Entries from December 2006
December 14, 2006
Hari ini saya menerima email dari milis kantor tentang foto api ledakan pipa Pertamina di Lapindo yang membentuk lafal Allah dan Kuda Laut dari publikasi berita di detik.com. Kemudian, dari blog-nya Purna yang juga mengutip dari detik.com, detik telah memastikan bahwa foto tersebut adalah asli dengan mewawancarai juru bicara Timnas Rudi Novrianto.
Foto tersebut ada di link ini.
Well, terus terang, saya meragukan keaslian foto tersebut. Pertama, detik.com tidak membuktikan secara teknis bahwa foto itu asli, misalnya saja dengan menampilkan data EXIF foto tersebut (diambil dengan kamera apa, diambil kapan, apa detail teknis dari kamera, apa white balance-nya, berapa focal length-nya, dll). Pun jika EXIF data-nya disertakan, foto tersebut belum dapat dibuktikan keasliannya, masalahnya EXIF data pun bisa dibuat dengan menggunakan tool tertentu, misalnya saja dengan menggunakan modul ini.
Zaman sekarang, Adobe Photoshop telah membuat banyak keajaiban dalam dunia fotografi digital. Kelihatannya hampir semua hal yang tidak mungkin bisa dimanipulasi dengan menggunakan Photoshop, mulai menelanjangi teman kita sendiri, memanipulasi wajah teman dan “ditempelkan” kepada wajah artis tenar, mengubah-ubah posisi. Jadi rasanya bukan hal yang sulit membuat foto tersebut dengan menggunakan Adobe Photoshop.
Lagipula, bukan perkara mudah menangkap momen tersebut dengan kamera digital, apalagi kamera digital poket; bayangkan jilatan api yang cepat berubah-ubah. Berapa kecepatan bukaan lensa yang diperlukan (shutter speed)? Minimal harus diatas 1/250 s. Dengan kecepatan setinggi itu, bukaan lensa (diafragma) harus benar-benar besar karena foto diambil pada malam hari yang nota bene memiliki cahaya yang sedikit. F/2.8? Saya rasa masih kurang. Apalagi cahaya yang ekstrim, lingkungan sekitar gelap, sementara bagian api terang benderang. Hal itu bisa menyebabkan foto menjadi terlalu under exposure atau malah over exposure.
Lalu… bagaimana cara membuktikan bahwa suatu foto digital adalah asli? Entahlah, tetapi rasanya dengan data EXIF yang lengkap, foto bisa dinilai keasliannya. Data EXIF tersebut bisa dianalisis oleh seorang fotografer atau ahli fotografi untuk menentukan apakah data EXIF tersebut masuk akal atau tidak.
Saya hanya menyesalkan bahwa media sebesar detik.com bisa menampilkan berita seperti itu seperti media infotainment saja, dengan membuktikan keaslian foto itu hanya berdasarkan pendapat nara sumber tanpa menyertakan bukti teknis. Hanya dari satu pihak pula! Ah… detik jadi penyebar Hoax! Detik emang BasBang, Basi Banget!
Wallahu ‘alam…
Update 18 Desember 2006:
Henri menganalisis lewat segi pixel-pixel. 
Posted in Opini saja kok
41 Comments »
December 13, 2006
Tak genap sampai dua bulan aku tidak menulis kategori melankolis dan aku cukup bahagia karena kuanggap aku sudah terbebas… benar-benar terbebas. Ealah ternyata, ada satu hal yang memicu otakku untuk mengingat kembali. Dan aku sebenarnya sudah sangat-sangat muak. Seperti kata tokoh Nobu T di buku Memoar Seorang Geisha, “Aku benci jika barang yang tidak mungkin kudapat diiming-imingkan di depanku“. Aku benci jika sesuatu yang tak mungkin didapat mesti mengganggu pikiranku. Wasting time banget! 
