Memperkenalkan: Denbei.info

Guns ‘n Roses, Bon Jovi, majalah Kawanku, Api di Bukit Menoreh, Hercule Poirot, adalah benda-benda yang mempengaruhi masa kecil dan remaja saya. Minat baca dan selera musik itu jelas sangat dipengaruhi teladan saya waktu itu, yaitu kakak saya sendiri. Makanya selera musik saya agak lebih tua lima sampai sepuluh tahun (selera “tua” ini baru direparasi oleh isteri saya sehingga sekarang lebih mengenal Ariana Grande si penyanyi Bang Bang Bakso Bang itu).

Apa yang kakak saya baca, saya ikut-ikutan baca. Kakak saya belajar gitar, saya juga ikutan belajar bagaimana memainkan kunci C sampai F kres minor. Kebiasaan makan di lantai sambil baca juga saya tiru habis.

Sampai besar kami memilih jalur sendiri-sendiri, kakak saya sekarang adalah seorang pegawai negeri fungsional auditor pajak dan saya sendiri memilih jalur komputer.

Yang saya baru tahu ternyata kakak saya seorang blogger juga. Gaya menulisnya jauh berbeda dengan saya, kocak tanpa bermaksud melucu, tapi kadang-kadang bikin saya ngakak kepingkel-pingkel. Yang saya tahu dulu ia tanya bagaimana cara memonetisasi blog, saya pikir ia bikin blog yang sekadar SEO optimized saja. Tapi ternyata isinya bagus enak dibaca.

Jadi, izinkan di sini saya menggunakan frekuensi dan bandwidth untuk merekomendasikan blog kakak saya ini, bukan paid review ini (tapi traktiran-review). Silakan kunjungi http://denbei.info.

Panjenengan (pinjam istilah denbei.info) mungkin akan suka beberapa artikel ini: Simbologi Budaya Jawa, atau yang Guitar Journey: Melemaskan Jari (Rock Discipline)

Ketika Zafran Minta Mainan untuk Pertama Kalinya

Kemarin kami berkunjung ke IKEA Indonesia di Alam Sutera, setelah sekian lama toko itu dibuka. Saya pikir euforia kehadiran IKEA di Indonesia sudah lewat sehingga toko itu sudah tidak penuh sesak lagi.

Sampai sana langsung terkagum-kagum dan pengen beli semua (untung ga ada duit) hehehe. Layout tokonya yang dibikin mengalir jadi mengingatkan saya suatu malam di kelas S2 yang sedang membahas business case IKEA. Teman-teman saya yang sudah ke IKEA di luar negeri manggut-manggut mengerti dan antusias. Sementara saya cuma bisa membayangkan saja.

Sampai di suatu sudut tempat dunia anak.

Tiba-tiba Zafran menangis. Nangisnya serius lagi. Waktu kembali ke tempat mainan, ia diam dan mulai bermain dengan boneka beruang, ikan hiu, dan boneka hewan-hewan yang lucu. Saya terbengong. Saya mencoba mengalihkan perhatian dan menggendongnya pergi. Dia menangis lagi. Lebih kencang. Begitu sampai tiga kali sampai bundanya mengkonfirmasi bahwa ia memang mau boneka itu.

Jadi begitulah. Zafran sudah mengerti. Anak sepuluh bulan itu sudah bisa minta mainan. Dan sepanjang jalan pulang, ia duduk di car seat sambil terus main sama boneka beruang sambil ketawa-ketawa. Alhamdulillah.

Informasi Lalu Lintas yang Tidak Jelas

Setiap pagi dan sore, radio selalu menemani perjalanan pergi dan pulang kantor. Secara periodik ada informasi lalu lintas untuk berbagai jalan. Ada yang hasil pemantauan sendiri ada juga yang bersumber dari TMC Polda Metro Jaya.

Sampai sekarang informasi itu belum bisa berguna buat saya. Istilah kualitatif yang dipakai terlalu banyak: padat merayap, padat, ramai cenderung padat, cenderung ramai lancar, padat merayap cenderung tidak bergerak, dan masih banyak lagi. Bagaimana membayangkannya ya?

Saya lebih terbantu baca Waze yang menyebutkan kecepatan rata-rata kendaraan di daerah situ. 10 km, 4 km, 0 km. Seharusnya informasi radio itu juga menyebutkan versi kuantitatif-nya juga, atau saya yang aneh sendiri ya?

Bandung dan Jakarta

Akhir-akhir ini sedang ada wacana untuk menjadikan Ridwan Kamil, walikota Bandung, menjadi gubernur DKI Jakarta menggantikan Ahok. Wew, rupanya para politisi sudah tidak sabar untuk mengganti Ahok. Mana yang lebih cocok memimpin Jakarta?

Ini opini pribadi saja.

