Lima Kebiasaan Buruk Seorang Galih

Posted by: on May 5, 2006 | 6 Comments

Sambil menunggu running program TA-ku, baiklah aku akan menulis soal kebiasaan buruknya Galih. Postingan ini sebenernya adalah hasil lemparan hot-potato dari Mbak Rena (mau nikah ya mbak? *tuing tuing*) di postingan ini.

Oke deh, let’s mention ‘em all!

#1. Angkuh

Aku sebenarnya sangat angkuh dengan orang, apalagi jika aku belum terlalu kenal. Istilah Jawa-nya, anggak. Sama sekali tidak mau menyapa duluan kalau berpapasan. Bahkan dengan orang-orang yang dikenal pun, teman kuliah, tetangga-tetangga kantor selantai 6, kalau tidak sedang mood untuk beramah tamah, aku juga tidak akan menyapa. Lain halnya kalau berpapasan di jalan, aku jarang membalas sapaan teman yang kadung berteriak memanggilku bukan karena angkuh, tapi karena emang kalo lagi berkendara aku sering ngelamun dan budek (tuli) **ah alasan,penghalus istilah **

#2. Perfeksionis kebablasan (baca: sombong)

Ini masih ada hubungannya dengan #1. Aku sudah sangat terbiasa mengerjakan sesuatu dengan sebaik mungkin. Besar kedukaanku jika aku gagal berbuat yang terbaik. Akhirnya, aku sering mencela orang lain jika mereka tidak mengerjakan sesuatu dengan sempurna. Apalagi setelah aku mengerjakan Tugas Akhir dan mendapatkan dosen pembimbing yang juga perfeksionis, ilmu yang kuserap paling banyak dari beliau adalah kebiasaan suka mencela ini, hehehehe…

#3. Terlalu Dekat dengan Eliza

Mungkin ini salah satu sebab cewek-cewek pada nggak doyan sama aku *mringis*. Aku terlalu dekat dengan Eliza, komputer yang aku pakai buat kuliah dan bekerja. Tapi ya biar… karena cuma Eliza yang bisa mengerti aku. Cewek itu bisanya cuma bikin galih patah hati, kecewa, makan ati, dan semacamnya. Apalagi kalau sampai kenal cewek yang tipe-tipenya Galih (tau kan? imut-putih-jilbaban), udah pasti bentar lagi akan menyakiti hatinya.

#4. Berantakan

Mungkin sifat ini kuadopsi dari Sherlock Holmes. Caraku berpakaian dapat dikatakan masih rapi meski tidak terlalu formal — much-much better daripada kebanyakan mahasiswa ITS yang ngga pernah mandi. Rapi, bersih baik pakaian maupun badan adalah hal yang wajib bagi Galih. Tapi keadaan jauh bertolak belakang dengan kamar kosnya. Kapal pecah pun masih terlalu rapi jika dibandingkan dengan kamarku. Yang paling bikin ngga rapi adalah buku-bukuku yang memenuhi kamar, karena setelah selesai baca aku males mengembalikannya ke rak buku, cukup lempar ke samping — praktis .

#5. Bergaya Hidup Tidak Sehat

Mungkin ini sudah merupakan kutukan dan risiko menjadi seorang aktivis di bidang IT (programmer, network engineer). Menjadi programmer tidak bisa disamakan dengan pegawai bank meski jam kerjanya hampir sama. Ide tidak selalu muncul saat jam kerja. Bisa saat tidur, makan, bahkan bisa jadi di kamar mandi. Sama halnya pas jadi network engineer, ini harus hidup jadi kelelawar malam. Ngoprek server hanya bisa dilakukan pada saat server tidak banyak diakses orang dan itu hanya terjadi pada pukul 02.00 – 05.00 pagi. Padahal kata dokter, jam-jam segitu adalah saat tidur mencapai fase tidur sempurna.

