Pulang Kampung!

Posted by: on Dec 29, 2006 | 13 Comments

Yes! Liburan Idul Adha ini aku pulang ) Naik kereta api Sembrani ke Surabaya. Kereta itu berangkat jam 06:45 PM jadi hari ini aku sudah menyiapkan semuanya dari rumah. Berangkat pun naik angkutan umum (trans Halim, 57, 640) karena rencananya pulang jam kantor langsung ke Gambir. Takutnya kalau naik sepeda motor dan pulang dulu ke rumah nggak bisa mengejar kereta yang berangkat selepas maghrib. Ee… tapi selepas shalat Jum’at ada email dari Pak Chris J. Philip yang membolehkan semua employee Jakarta bisa meninggalkan kantor jam 14:00. Yow! Jadi ngga terburu-buru neh .

Anyway, meskipun demikian, pulang kampung ini berarti aku harus kembali dari titik awal lagi. Aku tahu bahwa aku terjebak lagi ke permainan yang dulu, tapi aku sudah capek untuk melayani untuk dipermainkan oleh perasaaanku sendiri. Aku sudah menyerah. Apapun yang terjadi aku tidak peduli lagi. Aku akan ikut saja apa mau perasaanku ini. Kemarin dia menyuruhku ke PGC untuk membawakan sesuatu, aku ngikut saja. Ngga ada lagi perlawanan. Entah apa konsekuensi yang didapat, aku akan mengulang dari awal lagi. Nggak apa-apa. Aku akan menikmati kebahagiaan yang bisa kudapat selagi masih bisa. Tak ada gunanya berdarah-darah jika hal ini tidak mungkin lagi untuk dilawan. Lebih baik dinikmati. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak kecewa. Aku tahu kok apa yang aku lakukan. Aku tahu apa yang akan terjadi di masa depan, jadi… aku akan menikmati apa yang masih bisa kudapat. Buat Wice, maaf… aku telah mengecewakanmu, tapi memang sesungguhnya ini tidak mungkin dilawan lagi, ce. Buat yang baca paragraf kedua ini, maaf yah.. kalau ndak nyambung

Selamat merayakan hari raya Idul Adha. Selamat mudik bagi yang mudik. Selamat membakar sate kambing di hari Minggu he he he…

Astalavista Babeh!!!

Selamat ya, Nana

Posted by: on Dec 28, 2006 | 7 Comments

Tadi pagi, sehabis mandi pagi dan siap-siap ke kantor, ada SMS yang dateng di HP-ku. Dikutip dengan izin si pengirim:

Mengharap kehadiran teman-teman pada pernikahan kami (Ratna TC02 & Faozi) insya Allah tanggal 7 Januari 2007, akad pukul 9, walimatul ‘ursyi pkl. 10-12. Tempat: Perum Pondok Benowo Indah AV-10 Surabaya

From: Nana XL
28-Dec-2006 05:58 AM

Ternyata, Ratna Tri Wulandari, teman dekat dan teman baikku telah mengakhiri masa lajang dan memasuki hidup baru berkeluarga. Selamat ya, Nana, selamat menempuh hidup baru, semoga langgeng selamanya sampai kakek nenek, semoga keluarga yang dibangun menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah (termasuk Hero, Giant, Carrefour, dan Ramayana supermarket :p ). Amin ya rabbal ‘alamiin…

Update 16:45:

Berikut adalah email dari Nana yang sedianya akan diforward ke email-email dan milis-milis Yahoo! Namun karena adanya bencana putusnya link internasional di Taiwan, maka amanah tersebut aku taruh di sini sementara, sebagai local content .

Bila saat menggenapkan dien itu telah datang
dan Allah SWT telah mempertemukan kita dengan pilihan terbaik-Nya
Tiada kata yang lebih tepat selain ucapan
Alhamdulilllahi robbil ‘alamin
Segala puji hanyalah milik Allah SWT, Tuhan sekalian alam

Untuk itu, sebagai rasa syukur kami dan untuk menjalankan sunnah rasulullah SAW kami bermaksud mengundang rekan-rekan semua untuk hadir dalam Walimatul ‘Ursy kami, yang Insya Allah akan diselenggarakan pada:

Hari Ahad, 7 Januari 2007
Pukul 10.00 – 12.00 WIB
bertempat di Perumahan Pondok Benowo Indah Blok AV-10
Surabaya

Akad Nikah Insya Allah akan dilaksanakan pada:

Ahad, 7 Januari 2007
pukul 09.00 WIB
bertempat di Perumahan Pondok Benowo Indah Blok AV-10
Surabaya

Kehadiran serta doa restu rekan-rekan merupakan kehormatan dan kebahagian bagi kami

 

Hormat Kami,
Ahmad Faozi & Ratna Tri Wulandari (TC’02)

Kata-kata Galih lagi:
Sementara, file attachment dalam bentuk Power Point Presentation dapat didownload di sini: Ulem-ulem.

