Kenapa Saya Ngeblog?
Dalam dunia blogosfer, saya adalah pemula. Saya baru serius ngeblog baru beberapa bulan yang lalu. Memang archive blog saya menunjukkan postingan awal pada bulan Desember 2004, namun itu hanyalah sebatas catatan harian atau diary dan memang waktu itu saya belum tahu apa itu blog. Berangkat dari sini, saya tertarik untuk menjawab 9 pertanyaan dari Pak Budi Putra dalam rangkaian tulisannya tentang tips dan trik ngeblog untuk pemula. Thanks Pak! Artikel yang bagus sekali.
BP = Dikutip dari blog Pak Budi Putra; GS = Saya
BP: Anda suka menulis?
GS: Saya sangat suka menulis. Bagi saya, menulis adalah satu cara untuk mengungkapkan isi dari otak maupun hati. Saya bisa mendokumentasikan apa yang saya pelajari hari ini (Siapa tahu saya membutuhkannya lagi kelak sehingga saya tidak perlu repot-repot belajar lagi), Saya juga bisa curhat tentang kisah cinta saya — saya adalah orang yang sangat terbuka, dalam curhat saya, saya bebas berperan apa saja, menjadi orang yang patah hati, melankolis, apa saja yang saya inginkan. Dan syukur, jika salah satu tulisan saya itu bisa bermanfaat bagi orang lain. Saya akan senang sekali.
BP: Apa yang ingin Anda sampaikan?
GS: Saya ingin menulis tentang apa yang saya lakukan dan saya pelajari hari ini. Juga ide-ide yang kadang-kadang gila namun sayang jika pemikiran tersebut hilang ditumpuk pikiran lain esok. Kebanyakan isi blog saya adalah catatan harian dan dokumentasi tentang apa yang saya pelajari serta sedikit opini mengenai sesuatu hal.
BP: Anda tipe self-starter?
GS: Sangat! Saya suka mengutak-atik sesuatu yang baru. Saya mulai menulis catatan ini mulai dari CMS buatan sendiri, mulai berbasis ASP classic, pindah ke PHP, hingga ke JSP Struts, sampai akhirnya mentok di CMS buatan WordPress.
BP: Punya waktu dan bisa disiplin?
GS: Tentu saja. Jika ada sesuatu yang ingin ditulis, langsung saya tulis. Meminjam istilah Paman Tyo yang terkenal itu, terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat.
BP: Cukup Tahan banting?
GS: Saya hampir selalu berusaha membuat postingan yang tidak provokatif dan kontroversif ( bener nggak sih kata ini?). Hanya sesekali saja ketika saya ingin mendulang komentar di blog, saya baru menulis hal-hal yang memancing komentar kontroversial.
BP: Mau terus belajar?
GS: Banyak hal-hal baru yang saya dapatkan dari blogosphere. Sangat sesuai dengan rasa haus saya untuk selalu mempelajari hal-hal yang baru. Jadi benarlah kata Pak Budi Putra, “Jika Anda punya eager untuk terus belajar, blogosfer adalah tempat yang cocok untuk Anda“.
BP: Suka membaca?
GS: Mungkin jika tidak ada buku di saat saya menganggur, saya akan kebingungan. Saya gandrung dengan kebiasaan membaca sejak kecil. Sejak baru bisa membaca, setiap makan saya selalu ditemani lauk yang wajib ada, yaitu tulisan apapun yang bisa dibaca, entah sobekan koran dari bungkus nasi, entah tabloid yang terbit tiga tahun yang lalu, entah novel yang telah dibaca lebih dari sepuluh kali, pokoknya harus ada sesuatu yang bisa dibaca.
BP: Anda jujur dan transparan?
GS: Dalam hal tertentu, saya sangat jujur namun juga sangat subjektif. Namun dalam hal lain, khususnya dalam topik melankolis, saya sendiri tak tahu apakah saya berperan menjadi seseorang yang lain dalam tulisan saya, ataukah orang dalam tulisan saya itu adalah saya sendiri, saya tidak tahu. Jadi jika ditanya jujur atau tidak, saya tidak tahu
BP: Suka berjaringan?
GS: Hmm… Saya akan senang sekali mungkin jika blog ini bisa seterkenal bintang-bintang seleb blog di Planet Terasi dan Merdeka. Saya senang punya banyak teman, jadi saya akan selalu menjawab komentar-komentar di blog ini dan saya juga mulai rajin berkomentar di blog-blog lain. Go networking! Yo!
Ditunggu tips dan trik berikutnya, Pak Budi!
On the Fly Image Creation dengan Java
Java memiliki kemampuan untuk membuat citra (image) langsung dari objek-objek Java. Dengan objek Graphics2D, kita diberi fasilitas semacam kanvas yang bisa digambari bentuk, garis, titik, hingga huruf dengan font dan background yang kita inginkan. Pada kasus kali ini, kita akan mencoba membuat sebuah ImageGenerator yang akan menghasilkan citra PNG ke file.
Masalahnya di sini, objek Graphics maupun Graphics2D tidak dapat di-instansiasi langsung dengan operator new. Ia harus mengambil dari objek lain, biasanya adalah Canvas, atau Frame dari java.awt (Abstract Windowing Toolkit). Akan tetapi bagaimana jika aplikasi kita tidak akan melibatkan framing karena bukan aplikasi desktop? katakanlah aplikasi berbasis web atau servlet? Hehe.. inilah caranya!
