Kena Hack

August 17, 2016

Alhamdulillah akhirnya blog saya up lagi setelah hari Senin kemarin dihajar habis oleh hacker. Waktu mau login ke blog kok tiba-tiba password saya nggak jalan. Lah bener ternyata pas dilihat halaman depannya sudah di-deface.

Baru hari ini bisa bersih-bersih dan upgrade WordPress-nya ke versi terbaru. Kalau saya lihat signature hacker-nya adalah Indoxploit Coders, sepertinya memanfaatkan lubang keamanan dari WordPress yang memang malas saya update.

Cuma kok ya blog begini saja ada yang nge-hack. Apa mungkin ada yang baca beberapa artikel saya soal web security dan jadi menjajal blog ini saya juga tidak tahu. Ternyata ya begini-begini saja saya besar mulut doang blog sendiri saja tidak aman hehe. Tapi alhamdulillah-nya hacker-nya baik tidak merusak data postingan saya sejak dua belas tahun yang lalu. Saya lupa backup terakhir tahun berapa. Bisa nangis kalau semua tulisan saya itu hilang.

* Terima kasih buat mas Warm yang sudah perhatian bertanya ada apa dengan blog saya kemarin.

Menolak Paid Review

Sebenarnya saya beberapa kali mendapat email penawaran untuk memasang paid review di blog ini dan selalu saya abaikan, tapi yang terakhir kemarin saya mencoba ingin tahu bagaimana penawarannya. Di ujung pertanyaan saya bertanya apakah saya bisa memasang artikel tersebut di kategori Advertorial. Ternyata tidak bisa. Mereka meminta saya untuk memasangnya di kategori Review.

Sampai di sini saya bilang maaf saya tidak bisa melakukannya. Dan setelah itu email saya tidak dibalas lagi.

Mungkin saya bodoh atau sombong atau bagaimana, tapi saya ingin punya sedikit idealisme di sini. Saya tidak ingin membohongi teman-teman sidang pembaca di sini dengan review yang tidak pernah saya rasakan dan alami sendiri. Saya ingin menghargai pembaca saya yang sudah menyempatkan waktu dan bandwidth untuk mengunjungi blog ndak penting ini. Kalau saya menulis review, baik positif atau negatif itu adalah hasil pengalaman saya yang ingin saya bagi. Kelak mungkin saya akan mereview layanan pihak yang hari ini menawarkan paid review itu dan tanpa dibayar.

Saya tidak berbakat jadi buzzer yah, hehehe… Saya juga ingin memonetisasi blog ini sebenarnya, seperti teman-teman lain yang bisa mendatangkan penghasilan melalui blognya. Tapi ya itu, ternyata saya tidak bisa memasukkan tulisan yang tidak di-drive dari hati. Urusan rezeki mah sudah ada bagiannya sendiri-sendiri, insya Allah masih ada rezeki untuk sewa hosting blog ini, hehehe…

Nuwun.

Mommy’s Day Out!

August 10, 2016

Sebelum lebaran, saya hanya tertawa jika mendapat meme soal kelakuan pembantu yang biasanya tidak kembali setelah lebaran. Saya punya ART yang sangat baik dan saya cukup yakin ia akan masih tetap bekerja pada kami setelah usai lebaran. Tapi ternyata tidak. Drama Pembantu — begitu teman kantor saya menamainya — itu akhirnya juga kami alami.

Singkat cerita, tiba hari saat kami tidak punya pilihan. Mama mertua sudah pulang kembali setelah dua minggu bersama kami mengasuh Zafran. Istri saya sudah habis cuti. Kami belum sempat survey dan riset mendalam tentang Day Care di sekitar kantor. Jadilah saya ambil cuti dua hari. Tantangannya adalah: berdua saja dengan Zafran tanpa bantuan siapa-siapa. Mommy’s Day Out. Kalau sekarang: Mommy’s WorkTime, Ayah Tinggal di Rumah. Belum pernah begini sebelumnya, biasanya saya kasih ke ibunya jika si Zafran rempong.

