Catatan Pasca Pilpres 2014

Posted by: on Jul 14, 2014 | 4 Comments

Masih seputar copras-capres, banyak orang yang mengira bahwa hiruk pikuk media sosial akan mereda setelah Pilpres selesai. Nyatanya tidak. Perang opini masih berlangsung.

Perang opini ini paling tidak membuat saya mengerti, kenapa kita bangsa Indonesia bisa dijajah sebuah perusahaan kecil dari Belanda bernama VOC, yang diteruskan oleh Belanda, selama 350 tahun. Politik adu domba pecah belah masih relevan hingga saat ini.

Bagaimana tidak? Yang saya tidak habis pikir adalah, bagaimana kawan-kawan saya di media sosial banyak sekali termakan isu kampanye hitam. Langsung main share tanpa verifikasi dan cross chek terlebih dahulu. Langsung share dengan bumbu opininya sendiri. Kalau yang termakan adalah orang-orang yang tidak mendapatkan akses informasi dengan mudah, saya masih bisa mengerti. Tapi mereka adalah orang-orang berpendidikan tinggi yang mendapatkan banyak informasi — mungkin terlalu banyak.

Dalam isu agama, yang paling membuat saya mengerutkan kening, bagaimana bisa calon nomor satu dipersepsikan sebagai tokoh yang lebih agamis daripada calon nomor dua. Padahal secara latar belakang, seharusnya lebih relevan adalah jika sebaliknya. Kemarin setelah nyoblos, saya publish foto selfie saya dan isteri dengan dua jari kena tinta. Tidak lama kemudian, ada pesan Facebook masuk. Tanpa basa-basi, langsung menuduh, “Pooooh, penganut liberalis!”

Saya, yang tidak mau berpolemik, menimpali, “Neoliberalis pak.” Lha iya, sejak saya dikenalkan dengan Adam Smith di SMP di pelajaran berjudul Ekonomi Koperasi, jelas saya telah bermahzab Ekonomi Liberal.

Tetapi jawaban lanjutan teman saya tersebut yang membuat saya murung, “Berarti sudah sepakat negara kita akan dipimpin partai seperti itu. Astagfirullah. Semoga kita semua diampuni Allah SWT.”

Saya jawab saja, Amin. Jika memang pilihan saya salah, ampuni saya ya Allah. Saya hanya memilih berdasarkan hati nurani dan mempertimbangkan banyak faktor secara masak-masak. Pas mencoblos saya juga mengucap Bismillah.

Bayangkan kalau saya tidak terima dituduh seperti itu. Tentu hasilnya jadi debat kusir tak berguna seperti yang sudah sering saya lihat di media sosial. Di sinilah menurut saya, kita bangsa Indonesia belum dewasa dalam berbeda pendapat. Begitu ada yang berbeda pilihan, langsung cenderung diserang, dituduh macam-macam. Salah wis pokoknya.

Padahal menurut saya, pendukung Jokowi-JK tidak hanya kaum liberalis pendukung LGBT itu, tapi sangat majemuk dan bermacam-macam. Islam Liberal, Islam moderat, para ulama, cendekiawan, Jawa, Cina, Papua, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dll. Dan seperti itulah Indonesia bukan? Indonesia, dengan penduduk muslim terbesar dengan berbagai macam suku, menurut saya tidak akan cocok dengan model khilafah seperti di Timur Tengah begitu. Bhinneka Tunggal Ika yang mempersatukan kita.

Jika seandainya nanti hasil KPU sama dengan quick count, saya pikir itulah kemenangan Indonesia. Kemenangan kita semua yang berbhineka tunggal ika. Bukan kemenangan Joko Widodo, bukan kemenangan PDIP. Karena beliau bukanlah seorang Ratu Adil yang akan membawa Indonesia, sendirian, one man show, menjadi Macan Asia. Tetapi seorang pemimpin yang akan mendorong kita semua melakukan perubahan. Jika kita tak mau berubah, jika masih begini-begini saja, jika masih korupsi, malas-malasan, Jokowi tidak akan mampu. Prabowo tidak akan mampu. Tidak ada yang mampu. Dan biasanya kita akan menyalahkan pemimpin bak seorang Ratu Adil itu…

Catatan Masa Tenang Pilpres 2014

Posted by: on Jul 7, 2014 | No Comments

Kita, bangsa Indonesia, memang belum bisa dewasa dalam menyikapi perbedaan pilihan. termasuk pilihan politik. Pemilu Presiden 2014 ini dianggap sebagai ajang perang opini. Apapun dipakai untuk menunjukkan bahwa jagoannya lah yang paling benar. Ini bukan tentang pilpres lagi, ini tentang ego. Egoku melawan egomu, ayo berdebat, sampai siapa yang menang.

Nyatanya, di masa tenang jelang Pilpres besok Rabu, tetap saja bersliweran kampanye hitam di media sosial dan chat. Buat saya, Facebook yang paling parah, yang sebagian besar sudah tidak saya kenal lagi siapa yang posting. Lama-lama Facebook ini aneh, kawan yang benar-benar saya kenal malah jarang muncul. Untung masih ada Path, yang memang membatasi jumlah maksimal pertemanan, untuk tujuan kualitas, bukan kuantitas.

Kenapa ya kita tidak bisa tidak terpancing untuk berdebat kusir?

