Review: Liferay sebagai Pilihan Aplikasi Portal Web

Posted by: on May 18, 2012 | No Comments

Tiga tahun yang lalu, saya sempat menyebutkan Liferay sebagai salah satu alternatif untuk menggantikan Microsoft Sharepoint dalam fungsinya sebagai aplikasi portal web. Dan hingga saat ini, saya sudah mengimplementasikan Liferay untuk website resmi pabrik tempat saya bekerja dan satu lagi untuk aplikasi internal. Pada artikel ini, saya ingin sedikit berbagi pengalaman mengenai Liferay ini.

Liferay adalah engine berbasis Java yang ditujukan untuk pembuatan web portal. Memang jika dibandingkan engine-engine berbasis PHP, Liferay jauh kalah populer dibandingkan dengan WordPress, Drupal, dan Joomla. Tapi menurut saya, jika kita mencari engine portal berbasis Java terbaik, Liferay adalah pilihan yang bisa dipertimbangkan dengan serius.

Mengapa Liferay?

Well, di pabrik saya, ada kebutuhan penyeragaman sistem dimana sebagian besar aplikasi berbasis Java. Kami memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan dengan PHP, terutama menyangkut skalabilitas dan biaya maintenance yang luar biasa besar. Sehingga otomatis, engine-engine berbasis PHP yang terkenal itu dicoret dari daftar.

Kemampuan untuk melakukan design layout secara on the fly adalah kelebihan yang jarang dimiliki portal lain. Jadi kita bisa menambahkan portlet — isian konten — secara langsung dan bersifat WYSIWYG. Menambahkan ruang untuk blog, forum, galeri foto, file-file bisa tinggal drag-and-drop. Lalu beberapa template layout sudah disediakan pula oleh Liferay, satu kolom, dua kolom, atau free style.

Membuat custom themes juga cukup mudah, meskipun tidak semudah WordPress, tapi masih lebih mudah daripada Joomla apalagi Drupal. Template engine-nya berbasis Velocity, jadi yang biasa melakukan templating di Velocity dan Freemarker akan mudah melakukan custom. Ada empat bagian besar: header, navigation, main content, dan footer. Di main content itulah tempat portlet-portlet dipasang secara dinamis melalui antarmuka web.

Lisensi

Liferay bisa didapatkan secara bebas, baik versi binary maupun source code-nya untuk versi Community Edition. Untuk versi yang mendapatkan dukungan penuh dari vendor, disediakan versi Enterprise Edition. Dengan versi EE ini kita bisa membuat tiket support dari Liferay 24 jam. Dan team support-nya kebanyakan wanita-wanita muda berwajah imut seperti personnel SNSD. :mrgreen:

Jangan harap versi CE dan EE sama saja. Curangnya Liferay, versi EE memiliki struktur database dan indeks yang berbeda, jadi harus dilakukan proses migrasi khusus dari versi CE ke EE. Jadi tidak bisa begitu saja gonta-ganti versi dengan menggunakan database yang sama.

Performance, antara CE yang sudah dituning dengan EE default, jauh lebih cepat EE. Pada beberapa fitur, saya menemukan bug di CE yang baru akan diberi patch-nya di rilis major berikutnya. Sementara bug tersebut tidak ditemukan sama sekali di EE. Hal inilah yang membuat kami memutuskan membeli lisensi Enterprise Edition dari yang awalnya hanya Community Edition.

Wrap Up

Jika saya dihadapkan pada project yang mengharuskan software-nya adalah free, maka saya akan lebih memilih WordPress, Joomla, atau Drupal. Saya masih belum menemukan rasa klik dengan Liferay, ada bagian-bagian tertentu yang saya merasa kurang sreg dengan Liferay.

Hal yang lain, Liferay adalah barang langka di Indonesia. Menemukan vendor lokal yang bisa men-support Liferay bukan perkara gampang. Saya pernah menghubungi beberapa vendor yang bisa menangani Liferay (macam Mondrian-nya Frans Thamura), tetapi tidak mendapatkan respon yang positif. Akhirnya kami memutuskan untuk mengembangkan sendiri secara internal dan langsung meminta support dari Liferay Asia Pacific.