Senin pagi. Istri saya berangkat sendiri ke kantor setelah menyiapkan segala kebutuhan Zafran dan saya. Zafran masih tidur. Saya ndelosor di kasur, membuka laptop, remote desktop ke kantor dan membalas beberapa email kantor, menyelesaikan beberapa hal.

Jam delapan pagi si Zafran bangun dan tersenyum. Celingak-celinguk sambil ngantuk melihat kondisi rumah yang sepi dan tidak biasa. Mungkin dia berpikir, tumben ada Ayah tapi kok tidak ada Bunda. Saya berkata dalam hati, “Okeh, tantangan dimulai.”

Tantangan pertama adalah mandi pagi. Acara mandi pagi ini seru sekali karena dia ketawa-ketawa sambil main selang air dan basah semua. Sampai ga mau diangkat dan inginnya tetap di dalam ember berendam air hangat.

Tantangan kedua: sarapan pagi. Ini mungkin adalah yang terberat karena saya belum pernah kasih dia makan. Berhasil sampai lima suap besar dengan bantuan kerupuk. Setelah itu main kereta Thomas and Friends sampai siang.

Jelang makan siang, tiba delivery order dari Hokben untuk makan siang. Di situ saya melakukan kesalahan. Zafran bilang, “Ayah… nyong… nta… susyu… kat…” Maksudnya, “Ayah, tolong minta susu cokelat.” Karena ini tidak masuk SOP yang sudah diajarkan ibunya, ya saya kasih dia dan memang susu Ultra Mimi rasa cokelat itu habis dalam beberapa kali sedot. Ternyata itu tanda dia sudah lapar. Seharusnya saya kasih langsung dia makan siang. Jadilah makan siang jam 12 gagal. Saya akhirnya makan siang duluan.

Setelah itu seharusnya jadwal dia tidur siang. Tapi maunya main terus sambil lihat TV acara Ryan’s Toys Review di Youtube. Jam setengah dua saya coba dudukkan lagi ke kursi makan dan ajak makan siang. Alhamdulillah ada dua atau tiga suap nasi dan dua gorengan Hokben habis. Setelah itu saya mulai berpikir kapan bisa mandi dan sholat Dzuhur. Jadinya jurus andalan dikeluarkan. Kasih handphone dan dia anteng nonton Youtube dari handphone.

Biasanya kalau sudah dikasih handphone, susah sekali membujuknya berhenti. Jadi sore itu saya ajak keluar dan ke tempat cuci mobil. Di tempat cuci mobil, ruang tunggunya penuh asap rokok. Jadi kami bermain saja di luar di sekitar situ. Saya pegang Percy, Zafran pegang Thomas. Setelah cuci mobil, kami menjemput Bunda ke tempat pemberhentian mobil shuttle kantor untuk area Jakarta Selatan. Di mobil, Zafran tidur pulas sekali di car seat-nya.

Alhamdulillah.

Hei Zaf! Ayah waktu menulis ini belum tahu tahun berapa kamu akan baca tulisan ini, but this is just one of our best time together. Memberi makan kamu adalah hal yang paling stressful tapi ketika kamu mau makan, kegembiraannya juga meluap-luap.

Cerita Vaksinasi Zafran

July 26, 2016

Salah satu hal yang sangat saya syukuri saat ini adalah bahwa kami tidak termasuk dalam korban vaksin palsu yang sedang heboh karena jika melihat cerita teman-teman kami yang anaknya diduga kena vaksin palsu dan harus vaksin ulang, saya berkesimpulan bahwa siapa saja bisa kena.