Lagu ini gue banget!

Posted by: on Dec 23, 2006 | 9 Comments

Ketika… kurasakan sudah
Ada ruang di hatiku yang kau sentuh
Oh, dan ketika… kusadari sudah
Tak selalu indah cinta… yang ada, oh…

Mungkin memang, ku yang harus mengerti
Bila ku bukan yang ingin kau miliki
Salahku bila… kaulah yang ada di hatiku

Adakah ku singgah di hatimu
Mungkinkah kau inginkan adaku
Adakah ku sedikit di hatimu

Bilakah ku menganggu harimu
Mungkinkah kau inginkan adaku
Adakah ku sedikit di hatimu

Bila memang ku yang harus mengerti
Mengapa cintamu tak dapat kumiliki
Salahkah ku bila …. kaulah yang ada di hatiku

Kau yang ada di hatiku…

Bila cinta kita takkan tercipta
Kuhanya sekedar ingin tuk mengerti
Adakah diriku, oh singgah di hatimu
Dan bilakah kau tahu
Kaulah yang ada di hatiku

Kau yang ada di hatiku…
Adakah ku dihatimu

Kaulah yang Ada di Hatiku
- Maliq & d’essentials

Kenapa dia masih ada di hati gue yah? Kenapa lagu-lagu model gini masih lagu-lagu yang rasanya cocok buat gue yah?

PS: Postingan ini muncul karena memang lagi melankolis. Bagaimana tidak? Tadi sore gw ke KFC Plaza Kalibata (17:50) merayakan sesuatu. Bukan Natal loh… Meja yang seharusnya isi dua orang itu yang satu terpaksa kosong. Harusnya sih ada mata berbinar indah yang tersenyum di situ Jadinya sendirian saja ngelamun dan menikmati indahnya sore….

Fenomena Eclipse

Posted by: on Dec 21, 2006 | 14 Comments

Pindah “agama” Lih? dari Oracle JDeveloper ke Eclipse SDK? Ehm, sebenarnya awalnya karena terpaksa. Terpaksa, lhawong di kantor IDE-nya adalah Eclipse, mau tidak mau aku kan juga harus pakai Eclipse. Belum banyak yang tahu bahwa lisensi Oracle JDev sudah free.

Eclipse, jika tampil bersama distribusinya memang tidak menarik. Hanya seberkas Java Editor yang cukup powerfull dan alat-alat standar untuk sebuah IDE (Integrated Development Environment). Jika kamu ingin mengedit XML, HTML, JSP, kamu hanya diberikan text editor sederhana. Namun demikian, inilah kekuatan Eclipse: Eclipse dibangun dengan komunitas yang sangat besar. Tersedia amat sangat banyak plugin baik yang komersial maupun gratis di Eclipse Plugin Central. Dengan plugin, kita bisa menyulap Eclipse menjadi IDE yang pas dengan kebutuhan. Biasanya, IDE datang dengan sebundel fitur yang kaya yang menjadikannya berat, besar, dan membutuhkan resource yang tinggi. Contoh semacam ini ada di JDev dan JBuilder. Namun, Eclipse datang dengan hanya 123 MB (Bandingkan JDev yang sekitar 400-500 MB). Dari situ, kita bisa download plugin yang sesuai dengan keperluan kita.

Aku menggunakan Eclipse untuk pengembangan sebuah sistem enterprise berbasis web, jadi aku tidak memerlukan visual editor untuk Swing/AWT/SWT. Tetapi aku memerlukan editor web yang lengkap (XML, JSP, HTML — tak perlu visual), Ant, integrasi dengan Tomcat atau Jetty agar bisa live debugging, dan sinkronisasi tim dengan CVS. Itu saja.

O iya, satu hal yang membuatku sangat terkesan dengan Eclipse, yaitu fitur hot code replacement. Biasanya, kalau kita mengembangkan sistem berbasis client-server apalagi Java Servlet, setiap kali ada perubahan kode (entah di model atau view-nya), kita harus merestart server agar server melakukan kompilasi ulang. Namun Eclipse tidak! Hanya dengan menyimpan perubahan terakhir yang dilakukan, kita bisa langsung melihat efeknya di browser tanpa harus melakukan restart server. Bahkan, hot code ini juga terjadi saat debugging! Ketika kita melakukan debugging dan menset breakpoint pada line tertentu di class tertentu, saat itu kita tahu kesalahannya dimana. Kita bisa langsung menggantinya dengan kode baru, dan mesin debugger eclipse akan mundur beberapa baris untuk mengulangi proses itu dengan kode baru kita! Tak harus mengulang proses debugging dari awal.