Bandung, sekilas, memiliki masalah yang sama dengan Jakarta. Kemacetan lalu lintas dan banjir kalau hujan deras. Orang sering menuduh mobil-mobil Jakarta yang bikin macet kalau weekend. Ini mungkin benar waktu dulu awal-awal Cipularang dibuka. Tapi sekarang saya lihat mobil berplat D juga tak kalah banyak. Yang memenuhi Dago dan Riau kalau weekend itu tak hanya mobil plat B aja sekarang.

Jakarta makin macet, itu benar. Tetapi itu juga karena pembangunan infrastruktur ada dimana-mana. Yang kelihatan saja, perempatan Kuningan sedang ada pembangunan flyover sisi selatan. Padahal perempatan itu titik ketemu semua orang yang bekerja di Jakarta. Jalan Sudirman-Thamrin sudah jadi jalur neraka karena ada pembangunan MRT. Jalan buat kendaraan jadi sangat sempit. Lewat alternatif satunya, ketemu pembangunan jalur busway koridor Ciledug-Tendean. Nah lo, mau lewat mana? Sepertinya pak Gubernur tidak peduli cacian dan makian semua orang yang mengeluh karena macet super parah. Yang penting pembangunan infrastruktur dikebut.

Cuma sayang pengadaan 1000 bus TransJakarta itu jadi kasus. Coba kalau lancar, mungkin moda busway bisa jadi pilihan yang menarik.

Sementara Bandung, yang memiliki masalah mirip, saya belum melihat adanya perubahan berarti. Yang terlihat menonjol sampai hari ini adalah taman-taman yang unik yang makin bikin kepingin menghabiskan akhir pekan di Bandung. Saya pikir Pak Walikota masih perlu satu periode lagi untuk mulai menyentuh sisi infrastruktur ketimbang terus membenahi tampilan dekoratif seperti taman.

Mungkin malah Bu Tri Rismaharini, walikota Surabaya, yang lebih cocok. Saya melihat Surabaya berubah tidak hanya sisi tampilan saja, tapi juga infrastruktur jalan, dan yang saya dengar langsung dari beliau: e-government-nya.

Tapi kalau disuruh pilih-pilih, Pak Ahok masih yang terbaik buat memimpin Jakarta.

Baru Tahu: Aquascape

Awalnya dari Rumah Sakit Pertamina (RSPP) waktu membawa si Zafran yang lagi sakit pilek ke Dokter Margareta Komalasari. Di sana ada aquarium yang besar. Si Zafran tiba-tiba senang sekali melihat ikan di situ. Baru sadar juga kalau di rumah Oma-nya di Bandung, dia juga senang melihat ikan di dalam aquarium.

Saya pernah punya aquarium waktu SD. Aquarium kecil tanpa filter sehingga harus sering dikuras. Akhirnya lama-lama malas kuras air sampai ikannya banyak yang mati.

Sekarang ingin bikin aquarium buat Zafran, tapi kalau cuma ikan dengan dekorasi plastik kayaknya kok sudah ketinggalan zaman. Inginnya bikin dekorasi tanaman hidup yang disebut aquascape. Sekilas baca sih susah dan mahal perawatannya, tapi mari dilihat dulu, hehe…

Berbahasa Indonesia dengan Baik dan Benar

Bahasa Indonesia itu mudah karena menjadi bahasa sehari-hari. Tetapi untuk bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, itu urusan lain. Banyak faktor saya rasa. Selain karena strukturnya yang memang sulit, kita punya bahasa Indonesia yang tidak baku sehingga orang yang berbicara dengan baik dan benar akan menjadi terdengar aneh.

Nggak usah jauh-jauh, masih banyak orang tidak bisa membedakan dan tidak mau menulis dengan benar “di” sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dengan “di-” sebagai awalan.

Kemarin di jalan tol Jakarta-Bandung, saya melihat papan pesan petunjuk berbunyi begini. “Cikunir-Cikampek Lancar. Agar Jaga Jarak Aman”. Kalimat kedua tidak memiliki subjek! Padahal kalimat Bahasa Indonesia yang baik dan benar minimum memiliki satu subjek dan satu predikat. “Agar” adalah kata sambung. Jika kalimat itu menjadi “Jaga Jarak Aman” saja, kalimat tersebut malah jadi benar.

Saya menulis ini karena tadi pagi waktu berangkat ke kantor saya membaca rambu-rambu berbunyi, “Hindari Jl. Rasuna Said. Sedang Ada Pembangunan Flyover Sisi Selatan. Agar Mencari Jalan Alternatif”.

Salah satu alasan saya ngeblog dengan bahasa yang setengah resmi karena saya ingin berlatih dan mempertahankan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Jadi kalau ditelusuri, kesalahan struktur di tulisan saya juga pasti banyak, hehehe…

Bahan Bacaan: Preposisi (Wikipedia).

ASI Esklusif

Perjuangan pemberian ASI eksklusif itu luar biasa. Ladang jihad tak terkira oleh para ibu. Terpujilah para ibu yang setiap tetes air susu untuk anaknya adalah pundi-pundi pahala tak terkira. Setiap kesakitan karena lecet, bengkak, mastitis, adalah penggugur dosa-dosa. Insya Allah.