Entries from February 2007
February 18, 2007
Posting ini menandai pembukaan tag baru blogku, yaitu Brand. Tag ini akan membahas soal bagaimana suatu korporat mengedukasi pasar dan membesarkan brand/merk-nya. Sejak bertemu dan akhirnya berkawan dengan Bang Uki, aku jadi tertarik dengan dunia komunikasi visual. Aku jadi suka berkomentar tentang desain iklan, baliho, poster, tentunya dari sudut pandang mata seorang awam yang hanya mengenal dunia ini secara otodidak. Tentu saja, posting dalam kategori ini tidak akan sedalam, seakurat, dan sebagus blog-nya Pak Itpin. Lebih subjektif, khas blog.galihsatria.com 
Oke, untuk memulainya, aku akan cerita tentang brand galihsatria.com sendiri 
Lama sebelum heboh web 2.0, galihsatria.com saya posisikan sebagai personal website, berbasis Java. Sebagai web personal, web ini sangat technology-minded (beberapa kawan malah menyebut java-minded). Menyediakan berbagai macam file-file hasil pekerjaan kuliahku. Menjadi berguna bagi orang lain adalah harapanku. Kalau setelah itu ternyata karyaku itu disalahgunakan, katakanlah untuk dibacem (baca: dibajak) habis-habisan, aku anggap itu adalah suatu kerugian untuk si pembajak. Kenapa? Karena ia tidak pernah mendapatkan semangat pembelajarannya. Padahal tujuan utamaku dengan mempublikasikan berbagai macam resource yang aku buat adalah untuk tujuan studi dan penelitian. 
Pada waktu aku lulus kuliah dan melepaskan “jabatan” sebagai orang yang tinggal di lab ITSnet, aku juga harus kehilangan sebuah server Javaku. Nah, saat itu aku memutuskan untuk memati-surikan brand www.galihsatria.com dan mereposisi blog.galihsatria.com sebagai brand utama. Selain karena alasan tidak adanya server Java, tren web 2.0 dan gelombang blog begitu cepat membesar. Model website saat ini adalah berbasis komunitas, interaktif, dan dengan aksesbility yang nyaman. Blog, friendster, flickr, dan semacamnya adalah angin saat ini. Jadi, daripada susah-susah melakukan migrasi sistem www ke dalam sistem yang lebih kompatibel, aku memutuskan untuk mereposisi blog menjadi publikasi utama untuk seorang Galih Satriaji. Mungkin jika ada waktu nanti, aku akan menghidupkan lagi brand www. Entahlah.. who knows? 
Posted in Catatan Harian
2 Comments »
February 15, 2007
Ini adalah saat-saat yang menjengkelkan sekaligus mengasyikkan: ngoprek Javascript. Kasusnya adalah dalam sebuah tabel, bagaimana kita menambahkan baris tabel (tag [tr]) secara dinamis lewat Javascript.
Sederhana, DOM HTML telah memiliki fungsi lengkap untuk melakukan hal itu. Lihat baris kode di bawah ini:
// mendapatkan objek tabel yang akan diambil
var table = document.getElementById(tableID);
// mendapatkan jumlah baris
var lastRow = table.rows.length;
// menambahkan baris baru dan menentukan CSS class ganjil dan genap
var tr = table.insertRow(lastRow);
tr.className = ( lastRow % 2 == 0 ) ? ‘form-table_tr-even’ : ‘form-table_tr-odd’;
// first column
var td0 = tr.insertCell(0);
td0.align = ‘center’;
td0.vAlign = ‘middle’;
td0.innerHTML = ‘[input type=”radio” value=”‘ + lastRow + ‘” name=”chkRow” /]’;
Caranya cukup mudah. Namun bagaimana ketika elemen-elemen itu memiliki event, misalnya ketika diklik akan melakukan fungsi Javascript juga? Dulu aku membuat sebuah template blok-blok html tersebut dan kemudian aku copy-paste dengan perintah copyElement. Namun cara ini selain tak efisien juga tak fleksibel. Tidak dinamis lagi. Ketika keadaan memaksaku untuk tidak menggunakan cara ini, aku mencari dan akhirnya menemukan bahwa untuk menambahkan event handler ke elemen yang dibuat secara dinamis, ada perintah tersendiri untuk meregister event tersebut.