Akar masalahnya tentu saja adalah kelangkaan vaksin tertentu yang terjadi bertahun-tahun. Sejak lahir, Zafran diberi tabel daftar vaksin yang harus diberikan pada usia tertentu. Ada cukup banyak macam, mulai cacar, polio, varisela, dll. Sampai pada waktu jadwal vaksin varisela, stoknya tidak ada di rumah sakit manapun di ibu kota negara kesatuan republik indonesia ini. Rumah sakit kalaupun ada stok hanya 10 biji. Ribuan anak sudah mengantri. Zafran waktu itu dapat antrian nomor 938 (iya, saya mengarang angka 38, yang jelas nomor 900-an).

Kami bergerilya mencari ke sana ke mari, sampai menemukan klinik kecil di Jakarta Pusat yang menyediakan vaksin varisela. Kabarnya mereka memakai jalur distribusi yang berbeda dengan jalur resmi. Waktu berita vaksin palsu beredar, hal pertama yang kami cek adalah apakah klinik tersebut masuk daftar atau tidak. Alhamdulillah ternyata tidak.

Di umur dua tahun ini, daftar vaksinasi yang belum diberikan tinggal DPT (tahap terakhir) dan influenza. Vaksin DPT ini juga menarik. Kami biasa memilih Infanrix yang tidak mengakibatkan demam. Tapi sejak Zafran umur 18 bulan sampai 2 tahun ini, vaksin Infanrix belum juga ada. Adanya versi Pentabio yang berefek demam. Akhirnya daripada tidak kunjung divaksin, kami memutuskan untuk memberikan Zafran vaksin Pentabio ini.

Hasilnya…. ya memang demam. Si Zafran belum pernah menangis sehebat itu. Ibunya panik. Bapaknya apalagi sampai cuma bisa bengong. Kalau tahu efeknya seperti itu, mungkin saya memilih menunggu vaksin Infanrix ada.

Kondisi ini kira-kira dua hari. Hari ini dia sudah ceria lagi seperti biasa. Hal yang saya cek pertama kali, saya minta dia berhitung satu sampai sepuluh. Dia langsung menyahut satu dua tiga… sampai sepuluh, dilanjut one two three … sampai ten (nggak tahu kenapa eight-nya dilewati, habis seven terus nine). Alhamdulillah, perkembangan kemampuan bicaranya tidak ter-reset.

Saya jadi ingat bapak, dulu bapak pernah bilang, “Anak sehat ceria ga apa-apa kok dibikin sakit dengan imunisasi.” Tapi alhamdulillah bapak dulu tidak sampai menjadi antivaksin, saya masih mendapat imunisasi, hehe…

Mudik 2016: Perjalanan Menghindari Brexit!

July 9, 2016

Saya rasa Brexit (Brebes Timur Exit) akan diingat orang sebagai puncak kemacetan, neraka mudik, dan segudang kata traumatis yang lain. Bagaimana bisa terjadi kemacetan hingga 24 jam! Saya pernah terjebak macet dalam kondisi yang mirip — menunggu buka tutup jalan — di Puncak, hanya tiga jam dan itu sangat stressful. Ini menunggu buka tutup jalan hingga lebih dari sehari semalam.

Saya memulai perjalanan mudik tepat pada waktu puncak arus mudik dimulai, yaitu weekend terakhir sebelum lebaran, yang mana hari Senin-nya sudah liburan cuti bersama. Saya berangkat dari Jakarta Jumat malam pukul 20:30. Kondisi tol JORR lancar relatif lengang. Ada sesuatu yang membedakan dengan perjalanan mudik ke Bandung setiap libur weekend, yaitu hilangnya truk dari jalan tol! Suasana tol ramai mobil pribadi dan lancar. Menyenangkan sekali karena tol terasa longgar dan tidak sumpek seperti biasanya.

