Review Novel: Codex dan Novus Ordo Seclorum

Posted by: on Apr 21, 2014 | 5 Comments

Liburan di Bandung, saya sempat membaca novel punya adik ipar saya, Iqbal, yaitu Codex: Konspirasi Jahat di Atas Meja Makan Kita (Penulis:  Rizki Ridyasmara) dan Novus Ordo Seclorum (Penulis: Zaynur Ridwan). Dua novel ini mirip temanya, yaitu tentang konspirasi jahat Yahudi/Zionis untuk menciptakan tata dunia baru. Adik saya ini, seorang aktivis keagamaan di kampusnya memang menggandrungi hal-hal yang berbau konspirasi wahyudi dan remason begini, hehehe.

Secara alur cerita, saya anggap Codex lebih berhasil menyajikan cerita yang enak dibaca daripada Novus Ordo Seclorum. Meskipun terasa mencontek novel-novel Dan Brown, ceritanya menarik. Codex bisa menghidupkan karakter tokoh protagonis yang ala-ala Rambo dan kejar-kejaran dengan CIA yang cukup seru. Sedangkan Novus Ordo Seclorum seperti baca makalah ilmiah saja. Penulis belum berhasil menghidupkan tokoh dan menciptakan karakter. Tokoh profesor yang diciptakan menjadi penyambung lidah penulis yang ingin menyampaikan pesan. Ego penulisnya sangat terasa sehingga “legitimasi akademis” si tokoh profesor menjadi kabur.

Dua-duanya punya kelemahan yang juga terasa mencolok. Tokoh-tokoh bule bersetting lokasi di luar negeri itu harus menjelaskan istilah-istilah prokem/gaul. Misalnya SOB, singkatan dari son of bitch. Tokoh-tokoh itu harus menjelaskan dengan bahasa halus apa itu SOB, seperti ingin menjelaskan kepada pembacanya di Indonesia. Jadinya si tokoh lagi-lagi dijajah penulis untuk menyampaikan pesannya ke pembaca.

Saya jadi ingat novel Memoars of a Geisha, penulis Arthur Golden harus repot-repot membuat cerita tambahan seolah-olah bahwa novel itu adalah novel terjemahan, dengan alasan si tokoh utama tidak perlu menjelaskan apa arti istilah-istilah khusus. Tapi di tulisan terjemahan, si penulis bisa keluar sebentar dari tokoh untuk menjelaskan apa maksud dari si tokoh. Itu yang tidak terjadi di novel Codex dan Novus Ordo Seclorum.

Doktrinasi tentang konspirasi Yahudi-Zionis-Freemason akan selalu punya penggemar khusus-nya. Tapi untuk menyebarkan pesan ke kalangan yang lebih luas, penulis harus lebih halus lagi menyampaikan pesannya. Tanpa tendensi dan subjektivitas. Seperti novel The Da Vinci Code, saya akan selalu menganggap bahwa Sir Leigh Teabing lah yang punya pesan Holy Grail, bukan Robert Langdon, apalagi Dan Brown.

Tentang Calon Presiden Kita

Posted by: on Apr 14, 2014 | 5 Comments

Pemilu legislatif sudah lewat dan hasilnya membuat para politisi berdagang sapi. Kita tahu bahwa tidak ada yang menang tebal (istilah Jokowi) di Pileg ini dan tidak ada yang bisa membawa jagoannya menjadi calon presiden sendirian. Saya pikir PDIP akan menang mudah karena faktor Jokowi, ternyata tidak. Saya sendiri meskipun suka Jokowi, tapi tidak memilih PDIP karena kualitas caleg-nya tidak masuk kriteria saya. Toh sudah banyak yang memilih PDIP, pikir saya. Siapa kira kalau yang berpikir seperti saya jumlahnya jutaan?

Dengan kondisi seperti sekarang, saya pesimistis Indonesia akan lebih baik. Indonesia hanya akan menjadi kue besar yang siap dibagi-bagi untuk para politisi dan kepentingan partai. Lihat tingkah PDIP yang keliling sana sini. Atau PKB yang bangga dengan hasil Pileg dan siap jual mahal. Atau lihat PKS yang meskipun perolehan suaranya sedikit, tapi mensyaratkan koalisi.

