Entries from April 2006
April 26, 2006
Anda pengguna Linux atau keluarga Unix tapi sekaligus pengguna Windows? Jika ya, Anda pasti tahu atau paling tidak pernah mendengar tentang file /etc/hosts. File ini berisi daftar nama-nama DNS dan mapping ke IP Address yang berhubungan dengannya. File ini akan dihubungi sistem operasi terlebih dahulu sebelum sistem menghubungi DNS Server (tergantung setting). Jika daftar nama yang dicari tidak ada di file ini, maka sistem akan segera menghubungi DNS Server untuk menanyakan IP Address dari nama yang sedang dicarinya.
Untuk mengaktifkan model ini, buka file /etc/host.conf dan pastikan parameter order adalah hosts, bind. Sementara format dari file /etc/hosts adalah [IP ADDRESS] =TAB= [NAMA DNS LENGKAP] =TAB= [NAMA DNS PENDEK].
Tapi tahukah Anda, bahwa Windows juga memiliki file ini? Haha.. Anda kaget yah? Ternyata Windows juga memiliki mekanisme yang sama persis dengan yang dipunyai Unix/Linux, yaitu menyimpan local DNS berada dalam file yang ternyata namanya juga sama: hosts. Letaknya? Jauh dikubur dalam-dalam oleh si Windows: yaitu di %SYSTEMROOT%\system32\drivers\etc\hosts. Nama yang mirip bukan? Formatnya sedikit berbeda, yaitu [IP ADDRESS] =TAB= [NAMA DNS PENDEK] =TAB= [NAMA DNS LENGKAP].
Pertanyaannya? Kenapa letaknya jauh di dalam folder system32 yang hukumnya makruh untuk dilihat? Mungkin windows malu kali yah? ^__^
Posted in Developer
1 Comment »
April 24, 2006
Inilah salah satu bangunan yang paling bersejarah di kota Surabaya. Bisa menebaknya? Yap! Dari tiang benderanya, sudah ketahuan bahwa inilah Hotel Oranye, atau Hotel Yamato, atau sekarang menjadi Hotel Majapahit. Hotel inilah saksi bisu perjuangan arek-arek Suroboyo dalam merebut kemerdekaan dari tangan Belanda, pada pertempuran heroik 10 November 1945, tepatnya tanggal 19 September 1945, ketika arek-arek Suroboyo merobek bendera Belanda yang terpancang di tiang itu, merobek warna birunya sehingga tinggal warna merah putih bendera kita, sebagai tanda perlawanan kepada Belanda.
Bangunan bersejarah ini aku kunjungi tadi malam, kelayapan di jalanan Surabaya untuk mengambil foto bertema city light. Dari seberang jalan, aku memasang tripod dan mengarahkan lensa ke Hotel ini. Arsitekturnya masih terawat dengan sangat baik, meskipun auranya agak aneh kukira. Pasti di dalamnya banyak hantunya, pikirku jahil. Bangunan tua, bersejarah lagi, apalagi kalau tidak menjadi sarang hantu, hehehe…
Aku menghabiskan sekitar dua jam di depan hotel ini dengan tingkah polah yang bikin satpam di seberang sana curiga. Jongkok, nungging, memicingkan mata, semuanya kulakukan demi mendapatkan view yang bagus. Maklumlah, kameraku berkemampuan terbatas, tidak bisa seenaknya saja seperti kalau pegang DSLR (kapan yah bisa punya kamera DSLR *dreaming…*).
Overall, aku puas sekali bisa mendapatkan foto hotel Yamato ini. Masih banyak bangunan-bangunan bersejarah di Surabaya yang menungguku. Acara penutup dari syukuran karena program TA-ku jalan selesailah sudah. Masih banyak pekerjaan yang menunggu. Cheers!
Posted in Catatan Harian
5 Comments »
April 22, 2006
Minggu ini, tepatnya Jumat pagi kemarin, mission impossible-ku perlahan-lahan mulai terlihat ujungnya dengan berjalannya program fractal encoder-decoder-ku (akhirnya *whuzzz*). Dengan berbekal hanya referensi program C buatan Yuval Fisher tahun 1992, aku mencoba membangunnya di Java. Satu-satunya yang kujiplak dari Yuval adalah cara berpikir algoritmanya. Struktur data-nya harus aku bangun sendiri.
Sedihnya, program Yuval tidak 100% berjalan sehingga aku cukup berdebar-debar menulis kode-ku. Setiap prosedur dan fungsi aku tulis perlahan-lahan dan kuperiksa berkali-kali. Setiap kali melenceng dari punya Yuval, aku trace kembali dari awal, kutemukan kesalahanku, dan aku harus mengulanginya lagi. Dengan cara begini aku meminimalisir risiko kode-ku tidak berjalan ketika semua kode telah kutulis.