Tapi kesenangan ini hanya sampai simpang susun Cikunir untuk masuk ke tol Cikampek. Mulai dari sini kepadatan sudah dimulai. Kecepatan mobil maksimal hanya 30 km/jam. Kepadatan arus diperparah oleh rest area yang penuh dan mobil-mobil yang beristirahat di badan jalan. Kondisi ini berlanjut hingga tol Cipali. Meskipun mulai mengantuk, saya mengurungkan niat buat masuk rest area karena di dalam situ juga macet. Daripada macet-macetan di rest area mending macet-macetan di jalan tolnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Saya lirik ke Waze untuk melihat kondisi gerbang tol Palimanan. Nampaknya antriannya sangat panjang, jadi seperti tahun lalu, saya keluar di Sumberjaya dan melanjutkan perjalanan dengan jalan arteri. Jalannya kosong. Kami memasuki kota Cirebon pukul setengah empat pagi. Masih ada waktu untuk shalat tarawih. Kota Cirebon adalah kota tujuan pertama dan hari Sabtu kami habiskan untuk bersilaturahmi ke keluarga. Jalan raya Pantura di Mundu, Cirebon, Sabtu sore itu sudah macet. Sebuah tanda-tanda bahwa arus mudik semakin dekat dengan puncaknya.

Kami melanjutkan perjalanan mudik pukul setengah dua pagi, satu setengah jam lebih awal dibandingkan tahun lalu. Saya mengambil jalur Pantura ketimbang masuk ke tol Palikanci, Kanci Pejagan, dan Pejagan Brebes. Pertimbangan saya: jika saya terjebak macet di tol saya tidak bisa berbuat sesuatu, sedangkan jika di non tol setidaknya masih bisa putar balik. Pantura ramai sekali penuh dengan pemotor yang ngebut zig-zag ke sana ke mari. Kecepatan sekitar 50-60 km/jam. Tahun lalu, jam tujuh malam, kami sudah sampai tujuan.

Setengah jam berjalan, kami baru sampai Gebang (Cirebon) menjelang Losari, tiba-tiba lalu lintas berhenti. Lama-lama berhentinya kok tidak sehat ya. Jam setengah empat pagi, saya lirik dashboard, kami hanya maju 2 km. Artinya 1 km/jam. Saya hitung-hitung, Brebes/Tegal masih 30 km di depan. Artinya sehari semalam saya baru bisa sampai Tegal. Mau sampai Tulungagung jam berapa?

Kebetulan waktu itu saya ada di jalur kiri dan di sebelah kanan saya ada putaran balik yang diberi penghalang dari bambu. Ada orang yang menyingkirkan penghalang itu lalu mengetuk jendela mobil, “Pak kalau mau putar balik lewat situ!”. Rupaya ia sopir truk yang memprovokasi saya untuk putar balik supaya ia dapat space bisa putar balik. Saya sudah takut duluan dia punya maksud tertentu jadi saya jawab, “Tidak pak terima kasih.” Kemudian ada truk lain yang mundur dan putar balik juga. Tapi manuver sopir truk tadi membuat saya berpikir ulang dan dipaksa mengambil keputusan cepat. Sehari semalam diam di situ-situ saja. Bagaimana jika si Zafran lapar? Rewel? Bagaimana jika mobil kehabisan bensin? Akhirnya saya memutuskan untuk putar balik. Biarlah ga jadi mudik daripada diam tak berdaya di kemacetan begitu.

Saya kemudian menepikan mobil di tepi jalan Pantura di sisi yang lengang dan mulai mencari jalan alternatif. Tidak jauh di depan saya ada jalan ke kiri. Beberapa truk dan mobil berbelok ke situ. Saya cek jalan ini tembus ke Ciledug. Oke jadi ini rencana B. Saya akan mencari jalan untuk menuju ke Slawi lewat Ciledug, Ketanggungan, Jati Barang lalu tembus ke Slawi.

Jadi di pagi gelap itu saya merayap mencari jalan di daerah Ciledug Ketanggungan. Jalannya berlubang-lubang dan gelap gulita. Untungnya jalannya kosong. Kami berhenti dulu di sebuah masjid di tepi jalan Ketanggungan untuk menunaikan shalat Subuh. Ceramah yang sempat saya dengar dari ustadz-nya adalah, “kultum hari ini dipersingkat karena akan mudik.” Saya menangkap bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa halus.