Rasanya, kata-kata Mbak Menik boleh juga; apakah dia mendapat penyakit yang sama denganku, aku tidak tahu, tapi kata-kata dia cukup bisa membuatku “tertusuk”.
bodoh..
mau nggak mau..aku harus bilang…duh, bodohnya aku…
aku tahu..
memikirkanmu..hanya akan membuang waktuku
aku juga tahu..
kesempatan untuk bersamamu saat ini..bahkan telah minus beberapa persen
dan aku juga tahu…
meski aku menyayangimu…aku tak akan pernah mendapatkanmu…
aku tahu..
pada akhirnya, aku hanya bisa berangan-angan dan berandai-andai denganmu..
duh…bodohnya aku…
kenapa menghilangkan memori denganmu terasa sangat sulit…
duhhh…
Yah… kebodohanku ternyata belum berakhir…. 
Posted in Melankolis
4 Comments »
December 7, 2006
Kurasa pengalaman yang akan kuceritakan ini hanya bisa didapatkan di Jakarta saja. Seperti yang sudah kukatakan, aku di Jakarta tinggal di rumah paklik di kompleks Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. Untuk menuju kantor yang ada di Wisma Mulia, Gatot Subroto (orang sini sering memendekkannya jadi Gatsu, seperti halnya Bendungan Hilir menjadi BentHill dan Karet Belakang menjadi Karbela), aku perlu naik angkutan umum sebanyak tiga kali. Sekali naik angkot Trans Halim, turun di perempatan Cililitan (land mark-nya ada PGC — Pusat Grosir Cililitan — di situ. Kemudian, dari Cililitan naik Kopaja berkode 57 yang menuju Blok M dan turun di pertigaan Kalibata. Di sini landmarknya adalah rimbunnya taman makam pahlawan Kalibata di sebelah selatan jalan. Dari Kalibata naik metromini berkode 604 dan akhirnya turun di Wisma Mulia.
Benar kata Vendy, jika ingin lancar perjalanan, jangan pernah berangkat lebih dari jam 6 jika ingin tiba di kantor tepat waktu (aku masuk jam 7 pagi). Aku melewati kawasan super macet: perempatan Pancoran. Bahkan ketika aku lewat situ sekitar pukul 06:30, arus lalu lintasnya sudah mulai macet. Oh iya, jangan bayangkan metromini itu nyaman (
ha..ha..ha..). Naik dan turun harus sigap enterprise, karena dia tak pernah berhenti, jadi harus loncat dan lari!! Kemeja tersetrika rapi pun basah oleh keringat. Mungkin cuma busway trans-jakarta saja angkutan umum Jakarta yang nyaman.
Jakarta tingkat stress-nya sangat tinggi. Melihat lalu lintas yang semrawut aja sudah bikin sumpek. Apalagi hujan deras sudah mulai turun, jadi sana-sini sudah mulai banjir. Dan jika hujan turun sekitar pukul empat sore, bisa dipastikan jalur pulang akan sangat-sangat macet dengan kondisi angkutan umum penuh sesak. Rekor terlama perjalanan adalah 2 jam, padahal jika lancar jaya hanya makan waktu sekitar setengah jam saja. Untunglah, rasa sumpek lihat lalu lintas semrawut sudah hilang tatkala memasuki gedung Wisma Mulia. Just sit down at the lobby and take a look arround!
streesnya pasti hilang lihat wanita-wanita muda pekerja yang lalu lalang di sana. Haha…
Iya kan? kayak gini cuma ada di Jakarta. Surabaya? Surabaya jadi kelihatan seperti kota kecil yang sepi dan tenang kalau kau pulang dari Jakarta. Coba rasakan perbedaannya, kau naik sepeda motor dan berada di tengah-tengah hiruk pikuk lampu merah perempatan Pancoran, dengan ketika kau menunggu lampu hijau menyala di perempatan Kertajaya atau Karangmenjangan. Jadi benarlah kata bos Ad-Ins waktu presentasi di STTS Surabaya dulu: Jakarta is five times bigger than Surabaya.