Sangar toh?

Kereta, Bus, Atau Pesawat?

Posted by: on Dec 16, 2006 | 10 Comments

Ini adalah pilihan dengan alat transportasi apa aku pulang kampung. Cihuiy… alhamdulillah, Idul Adha tahun ini insya Allah aku bisa shalat Ied di rumah. Mana yang aku pilih, naik kereta, bus atau pesawat terbang?

Jika naik pesawat:
Pesawat yang masuk akal untuk kantongku adalah AirAsia atau LionAir. Lebih cepat tentu saja, dengan biaya yang tak jauh-jauh dari kereta atau bus. Masalahnya, aku harus lewat Surabaya. Rute perjalanannya jika diambil dengan algoritma Djikstra adalah: (1) Rumah di Halim atau Kantor di Gatsu (2) Bandara Soekarno Hatta Cengkareng (3) Bandara Djuanda Surabaya (4) Terminal Bus Bungurasih Surabaya (5) Tulungagung. Masuk akal, cuma perjalanan ke bandara cengkareng cukup jauh. Sayangnya, tiket AirAsia sudah melangit tatkala aku memutuskan untuk pulang kampung pada libur tahun baru nanti. Jadi untuk pesawat? tak usah sajah…

Jika naik bus:
Satu-satunya pilihan adalah naik bus Harapan Jaya. Termurah dari semua pilihan, namun juga terlama. Tetapi aku bisa langsung menuju Tulungagung. Ini rutenya: (1) Rumah di Halim (2) Pool Harapan Jaya di Pasar Rebo (3) Tulungagung. Perjalanan yang paling menyenangkan sebenarnya adalah naik bus. Ada sensasi tersendiri yang mendebarkan hati ketika memasuki kota Tulungagung . Sayangnya, jadwal keberangkatan adalah pukul 13:00 siang, jadi mau tak mau harus berangkat hari Sabtu, dan tiba Minggu. Eeh.. Minggu siang harus sudah kembali, karena tak mungkin berangkat Senin siang. Tiba di Jakarta pasti terlambat masuk kantor yang jam 07:00 pagi. Kesimpulannya: Tidak mungkin. #:-S

Naik kereta:
Satu-satunya pilihan yang tersisa ini punya dua sub pilihan, lewat jalur selatan atau jalur utara. Lewat jalur selatan berarti naik kereta Gayana ke Malang. Ada sensasi juga ketika tiba di stasiun Jogjakarta :”>. Namun, naik Gajayana tidak ada bedanya seperti naik kereta ekonomi meskipun di tiketnya tertulis kelas eksekutif. Kursinya tidak bisa disetel jadi kursi tidur (rusak tak berfungsi), pramugari dan pramugara kereta mafia semua: menunda jatah makan malam dan mendahulukan menjual makan malam agar dagangannya laku.

Akhirnya aku memilih naik kereta lewat Surabaya. Ada Argobromo Anggrek, Sembrani, dan Gumarang. Aku sebenarnya senang naik Argo Anggrek (pramugarinya cakep-cakep bo’), tapi Argo Anggrek sering ngaco nggak tepat waktu. Meskipun di Indonesia ini tak ada kereta yang tepat waktu ( ) ), namun kata mas Cukris, Sembrani lah yang paling tepat waktu. Aku perlu ketepatan waktu ini agar aku tidak terlambat masuk kantor. Sembrani yang paling masuk akal, ia berangkat dari stasiun Gambir pukul 18:45 dan tiba di Jakarta lagi pukul 5 pagi. Rutenya: (1) Kantor di Gatsu (2) Stasiun Gambir (3) Stasiun Surabaya Pasar Turi (4) Naik ojek/taksi ke terminal Bungurasih (5) Naik bus ke Tulungagung. Aku belum tahu kayak apa rasanya naik Sembrani, tapi kereta ini favoritnya Nana kalau pulang kampung. Jadi.. boleh juga dicobah…

Foto Api Ledakan Pipa Pertamina di Lapindo

Posted by: on Dec 14, 2006 | 42 Comments

Hari ini saya menerima email dari milis kantor tentang foto api ledakan pipa Pertamina di Lapindo yang membentuk lafal Allah dan Kuda Laut dari publikasi berita di detik.com. Kemudian, dari blog-nya Purna yang juga mengutip dari detik.com, detik telah memastikan bahwa foto tersebut adalah asli dengan mewawancarai juru bicara Timnas Rudi Novrianto.

