Capek….

Posted by: on Dec 7, 2005 | No Comments

Capek sekali aku hari ini… hari ini akhirnya aku berhasil menaklukkan SOAP dan WebService-nya Google untuk kutanamkan di search engine-nya www.its.ac.id. yang bikin seneng adalah bahwa aku berhasil mengimplementasikannya dengan PHP, bukan Java atau .Net yang memang langsung didukung oleh platform GoogleAPI. Meskipun tentu saja tidak semewah fasilitas kalau pakai Java, PHP sudah sangat mencukupi.

Mungkin yang bikin capek hari ini adalah bahwa aku untuk pertama kalinya memasuki hutan belantara Labprog-nya Information System untuk membantu Mas Sokam ngajari subnetting ke anak-anak SI. Well… lab yang benar-benar terisolir baik secara fisik maupun logik. secara fisik, letaknya mojok di belakang, dan ruangan yang tak seberapa lebar itulah yang digunakan SI untuk melakukan segalanya. Secara logik, lab ini dibentengi firewall yang benar-benar “kejam”. Tak ada akses sedikitpun ke DMZ ITS. Masuk DMZ buntu, mau nerima dari DMZ juga buntu. Waaah….

Asik juga bisa ketemu anak-anak SI, kesanku sih: ramah-ramah. Meski bikin capek, aku seneng bisa membagi ilmu yang sangat sedikit ini dengan mereka. Soale digarap yak… semoga berhasil! ^_______^

The Da Vinci Code, Dan Brown

Posted by: on Dec 3, 2005 | No Comments

Hmmm… aku baca novel setebal 500an halaman ini gara-gara mas uqi yang promosinya bombastis banget. iya sih, liat judulnya aja juga bombastis banget, ceritanya soal misteri di balik karya-karya Leonardo da Vinci yang disinyalir menyimpan rahasia kebohongan Gereja Vatikan yang disimpan rapi turun temurun oleh Biarawan Sion yang salah satu anggotanya adalah Sir Issac Newton, dan Leonardo da Vinci.Lepas dari sisi-sisi agamis dan konspiratifnya, novel ini enak sekali buat dibaca. Kita akan lupa kalau kita lagi baca novel tebaal, soalnya alurnya mengalir dengan asik. Kita juga disuguhi berbagai pengetahuan soal sejarah seni, seperti pentagram, The Vitruvian Man, anagram kriptografi lukisan Mona Lisa, dan arti seni dari lukisan Madonna of the Rocks karya Leonardo da Vinci. Soal ketegangannya kalo boleh aku menilai masih kalah dengan novel-novel Sydney Sheldon, meskipun penggambaran suasana setting tempat novel ini unggul. Ketika baca ini, aku merasa suasana atmosfer tempat aku membaca tidak terlalu semencekam kalau aku baca novelnya Sydney, tapi betapa mengejutkannya ketika imajinasiku tentang Museum Louvre dan Piramida Terbaliknya begitu dekat dengan kenyataan saat aku melihanya di internet.Sampai sekarang, aku masih baca separuhnya. Sampai Robert Langdon dan Sophie Neveu membawa cryptex dan melarikan diri dari Bezu Fache, kapten polisi rahasia Perancis dan Interpol! Nggak rugi deh beli novel ini meski harganya nyaris meludeskan selembar uang plastik. Sensasi yang dibawanya benar-benar menghibur — sekali lagi lepas dari faktor agamis yang Katolik banget.

Switch to our mobile site