Entries from July 2006
July 16, 2006
Minggu pagi-pagi
Melihat keluar jendela lantai 6, lab NOC ITS, lhakok dipameri pemandangan pagi yang sangat cantik. Matahari berangkat naik dengan bulat, menyinari langit surabaya timur yang sedang diselimuti kabut pagi dengan lembut. Sementara, di belakang gedung Desain Produk yang sedang dibangun itu, hinggap bangau-bangau yang bergembira dengan ceria di tengah sawah (ah, kapan aku bisa memotretnya?). Pokoknya indah sekali…
Tergerak, aku pun mengambil kamera poketku dan naik ke atap gedung ini. Pagi-pagi berdiri di atap sambil menikmati hangatnya sinar matahari di pagi yang dingin ini, dadaku berdesir.. sret…. Bagaimana tidak? suasana inilah yang sering aku nikmati, memanfaatkan bonus tarif Telkomsel buat meneleponnya. Lokasi yang sama, tempat yang sama. Sebenarnya aku sangat ingin mengulanginya. Hanya memerlukan gerak sederhana — cabut ponsel di saku, hubungi nomernya, selesai. Tetapi ada sesuatu yang memperingatkan aku, Galih, tentunya tidak selamanya kamu begini kan?. Akhirnya rasa sungkan menyergapku. Tidak sepatutnya. Sudah bukan saatnya lagi untuk ngrepoti dia. Ngrepoti untuk mendengarkanku, meluangkan waktu untuk (terpaksa) tersenyum dan tertawa dengan bualan-bualanku yang tidak lucu. Tidak, aku tidak akan membuang waktunya dengan percuma kecuali jika memang ada hal penting yang harus kuberitahukan kepadanya.
Weleh…. memang suasana tidak berpihak kepadaku kali ini. Memutari atap gedung ini sekali, memandang jauh ke bawah terlihat dua sejoli sedang duduk berdua — juga menikmati udara pagi yang cukup dingin ini (tumben surabaya dingin). Wah asyik sekali kelihatannya, dengan sepeda pancal di depan mereka, ngobrol dengan asiknya sambil sesekali melihat sesosok tubuh tambun di atap gedung perpustakaan yang kelihatannya sedang motret mereka (posisi di atap memang sangat mencolok — jadi aku ambil kesimpulan seperti ini).
Tambah ngenes juga. Tak tahan, aku cabut ponsel dan mengutak-atiknya. Alhamdulillah, akhirnya nomor yang kepencet adalah nomor rumah, dimana kakakku sedang ada di rumah sepulang diklatnya di Jakarta. Yaa… akhirnya suasana yang “Deja Vu” ini bisa terulang, meski tidak harus ngrepoti dia.
Meski raga ini bukan milikmu
Namun di dalam hatiku sungguh engkau hidup
Entah sampai kapan…
Kan kutahan rasa cinta ini…
Naff — Kau Masih Kekasihku
Posted in Catatan Harian, Melankolis
5 Comments »
July 12, 2006
Buku ini berjudul Fathimah Putri Rasulullah SAW. Diterbitkan oleh penerbit Zahra. Ditulis oleh Abu Muhammad Ordoni. Isinya adalah riwayat kehidupan Fathimah Az-Zahra, pemimpin wanita sepanjang masa, wanita teladan, seorang bidadari dalam wujud manusia, dan seabrek gelar lainnya.
Tak pelak lagi bahwa Fathimah memiliki akhlak yang luhur, maklum, beliau adalah putri kesayangan nabi Muhammad SAW. Buku ini menceritakan mulai riwayat perkawinan Rasulullah dengan Kadhijah, proses kelahiran Fathimah, pernikahannya dengan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kharamallahu wajhah yang sangat agung. Gaun pernikahan Fathimah adalah brokat sutera dari Surga yang khusus diantarkan oleh malaikat Jibril gara-gara gaun hadiah ayahnya yang sedianya untuk acara pernikahannya diberikannya kepada seorang wanita yang membutuhkan selembar gaun tua. Betapa dermawannya!
