hanya sakit yang didapat? Apalah arti cinta jika hanya kebencian dan usaha untuk melupakan yang sia-sia? Dari titik itulah, saya mulai belajar untuk mencintai apa adanya.
Tak banyak yang saya bisa lakukan untuknya memang. Terlalu sombong dan ge-er jika saya bisa memberi arti jika saya berada di sampingnya. Yang benar adalah jika dia di samping saya, dia akan memberikan banyak arti buat saya. Dan itu tidak sehat. Cinta adalah hubungan timbal balik yang irreversible, bukan hanya hubungan searah. Bahkan tanpa ada di samping saya pun, ia telah memberikan banyak pelajaran berharga kepada saya.
Ah, Galih, apa yang kamu katakan barusan omong kosong semua. Bull shit. Itu hanyalah kedok. Di balik itu sesungguhnya ada harapan terpendam yang jahat. Kamu menunggunya, kamu masih berharap untuk mendapatkannya entah kapan. Meskipun mungkin harapan itu hanyalah sekecil debu.
Ah, entahlah. Kamu bisa bilang seperti itu. Saya juga tak pernah yakin atas dasar apa saya melakukannya. Saya juga cowok biasa. Saya punya cemburu juga. Saya hanya tahu satu hal, saya melakukan ini karena tak mungkin lagi untuk melawan perasaan. Tak mungkin lagi untuk berusaha melupakannya. Tak akan berhasil. Mana mungkin berhasil jika sekarang setiap hari saya disodori sesuatu yang pasti akan membuat saya mengingatnya?
Look at the sky tell me what do you see
Just close your eyes and describe it to me
The heavens are sparkling with starlight tonight
That’s what I see through your eyesLooking Through Your Eyes — The Corrs & Bryan White
Comments