Entries from August 2006

Tren AJAX, Hanya Sekedar Buzzword ataukah Teknologi Web Masa Depan?

Date August 26, 2006

AJAX, kita semua pasti sudah mengenal jargon ini. Singkatan Asynchronous Javascript and XML. Teknologi ini digadang-gadang sebagai web 2.0. Meledak ketika GMail mengaplikasikannya ke dalam mailbox manager-nya. Kemudian segera menyusul web-web lain berlomba-lomba melakukan migrasi ke AJAX; Yahoo! Mail mengeluarkan versi mailbox AJAX yang mirip Thunderbird, WordPress 2.0 ber-AJAX-AJAX ria, hingga bahkan situs Kamus.net pun juga ikut-ikutan pindah ke AJAX. Bahkan kini ada usaha memindahkan aplikasi kantor macam MS-Word dan MS-Excel ke dalam sistem berbasis web dengan menggunakan AJAX.

Apakah AJAX akan sukses? Ataukah akan mengikuti jejak Java Applet pada pertengahan 1996 yang digembar-gemborkan sebagai teknologi web interaktif dan akhirnya hancur di tangan Macromedia Flash? Berikut sedikit pengalamanku dengan AJAX.

Beberapa hari ini aku membuat sebuah karya terakhir untuk ITS sebelum aku pergi yaitu sebuah wajah baru untuk www.its.ac.id yang code-name-nya kusebut: v3. Latah dengan arus web 2.0, aku mencoba memindahkannya ke semi AJAX, maksudnya hanya menggunakan objek XMLHttpRequest dan mengabaikan formatting data yang berupa XML dengan membuat format data sendiri yang kupikir akan jauh lebih sederhana. Apa yang kita perlukan untuk membangun satu halaman AJAX? Ini dia:

  • Halaman XHTML tanpa dekorasi. Khusus untuk isi. Hukumnya fardhu kifayah menggunakan tableless design. Karena tag [table] bersifat statik dan tidak dapat dimanipulasi dari Javascript (bisa…, tapi tidak fleksibel), kita harus memakai tag [div].
  • File CSS untuk dekorasi layout.
  • File Javascript yang berisi fungsi-fungsi AJAX.
  • Parser XML (jika format data hasil adalah XML, Anda harus menambahkan kode tambahan yang tentunya akan makan waktu pemrosesan). 

Kebetulan, di rumah Tulungagung tidak ada koneksi internet. Jadi aku konek ke dunia maya dengan GPRS IM3 yang per KB-nya dicas Rp. 11. Aku jadi mikir… betapa banyak jumlah kilobyte untuk mendownload satu halaman AJAX dibandingkan dengan halaman HTML biasa. Untuk satu halaman AJAX, File CSS dan Javascript-nya saja sudah cukup menguras pulsa. Wah.. wah.. wah…

Jadi inget postingan Pak Priyadi yang sedang fakir bandwidth [TM]. Karena asynchronous, AJAX seringkali membuat request lewat jalan belakang yang tidak diketahui sang pengguna. Dengan kata lain: AJAX boros bandwidth!

Terlalu pagi untuk menjustifikasi bahwa AJAX akan gagal. Juga dikatakan kalah sebelum bertanding jika v3 ITS yang hampir selesai ini tidak kuluncurkan tanpa melihat respon yang ada. Jadi sementara ini, aku akan maju terus dengan AJAX dan melihat bagaimana efeknya. Nanti jika aku dapat pengalaman baru lagi, akan kutulis juga di sini. Okay!

Motret dengan Kamera Manual Film: SUSAH!!!

Date August 24, 2006

mengalir turunGambar di samping adalah foto paling sukses-ku dengan kamera manual analog (SLR) Nikon FM10. Diambil dari air terjun Kake Bodo Pandaan Pasuruan pas hunting bareng ama Pak Waskitho dan Pak Nunut. Efek kapas air dari air terjun bisa didapatkan dengan low speed.