Foto tersebut ada di link ini.

Well, terus terang, saya meragukan keaslian foto tersebut. Pertama, detik.com tidak membuktikan secara teknis bahwa foto itu asli, misalnya saja dengan menampilkan data EXIF foto tersebut (diambil dengan kamera apa, diambil kapan, apa detail teknis dari kamera, apa white balance-nya, berapa focal length-nya, dll). Pun jika EXIF data-nya disertakan, foto tersebut belum dapat dibuktikan keasliannya, masalahnya EXIF data pun bisa dibuat dengan menggunakan tool tertentu, misalnya saja dengan menggunakan modul ini.

Zaman sekarang, Adobe Photoshop telah membuat banyak keajaiban dalam dunia fotografi digital. Kelihatannya hampir semua hal yang tidak mungkin bisa dimanipulasi dengan menggunakan Photoshop, mulai menelanjangi teman kita sendiri, memanipulasi wajah teman dan “ditempelkan” kepada wajah artis tenar, mengubah-ubah posisi. Jadi rasanya bukan hal yang sulit membuat foto tersebut dengan menggunakan Adobe Photoshop.

Lagipula, bukan perkara mudah menangkap momen tersebut dengan kamera digital, apalagi kamera digital poket; bayangkan jilatan api yang cepat berubah-ubah. Berapa kecepatan bukaan lensa yang diperlukan (shutter speed)? Minimal harus diatas 1/250 s. Dengan kecepatan setinggi itu, bukaan lensa (diafragma) harus benar-benar besar karena foto diambil pada malam hari yang nota bene memiliki cahaya yang sedikit. F/2.8? Saya rasa masih kurang. Apalagi cahaya yang ekstrim, lingkungan sekitar gelap, sementara bagian api terang benderang. Hal itu bisa menyebabkan foto menjadi terlalu under exposure atau malah over exposure.

Lalu… bagaimana cara membuktikan bahwa suatu foto digital adalah asli? Entahlah, tetapi rasanya dengan data EXIF yang lengkap, foto bisa dinilai keasliannya. Data EXIF tersebut bisa dianalisis oleh seorang fotografer atau ahli fotografi untuk menentukan apakah data EXIF tersebut masuk akal atau tidak.

Saya hanya menyesalkan bahwa media sebesar detik.com bisa menampilkan berita seperti itu seperti media infotainment saja, dengan membuktikan keaslian foto itu hanya berdasarkan pendapat nara sumber tanpa menyertakan bukti teknis. Hanya dari satu pihak pula! Ah… detik jadi penyebar Hoax! Detik emang BasBang, Basi Banget!

Wallahu ‘alam…

Update 18 Desember 2006:
Henri menganalisis lewat segi pixel-pixel. )

Tak Genap Sampai 2 Bulan

Posted by: on Dec 13, 2006 | 4 Comments

Tak genap sampai dua bulan aku tidak menulis kategori melankolis dan aku cukup bahagia karena kuanggap aku sudah terbebas… benar-benar terbebas. Ealah ternyata, ada satu hal yang memicu otakku untuk mengingat kembali. Dan aku sebenarnya sudah sangat-sangat muak. Seperti kata tokoh Nobu T di buku Memoar Seorang Geisha, “Aku benci jika barang yang tidak mungkin kudapat diiming-imingkan di depanku“. Aku benci jika sesuatu yang tak mungkin didapat mesti mengganggu pikiranku. Wasting time banget! X(

Rasanya, kata-kata Mbak Menik boleh juga; apakah dia mendapat penyakit yang sama denganku, aku tidak tahu, tapi kata-kata dia cukup bisa membuatku “tertusuk”.

bodoh..
mau nggak mau..aku harus bilang…duh, bodohnya aku…
aku tahu..
memikirkanmu..hanya akan membuang waktuku
aku juga tahu..
kesempatan untuk bersamamu saat ini..bahkan telah minus beberapa persen
dan aku juga tahu…
meski aku menyayangimu…aku tak akan pernah mendapatkanmu…
aku tahu..
pada akhirnya, aku hanya bisa berangan-angan dan berandai-andai denganmu..
duh…bodohnya aku…
kenapa menghilangkan memori denganmu terasa sangat sulit…
duhhh…

Yah… kebodohanku ternyata belum berakhir….

Switch to our mobile site