Sungguh, meskipun pak RL (dosen pembimbingku) menjuluki aku sebagai jagoan DAA (Desain dan Analisis Algoritma), bagian yang paling sulit dari kode ini adalah membangun struktur data yang benar dan sesuai dengan logika program yang tertulis dalam rumus Matematika. Betapa tidak, struktur data di bahasa C membuat sebuah array berukuran tiga dimensi dimana elemen-elemennya adalah Linked List! Empat pointer bintang-bintang tertulis di situ. Bahkan praktikum Struktur Data yang asistennya paling kejam (baca:aku :D) pun tidak sesulit ini.
Untunglah, Java memiliki arsitektur data yang baik sehingga kode-ku di Java tidak kacau karena manajemen memory yang pasti amburadul jika aku mengerjakannya di C. Untung juga, Java memiliki objek stream file yang sangat baik sehingga aku tidak kebingungan menuliskan byte per byte hasil encode ke dalam file. Untung juga, ada JDeveloper dengan fitur history-nya yang hebat sehingga aku tidak sampai kehilangan track-track pikiranku dalam mendesain struktur datanya. Untung juga ada pak RL yang selalu memotivasi ketika jatuh bangun mengerjakan kode ini.
Kamis malam, aku sengaja tidak tidur dan bertekad menyelesaikannya. Jam 11 malem aku mendapat masalah dan hampir putus asa. Jam 2 pagi mulai menulis program decoder yang untungnya jauh lebih sederhana. Jam 05:30 pagi… saatnya aku menekan tombol [RUN] dan Bismillahirrahmanirrahiim… dengan berdebar-debar aku menunggu hasilnya muncul di layar. Aku sangat pesimis hasilnya akan benar. Aku tidak pernah bisa membuat program pada saat running pertama kali langsung berhasil dengan baik.
Dan terima kasih Tuhan. Gambar Lenna yang menjadi objek observasi muncul kembali yang artinya programku sudah jalan!!! Ingin sekali aku berteriak kegirangan, tapi yang muncul hanyalah senyum bahagia sambil setengah lemas. Aku selalu menyukai saat-saat seperti itu. Bisa menaklukkan objek keilmuan adalah salah satu hal yang selalu kutunggu-tunggu. Rasa kantukku hilang seketika.
Karena aku sudah tidak ngantuk lagi, aku pulang bentar ke kos buat mandi dan langsung menemui pak RL. Senengnya ketika mendapat ucapan selamat dari pak RL (Beliau adalah dosen pembimbing yang paling perhatian yang pernah kukenal). Paruh pertama TA-ku selesai dan aku disuruh menulis buku dulu sebelum semuanya hilang dari kepalaku. Sepulang dari kampus, aku baru ingat kalau aku belum tidur, sehingga sepulang dari shalat Jum’at aku tewas sampai sore. Bangun-bangun, seperti yang udah aku nadzarkan, aku mengajak keluarga ITSnet untuk makan sate bareng di bilangan Klampis. Satenya enak! Thanks God! Terima kasih Tuhan…
Posted in TA/Kuliah
3 Comments »
April 20, 2006
Saya tertarik menulis ini setelah melihat beberapa kawan yang sedikit agak latah menerapkan webservice tanpa melihat kebutuhan yang ada. Banyak yang mengira bahwa webservice haruslah XML (lebih spesifik lagi: SOAP). Teknologi webservice proxy dengan standar SOAP dan WSDL memang sedang booming akhir-akhir ini dengan jargon-nya: Service Oriented Application (SOA).
Arti sebenarnya dari webservice sangatlah sederhana, yaitu menyediakan data dalam format yang terstandarisasi dan dimengerti oleh aplikasi lain untuk diolah kembali oleh aplikasi lain dimana antar aplikasi memiliki platform yang berbeda. Aplikasi-aplikasi tersebut tidak mungkin diintegrasikan menjadi satu aplikasi terdistribusi. Atau jika masih mungkin, cost-nya jauh lebih tinggi.
Sebenarnya, SOA dengan XML hanyalah salah satu jenis model webservice. Kenapa memakai XML? Karena XML merupakan standar representasi data yang digunakan secara luas di dunia. Dengan XML, kita tidak perlu repot-repot membuat aplikasi pembaca (parser) XML karena pustakanya telah tersedia sangat banyak di dunia ini. Konsorsium yang menangani masalah webservice (Microsoft, IBM, dan beberapa raksasa lainnya — aku lupa) telah merilis standar webservice ini dengan XML dan protokol SOAP (Service Oeriented Application Protokol).