Hari mulai terang ketika kami mulai melanjutkan perjalanan ke arah Slawi. Sampai menjelang Jatibarang, tiba-tiba arus lalu lintas berhenti dan maju pelan-pelan seperti tadi. Kadung trauma dengan Losari, saya belok ambil kanan lewat jalan sawah untuk mengangkut padi. Saya berdoa semoga jalan ini tidak buntu atau tidak ada papasan dengan mobil lain karena tidak mungkin untuk putar balik. Kemacetan ini ternyata hanya karena lampu merah perempatan Jatibarang yang masih normal. Tidak ada petugas yang mengatur. Mungkin karena masih pagi kali ya.

Sekitar pukul tujuh pagi kami sampai Slawi. Sampai di sini jika belok kiri, kami akan sampai Tegal. Bergabung kembali dengan kemacetan. Setengah putus asa saya bilang ke istri, “Tidak ada Semarang hari ini! Kita ambil jalur selatan, menginap di Jogja!” Jadi alih-alih belok kiri, saya ambil ke kanan arah ke Purbalingga. Jadi kembali kami merayap semakin menjauhi Pantura, melalui jalan kecil berbukit berkelok-kelok di Randudongkal arah ke Purbalingga.

Pukul delapan pagi, Zafran mulai rewel karena lapar. Roti dan segala camilan yang dibeli di Alfamart di Jatibarang tidak mau. Di tengah bukit terpencil begini mana ada warung, jadi ketika ada warung dan mushola di sana, saya belok saja ke situ. Warungnya tutup. Baru buka sore hari. Ya sudah sekalian istirahat dan buang air kecil. Waze memperkirakan kami akan baru sampai Purbalingga pukul 09:45. Ini baru Purbalingga. Belum Wonosobo. Belum Jogja. Dan tentu saja belum Tulungagung.

Waktu itulah saya rasakan betul pertolongan Allah datang. Tiba-tiba ada bapak-bapak yang menyapa saya dan dengan ramah menanyakan tujuan saya. Saya bilang mudik ke Jawa Timur. Beliau menyarankan untuk kembali ke arah Pemalang daripada ke jalur selatan karena Pemalang Pekalongan sudah mulai lancar. Melihat saya masih ragu, beliau juga memberitahu arah ke Kajen jika belum mau masuk Pantura. Baru dari Kajen masuk ke kota Pekalongan.

Alhamdulillah, jadinya ada Semarang hari ini, kata saya sambil terkekeh senang. Dengan penuh semangat saya kembali mendaki gunung lewati lembah, menyeberangi sungai Comal beberapa kali. Tengah hari, kami sampai di Pekalongan dan mencari KFC, salah satu makanan kesukaan Zafran. Kami menemukan restoran KFC itu di sebuah mall yang semrawut. Kami istirahat di Masjid Raya Pekalongan sambil Zafran makan siang. Saya mencret-mencret di WC masjid. Tapi lega karena sudah lolos dari kemacetan parah di Brebes-Tegal.

Pukul 13:30 kami melanjutkan perjalanan melalui Pantura. Alhamdulillah lalu lintas sangat lancar dan cenderung sepi. Pukul 15:30 kami sudah masuk tol Krapyak Jatingaleh Semarang. Pukul empat sore kami sudah meluncur di lingkar luar Salatiga. Di sini kami memutuskan untuk istirahat dan menginap di Solo karena kondisi fisik dan mental kami sudah tidak memungkinkan.

Pukul 18:00 kami sampai Solo dan mampir dulu ke Pizza Hut Jl. Slamet Riyadi. Saya bilang ke mbak Pizza Hut-nya, kami ke sini hanya setahun sekali lho mba, hehehe. Tahun lalu kami istirahat siang di sini. Kami lalu menginap di hotel Amarelo. Ini kelasnya hotel budget tapi bagus sekali. Kamarnya lebih luas daripada Fave Hotel atau Amaris Hotel. Pagi-pagi buta selepas sahur, kami segera berkemas dan melanjutkan perjalanan mudik yang belum selesai.