Ini data teknis foto di samping:
- Film: Kodak GOLD asa 200
- Bukaan diafragma: F/22
- Kecepatan: BULB 1,5 detik
- Lensa: Nikon – Nikkor Micro Lens 55 mm F/3.2 – F/32

Aku baru bisa menghargai hasil karya ini setelah menyadari kalau motret dengan Nikon FM10 adalah LUAR BIASA SUSAH!!! Kemarin, pas liburan ke Bali bersama kantor, aku eksperimen Night Shot di hotel Jayakarta tempat kami menginap. Aku sudah pernah motret Night Shot di Hotel Yamato Surabaya dengan hasil over exposure gara-gara kelamaan mbukak lensa: 15 menit! Di hotel Jayakarta ini aku mencoba pakai bukaan lensa F/32 (agar keluar efek bintang lampu-lampu) dengan speed yang lebih cepat daripada di Yamato: 2 detik. Oh tidaak!! hasilnya malah under exposure alias gelap gulita. Ah, gagal total!!

Emang paling enak motret pakai digital. Canon Powershot A400 ku adalah yang terbaik, meskipun udah mulai ndak bisa memenuhi kebutuhanku lagi, yang udah mulai bosen dengan foto landscape dengan komposisi terukur. Pengennya ya.. moto model (fokus harus bisa diatur manual), moto truk lewat alias efek panning (speed harus bisa diatur manual), atau efek bintang lampu-lampu (bukaan diafragma harus bisa diatur manual). Pak Suhadi Lili kemarin menyarankan supaya aku pindah ke DSLR saja, toh Olympus E500 sekarang sudah murah. AH, tapi uangnya siapa?? :)


Nikon FM10

Welcome back to Blogoshpere, Galih!

Date August 23, 2006

Well, I don’t know when will galihsatria.com, my domain, wake up back so I can write on my hand-made blog. I need some stuff to be written, so I decide to move to this wordpress blog.

Why wordpress? It seems that I do not like wordpress indeed. I prefer to make my own blog system just like blog.galihsatria.com. Well, one of the reason is that I’m interested in exploring wordpress deeper. Maybe I will try to make a CSS theme, or even plugin, or something similar like that. I like to explore wordpress because this software is widespreading as one of the most popular blog software in this world.

Enjoy :)

Mengembalikan BootLoader

Date August 5, 2006

Bagi pengguna PC dengan multi operating system, pasti mengenal yang bernama bootloader. Bootloader berfungsi untuk memilih sistem operasi mana yang digunakan untuk memulai sesi komputer. Biasanya pengguna Linux dan Windows memakai LILO (Linux Loader) atau GRUB. Nah, dua program ini berasal dari Linux, sehingga pengguna biasanya melakukan urutan instalasi sistem operasi dalam urutan Windows diinstall terlebih dahulu, baru kemudian Linux. Linux akan mendeteksi Windows yang telah terinstall dan memasukkannya dalam pilihan bootloader.

Apa jika Windows terinstall belakangan? Bootloader akan menghilang dan seakan-akan Linux kita juga hilang. Sebenarnya Linux kita tidak hilang dan masih berfungsi dengan sangat baik, hanya saja loader-nya hilang dari master boot record karena ditindas oleh loader-nya Windows. Berikut ini adalah salah satu cara mengembalikan loader GRUB pada master boot record.

Catatan: postingan ini lebih bertujuan untuk mengingatkan saya pribadi. Tidak dijamin Anda mengerti setelah membaca tulisan ini. Kemungkinan tambah bingung adalah mungkin.