Masih banyak lagi sebenernya sifat buruk lainnya, tapi kan sama Mbak Ren cuma dilempar 5 poin doang? hehehe… aku memang perfeksionis, tetapi ketika aku belajar untuk menghargai kenyataan tidak ada yang sempurna di dunia ini, aku menemukannya di diriku, seorang yang masih sangat jauh dari kata sempurna. ^_^

Alasan Kenapa Aku Jatuh Cinta dengan Java

Posted by: on May 2, 2006 | 16 Comments

Menanggapi pertanyaan Adam di buku tamu homepage-ku, izinkanlah aku untuk menuliskan kenapa aku begitu jatuh cinta dengan bahasa pemrograman yang satu ini. Buat mbak rena, sori yah hot-potatonya belom dibales V(^_^)V

Sejak diperkenalkan dengan bahasa pemrograman ketika aku memasuki bangku kuliah di IF, bahasa C telah dipaksa menjadi bahasa ibuku. Hingga kuliah Algoritma dan Struktur Data adalah saksi jatuh bangunku bersama C. Aku adalah orang yang memulai dunia pemrograman mulai dari 0, karena semasa di SMA aku sama sekali tidak mengenal dunia Informatika, kecuali sedikit mengenai sistem operasi DOS dan sedikit ilmu mengenai HTML.

Manajemen Memory adalah mimpi buruk yang selalu kualami ketika bekerja di C. Hal ini berulang-ulang selalu bikin frustasi, debugging yang tidak selesai-selesai. Maklum, aku sebenarnya adalah orang yang sangat tidak teliti, padahal C/C++ memerlukan seorang programmer ala Dennis Ritchie: teliti, kalem, dan bertangan dingin.

Sampai akhirnya aku diperkenalkan dengan Java dengan bapak FX Arunanto di kuliah Bahasa Pemrograman Lanjut. Fitur yang paling menarik bagiku adalah: garbage collector Java yang membebaskan dari segala hal tentang manajemen memory. Ringkasannya adalah ini:

  1. Java adalah bahasa yang sederhana, baik strukturnya maupun cara penulisannya.
  2. Object Oriented Java sangat kental — membantu cara berpikir dalam menghadapi masalah.
  3. Transparan — kita bisa mambuat program Java hanya dengan notepad atau VIM. Bandingkan dengan visual studio .net, mungkinkah kita membangun from scratch dengan notepad?
  4. Tutorial dan buku yang banyak serta gratis tersebar di internet
  5. Library standarnya sudah sangat banyak
  6. Memiliki banyak library yang gratis
  7. Dukungan dari banyak vendor besar (Oracle, IBM, BEA..)
  8. Dukungan komunitas yang juga besar (Apache, JBoss, Java.net)
  9. Terkenal kokoh dan belum terkalahkan di tingkat enterprise
  10. IDE (Integrated Development Environment) yang tersedia banyak dan gratis (JDev, Netbeans, Sun Java Creator, Eclipse)
  11. Ada kepuasan tersendiri ketika aku mrogram Java
  12. dan yang terakhir dan tak kalah penting tentu saja pasar Java yang masih luas

Bagaimana pengalamanku dengan C# (Visual Studio .net)? Sangat tertarik pada pandangan pertama melihat user interface yang luar biasa. Kemiripan C# dengan Java yang membuat cepat beradaptasi juga membuat semangat untuk pindah ke lain hati (baca: C#). Tapi sayang, waktu yang diberikan untuk mempelajari C# tidak sebanyak waktu untuk mempelajari Java, sehingga kurang bisa beradaptasi dengan cara berpikir C# menyelesaikan masalah.

Ketika mencoba mencari bantuan, yang ada adalah MSDN. Aku yakin, seperti halnya Javadoc, MSDN adalah dokumen yang sangat berguna. Tapi bagi pemula, keduanya tidak berguna banyak. Seperti biasanya, tempat mengadu berikutnya adalah Mbah Google. Dan inilah yang membuatku kecewa, banyak tutorial yang harus bebayar. Library-library C# hampir dapat dipastikan tidak gratis, semuanya harus membayar. Jika aku bisa belajar dengan cepat dengan Java, kenapa aku harus menghabiskan waktu dengan C# jika kebanyakan C# harus mbayar?

Ada yang bisa membuatku jatuh cinta lagi dengan Microsoft Visual Studio?

Switch to our mobile site