Hari Senin pagi, jalur Solo – Sragen – Ngawi cukup lancar. Saya sengaja tidak lewat Wonogiri supaya lebih santai. Sekitar pukul sembilan pagi, kami mampir dulu di Restoran Duta Ngawi (tempat bus Harapan Jaya istirahat makan malam itu). Zafran sarapan pagi. Setelah itu mengambil jalur Madiun – Ponorogo lalu Trenggalek. Pukul 13:00 kami sampai di Tulungagung. Alhamdulillah.

Tulungagung, 9 Juli 2016.

Mudik 2016: Persiapan

July 1, 2016

Tahun ini kami akan mudik dengan road trip pakai mobil pribadi lagi. Saya menulis ini di meja kantor dengan pikiran yang sudah melayang di jalanan. Mencoba menebak pola pikir para pemudik kapan waktu yang tepat untuk berangkat dari rumah. Pekerjaan sehari-hari sulit sekali rasanya buat dilirik, hehehe…

Tahun ini kami lebih nekat dengan memilih hari yang diprediksi puncak arus mudik. Hari Senin sudah libur cuti bersama jadi diperkirakan puncak arus mudik akan ada di hari ini, Sabtu, dan Minggu. Kami akan berangkat nanti malam, insya Allah. Jadi sepertinya tidak ada hal yang bisa dilakukan kecuali pasrah dan berdoa bertawakkal. Kami pernah terjebak macet parah di tol Cikampek waktu libur akhir tahun kemarin. Berangkat dari Jakarta jam setengah delapan malam, sampai Bandung jam empat pagi. Berharap perjalanan mudik kali ini tidak separah itu.

Mobil sudah disiapkan baik-baik. Ganti oli sudah. Pakai oli standar Honda Matic synthetic yang encer. Dua minggu lalu sudah ke bengkel AC. Bengkel AC langganan, Dwi Guna, sudah tutup waktu saya ke sana jam tiga sore. Jadinya ke sebelahnya ke bengkel Jaya AC di Haji Nawi, Fatmawati. Filter udara AC dan spuyer AC diganti. Sekarang jadi dingin banget AC mobilnya.

Satu suku cadang yang tidak biasa yang diganti adalah karet wiper depan. Tahun ini sepertinya musim kemaraunya kemarau basah karena bulan Juli hujan masih deras saja. Kebetulan karet wipernya belum pernah ganti dan sudah tidak nyaman karena sapuannya tidak terlalu bersih. Ternyata memang karetnya sudah kaku dan perlu diganti. Saya gantinya di kompleks onderdil Duta Mas Fatmawati, 200 ribuan satu set.

Terakhir, saya ganti udara ban jadi nitrogen setelah baca-baca nitrogen lebih baik untuk ban daripada udara biasa. Saya juga sudah melihat hampir semua SPBU Pertamina menyediakan pengisian nitrogen ini. Tarifnya 10 ribu per ban. Terus kepala pentilnya diganti dari warna hitam ke warna hijau mencolok. Hmm… kode warna nitrogen emang hijau ya?

Rute mudik rencananya sama dengan tahun kemarin. Tol JORR, masuk tol Cikampek melalui simpang susun Cikunir (kalau macet plan B nya exit Kali Malang lalu putar balik masuk lagi ke Cikunir lewat sisi yang lain). Dari tol Cikampek masuk ke Cipali. Jelang Palimanan kalau gerbang Palimanan macet parah saya akan keluar di Sumberjaya, masuk lagi ke gerbang tol Plumbon masuk lagi tol Palikanci. Sampai di sini exit Ciperna buat pitstop dulu di rumah mertua di Cirebon.

