Dari Ujung Kenangan
Saya masih ingat, kejadiannya tidak terlalu lama berselang, waktu itu saya mengantarkannya pulang ke rumahnya — nyaris kemalaman — sepulang dari reuni kecil-kecilan empat teman SMU. Entah dari mana dialog bermula, yang jelas ia bertanya dengan lembut,
“Apakah Galih ingin aku menjauh dan tidak dekat lagi?”
Apa yang bisa saya jawab? Saya tidak mampu menjawabnya. Lidah ini ternyata tidak mampu berkata-kata. Diam seribu bahasa. Nyatanya memang saya memerlukannya. Saya tahu dia amat sayang padaku dan menginginkan saya mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik darinya.
Tetapi keadaan sudah berubah, saya tidak tahu kapan saya telah berada pada state ini. Saya sudah ikhlas dia bukanlah jodoh buat saya. Meskipun kadang-kadang air mata ini masih menetes juga kalau mengenangnya, tetapi itu saya anggap sebagai sisi melankolis saya saja. Secara akal sehat, saya sadar, bahwa saya tak akan pernah kehilangannya sebagai teman terbaik, sebagai tempat curahan hati.
Yang saya takuti hanya satu dan ini sudah terjadi. Saya akan selalu merujuk bahwa wanita yang baik itu seperti dia. Harus imut lah, harus putih lah, harus pecicilan lah, harus berkerudung lah, harus bersuara lembut lah.. yang bersifat materialistik alias duniawi. Padahal seharusnya yang saya rujuk adalah kecantikan hatinya, dia yang baik, dia yang sholihah, dia yang… Saya takut saya tidak bisa mencari figur yang baru, dan dengan begitu saya telah mencari duplikat atau gantinya! Kasihan bagi figur baru itu kan? Masak dicintai sebagai duplikat? Karena yang dicintai sebenarnya adalah tetap bayangan masa lalu dan bukan masa depan.
Anda mau jadi figur baru itu? Wekekekeekekek…..
Intuisi Seorang Ibu
Sudah tiga hari ini saya jatuh sakit. Kecapekan. Fenomena kopi ternyata hasil akhirnya demam tinggi diikuti batuk dan pilek. Saya memang lupa dan lengah kalau hari-hari seperti ini adalah hari yang rawan untuk sakit karena cuacanya yang sedang berganti dari musim panas ke musim dingin (bediding kata orang Jawa). Jadi saya lupa untuk menjaga badan, kurang istirahat, dan .. inilah hasilnya.. rasain lo Lih!
Baru sekarang ini saya mulai bisa kembali untuk mengetik baris demi baris buku skripsi Tugas Akhir yang menginjak bagian uji coba dari implementasi, meskipun masih perlahan-lahan, tidak bisa tancap gas seperti biasanya. Besok Jum’at buku ini harus jadi. Pintu gerbang keluar sudah terlihat — dari awalnya yang bahkan setitik cahaya pun tidak ada, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Namun yang membuat saya terkesan adalah ini. Saya sengaja tidak memberi tahu keluarga di rumah kalau saya sakit — toh juga hanya sakit seperti ini saja — hanya kakak yang tahu kalau saya sakit dan itu sudah saya wanti-wanti supaya jangan memberi tahu rumah. Saya tidak mau mereka khawatir dan mikir. Eeeh, usaha yang percuma ternyata. Malam harinya ibu saya telepon, menanyakan apakah saya baik-baik saja. Perasaan ibu sedang tidak enak, intuisi ibu sedang menjerit bahwa salah satu anaknya ada yang tidak beres. Yaa.. akhirnya saya cerita dengan suara yang hampir habis diserang virus batuk dan dialog berikutnya pun bisa ditebak,
“Istirahat itu penting….”
“iya.. iya…”
“Makanya kalau belajar itu yang tahu waktu, kapan buat istirahat….”
“inggih…. inggih…”
“Jangan melulu sama komputer…”
“hehehe.. hehehe”
Intuisi seorang ibu yah… wah.. luar biasa… ya.. masuk akal juga sih kalau melihat perjuangan ibu melahirkan anak segede ini pasti susahnya bukan main…
Aktifkan Account Flickr
Baru saja aku mengaktifkan account-ku di Filckr karena aku memerlukan sebuah galeri foto public yang dapat dilihat siapa saja. Di Fotografer.net, orang yang bukan member tidak bisa menikmati dan mengapresiasi foto-foto di situ. Sebenarnya aku ingin bisa juga mengintegrasikan RSS Feed di Flickr supaya bisa dilihat dari blog ini, sayang aku belum punya waktu melakukannya. Galeri itu ada di alamat ini, sedangkan RSS Feednya ada di sini.