Dibandingkan dengan Microsoft Sharepoint, di luar integrasinya dengan Microsoft Office, saya akan lebih memilih Liferay karena Liferay jauh lebih fleksibel untuk dicustom. Sharepoint memang memiliki Sharepoint Designer, tetapi sulit sekali membuat theme custom untuk Sharepoint. Padahal salah satu kebutuhan utama dari web portal adalah kemudahannya membuat tampilan custom yang indah.

Membuat Front-End Webserver dengan Apache Reverse Proxy dan Mod_Rewrite

Posted by: on May 17, 2012 | No Comments

Apa itu front-end webserver? Jadi singkat cerita, kita memiliki sebuah (atau banyak) application server yang menangani banyak aplikasi. Banyak application server yang berjalan di port yang berbeda, misalnya Tomcat jalan di 8080, Weblogic jalan di 7001, lalu ada misalnya IIS untuk menjalankan teknologi .net framework.

Permasalahannya, ini menjadikan struktur URL-nya jadi jelek, misalnya http://server.example:7001, http://server.example:8001. Struktur URL yang cantik itu hanya bisa didapat jika web server berjalan mendengarkan di port 80. Lha, dari sekian banyak application server itu, siapa yang akan mendapatkan port kehormatan? Harus diundi terlebih dahulu?

Front-End dan Back-End Web Server

Solusi agar semua kebagian adalah membuat satu webserver yang mendengarkan port 80, yang berfungsi sebagai forwarder/dispatcher request, untuk meneruskannya ke application yang benar. Karena ada webserver yang ditaruh di depan sebagai forwarder dan webserver di belakang sebagai pemroses request, maka model seperti ini disebut front-end webserver dan back-end webserver. Seperti gambar di bawah ini kira-kira:

Webserver yang saya gunakan sebagai front-end adalah Apache. Dia mendapatkan port kehormatan 80 agar bisa diakses langsung dengan “normal” (http://server.example). Kemudian, berbagai web server dari berbagai platform hidup di belakangnya, misalnya Oracle Weblogic di port 7001 (http://server.example:7001), Apache Tomcat di port 8080 (http://server.example:8080), dan IBM Websphere di port 8888 (http://server.example:8888).

Yang saya inginkan adalah, semua client (Macintosh, Desktop PC, dan Laptop PC) mengakses semua application server melalui port 80 dengan nama-nama cantik berikut ini:

  • http://weblogic.example/wls, untuk aplikasi wls yang ada di Weblogic port 7001
  • http://tomcat.example/tomcat, untuk aplikasi tomcat yang ada di Tomcat port 8080
  • http://websphere.example/ws, untuk aplikasi ws yang ada di Websphere port 8888

Segala akses yang langsung ke application server tidak diperbolehkan (tapi di posting ini, saya tidak menyertakan setting firewall-nya ya!).

Jadi bagaimana setup-nya? Hal yang perlu dilakukan adalah: (1) Setup DNS record untuk mengarah ke webserver, (2) Setup Apache, Virtual Host, (3) Setup Apache, Reverse Proxy, (4) Setup Apache, Mod Rewrite. Mari kita mulai.

Setup DNS Record

Anyway, urusan DNS record adalah urusan DNS server :mrgreen: – Apapun tipe DNS Server Anda, konsepnya adalah mengarahkan subdomain tadi ke IP Address web server dimana Apache port 80 berada. Anda juga bisa memasukkan entri ini di file /etc/hosts, atau kalau di Windows, C:\Windows\System32\drivers\etc\hosts. Misalnya, IP Address tempat Apache port 80 adalah 192.168.10.2, maka, entri di file hosts (atau di DNS server) kira-kira sbb:

weblogic.example 192.168.10.2
tomcat.example 192.168.10.2
websphere.example 192.168.10.2