The Godfather
Intermezzo-nya udah, sekarang mbahas yang agak serius dikit (yyukkk…).
Judul Buku: The Godfather (Sang Godfather)
Pengarang: Mario Puzo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Untunglah aku belum melihat film yang meraih Oscar itu. Bagiku, membaca buku jauh lebih mengasyikkan daripada menonton film. Imajinasi tak dibatasi. Kita bebas menggambarkan secantik apa Cinderella itu, ataukah seanggun apa Putri Salju itu. Buku setebal 678 halaman ini mantabb abizz, menceritakan sepak terjang sebuah keluarga Mafia dengan kepala keluarga Don Vito Corleone selama sepuluh tahun yang penuh dengan dinamika.
Bila Aku Jatuh Cinta….
Intermezo kali ini, aku akan membahas soal bagaimana proses ketika aku jatuh cinta, mulai saat kenal cewek hingga ketika aku harus mengatakan, “Aku sayang padamuâ€. Lihat diagram alir (flowchart) di samping. Anggap posisi A adalah saat dimana aku menghabiskan hari-hari dengan bekerja, belajar, atau kegiatan rutin lainnya. Suatu ketika, aku bertemu dengan seorang cewek, dan akhirnya mengenalnya. Kenal di sini juga bisa diartikan hanya sekedar tahu saja. Kemudian, aku akan sampai pada pertanyaan, apakah cewek ini sesuai dengan cewek ideal yang aku idam-idamkan? Well, aku selalu mulai dari fisik, atau casing. Maklumlah, di sini aku baru saja kenal dia, jadi tentu saja aku belum tahu kecantikan hatinya. Jujur, cewek ideal ini kriterianya terbentuk baru ketika aku bertemu dengan seorang yang sudah sering aku ceritakan di blog ini. Seorang yang sangat mempengaruhi pembentukan emosi hingga pendewasaan seorang Galih. Dari situ, aku secara tak sadar membuat semacam template, bahwa cewek ideal itu seharusnya seperti dia.
Oke, apa sih kriteria cewek idealnya Galih itu? Jika melihat kepada siapa aku selalu jatuh cinta, maka kriteria itu akan menjadi: dia mesti berwajah imut-imut, wajahnya sejuk jika dipandang — seperti ada salju yang menyelubungi wajah beningnya , kecil tidak bongsor, dan berkerudung anggun.
Linux dan Windows dalam Perspektif Galih
Aku bukanlah pengguna yang fanatik dalam memilih Sistem Operasi. Aku lebih melihat pada apa kebutuhanku dan siapa yang bisa memenuhi kebutuhan itu. Aku pengguna Windows, tapi juga tidak menutup mata terhadap Linux. Dalam pekerjaan sehari-hari, sejak dulu ketika masih di Surabaya hingga sekarang di Jakarta, aku menggunakan Windows. Dalam relasinya dengan pekerjaanku, aku merasa akan jauh lebih produktif dengan menggunakan Windows. Dan sekarang di tempat baru ini, semuanya terfasilitasi. Semua software yang berjalan di atas Windows juga berlisensi legal ).
Langit Jakarta
Berkantor di gedung setinggi itu serunya kita bisa lihat pemandangan langit Jakarta yang penuh sesak. Entah kenapa, Jakarta sudah semingguan ini kembali mengalami musim kemarau setelah dua minggu diguyur hujan terus menerus. Kemaraunya tidak tanggung-tanggung, tidak cuma cerah berawan atau mendung berarak-arak namun tidak hujan, tetapi benar-benar berlangit biru dengan sinar matahari yang memancar dengan terik. Foto disamping biasanya diambil ketika bulan-bulan sekitar Agustus, tapi yang ini… Bulan Januari! Hebat! Cuaca makin aneh saja…
Kebetulan mejaku ada di dekat jendela, menghadap ke arah cakrawala tempat senja tenggelam. Pagi tadi, cuaca benar-benar cerah. Langit bersih hingga gunung-gunung yang biasanya tak pernah kelihatan menjadi terlihat sebagai background langit. Saking tingginya tempatku melihat pemandangan cantik ini, kabut pagi yang tebal sudah lewat di bawah sana. Lihat foto ini:
Indah sekali bukan? Tapi tunggu dulu, kabut itu benarkah kabut pagi yang segar? Atau hanya tipuan kota metropolitan semata? bahwa sesungguhnya itu adalah kabut cokelat SMOG yang beracun itu?
Canon EOS400D versus Nikon D70
Ini juga posting buat melayani kangmasku yang lagi bingung milih kamdig DSLR yang mau dibelinya, Mbah Ronnie Muhadi. Maklum, begitulah kalau sudah kebanyakan duit, jadi bingung ). Review berikut ini bukan berdasarkan pengalamanku memakainya — secara gw ngga punya kamera SLR bo’! — melainkan comot sana dan comot sini beserta sedikit pengetahuanku mengenai kamera digital.
Menurutku, hal terpenting dari sebuah kamera bukanlah pada jumlah mega piksel-nya. Ini sudah merupakan kesalahan konsep secara umum. Tapi, seperti halnya mata, bagian kamera yang amat vital adalah terletak lensa, diafragma, dan shutter speed. Kita lihat satu per satu:
Comments