Langkah-langkahnya adalah sbb:

  1. Siapkan Linux Live CD (knoppix atau ubuntu live-cd) untuk masuk dalam sistem linux, dalam kata lain kita perlu menjalankan bash script
  2. Mount partisi tempat Linux yang hilang itu berada
  3. Chroot ke mount point tersebut
  4. Jalankan perintah grub dan tunggu hingga grub-bash-like terminal muncul
  5. Install kembali grub pada master boot record dengan perintah setup (hdX) dimana X adalah letak partisi master boot record, jadi misalnya perintahnya: setup (hd0)
  6. Jika muncul error, berarti kita perlu menset letak kernel dan initrd dahulu, tetapi semestinya ini tidak perlu dilakukan karena kita sudah chroot ke sistem yang akan digunakan

Saya menulis ini karena tadi pas install ulang windows punya si Thinkpad ini, bootloader ke debian tertimpa oleh Windows dan saya lupa cara-caranya. Setelah utak-utik sebentar, eeh.. ternyata bisa! :)

Digital Fortress 2

Date August 5, 2006

Melanjutkan review kemarin. Aku memang terkesan dengan thriller yang ini. Tidak mudah menjadikan dunia teknologi computer science menjadi dasar cerita. Istilah yang ada di dalamnya terlalu teknis, terlalu spesifik, dan terlalu sulit untuk dijelaskan kepada orang awam. Bahkan sering kali Bahasa Indonesia tak mampu menerjemahkannya (contoh: download menjadi unduh — ah tidaak..). Tapi kenyataannya, Dan Brown berhasil membuat cerita ini dengan nyaman dan cukup masuk akal.

Ceritanya tetap sangat menarik — khas Dan Brown. Tetapi ketika mendekati bagian akhir, cerita ini agak sedikit menggelikan jika dilihat dari sisi teknis informatika-nya. Agak tidak masuk akal. Mungkin Dan Brown terkena dilema bahwa ia harus membuat sebuah klimaks yang berujung ke anti klimaks yang dramatis.

Bagian akhir itu menceritakan bahwa bank data sentral Amerika Serikat yang menjadi pusat seluruh data intelijen Amerika sedang diserah sebuah worm (please, don’t translate this term into ‘cacing’). Worm itu merusak sistem gerbang keamanan sehingga terancam bahwa data rahasia dapat dibuka oleh semua orang yang terkoneksi dengan internet. Lalu untuk efek dramatisnya, worm ini menyediakan sebuah kata kunci yang bisa membunuh worm itu sendiri. Opsi lain untuk mengatasi worm ini adalah mematikan sumber daya listrik yang proses mematikan ini sendiri membutuhkan sedikitnya 45 menit karena proses yang rumit. Padahal waktu yang tersedia tinggal di bawah 30 menit lagi. Praktis, dua opsi ini telah menimbulkan kekacauan dan menjadi klimaks yang sangat dramatis.

Aku jadi kepikiran bahwa sesungguhnya selalu ada opsi lain jika tujuannya adalah menghalangi pengguna luar mengakses data. Inilah dia:

1. Jika mematikan sistem komputer lewat catu daya listrik tidak mungkin, bagaimana jika yang dimatikan adalah service-nya saja? Penulis di situ telah menyebutkan secara sambil lalu kalau program yang melayani adalah FTP, X11, dan beberapa istilah lain. Bagaimana kalau programnya saja yang dimatikan? Cukup sebaris perintah sistem UNIX /etc/init.d/ftpd stop menyelesaikan masalah.

2. Bagaimana jika kabel LAN-nya dicabut manual? Sistem tersebut langsung akan terisolasi dari jaringan internet. Inilah firewall teraman di dunia!

3. Kembali ke catu daya listrik. Bagaimana jika kabel colokan ke listrik dicabut saja? Cara kasar, tetapi jika kerahasiaan adalah hal yang terpenting, apa pun bisa dilakukan bukan?

Wah, agak tidak masuk akal juga jika pelaku cerita yang memiliki IQ rata-rata 170 itu tidak terlintas solusi barusan di kepalanya. Atau jika terpikirkan, Dan Brown mengejar sisi logika-nya, ia akan kehilangan efek dramatis cerita. Ah, namanya juga novel, hehehehe….