Setup Apache: Virtual Host

Masing-masing dari subdomain perlu diberikan Virtual Host tersendiri agar Apache tahu harus memproses setiap request yang datang ke subdomain yang tepat. Anyway, menurut saya, Apache adalah webserver yang paling fleksibel kalau urusan Virtual Host ini. Jadi, buatlah entri di file setting Apache di httpd.conf seperti di bawah ini:

<VirtualHost *>
ServerAdmin galih.satriaji@server.example
ServerName weblogic.example
ServerAlias www.weblogic.example
ErrorLog "logs/weblogic.example.err.log"
CustomLog "logs/weblogic.example.log" combined
</VirtualHost>

Blok kode ini akan memberitahu Apache untuk menggunakan setting-setting yang ada di bawah VirtualHost weblogic.example setiap kali ada request yang mengarah ke alamat URL weblogic.example. Setting ini tentu saja belum cukup karena si Apache belum diberitahu harus memproses file-file-nya dimana. Nah, karena si Apache ini kita gunakan hanya sebagai Front-End, maka pemrosesan request akan diteruskan oleh Apache ke Application Server di belakangnya (Back-End). Di sini yang perlu dilakukan adalah setup Reverse Proxy dan redirectornya.

Setup Apache: Reverse Proxy

Agar bertindak sebagai front-end, pada setting VirtualHost di atas perlu ditambahkan setting reverse proyx yang memberitahu Apache untuk meneruskan request ke application server di belakangnya.

<VirtualHost *>
ServerAdmin galih.satriaji@server.example
ServerName weblogic.example
ServerAlias www.weblogic.example
ErrorLog "logs/weblogic.example.err.log"
CustomLog "logs/weblogic.example.log" combined
ProxyRequests off
ProxyPass / http://192.168.10.2:7001/
ProxyPassReverse / http://192.168.10.2:7001/
</VirtualHost>

Sudah cukup? Belum, setting ini hanya akan meneruskan request dari http://weblogic.example ke http://192.168.10.2:7001/ saja. Padahal yang dituju adalah http://192.168.10.2:7001/wls. Kita perlu menambahkan sebuah redirector, agar nantinya setiap URL yang diketik http://weblogic.example akan diredirect menjadi http://weblogic.example/wls. Proses redirecting dari port 80 ke 7001 dilakukan secara implisit, tidak mengubah struktur URL yang terlihat oleh user. Jadi tambahannya menjadi seperti ini:

<VirtualHost *>
ServerAdmin galih.satriaji@server.example
ServerName weblogic.example
ServerAlias www.weblogic.example
ErrorLog "logs/weblogic.example.err.log"
CustomLog "logs/weblogic.example.log" combined
ProxyRequests off
ProxyPass / http://192.168.10.2:7001/
ProxyPassReverse / http://192.168.10.2:7001/
<Location />
RedirectMatch ^/$ /wls/
</Location>
</VirtualHost>

Nah, ini kasusnya setiap URL weblogic.example akan menjadi weblogic.example/wls. Seakan-akan web server nya ada di port 80, menggunakan Apache. Padahal, Apache hanya meneruskan saja ke server Weblogic yang ada di port 7001.

Pertanyaan satu milyarnya, bagaimana membuat URL yang benar-benar implisit, weblogic.example tanpa harus diredirect ke /wls? Jadi weblogic.example akan terlihat tetap weblogic.example, meskipun lokasinya di back-end server adalah http://192.168.10.2:7001/wls/? Di sini, kita perlu satu teknologi lagi bernama URL Mod Rewrite dari Apache.

Setup Apache: URL Rewriting

Apache memiliki teknologi penulisan kembali URL yang memungkinkan seorang webmaster mengubah-ubah struktur URL tanpa harus mengubah apa yang terlihat di browser-nya user. Jadi URL yang simpel, indah, dan mudah dihapalkan user bisa tetap dipertahankan meskipun aplikasi memerlukan struktur URL yang ruwet. Contoh gampangnya ya WordPress ini, dia membuat URL dengan simpel misalnya http://blog.galihsatria.com/2012/05/front-end yang aplikasinya sebenarnya memerlukan URL yang ruwet seperti http://blog.galihsatria.com/post.php?permalink=front-end&year=2012&month=05.