Masalahnya, tidak ada standar dalam hal ini. Khususon IE punya attachEvent. Sedangkan Opera, Firefox, dan Safari punya addEventListener. Perlakuan dua fungsi tersebut bisa dilihat di bawah ini:
var handler = new Object();
handler.onclick = function() {
setRow(lastRow-1);
}
if(window.addEventListener) { // Mozilla, Firefox, Netscape, dll
tr.addEventListener(’click’, handler.onclick, false );
}
else { // IE
tr.attachEvent( ‘onclick’, handler.onclick );
}
Parameter pertama adalah event yang diregister. Perhatikan bedanya. IE memerlukan nama lengkap eventnya; onclick, onmouseover, dll. Tapi Firefox mengabaikan kata-kata on dan secara otomatis akan menambahkan kata itu didepan parameter yang diregister. Parameter kedua adalah pointer yang menunjukkan fungsi yang akan dikerjakan ketika event di-invoke (opo yo bahasa Indonesiane?). Di sini bisa langsung dimasukkan nama fungsi tanpa harus membuat Objek pointer jika fungsi yang akan dikerjakan tidak memiliki parameter. Tapi jika memiliki parameter, perlakuannya seperti di atas. Buat variabel bertipe function() dan didalamnya berisi fungsi yang dipanggil.
Kedengarannya gampang dan sederhana bukan? Tapi mencari petunjuk dan aturan ini lho susahnya bukan main. Masalahnya tetap, karena tidak ada standardisasi. Ketika aku telah menemukan attachEvent… eh ternyata Firefox hanya mau menerima addEventListener. Ketika fungsi yang harus di-invoke adalah fungsi berparameter, ternyata harus membuat sebuah pointer, karena fungsi berparameter tidak bisa langsung dipassing baik ke attachEvent maupun addEventListener.
Jadi.. Long Live Javascript!!! 8-)
Posted in Developer
7 Comments »
February 13, 2007
Pada awal saya kuliah di Surabaya dulu, tahun 2002, saya kos dan hidup dari uang kiriman ortu tercinta. Sarana transportasi hanyalah sepeda. Waktu itu handphone belum begitu populer dan belum masuk ke masyarakat kelas bawah seperti saya. Praktis, pengeluaran hanyalah untuk membayar kos dan kebutuhan rumah tangga seperti makan dan mandi saja. Tak ada keinginan untuk membeli sesuatu, karena memang tak ada yang bisa digunakan untuk itu. Saat itu sungguh enak dibedakan, mana yang kebutuhan mana yang keinginan, karena jika benar-benar butuh, saya harus meminta kepada bunda di rumah.
Oke, seiring waktu berjalan, saya kemudian bisa bekerja sambil kuliah, sebagai freelancer dan akhirnya sebagai mahasiswa magang di UPT Puskom ITS. Mulai saat itulah keinginan mulai muncul menggebu-gebu. Setiap kali ada kelebihan, saya ingin membeli sesuatu yang menurut saya adalah kebutuhan. Beli TV Tuner, nambah memory PC, nambah hardisk, dan semacamnya. Namun masih terkendali. Saya telah terlatih mengatur pengeluaran dan pemasukan. Di awal masa kuliah, setiap hari saya selalu mencatat pengeluaran saya, mengawasi pos-pos belanja yang kritis, membatasi anggaran untuk pos belanja tertentu sehingga uang kiriman dari ortu tetap terjaga berapapun jumlahnya. Saya tak pernah meminta suatu besaran karena saya tahu, bunda dan ayah pasti bekerja amat keras untuk bisa meng-kuliahkan saya. Dan akhirnya saya hafal mengatur anggaran tanpa harus mencatat pengeluaran setiap hari. Lagipula, fasilitas untuk menghabiskan uang tanpa terkendali kurang ada di Surabaya (hmm.. peluang bisnis?
). Untuk ke Gramedia (Gramedia Manyar yang terdekat dengan kampus), perlu dua kali naik angkot. Untuk ke mall, ya cuma ke Tunjungan Plaza yang enak, itupun jauh. Itulah sebabnya hingga tingkat dua, saya sering ditertawakan karena tak tahu jalan ke TP. Aih… kuper pisan atuh…
Ah, ternyata kemampuan mengatur anggaran di Surabaya yang saya banggakan itu tak ada artinya di sini, di Jakarta ini. Secara besaran, pemasukan jelas lebih besar daripada semasa kuliah, namun kenapa bulan pertama saya begitu hancur-hancuran? Jakarta adalah tempat yang sangat tepat untuk menghabiskan uang dengan cepat. Tilik saja dari radius kos-kosan saya di Pancoran. Ke timur sedikit ada Giant di Plaza Kalibata. Ke utara ada Carrefour Cawang. Hypermarket dimana segalanya ada. Jalanlah dari ujung sini ke ujung sana di dalam mall itu. Kebutuhan yang pada awalnya cuma ingin beli pasta gigi dan sabun mandi saja tiba-tiba bisa membengkak menjadi sepuluh kebutuhan yang berbeda. Ingin buku? Gramedia tersedia di Hero Pancoran, yang besar ada di Matraman. Restoran fast food? KFC, McDonnald, PizzaHut tersebar di mana-mana. Berbeda sekali dengan di Surabaya yang McD ada di Mulyosari. Saya sampai terheran-heran sendiri waktu akhir bulan, ngapain saja saya bulan ini?