Menurutku, bagian terbaik dari buku ini hanyalah bab-bab sebelum pernikahannya saja. Di sini, setiap dialog adalah hadist. Selalu ada catatan kaki yang merujuk sumber hadist. Tidak ada dialog-dialog hasil rekaan pengarang.
Dan bagian yang membuatku kecewa adalah ketika pengarang berusaha menggambarkan pertikaian politik keluarga Ali-Fathimah dengan Khalifah Abu Bakar as Shidiq dan Umar bin Khattab. Seperti yang telah diketahui, ketika nabi wafat, Ali disibukkan oleh pemakaman nabi. Dan menurut pengarang, momment inilah dimanfaatkan oleh Umar dan Abu Bakar untuk mengambil alih kekuasaan yang sedianya untuk Ali bin Abi Thalib. Yap! Istilah yang digunakan adalah pengambilalihan kekuasaan. Menurut pengarang, Umar dan Abu Bakar telah bersekongkol dengan cara Umar yang tidak mempercayai bahwa nabi telah wafat demi untuk mengulur waktu hingga Abu Bakar datang. Dan bab-bab berikutnya menceritakan penindasan penguasa kepada keluarga Fathimah, kasus tanah Fadak, hingga wafatnya Fathimah az-Zahra. Ada bagian yang sangat menyentuh ketika perpisahan Fathimah dengan suaminya terkasih, Ali. Kata-kata keduanya penuh kasih sayang, mengharukan….
Keluarga Fathimah mungkin telah ditindas oleh penguasa. Tapi menurutku, cara pengarang menjelaskannya terlalu berlebihan. Gaya penceritaan juga berubah total. Jika di bab awal pengarang banyak mengutip hadist (entah shahih entah lemah — harus dicek lagi, tapi paling tidak rujukannya kebanyakan berjudul “shahih”), di bab-bab ini banyak tulisan yang merupakan pendapat pengarang sendiri. Abu Bakar as shidiq seperti bukan Abu Bakar yang merupakan sahabat nabi. Terkesan seperti penguasa yang haus kekuasaan, menghalalkan segala cara agar jangan sampai keluarga Fathimah merebut kekuasaan. Ah, benarkah begitu? Masak sih? Well.. mungkin aku tidak bisa menilai buku ini lebih dalam hingga aku membaca buku tebal tentang riwayat Abu Bakar as shidiq radhiallahu anhu…
Posted in Agomo, Review
20 Comments »
July 11, 2006
Hari ini akhirnya www galihsatria com hidup lagi. Reinstall MySQL. Sempat panik juga karena backup database www tidak ada. Untunglah, setelah mencari-cari di sekian juta berkas, ada backup tertanggal Juni 2006. Alhamdulillah. Selamat menikmati homepage-ku lagi setelah beberapa minggu harus kehilangan isi dinamisnya. Btw, btw, sekarang kepalaku kok pusing banget yah? Tiba-tiba saja… kelihatannya harus minum paramex nih.. udah kecanduan paramex…
Az Zahra — yang berkilauan — permata yang berkilau — waaah…
Posted in Catatan Harian
3 Comments »
July 8, 2006
Satu lagi hasil perburuanku di Gramedia tadi malam, salah satu novel Dan Brown telah diterbitkan oleh penerbit Serambi, mengikuti dua bukunya yang sudah dialih bahasakan ke versi bahasa Indonesia oleh Serambi juga: Malaikat dan Iblis dan the Da Vinci Code yang sangat fenomenal itu. Asyik sekali, dengan begini aku jadi tidak perlu membaca buku aslinya yang baru kubaca sepertiganya, males sekali kalau harus baca novel berbahasa inggris. Nggak bisa dapat suasananya, abisnya… yaa.. bahasa inggrisku tidak bisa dikatakan sempurna kalau tidak boleh dikatakan buruk.