Saya sepertinya tidak akan masuk ke tol Pejagan kalau lihat tahun ini yang sedang naik daun adalah Brexit (Brebes Timur Exit). Rencananya akan menyusuri jalur Pantura, Cirebon – Losari – Brebes – Tegal – Pemalang – Pekalongan sampai Semarang. Masuk tol Krapyak – Jatingaleh, turun ke bawah ke arah Salatiga lewat Bawen. Setelah itu Boyolali – Solo – Sukoharjo – Wonogiri – Ponorogo – Trenggalek hingga akhirnya Tulungagung.

Mohon doanya teman-teman pembaca semua agar dilancarkan perjalanan mudik kami selamat sampai tujuan. Hatur nuhun.

Midnight Sale, Bukber, Persiapan Mudik, dan Sepuluh Malam Terakhir

June 29, 2016

Hari Jumat lalu saya ikut shalat Jumat di Masjid di lingkungan Rumah Sakit Pusat Pertamina. Khatib berpesan (kurang lebih) bahwa telah terjadi gerakan sistematis dan terstruktur para kapitalis dan liberalis untuk mengaburkan umat Islam dengan cara memberinya iming-iming diskon tengah malam dan kegiatan-kegiatan yang membuat umat Islam semakin lupa dengan Ramadhan. Padahal di sana ada sepuluh malam terakhir yang paling utama, salah satunya ada malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.

Pernyataan khatib tersebut valid karena memang begitulah kenyataannya. Tetapi saya mau kritik sisi pemikiran konspiratifnya bahwa semua ini telah dirancang untuk mengerdilkan Islam.

Ramadhan dan Idul Fitri di Indonesia saat ini tidak hanya menjadi ritual milik umat Islam, tetapi telah menjadi tradisi nasional. Ritual mudik hanya ada di Indonesia dan yang mudik bukan hanya umat Islam saja, tetapi semua kaum urban yang merayakan tradisi pulang kampung bersama-sama. Demikian pula tradisi buka bersama. Kata “buka bersama” ini tidak hanya dilakukan oleh yang berpuasa saja, tapi juga umat agama lain. Saya punya teman-teman non muslim yang acara “Safari Ramadhan”-nya jauh lebih sibuk dari saya. Setiap hari nyaris selalu ada agenda “buka puasa bersama”.

Tentang diskon dan midnight sale, saya rasa itu hanya insting pebisnis yang mengendus potensi pasar. Seperti ikan hiu yang bisa mengendus darah dari jarak jauh. Kenapa harus tengah malam? Karena orang puasa di siang hari sehingga malas keluar, malam hari adalah saat yang tepat untuk mendatangkan mereka. Dan kenapa harus sepuluh hari terakhir? Simpel sebenarnya, karena mayoritas orang sudah gajian dan dapat THR. Awal-awal Ramadhan orang belum pegang uang.

Jadi menurut saya sama sekali tidak ada konspirasi wahyudi di sini. Yaa kalau berpikirnya sudah konspirasi, konspirasi apa saja bisa dihubung-hubungkan sih.

Dan justru di sinilah masalahnya. Inilah tantangan bagi para pendakwah dan ulama. Daripada sibuk berdebat, menyalahkan konspirasi wahyudi, kapitalis, liberalis, menyalahkan pendapat yang berbeda (sholat tarawih 8 rakaat atau 20 rakaat?), menyerang pihak yang menyuruh menghormati orang yang tidak puasa — bagaimana cara mengedukasi umat yang sudah memiliki tradisi/kebudayaan yang kuat ini? Atau setidaknya, bagaimana cara membagi waktu dan mengakali jadwal yang semakin padat tanpa mengurangi intensitas ibadah.

Saya memakai istilah “mengakali” karena tidak mau terjebak untuk men-judge yang ikut midnight sale, bukber, mudik, dan segudang acara lain lebih buruk daripada yang tetap tekun dan istiqomah beribadah. Belum tentu kan? Kita tidak tahu masing-masing orang. Dan kita suka melabeli dan menuduh hanya dari luarnya saja.

Entahlah. Wallahu a’lam.

← Previous Page