Posted in Catatan Harian
10 Comments »
December 2, 2006
Pengarang: Arthur Golden
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Anda tahu Geisha? Yap, geisha adalah semacam pelacur Jepang, tetapi dalam buku ini Anda akan tahu lebih dalam mengenai kehidupan seorang Geisha Jepang pada tahun 1930-an. Meskipun temanya adalah cerita seorang pelacur, namun buku ini jauh dari kesan vulgar dan porno. Buku ini menceritakan beratnya kisah hidup Geisha yang bernama Nitta Sayuri, sejak kecil ketika ia dijual ke okiya, rumah geisha. Menjadi seorang Geisha tidak hanya diperlukan wajah cantik dan tubuh yang aduhai — Arthur di sini mendefiniskah Geisha sebagai seniman –, namun perlu keahlian khusus mengenai kimono yang rumit dan berlapis-lapis, ikatan obi (selendang besar yang mengikat kimono di perut), bagaimana memainkan shamishen (gitar bersenar tiga yang bisa dipecah-pecah), riasan make-up super tebal, riasan rambut super rumit, hingga cara menuang sake semenarik mungkin.
Bagaimana dengan ceritanya sendiri? Dimulai dari kisah seorang anak kecil dari Yoroido bernama Chiyo-chan yang dijual ke rumah geisha oleh Tuan Tanaka. Di sana Chiyo menjalani kehidupan sebagai pelayan okiya yang ditindas oleh Hatsumomo, geisha satu-satunya okiya tersebut. Pada akhirnya ia tidak tahan dan mencoba kabur, namun usaha kaburnya ini malah membawanya terancam seumur hidup untuk menjadi pelayan okiya karena Ibu okiya telah menghentikan pendidikannya.
Hingga suatu saat ketika Chiyo menangis meratapi nasibnya di tepi sungai Shirakawa, ia dihibur oleh petinggi Iwamura Elektrik, yang dipanggil Ketua. Terpesona dengan Ketua, Chiyo bertekad untuk berjuang menjadi Geisha top dengan harapan suatu saat ia akan bisa menjadi danna atau isteri simpanan Ketua. Perjuangan berlanjut ketika ia dan kakak Geisha-nya, Mameha, mesti bersaing dengan geisha-geisha lain untuk menjadi Geisha ternama. Musuh utamanya tentu saja geisha yang serumah dengan Chiyo: Hatsumomo yang juga telah mengambil adik: Labu. Labu adalah sahabat Chiyo, namun ketika Chiyo (nama Geishanya adalah Sayuri) diadopsi oleh ibu okiya, persahabatan mereka hancur.
Alur ceritanya menurut saya sangat biasa untuk ukuran novel. Kebanyakan alur maju dengan sedikit variasi flashback yang sederhana. Di awal-awal malah cenderung membosankan. Bagian yang paling menarik hanyalah saat Sayuri dan kakaknya Mameha berseteru dengan Hatsumomo. Mameha berusaha memperkenalkan Sayuri agar mendapatkan harga Mizuage tertinggi, sedangkan Hatsumomo berusaha mematahkannya agar adiknya, Labu, yang sukses dan menginjak Sayuri. Oh iya, Mizuage adalah ketika keperawanan seorang Geisha dijual kepada penawar yang tertinggi. Nilai mizuage Sayuri ketika 1930 adalah 11.500 yen, memecahkan rekor yang dipegang Mameha, 7000 yen. Kejutan-kejutan pada novel ini juga sangat biasa, tak bisa dibandingkan dengan Da Vinci Code atau Angels and Demons. Satu-satunya hal yang membuat saya tertarik membaca novel ini sampai habis adalah novel ini sarat informasi mengenai seluk-beluk Geisha dan budaya Jepang.
Ada pertanyaan menarik di akhir novel ini. Pertanyaan yang diajukan kepada pengarang, Apakah geisha itu pelacur? Menurut Arthur Golden, geisha yang disebut geisha sumber air panas di tempat peristirahatan jelas pelacur. Namun geisha seperti yang disebutkan dalam novel adalah geisha yang benar-benar mahir dalam memainkan shamishen, banyaknya pengetahuan dalam upacara minum teh, dan sebagainya. Geisha dianggap gagal jika ia tidak memiliki seseorang yang menjadi penyandang hidupnya, atau danna. Jadi menurut Arthur Golden, geisha semacam ini lebih cenderung sebagai isteri simpanan, bukan pelacur.
Bahan bacaan lanjut:
Posted in Review
26 Comments »