Jokowi, yang popularitasnya naik mengingatkan saya pada naiknya popularitas SBY. Dan kita sudah tahu hasilnya jika sang presiden hanya bermodal pencitraan. Visi Jokowi sampai sejauh ini tidak terlihat mau apa dia ketika jadi presiden. Mau blusukan? Indonesia itu sangat luas pak. Bapak dan Ibu di rumah ternyata juga berpendapat kalau dia presiden, dia akan lebih jadi presiden boneka.

Prabowo. Ketika saya semakin ragu-ragu dengan Jokowi, saya kok mulai berpikir Prabowo ya. Dia sepertinya akan lebih tegas daripada SBY karena dia adalah mantan Jenderal lapangan, bukan Jenderal karier. Cuma catatan negatif-nya banyak, seperti kasus penculikan itu. Anehnya, mengapa sekarang banyak aktivis yang diculik itu menjadi caleg Gerindra? Paling tidak ia punya visi yang lebih jelas daripada Jokowi.

Calon-calon presiden konvensi Partai Demokrat. Dengan perolehan Partai Demokrat, konvensi jelas menjadi guyonan yang tidak lucu. Bagaimana nasib Gita Wirjawan, Dahlan Iskan, dan Anies Baswedan? Saya kehilangan respek ke Dahlan Iskan karena pencitraannya juga mulai berlebihan seperti Jokowi. Anies Baswedan yang mungkin hanya dikenal di Twitter, apakah dia seorang yang benar-benar bisa atau hanya orang yang pintar bicara dan menyusun visi tanpa eksekusi? Gita Wirjawan, antiklimaks ya, setelah iklannya dimana-mana sampai di kursi kereta api, tapi hasilnya nol besar.

Masih ada waktu beberapa bulan lagi. Meskipun harapan itu tipis, tapi saya masih berpikir mendingan memilih daripada golput. Setidaknya saya ikut menentukan pilihan ke orang yang saya anggap paling baik. Karena golput buat saya adalah acuh tak acuh. Mau bener ya biarin, mau salah ya biarin. Emang gue pikirin…

Kriteria Memilih Caleg

Posted by: on Apr 8, 2014 | 4 Comments

Sehari lagi, kita akan memilih wakil-wakil kita di DPR. Saya tahu, banyak yang skeptis dengan Pemilu, utamanya para middle class. Tetapi dalam hal ini, saya ingin menggunakan hak pilih meskipun saya tidak masuk daftar DPT. Saya ingin memilih dengan benar, dan mengetahui siapa caleg yang saya pilih yang kelihatan paling mendekati dengan saya (namanya juga wakil rakyat, ya kan?).

Memang apalah arti satu suara saya dibandingkan dengan jutaan pemilih. Saya pikir Pemilu tahun ini akan sama dengan yang lalu-lalu. Mayoritas tidak tahu siapa yang dipilihnya. Ujungnya, ya figur yang kelihatannya dikenalnya. Bisa jadi artis, atau mungkin nyoblos PDIP karena faktor Jokowi. Memang saya suka Jokowi jadi gubernur DKI dan beberapa perubahan yang sudah dilakukannya. Tapi lama-lama kok ada sesuatu yang nggak benar. Pencitraannya terlalu artifisial. Sama seperti waktu Pak SBY dulu naik jadi presiden.

Anyway, kesampingkan dulu faktor pencapresan. Di sini saya sama sekali tidak akan melihat partai, saya melihat ke individu caleg-nya. Berikut adalah kriteria saya:

  • Muslim. SARA? Nggak kok. Wajar kalau saya mengharapkan wakil saya seiman dengan saya.
  • Googleable, alias bisa dicari di internet. Saya orang IT. Zaman sekarang sangat mudah publikasi konten di internet. Kalau tidak terlihat di Google, melalui media apa si caleg mempromosikan visi misinya? Spanduk dan baliho? Itu akan menjadi caleg yang saya coret dari daftar saya.
  • Pendidikan baik. S1 atau S2 dari sekolah yang baik pula, jadi bukan karena beli ijazah.
  • Bukan kakek-kakek atau nenek-nenek. Mereka yang nyaleg ini kena post power syndrome ga mau turun dari kekuasaan atau gimana ya?
  • Track record yang baik. Sekali kena sebut di berita atas kasus korupsi atau pidana, coret.
  • Visi dan misi yang konkret, tidak normatif seperti penataran P4.
  • Bukan pengusaha. Ini opsional, takutnya dia akan kena konflik kepentingan atau malah cari proyek untuk membesarkan perusahaannya.
  • Bukan artis. Opsional juga. Mungkin ini generalisasi, tapi buat saya artis tidak seharusnya jadi pilihan saya. Tidak kompeten dan hanya mengandalkan popularitasnya.

Banyak sekali kriterianya, untunglah banyak caleg yang tersaring oleh kriteria tidak Googleable. Ada beberapa yang kelihatannya bagus, mungkin saya akan memilih yang akan fokus di bidang pendidikan. Satu nilai dasar yang saya anggap sangat penting. Kelihatan bagus, cuma sampai sebatas itu. Apakah dia nanti ingkar janji atau korupsi dsb, bukan tanggung jawab saya. Tugas saya sampai pada berusaha bahwa saya cukup tahu siapa yang saya pilih nanti.

Happy Voting!

Tentang Layanan BigTV yang Buruk

Posted by: on Apr 7, 2014 | 6 Comments

Ini tentang lanjutan postingan Mencari TV Langganan. Akhirnya kan saya milih berlangganan BigTV karena channel HD-nya terbanyak. Saya rupanya termasuk pelanggan pertama karena nomor ID saya 243. Semua berjalan sangat baik sampai akhirnya tiba-tiba hampir semua channel TV muncul pesan “Akses Ditolak”.

Saya yakin iklan Indovision itu telah melalui riset kompetitor yang mendalam. Saya komplain sekali dua kali, belum berhasil. Minggu depannya saya komplain lagi, tetap begitu saja. Minggu depannya saya komplain lagi, dijanjikan ada teknisi yang datang, tidak ada yang datang. Pas saya komplain lagi, kata si teknisi di log sistem mereka, saya tidak bisa dihubungi. Lha terus? Kalau ga bisa dihubungi langsung tiket-nya ditutup begitu???

Akhirnya saya malas komplain. Bukan apa-apa, jalur customer care mereka menggunakan nomor ber-prefix 0804, yang artinya pulsa premium. Artinya kita di-charge biaya untuk menggunakan jasa komplain. Saya hitung saya habis 80 ribu sendiri untuk komplain bolak balik itu. Percuma komplain karena kita akan dilayani oleh customer care yang nada suaranya mirip robot tanpa ekspresi (kenapa ga mesin penjawab aja sekalian?), dan masalah tidak teratasi. Teknisi pun kayaknya malas datang ke rumah (lha wong teknisi yang melakukan instalasi aja bajunya AstroTV, hehehe).

Sekarang saya biarkan saja itu Big TV. Paling tidak TV lokal-nya masih menyala dan anehnya Bein Sport 1 dan 2-nya tidak ditolak (paket tambahan, paket utamanya malah ditolak). Saya sedang berencana berhenti berlangganan. Cuma mau ganti ke mana masih bingung karena saya butuh channel TV yang HD. Indovision mahal.

Murah, njaluk slamet?

*) Murah, minta selamat? Ungkapan khas sopir bemo atau tukang becak di Surabaya hehehe

Kartu Kredit Citibank

Posted by: on Apr 3, 2014 | One Comment

Pagi ini saya mendapatkan telepon yang cukup lucu dari Citibank. Mereka menawarkan kartu Ready Credit. Sejak punya masalah di kartu kredit, Citibank memang melipir dan mengeluarkan kartu Ready Credit ini. Waktu kartu ini awal-awal muncul, kantor saya heboh karena bunga khususnya yang rendah. Banyak rekan-rekan yang melakukan refinancing dengan menutup hutang dari koperasi dan menggantinya dengan Ready Credit untuk mendapatkan bunga yang lebih rendah.