Mungkin wajar juga bagi anak muda seperti saya. Apalagi tak ada yang mengontrol kecuali diri sendiri. Saya bahkan sampai kesulitan membedakan mana yang kebutuhan dan keinginan (Terimakasih buat adekku Tiwik [dah S.Kom ya wik
], yang membantu buat mendefinisikan yang mana saja kebutuhan dan keinginan). Seiring membesarnya pemasukan, ternyata tanpa sadar keinginan pun juga membesar. Begitu banyak wish list saya ketika saya coba catat. Mungkin juga karena dulu saya tidak mungkin untuk mewujudkan wish list itu.
Well, akhirnya saya pakai cara lama. Cara yang saya gunakan semasa awal kuliah saya. Saya coba catat pos-pos belanja setiap hari. Saya coba alokasikan anggaran untuk setiap pos belanja. Saya alokasikan berapa saya harus menyisakan. Dengan demikian saya bisa mendeteksi setiap pengeluaran dan melakukan prioritas kebutuhan. Mungkin semua kebutuhan (atau keinginan?) itu bisa terpenuhi, namun karena ada batas alokasi anggaran, maka saya bisa menunda kebutuhan itu di anggaran bulan depan. Ajaib… keinginan yang banyak itu lambat laun memudar. Sesuatu yang sangat saya inginkan dulu sekarang tak ingin saya punyai lagi. Dan akhirnya, saya bisa hidup dengan tenang lagi
. Tak perlu pelit terhadap diri sendiri, namun tetap cermat mengawasi pengeluaran. Darah muda bahaya jika tak diawasi, hehehe…
Yang harus dilakukan kini hanyalah disiplin dan telaten mencatat pengeluaran setiap hari. Jakarta benar-benar tak bisa dianggap main-main dalam hal pengeluaran. Namun demikian, ada pelajaran berharga dari kota Jakarta; ternyata makin besar penghasilan, pengeluaran makin bertambah pula. Ketika kita memasuki kelas sosial yang lebih tinggi, pengeluaran pun ikut tinggi. Jadi apakah definisi kaya itu? Jadi apakah definisi kemakmuran itu? Apakah orang bermobil BMW dan tinggal di apartemen mewah adalah makmur? Belum tentu, karena pastinya pengeluaran mereka juga besar. Jadi bagaimana dong? Ya… Welcome to the capital city, Galih! 
Posted in Catatan Harian
8 Comments »
February 9, 2007
Hari ini, postingan Paman Tyo sangat dramatis dan menyentuh. Paman mampu menciptakan atmosfer baca yang menggerakkan perasaan. Maklum, orang media
. Saya terkesan dengan majalah KomputerAktif yang susunan kalimatnya begitu santun. Posting itu menceritakan soal banjir di Jakarta dari sudut pandang sosial. Bagaimana gambaran para korban banjir yang sengsara, namun ada banyak orang yang malah memanfaatkan kejadian itu sebagai hiburan, tontonan, aksi promosi diri, dan semacamnya. Sangat tidak berperasaan.
Saya tertarik dengan begitu banyak komentar yang masuk. Kebanyakan komentar adalah komentar penuh emosi, kebanyakan mengecam kaum pejabat dan para isterinya serta kaum-kaum the have yang tidak berperasaan, tak punya empati sedikitpun kepada para korban banjir. Aih… saya berkomentar, “Yakin tah kita tidak akan berbuat begitu pula jika kita berada di posisi mereka?” Jangan sok suci, sok bijak, jika boleh berkata agak kasar, kita bisa ngomong begitu karena memang tidak terfasilitasi untuk berposisi menjadi kaum yang “tak berperasaan” itu.