Susan Fletcher, seorang kriptografer kepala NSA (National Security Agency) AS menghadapi ancaman dari seorang mantan pegawai NSA, Ensei Tankado. Tankado telah berhasil menciptakan sebuah algoritma enkripsi baru yang anti serangan brute force. Prinsip Bergofsky telah dipatahkan. Jika algoritma ini diketahui publik, hancurlah masa depan NSA yang tugas utamanya adalah menyadap pesan-pesan berbahaya. NSA adalah pengawas arus informasi seperti jalur peredaran narkoba, pembunuhan, ancaman bom — itu adalah klaim NSA. Privasi adalah sampah bagi NSA.
Siapa yang mengawasi pengawas? Itulah prinsip Tankado. Jenius cacat ini berpendapat privasi harus tetap ada. Dan akhirnya memang ia berhasil menciptakan algoritma yang dinamakannya Digital Fortress yang berdasarkan teori mutasi clear-text, sehingga komputer penyerang brute-force tidak pernah tahu bahwa tebakannya telah benar sehingga ia akan terus menerus menebak. TRANSLTR, komputer berkekuatan 3 juta prosesor milik NSA telah dipecundanginya.
Algoritma Tankado telah tersebar luas namun disandikan dengan dirinya sendiri. Hanya Tankado dan rekannya, North Dakota, yang memegang kunci ini. Cerita selanjutnya dapat ditebak layaknya sebuah thriller: NSA diperas agar mengakui keberadaan TRANSLATR atau algoritma jenius itu terbuka! Jika Tankado mati terbunuh, maka rekannya akan mempublikasikan kode itu secara gratis — memusingkan para investor yang sedang beramai-ramai menawar harga.
Susan Fletcher, seorang wanita cantik mempesona dengan skor IQ 170, berusaha keras menyelesaikan masalah ini. Sementara kekasihnya, David Becker, seorang profesor bahasa yang menguasai berbagai macam bahasa dengan aksennya, memburu cincin Tankado yang akhirnya mati terbunuh di Spanyol. Cincin itu berisi kode pembuka sandi Digital Fortress. David telah dipesan NSA agar cincin itu jangan sampai jatuh ke tangan orang lain. Dan konflikpun dimulai, cincin itu telah lenyap dari jari manis Tankado. Dan seorang sipil pun harus beraksi layaknya seorang agen rahasia.
Itulah awal cerita Digital Fortress. Plot yang cepat, karakter yang dalam, deskripsi tempat dan suasana yang mengagumkan, dan tentu saja kejutan-kejutan khas Dan Brown akan menyiksa pembacanya untuk tidak meletakkan buku itu sebelum selesai terbaca. Meskipun kali ini Dan Brown membuka cerita dengan menarik, namun tetap mirip dengan dua novelnya, Angels and Demons dan The Da Vinci Code. Semuanya dibuka dengan tokoh utama yang sedang bermimpi. Tetapi untunglah tidak semenyebalkan Robert Langdon yang mengalami pembukaan dengan Deja Vu di dua novelnya.
Secara pribadi, novel ini sangat menarik karena dunia kriptografi adalah duniaku sendiri, Computer Science. Ulasan yang menarik tentang algoritma kriptografi, deskripsi super komputer TRANSLTR yang mengagumkan sangat menarik untuk maniak komputer seperti aku. Idenya utamanya sendiri sangat menggelitik: pematahan prinsip Bergofsky yang mirip pepatah Jawa: Alon-alon penting kelakon. Jadi mikir… benarkah algoritma ini bisa dibuat?
Posted in Review
3 Comments »
July 5, 2006
Agak basi sih, tapi ngga pa pa, saya baru bisa menuliskannya sekarang.