Tapi ingat, bekerja dengan XML tidak semudah merebut permen dari anak kecil. Anda harus membuat struktur XML yang baik, lengkap dengan Doctype dan DTD-nya dan umpankan ke parser Anda. Jika tidak ingin mengalami mimpi buruk, gunakan arsitektur Object Oriented untuk menangani XML entah parser Anda bertipe SAX ataupun DOM. Pengalaman pribadi saya bekerja dengan XML dengan PHP 4 cukup membuat saya menangis darah *berlebihaan*.
Bolehkah kita membuat standar webservice sendiri? Kenapa tidak?!? Jika tanpa XML masalah akan teratasi kenapa tidak? Contoh sederhana: Misalnya kita memiliki sebuah database user tersentralisasi yang hanya bisa diakses user tertentu dan sangat terbatas. User (say A) yang tidak memiliki akses ke database tersebut dapat meminta apa yang dibutuhkannya kepada user yang memiliki akses ke database tersebut (say B). Misalnya, A mengirim user dan password kepada B. B mengolah data tersebut dengan mencari di database. Kemudian hasilnya disediakan kepada A melalui satu file teks berisi true (jika ok) atau false (jika gagal). A Akan membacanya dan mengolahnya kembali. Selesai! Webservice telah berjalan.
Kebutuhan versus Teknologi
Namun demikian, kita harus selalu melihat kebutuhan kita. Webservice digunakan jika dan hanya jika antar aplikasi tidak mungkin melakukan komunikasi secara langsung. Ambil kasus di atas. Jika A bisa mengakses database, tentunya kita tidak usah memerlukan sebuah webservice di situ. A dapat melakukan query SQL langsung ke database. Kasus di atas terjadi jika misalnya peraturan non-teknis membuat A tidak dapat mengakses database. Ada overhead yang signifikan di saat proses pertukaran informasi antar aplikasi, yaitu: menyediakan data untuk diolah di sisi aplikasi server dan mengolah data tersebut di sisi aplikasi client. Sayangnya, saat ini banyak yang latah dengan mengedepankan teknologi tanpa melihat kebutuhan yang sering menyebabkan sebuah teknologi terlalu tinggi untuk diterapkan di suatu kasus. Kenapa demikian? Jawabannya sederhana: gengsi!
Posted in Design Pattern
6 Comments »
April 18, 2006
Wups… judulnya? Jogja? dia lagee? tidaak… basi…
Nggak.. tenang-tenang, ini bukan cerita melankolis lagi kok, i’ve just tried to forget her at all right now. Ada perbedaan besar yang kurasakan kenapa aku harus melupakannya. Rasanya tidak sedekat dan seakrab dulu lagi, tidak selepas dulu lagi, tidak se-nyambung dulu lagi. Sepertinya ada jarak di antara aku dan dia. Entah siapa yang bikin jarak itu, aku tak tahu dan tak mau tahu.
Llah.. lhakok jadi cerita tentang dia?!? Ups.. sori-sori kebablasan *mringis*. Hari Minggu kemaren emang aku ke Jogja, menghadiri acara pernikahannya sodara misan, anaknya bude, di Jogjakarta. Acara makan-makan resepsi pernikahannya di gedung Tri Murti dengan latar belakang Candi Prambanan. Wuih..
Sebelah kiri adalah pemandangan saat berangkat mengambil rute Tulungagung-Jogja lewat Ponorogo – Wonogiri. Sebelah kanan saat makan pagi di gunung Wonogiri. Asyik sekali pemandangannya.
*Kiri: Mempelai berdua setelah dirias
*Kanan: Diantar masuk ke mobil yang akan jadi cinucuk ing lampah *jogja banget bahasanya :p*
*Kiri: prosesi ngunduh kemanten dimulai
*Kanan: rombongan dari Tulungagung. Paling kiri adalah Mbah Yasrikah, bude tatik, ibunda tercinta, aku, pakde, dan mbah tarom. Sementara ayahanda yang motret
*Kiri: standing party dimulai. Dari salaman dulu, berakhir dengan makaan… *slrup*
*Kanan: mm… kind of my type :p
*Kiri: View candi prambanan, ngga pake ngatur komposisi, pokok jepreet!
*Kanan: Sebelum kembali ke Tulungagung, foto bareng dulu
Beda dengan saat berangkat, pulangnya lewat Solo – Madiun – Ponorogo – Tulungagung. Sialnya, baru aja keluar gedung udah dicegat pak Polantas yang baek, aku kira salah ambil jalur, ternyata ibu yang duduk di depan lupa pake sabuk pengaman. Jika pas berangkat aku berlagak ala pembalap F1, plintar-plintir di pegunungan, pas pulang aku berlagak ala pembalap Nascar, tekan pedal gas sedalam-dalamnya… :)
Posted in Catatan Harian
4 Comments »