Nah, supaya URL weblogic.example tetap diam (tapi sebenarnya di-forward ke weblogic.example:7001/wls), kita memerlukan tambahan setting untuk URL rewrite. Diperlukan kemampuan mengenai regular expression tingkat dewa di sini, tapi sebenarnya tinggal Googling aja bisa. Saya menemukan settingan di bawah ini dari hasil bertanya ke Eyang Google:

<VirtualHost *>
ServerAdmin galih.satriaji@server.example
ServerName weblogic.example
ServerAlias www.weblogic.example
ErrorLog "logs/weblogic.example.err.log"
CustomLog "logs/weblogic.example.log" combined
ProxyRequests off
ProxyPass / http://192.168.10.2:7001/
ProxyPassReverse / http://192.168.10.2:7001/
RewriteEngine on
Options +FollowSymLinks
RewriteRule ^(.*+)$ /wls/$1 [L,QSA]
</VirtualHost>

Penutup

Tentu saja Anda harus mengaktifkan modul-modul Apache untuk mengaktifkan setting-setting di atas, yaitu modul Virtual Host, Mod Proxy, dan Mod Rewrite. Ini adalah settingan yang sudah saya tes jalan di webserver saya untuk mengaplikasikan model front-end dan back-end ini. Apakah ini juga akan jalan di server Anda, belum tentu — besar kemungkinan tidak :p. Selamat mencoba dan jangan lupa di share kalau sudah berhasil!

Mengapa Tidak Boleh Lebih Dari 30%?

Posted by: on May 16, 2012 | 6 Comments

Hampir semua perencana keuangan dan buku-buku personal finance management mematok besaran maksimal cicilan hutang adalah sekitar 30%. Sudah termasuk cicilan untuk hutang produktif (cicilan rumah dsb) dan hutang konsumtif (kartu kredit, gadget, dsb). Mengapa tidak boleh?

Salah satu sebabnya adalah karena kebutuhan kita lainnya masih terlalu banyak. Kita perlu makan, bayar tagihan operasional hidup (sewa rumah, listrik, air, telepon, belanja bulanan, dkk), perlu beli baju baru, beli sepatu, nonton film 3D di bioskop, nge-mall, dll. Manusiawi kok. Belum lagi kalau ada keinginan lain seperti beli gadget dan hanphone terbaru. Sedemikian banyak kebutuhan itu harus bisa kita penuhi dengan 70% penghasilan saja. Cukup? Bahkan seringkali tidak. Bayangkan jika porsi kewajiban lebih dari 30%, tak heran kalau rekening tabungan kita macam dispatcher saja – aliran uangnya lewat saja.

Saya tidak suka punya hutang, bahkan mau ambil kredit rumah aja masih mikir-mikir (saya tahu pasti ini turunan dari bapak saya). Teman saya ada yang bilang pas saya ingin beli gadget (dan mau nabung dulu), “Buat apa nabung kalau bisa nyicil?”

Well, apalagi untuk hutang konsumtif, secara psikologis efeknya sangat tidak menyenangkan buat saya. Saya pernah beli lensa wide saya yang Sigma 10-20 mm HSM dengan cara cicilan 0% selama enam bulan. Rasa punya barang baru paling banter cuma sebulan dua bulan, tapi rasa ngutangnya sampai setengah tahun sendiri. And for me, that hurts.

Nabung sebenarnya juga hampir sama gak enaknya sama nyicil. Tapi untuk kebutuhan tersier yang tidak ada pun kita masih bisa hidup enak, keinginan itu bisa direm sedikit. Tadi pagi tiba-tiba saya mendapatkan justifikasi sempurna untuk beli gadget, tapi seperti biasa, duitnya belum ada. Mau jual saham, IHSG lagi maen perosotan yang tentu saja lebih cocok buat beli ketimbang jualan (tapi anehnya biasanya pas gajian ntar IHSG sudah balik, ketinggalan kereta lagi).