Kenapa saya sampai berkomentar seperti itu? Karena menurut saya, ya beginilah kultur negeri ini. Terlalu banyak orang yang pintar ngomong tapi tanpa aksi yang sama dengan mulutnya. Kacau balau bukan lagi sesuatu yang aneh, akan tetapi ya itulah ciri khas negeri kita. Pelajaran PPKn semasa SD yang kini masih diajarkan itu hanyalah seperti cerita dongeng sebelum tidur. Protes? silakan, tapi tolong coba renungkan dulu pertanyaan saya sebelum protes:
Apakah Anda pernah ngebut melampaui batas kecepatan maksimal yang diizinkan di jalan tol? Apakah Anda pernah menyerobot lampu merah ketika Pak Polisi sedang tidak bertugas? Apakah Anda pernah memakai bahu jalan dengan alasan dikejar waktu? Apakah Anda pernah memakai jalur busway dengan kendaraan non trans-jakarta? Apakah Anda pernah mengendarai sepeda motor dengan zig-zag? Apakah Anda pernah mengumpat ketika jalur Anda diserobot? Apakah Anda sering mengklakson orang di depan Anda dengan tidak sabar?
Di mall, apakah Anda selalu menggunakan jalur kiri atau jalur kanan eskalator? Pernah membuang sampah di tempat sampah meskipun andai tempat sampah ada di lantai basement?
Pernah merokok di tempat umum, di angkot, di metromini?
Sulit untuk berlaku tertib di kala ketidaktertiban menjadi sebuah kebiasaan. Aneh rasanya di jalan jika kita lurus-lurus saja di jalur kiri, diserobot kanan kiri pengendara yang bermanuver ala Valentino Rossi. Sedikit saja diserobot, emosi terpancing dan ingin ikut-ikutan ngebut. Tapi bukankah menjadi kebanggaan tersendiri jika kita bisa berbeda dari orang kebanyakan? Di saat ketidakteraturan menjadi hal yang umum, bukankah bangga jika kita sendiri yang berbeda? Menjadi berbeda kan tak harus berbeda yang negatif, iya kan? 
Posted in Catatan Harian, Opini saja kok
13 Comments »
February 7, 2007
Hari itu Minggu sore yang temaram, 4 Februari 2007. Jakarta pas parah-parahnya kebanjiran. Aku kehabisan ransum makanan dan pergi ke Hero Pancoran buat cari persediaan makanan untuk satu minggu. Sebelum ke Hero yang ada di lantai basement (bawah tanah), aku mampir ke Gramedia lihat-lihat buku. Kali-kali aja ada yang menarik perhatian mataku. Dan aku akhirnya cuma beli majalah Mix saja.
Masuk Gramedia aku baru sadar kalau bulan ini adalah Februari, bulan kasih sayang, bulan Valentine. Gramedia berhiaskan penuh warna-warni pink, boneka-boneka pink, aneka bunga-bunga yang sepertinya didesain untuk diberikan kepada sang kekasih. Wah, sudah berapa lama ya Valentine tidak berarti apa-apa bagiku, artinya tidak ada seorang yang bisa diberi ucapan, “be my valentine“. Aih.. romantisnyah…
terakhir aku bilang begitu waktu kelas 2 SMA berbekal cokelat cadburry. 
Berkeliling di suasana seperti itu, ternyata sisi melankolisku muncul lagi. Ada ide bikin kata-kata yang bisa digunakan untuk ucapan. Karena tak ada ready stock, ujung-ujungnya ya kembali pada sang kekasih abadiku itu. Benarlah kata Jikustik di lagunya terbaru; Puisi (thanks ya Me, udah dikirimi lagu ini ^_^).
Kapan lagi kutulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindahku hanya untukmu
Dan bagaimana kata-katanya? Cukup membuatku tersenyum sendiri karena membayangkan jika kata-kata ini jadi kukirim kepadanya, balasan darinya tak akan kalah gombalnya, tak kalah romantis, yang jika aku tak mengenal dia sudah lama, bisa bikin klepek-klepek ke-ge-er-an. 
Aku bertanya-tanya kenapa engkau begitu baik padaku
sehingga rasanya aku tak akan pernah menemukan orang sebaik, sehangat, dan seramah kamu untuk jadi kekasihku.
Tapi sayangnya, yang terbaik itu tak bersedia jadi kekasihku.
Namun demikian, paling tidak izinkan aku untuk sayang padamu…

Posted in Catatan Harian, Melankolis
14 Comments »