Akhirnya Tergantikan Juga
Akhirnya, bergelas-gelas air es dingin tidak mampu menjaga mata tetap terbuka malam-malam terakhir ini. Bayangan deadline pengumpulan buku TA yang semakin dekat memaksaku untuk mengerahkan kemampuan terbaik yang kumiliki. Dan siapa yang bisa menggantikan? Hehe.. adalah secangkir kopi, minuman yang selalu berusaha aku jauhi sejak dahulu kala. Sudah tiga malam ini aku ditemani olehnya, dan efeknya memang manjur, buktinya sampai sekarang mataku masih terbuka lebar, meski udah mulai pedes. Apakah kebiasaan baru ini akan terus berlanjut? Kita lihat saja nanti
Respectfull Creator, Am I?
Baru saja ngikut tes DNA, semacam tes kepribadian gitu… Cukup representative juga kukira, hahahaha… Detailnya bisa dilihat di sini
Fenomena Blogging
Saya baru saja menambahkan dua link baru di blogroller blog dan daftar newsfeed pada agregator saya, yaitu Planet Terasi dan Merdeka.or.id. Dua link tersebut merupakan agregator blog online yang merangkum hasil tulisan banyak orang yang di-publish di blog mereka. Cukup bermanfaat untuk blog walking saat sarapan pagi-pagi saya kira, sarat akan informasi, hal-hal baru, hal-hal unik, ataupun guyonan khas blogger.
Menyaksikan fenomena blogging, sungguh merupakan hal yang sangat menarik untuk dicermati. Banyaknya situs yang menyediakan fasilitas blog dengan gratis dan mudah membuat rasanya semua orang yang akrab dengan internet memiliki blog. Apalagi ketika Friendster menambahkan fitur blogging pada layanannya, semua orang semakin semangat buat menulis blog, entah menulis puisi ataupun sarana curhat online. Saya sendiri agak tidak terlalu nyaman dengan Friendster, bagi saya, friendster merupakan sarana gratis buat bernarsis-narsis dan mejeng ria (hehe.. termasuk saya sendiri lho!). Oleh sebab itulah, saya telah memutuskan untuk menghentikan memposting entri yang memiliki kategori Melankolis pada blog ini dan memindahkannya ke friendster.
Saya sendiri tidak bisa lepas dari hiruk pikuk blogging ini, ketika saya memutuskan untuk mengubah Dear Diary pada homepage pribadi menjadi sesuatu yang mirip blog. Sebelum tahu blog itu apa, saya sudah menuliskan diary online, menceritakan kegiatan harian saya yang kebanyakan adalah patah hati karena seorang wanita yang amat dipuja. Orang mungkin akan mengira saya adalah orang yang sangat terbuka yang nyaris tidak memiliki rahasia. Hmm.. mungkin, tapi siapa yang menjamin bahwa saya menuliskan perasaan saya yang sebenarnya tanpa didramatisir?
Saya tidak mau jika saya disebut blogger. Tidak. Saya tidak tertarik untuk menjadi blogger. Saya hanya meneruskan kebiasaan saya menulis diary harian dengan gaya yang mirip blog. Karena itulah kenapa saya memilih membuat aplikasi blog sendiri yang berbasis Java daripada menggunakan WordPress dan semacamnya yang kaya fitur. Saya juga tidak berusaha blog ini terkenal, misalnya rajin berkomentar di blog-blog populer, atau memasukkan blog ini di database Technorati, atau membuat aplikasi yang mirip dengan WordPress sehingga menaikkan page rank. Saya hanya mencari kepuasan pribadi dengan menulis dan bermain-main dengan bahasa Java. Jika Anda menemukan halaman ini dan mendapat manfaat darinya, syukur Alhamdulillah. Tetapi jika Anda tidak suka, just go on and please don’t come back. Okay?
Boyongan Boyongaan…
Hari ini aku pindah kos. Dari Perumdos blok F/2 ke Perumdos T/89. Sebenernya males sekali harus pindah, selain keadaan kamarku yang sangat nyaman dan lega, paling-paling aku hidup di ITS tinggal beberapa bulan lagi — jika dan hanya jika skenario utama berjalan mulus: aku wisuda September. Tapi ya harus gimana lagi, aku harus pindah karena semua warga F2 termasuk buk kos harus segera hengkang dari situ.
Alhamdulillah, kos baru masih di Perumdos. cuma bergeser blok saja, jika dilihat dari F/2, blok T terlihat seperti rumpun hijau nan asri di sebelah timur, dengan dibatasi danau ITS yang baru saja dibuat untuk mencegah banjir. Well.. kelihatannya sejuk begitu. Dan benarlah, meskipun besarnya kamar kos tidak sebesar di kos lama, tapi rasanya adem dan sejuk. Yah, cocok lah buat aku yang sebenarnya kebutuhan kos hanyalah sebagai sugesti saja: biar aku tetap memiliki perasaan bahwa aku sedang pulang dari kantor, aku sedang pulang dari lab, dan aku memiliki tempat tinggal tempat aku beristirahat pun aku sebenarnya sekarang lebih banyak menghabiskan waktuku di kantor dan di lab.
Jadi jika aku pulang sebentar lagi, semoga aku tidak akan lupa untuk belok ke arah blok T, bukan ke arah blok F seperti biasanya, hehehehe…..
Comments