Nah, ketimbang besok ke toko sambil nyodorin kartu buat digesek, saya lebih suka memendam keinginan itu. Toh semua justifikasi itu bisa dilakukan oleh laptop saya. Namanya keinginan impulsif, bisa jadi pas duitnya terkumpul, keinginan itu sudah mereda. Bisa diarahkan ke sesuatu yang lebih baik, buat bayar zakat misalnya.

Sama halnya jika cicilan hutang itu lebih dari 30%. Meskipun cicilan itu untuk aset produktif yang bisa mengungkit (leverage factor) harta kita menjadi sekian kali lipat. Tapi tetap saja efek psikologisnya, kurang dari 70% penghasilan yang tersisa, mungkin sebagian besar habis untuk kebutuhan pokok. Belum ada bagian untuk kebutuhan sekunder apalagi tersier. Akhirnya merasa penghasilan kurang, efek lebih jauhnya, bekerja menjadi tidak nyaman karena merasa kurang dihargai secara finansial.

Nyaris Realtime, Transfer dengan SKN

Posted by: on May 8, 2012 | 8 Comments

Beberapa bulan terakhir ini, saya baru tahu ternyata Bank Mandiri mematikan fasilitas transfer real time-nya (RTGS – Real Time Gross Settlement). Bukan dimatikan sih, tapi diberi pesan kalau jumlah limit yang ditransfer tidak mencukupi batas minimal. Beberapa kali saya mencoba transfer ke rekening ibu saya di BRI, diberi pesan yang sama. Ternyata si Nilla mengalami hal yang sama, dia bilang kalau batas minimal transfer Bank Mandiri lewat RTGS sekarang adalah Rp. 50 juta.

Well, tentu peraturan ini untuk mengarahkan nasabah supaya menggunakan metode SKN (Sistem Kliring Nasional) yang berbiaya lebih murah. Bank Mandiri memasang tarif sepertiga lebih murah ketimbang sistem RTGS. Permasalahannya adalah, SKN ini terlanjur dipersepsikan sebagai sistem yang lambat, bahkan ada yang bilang kalau lewat jamnya, tiga hari bisa baru nyampe. Nah, tentu saja orang sekarang lebih memilih yang lebih mahal tapi langsung sampai daripada sistem yang kurang lebih mirip wesel tiga hari baru sampai.

Apa sih bedanya SKN dan RTGS? Jika RTGS, proses settlement dilakukan satu per satu transaksi dan sesegera mungkin. Sedangkan SKN, setiap transaksi dikumpulkan dahulu lalu pada periode tertentu BI mengkreditkan dana transfer ke bank penerima. Dari sinilah muncul persepsi kalau lewat jam angkut terakhir di hari Jumat, dana bisa baru sampai di hari Senin pada saat angkutan berikutnya.

Nah, dengan adanya peraturan batas minimal transfer untuk RTGS, mau tidak mau masyarakat dipaksa untuk memakai SKN yang lebih murah. Dan sekarang BI telah meningkatkan pelayanan sistem SKN ini dengan memperbanyak jam angkut. Yaitu tiap dua jam mulai pukul 10:00, 12:00, 14:00, dan 16:00 dengan waktu operasional pukul 08:00-16:00. Sehingga diharapkan sistem ini kecepatannya sudah mendekati RTGS atau close to the real time.

Saya sendiri kemarin sudah mencobanya untuk melakukan top up reksadana. Saya melakukan transfer SKN dari rekening saya di Bank Mandiri ke rekening Panin Dana Maksima di Deutsche Bank AG. Saya melakukannya melalui Internet Banking pukul 09:47 dengan harapan dana itu akan diangkut pada jam 10. Pada pukul 10:15, saya mendapatkan pemberitahuan dari CS-nya Panin bahwa dana sudah diterima dan akan segera dieksekusi proses top-up-nya.