Beberapa hari yang lalu, akhirnya praktikum jaringan komputer yang saya bertanggung jawab menjadi salah satu asisten pembimbing praktikum di situ berakhirlah sudah. Alhamdulillah, lima modul lewat sudah. Soal praktikan, Banyak yang pandai dan rajin, tapi tak kurang juga yang sangat malas. Bukan bodoh, tapi malas. Dan karena ini adalah (semoga) praktikum terakhir yang saya asisteni sejak praktikum Struktur Data, Sistem Operasi, dan Jaringan Komputer, saya ingin meninggalkan sesuatu di sini.
Sejak awal saya menjadi asisten, saya paling getol dengan permasalahan “mbacem” atau kebiasaan praktikan yang melakukan copy-and-paste tugas tanpa mengerti tugas yang diberikan kepadanya. Saya paling murka jika membaca laporan praktikum praktikan yang melakukan perbuatan terkutuk itu. Kenapa saya begitu intens pada masalah ini? Karena kebudayaan ini saya anggap awal dari bencana. Kita tidak akan pernah mengerti materi tanpa kita melalui tahap bersakit-sakit dan mengetahui kesulitan-kesulitannya. Dengan memiliki pengalaman menyelesaikan suatu masalah, konsep yang telah kita taklukkan akan membekas karena diingatkan oleh pengalaman heroik mengalahkan masalah itu. Percayalah pada saya, ketika kita berhasil menyelesaikan suatu masalah dengan tangan sendiri, rasanya ada kepuasan yang tak bisa dilukiskan, bagaimana menjadi seorang pemenang atas masalah tersebut, dan merasakan kesombongan kita naik karenanya — paling tidak itu yang saya rasakan.
Kebiasaan copy-and-paste juga membunuh rasa penghargaan atas hasil karya orang lain. Tidak akan ada penghargaan atas copyright. Bagaimana kita bisa berteriak-teriak soal HAKI jika di dalam kehidupan sehari-hari kita tidak belajar menghargai hasil karya orang lain, meskipun telah diizinkan oleh teman kita untuk di-copy-paste, tapi kenapa tidak dirujuk di daftar pustaka?
Jika ada pertanyaan, lalu darimana kita belajar jika kita tidak boleh “mbacem”? Bukankah kita juga belajar dari sumber lain? Yap! Anda boleh belajar dari mana saja, Mbah Google, PakDhe Yahoo!, internet, buku, perpustakaan, teman sendiri… tapi tentu saja hasilnya akan jauh lebih baik jika kita membacanya dan memahami maksudnya terlebih dahulu. Lalu apa yang telah kita pahami kita tuliskan dengan bahasa kita sendiri. Hasilnya pasti akan jauh lebih luwes dan lebih orisinil. Jika belajar sendiri tetap buntu, tanya asisten Anda. Asisten bukanlah algojo pembantai saat Anda demo program, tetapi rekan yang membimbing Anda melalui praktikum dengan cantik. Jika Anda tak percaya pada kemampuan asisten, tanyalah siapa pun yang Anda percaya bisa menyelesaikan masalah Anda. Jika Anda bertanya dengan baik-baik, saya yakin, Anda akan mendapatkan solusi.
Jadi, ada 1000 banyak cara menyelesaikan masalah. Perbuatan copy-and-paste hanyalah perbuatan orang yang malas saja. Menyelesaikan masalah tidak dibutuhkan kepandaian otak. Sama sekali tidak. Yang diperlukan hanyalah kerja keras dan kerja keras. Kerja keras untuk menyelesaikan masalah, dan kerja keras untuk mencari jalan keluar. Kepandaian otak hanya berperan pada kecepatan waktu menyelesaikan masalah saja. Tidak lebih.
Hanya itu yang saya harapkan di praktikum-praktikum selanjutnya di IF. Yaitu kesadaran bahwa perbuatan copy-and-paste adalah perbuatan menjerumuskan diri. Sudah lebih dari 1,5 tahun saya berjuang sebisa saya dan semoga saya telah menjalankan amanah dengan baik. Semester depan, semoga Anda tidak akan bertemu dengan saya lagi, asisten yang paling gila dan paling perfeksionis ini. ^_^
Posted in Design Pattern
5 Comments »