Waktu itu saya sebenarnya belum perlu pinjaman. Lha wong masih single. Tapi karena euforia rekan-rekan dan rayuan maut si sales, saya akhirnya berpikiran untuk memperbesar modal saya di pasar saham. Waktu itu kondisi pasar sedang bullish dan saya cukup menikmati kenaikannya. Jadilah akhirnya saya ikut-ikutan apply. Dua kali dan semua rejected alhamdulillah, he he he… Pertama direject karena copy SPT pajak saya terpotong tanda tangan atasan (meskipun secara angka lengkap). Waktu diminta untuk minta cetak lagi SPT ke kantor, saya malas. Yang kedua, rejected karena tidak ada referensi yang bisa dihubungi. Lho ya saya sudah kasih nomor telepon orang HR, katanya muter-muter diping-pong.

Tadi pagi si sales Citibank nelpon lagi. Katanya masalah akses ke orang HR sudah gampang dan pastinya akan diloloskan aplikasinya. Huh, batin saya. Apalagi kartu kredit saya yang Citibank juga sudah saya tutup karena ga ingin kena iuran tahunan. Bukannya sekarang ga butuh seperti dulu, tapi karena porsi hutang saya sudah over limit ini menurut aturan financial planning. Ada cicilan rumah, ini, itu, dan lain sebagainya, hueahuaehaue… Nggak lah kalau Citibank.

Bandung di Kala Akhir Pekan

Posted by: on Apr 2, 2014 | 2 Comments

Akhir pekan, bagi warga Jakarta, adalah saatnya melarikan diri dari rutinitas. Itu berarti juga melarikan diri dari ibukota. Maka jadilah kota-kota sekitar Jakarta menjadi tumpah ruah luapan warga Jakarta yang memang amat sangat padat penuh sesak sekali pake buanget. Termasuk Bandung.

Bandung buat saya sekarang bukan hanya sekadar kota cantik yang berhawa sejuk, tetapi juga kota tempat kembali setelah Tulungagung. Sekalian liburan, sekalian pulang.

Bagaimana kondisi Bandung di liburan panjang? Luar biasa. Sepanjang tol Purbaleunyi/Cipularang padat merayap. Saya kembali dari Bandung hari Senin sore, puncak arus balik, dan makan waktu lima jam yang biasanya hanya dua atau tiga jam saja. Rest area penuh, mau masuk situ aja antri panjang, saya jadi malas dan harus tahan pipis (hehehe). Mungkin sudah saatnya PT. KAI berpikir untuk menghidupkan lagi kereta Argo Gede yang kalah saingan sama tol Cipularang ini.

Hari Minggu, praktis kami tidak bisa kemana-mana cuma muter-muter sana sini. Niatnya sih mau ke FO (ep-oo), factory outlet. Tapi lihat jalan Riau, penuh mobil sampai lampu merahnya kacau macam di perempatan Mampang kalau jam lima sore. Akhirnya kami belok kanan dan mencoba ke pusat FO yang di jalan Dago. Sama! Dago penuh sesak mobil (ga cuma plat B yang mendominasi sekarang, plat D juga buanyak). FO-FO ini karena awalnya adalah rumah biasa, jadi tidak didesain bisa menampung banyak kendaraan parkir. Halaman aja sempit boro-boro punya basement. Jadi acara ke FO gagal, malah jadinya ke Pasar Baru bikin celana jeans.

Untungnya, hari Sabtu sudah jalan-jalan dulu ke Floating Market, tempat rekreasi keluarga di Lembang. Bagus sih tempatnya, cuma agak kurang sreg buat saya karena semuanya terlalu artificial. Danau buatan, taman buatan, saung buatan, perahu buatan. Harga tiket masuknya relatif murah, apalagi jika dibandingkan dengan Kampung Gajah. Yang mahal harga jajanan dan makanannya yang menggoda. Pas lah untuk keluarga.

Ketidakpraktisan E-Filing Pajak

Posted by: on Mar 20, 2014 | 4 Comments

Saya tidak habis pikir, bagaimana orang bisa mendesain sistem yang tidak membantu seperti ini? Harus ke KPP terdekat? Oh no! Satu hari kerja? Kenapa tidak 5 menit saja? Birokrasi?

 

Switch to our mobile site