Referensi:

1000

Posted by: on May 5, 2012 | 11 Comments

Tujuh setengah tahun. Seribu artikel.

[sepuluh menit berlalu tanpa kalimat. speechless]

Mau tidak mau saya mengenang masa-masa awal saya ngeblog untuk kesekian kalinya. Agak lucu, karena saat itu saya tidak mau disebut blogger, saya seorang penulis diary yang mungkin jaman sekarang disebut galauers. Sok-sok’an romantis, nulis puisi, menjadi secret admirer karena merasa menjadi bukan sosok yang menarik. Apa yang bisa dibanggakan dari seorang maniak pemrograman yang suka ngulik rumus Matematika Diskret 20 senti di bawah matanya?

Time flies, people changes. Nampaknya cuma saya yang masih tidak banyak berubah, masih menulis apa yang ingin ditulis di sini. Kadangkala saya merasa waktu terlalu cepat berlari, dari weekend ke weekend, dari Senin ke Senin, seperti mimpi saja. Dan catatan blog inilah yang mengingatkan saya kalau waktu telah berlari.

Topik bahasan, masih gado-gado seperti dulu. Dan mungkin karena itulah saya masih bisa ngramut blog ini sampai sekarang. Dari jaman isinya pemrograman mlulu, lalu merengek-rengek di kategori Melankolis karena tidak tahu bagaimana menarik hati perempuan. Pindah ke Jakarta, mengejar apa yang dinamakan karier, menekuni fotografi, bosan dengan fotografi menekuni musik. Melanjutkan sekolah S2, minatnya pindah ke Finance dan pasar modal. Lalu sampai di titik jenuh lagi. Ya balik lagi ke titik awal, nulis suka-suka, sesempatnya, sesukanya.

Teman-teman. Ini yang menarik. Seorang blogger, secuek-cueknya, semalas-malasnya ia blogwalking, akan selalu mengharapkan sedekah komen. Itu tanda kalau blognya masih ada yang baca. Tanda apresiasi. Dan sampai sekarang, hanya sedikit teman-teman lama blog yang masih keep in touch. Datang dan pergi.

Mbak Rina dari Cilacap adalah salah satu yang paling berkesan. Meskipun ia sekarang sudah tidak pernah mengunjungi dunia internet lagi, saya masih dapat kiriman blast SMS lebarannya tiap tahun. Sayang waktu kemarin ke Cilacap, tak sempat ketemu. Moga-moga aja nomor teleponnya nggak ganti.

Atau dengan blogger ini yang sekarang menjadi teman akrab — saking konsistennya bertukar komentar dari dulu sampai sekarang. Jejak tulisannya pertama kali di blog ini adalah tanggal 18 Juli 2006. Ia bilang, “Kita harus melepaskan seseorang karena kita tahu jika Tuhan mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih baik.”  Itu di postingan yang jika saya baca sekarang pun masih ikutan trenyuh dan ingat kejadian di tepi sungai di Moyoketen, Tulungagung, enam tahun silam. Ia (si tokoh di postingan itu) bertanya dengan lembut waktu itu, “Apakah Galih ingin aku menjauh dan tidak dekat lagi?”

Atau dengan perempuan ini, salah satu sumber inspirasi saya waktu itu, yang karenanya saya membuat buku pertama saya, Secangkir Kopi Java. Ia berkomentar begini, “ya’apa yen sampaen nggawe buku mas, mengko aku dadi editor lan produsere :p (Bagaimana kalau kamu membuat buku mas, nanti aku jadi editor dan produsernya :p)”. Tertanggal 18 Juni 2006. Apa yang bisa dilakukan seorang anak muda freak untuk menyatakan perasaannya? Lahirlah buku 100 halaman PDF itu. Tapi ya siapa yang mengerti dengan model komunikasi nggak umum begitu? Hehehe…

Begitulah, saya cenderung menertawakan diri saya sendiri karena blog ini merekamnya dengan begitu detail. Mungkin lima tahun lagi, saya di umur 30-an akan menertawakan saya yang sedang menulis sekarang ini. Blog adalah autobiografi yang jujur menceritakan kembali kehidupan penulisnya dari tahun ke tahun.

[speechless lagi]

Saya tidak tahu kenapa kok saya merayakan tulisan ke-1000 ini dengan begitu melankolisnya. Mungkin karena aslinya blog ini melankolis sih. Ini hanyalah salah satu milestone, tonggak waktu, seperti orang yang sedang berulang tahun.

Naah, supaya agak ceria, saya ingin bagi-bagi hadiah. Kali ini hadiahnya agak lebih serius. Saya barusan menyelesaikan naskah setebal 129 halaman. Seperti jaman dulu waktu menulis Secangkir Kopi Java, saya menulis topik yang menjadi ketertarikan saya saat ini: personal finance management. Judulnya “Merencanakan Keuangan Pribadi dengan GNUCash”. Saya sedang mengusahakan itu diterbitkan di nulisbuku.com (saya sudah upload naskahnya tadi sore), supaya saya bisa mengirimkan hadiah ini secara fisik ke teman-teman. Bukan e-book lho.

Siapa yang dapet? Biarkan pseudo random generator algorithm yang akan menentukannya!

^_^

Tentang Firas dan Zarah (Novel Partikel)

Posted by: on May 3, 2012 | 7 Comments

Zarah adalah nama tokoh dalam novel Supernova terakhir Dee: Partikel. Sedangkan Firas adalah ayahnya Zarah. Mereka berdua adalah ilmuwan sejati yang memiliki gagasan-gagasan gila (seperti ilmuwan pada umumnya).

Firas adalah ilmuwan yang ngefans berat sama teori Darwin, bahwa manusia berasal dari evolusi kera/orang utan. Terbukti bahwa 97% DNA Orangutan mirip dengan DNA manusia. Kemudian, ada makhluk dari dimensi lain yang menculik manusia kera itu dan dikarantina di suatu tempat — yang disimbolkan sebagai surga Firdaus. Tiba-tiba manusia itu mengetahui rahasia reproduksi yang membuat mereka bisa berkembang biak di luar kendali makhluk dimensi lain itu — yang disimbolkan sebagai “buah pengetahuan” terlarang yang dimakan Hawa. Akhirnya manusia dikembalikan ke bumi — yang disimbolkan manusia dikeluarkan dari surga Firdaus.

Dewi Lestari, melalui tokoh Firas dan Zarah, secara halus mengritik banyak hal tentang kehidupan beragama. Bagaimana Zarah dikucilkan dan dicap atheis di sekolah. Termasuk ketika Abah, kakek Zarah, malah naik pitam ketika Zarah menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang lugas tentang keimanan. Abah malah menampar Zarah ketika Zarah berkata, “Bahkan kalaupunTuhan itu ada…”.

***

Firas dan Zarah, seperti banyak ilmuwan yang lain, gagal memahami esensi ketidaktahuan sebagai pengetahuan. Zarah gagal memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya pada setiap penciptaan-Nya dan terus memburu jawaban-jawaban ilmiah yang dingin dan logis.

Ilmu pengetahuan sangat banyak dibahas di Al-Qur’an. Coba tengok Al-Baqarah 212, Yunus 24, Luqman 27, Ar-Rum 21-27, 46, 48, 49 dst. Dan yang bikin menohok, banyak ayat-ayat yang ditutup dengan kalimat, … yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi yang berpikir. Atau di ayat yang lain dengan pertanyaan yang diulang-ulang, Apakah kamu tidak mendengar? Apakah kamu tidak memperhatikan?

Ayat-ayat tersebut seperti mengingatkan saya yang bebal dan tidak melihat apa yang sebenarnya terlihat mencolok mata. Memang dalam beberapa titik, ada hal yang tidak bisa dijelaskan karena ketidakmampuan manusia itu sendiri. Abu Bakar ra. pernah berkata, pengetahuan untuk mengetahui ketidaktahuan adalah pengetahuan. Manusia hanya diberi pengetahuan yang amat sedikit, dan seharusnya manusia cukup tahu diri karenanya.

Zarah adalah satu contoh dari orang yang gagal mendapatkan esensi ilmu pengetahuan. (Apa esensinya, menurut saya adalah untuk memahami kebesaran Allah SWT melalui ciptaan-ciptaan-Nya). Ia hanya terhenti pada titik kekaguman dan pemujaannya kepada alam semesta, tidak terus mencari ke sumber pencipta alam semesta itu.

Sayang sih, padahal dia kan cantik. Ukuran bra-nya 34C lho… *halah! apa hubungannya*

Jalan-Jalan ke Bandung

Posted by: on May 1, 2012 | 8 Comments

Saya sudah beberapa kali ke Bandung, beberapa kali menginap sampai seminggu di Bandung, tetapi selalu berhubungan dengan urusan pekerjaan — project, meeting, training, dll. Saya suka kota Bandung. Sudah lama saya ingin ke Bandung tidak karena urusan pekerjaan, tapi belum sempat saja. Sampai kemarin saya tiba-tiba diajak seorang aktivis jejaring sosial untuk mengikuti Festival TIK di Poltek Telkom Bandung. Tanpa pikir panjang saya iya-in aja.

Anyway saya sendiri lebih menikmati perjalanannya ketimbang acaranya. Seminarnya sendiri tidak menarik buat saya. Ada talkshow dari Kemenkominfo tentang dampak Facebook dan Twitter. Agak lucu buat saya bapak-bapak pejabat itu “dipaksa” harus mengerti social media karena tuntutan pekerjaan. Saya bilang begitu soalnya terkesan those things are not on their blood. Beda misalnya jika Pak Nukman Luthfie yang suruh bicara soal social media, karena ia sendiri aktivis yang sehari-hari ngetwit.

Terus ada saja peserta talk show yang membuat “panggung sendiri”. Terlihat dari antusiasme-nya, pertanyaan-nya yang sudah disusun seminggu (atau sebulan) sebelumnya, dan pernyataan-pernyataannya yang memang dibuat menarik perhatian dan tepuk tangan. Walah, akhirnya saya kembali meneruskan baca novel Partikel-nya Dee saja. Untung semua hal ini sudah saya antisipasi — jadi kalau ada teman-teman yang lihat ada orang asyik sendiri di belakang, khusyuk membaca lembar demi lembar, tanpa sedikitpun memperhatikan acara talkshow, itulah saya hehe…

Seminar berikutnya dari Pak Onno W Purbo yang membahas tentang OpenBTS. Pembahasannya terlalu telco buat saya yang berlatar belakang computer science. Saya akan lebih tertarik jika pembahasannya lebih umum, lebih strategis, dan yang seru tentu membahas masalah perizinan dan dinamika dengan operator lokal. Demo yang dilakukan seperti demo membuat software berbasis SOA dengan BPEL tetapi audiens-nya orang awam dan programmer pemula.

Sore hari, syukurlah, saya diajak teman-teman dari Flickr Bandung untuk street hunting di Jalan Braga. Semacam menyambut fotografer dari Jakarta? Wah, saya tersanjung. Disana ketemu beberapa teman yang selama ini cuma tahu hasil karyanya di Flickr. Saya suka kopdar — karena itu termasuk silaturahmi, tetapi saya tidak terlalu suka kopdar besar, terorganisir, dan membawa agenda-agenda tersendiri. Saya akan buat satu essay khusus tentang street hunting ini di photoblog saya.

Malam hari itu Bandung kembali diguyur hujan. Karena memang tidak rencana untuk menginap (saya hanya bawa tas kamera doang ga bawa baju ganti), saya kembali ke Jakarta memakai XTrans terakhir ke Kartika Chandra. Sopirnya kayak dikejar setan tol Cipularang, berangkat jam 10 malam, sampai Pancoran jam setengah 12 saja. Jakarta tentu saja masih belum tidur malam itu.

Switch to our mobile site