Saya kemarin terlibat pembicaraan yang cukup menarik dengan ibu saya lewat telepon. Ibu memilih Prabowo, sementara saya Jokowi. Saya bertanya kenapa ibu pilih Prabowo. Saya takut ibu terpengaruh kampanye hitam. Alasannya adalah karena jauh sebelum Jokowi naik mencalonkan diri, Jokowi pernah diwawancara dan ia mungkin akan merotasi guru-guru yang ada di Jawa untuk ke luar Jawa. Kemudian Hatta Rajasa menjanjikan akan mengangkat ribuan guru honorer.

Buat saya itu valid. Adalah hak setiap orang memilih presiden yang paling sesuai dengan visi dan nilai orang tersebut. Seperti saya yang memilih caleg yang fokus ke masalah pendidikan. Dan saya memilih Jokowi salah satunya karena menurut saya Jakarta perlu kebijakan-kebijakan pemerintah pusat untuk menyelesaikannya.

Ini baru diskusi yang sehat, pikir saya. She’s my mom! Kami tidak saling memaksakan pendapat. Tetapi saling tukar pendapat. Buat saya yang penting ibu tidak termakan kampanye hitam. Alasannya untuk memilih valid. Lebih lanjut, saya jadi malu, ga mungkin ibu terpengaruh. Ibu juga bilang sudah lama tidak menonton MetroTV dan TV One. Hehehe… so proud of you, mom!

Membangun Sistem Manajemen Pengetahuan yang Baik

Posted by: on Jun 20, 2014 | 4 Comments

Content is the king, masih menjadi jargon andalan dalam banyak hal, apalagi jika urusannya menyangkut tentang pengetahuan (knowledge). Sudah banyak dibahas di kuliah-kuliah, bagaimana membangun sistem manajemen pengetahuan (knowledge management system) yang baik dan topik itu seringkali hanya mudah dibahas di kuliah tapi sulit diimplementasikan.

Apa itu KMS? Adalah sebuah sistem yang menyediakan pengetahuan mengenai suatu topik yang isinya dibangun bersama-sama dari orang-orang yang menguasai topik tersebut. Misalnya mengenai topik “Bagaimana Bekerja dengan MS Office”. Di sini orang saling berbagi pengalaman, ide, pengetahuan tentang MS Office. Tips dan trik tersembunyi dishare bersama.

Di dunia kerja, hal ini tidak mudah untuk diwujudkan. Pengetahuan berharga yang didapat dari pengalaman bertahun-tahun tersimpan di kepala masing-masing orang. Jika ada orang baru masuk, dia harus belajar dari awal, tidak langsung bisa bekerja dengan cepat karena banyak hal yang harus dipelajari dulu. Padahal, pengetahuan itu sudah ada, hanya saja ada di kepala orang. Sebuah KMS yang baik harus bisa menarik isi kepala orang-orang ini dan menyajikannya dalam pengetahuan yang mudah dikuasai.

Dan itu susah.

Kendala pertama tentu saja adalah budaya. Budaya kita, orang Indonesia, adalah budaya melihat dan mendengar. Kita tidak terbiasa membaca lalu menulis untuk menuangkan pemikiran dan ide. Sebenarnya era keemasan blog banyak membantu mendorong orang untuk menulis, sayangnya era itu telah lewat dan digantikan oleh era media sosial. Efek buruk media sosial adalah mengembalikan sifat jelek kita, ahli komentar, debat kusir, perang opini. Kita adalah pakar komentar. Lihat saja perang copras capres di media sosial. Efek buruk yang lain adalah membuat kita malas membaca artikel yang lebih panjang — apalagi buku. Kita lebih suka baca kultwit dan chirpstory. Kemampuan baca saya jauh menurun drastis sejak ada Twitter dan Flipboard.

Kendala kedua. Banyak sistem yang dibuat oleh orang IT tanpa melihat tujuan utama. Seringkali kami para orang IT terlalu fokus pada fitur. Oh, sebuah KMS harus punya fitur ini dan itu. Teknologinya harus pakai teknologi terbaru — JQuery, Java, Microsoft… yang ujung-ujungnya berakhir pada sistem yang tidak pernah dipakai. Sistem yang dibuat mahal, sarat teknologi canggih, tapi useless.

Kendala ketiga adalah kendala utama yang harus dipecahkan sebelum membuat sistem IT-nya. How to. Bagaimana menarik pengetahuan berharga itu dari kepala orang dengan sukarela? Mayoritas orang masih berpikir bahwa pengalaman dan pengetahuan adalah senjatanya untuk posisi tawar yang lebih tinggi di perusahaan. Jika itu dia bagi, banyak orang yang punya pengetahuan itu, sehingga perusahaan akan punya pilihan lain selain dia. Tentu, berbagi pengalaman akan merugikan buat dia. Itu yang harus dipecahkan oleh para desainer KMS sebelum memikirkan sistem IT-nya.

Harus disadari bahwa IT hanyalah alat. Tools. Sebuah sistem “e-” tidak bisa dibebankan hanya dengan membuat sistem IT. Saya jadi ingat debat capres kemarin, kegaduhan sistem e- e- an bisa diselesaikan hanya dalam dua minggu. Sistem IT-nya sih gampang bisa diselesaikan dalam dua minggu. Tapi, banyak sekali kegagalan e-government karena sistem yang lebih besar-nya tidak dibenahi. Misalnya proses bisnis, budaya kerja orang-orangnya. Dana milyaran hanya untuk membuat sistem IT yang sebenarnya harganya jauh lebih murah dari itu.

Maximo Knowledge Management System.

Saya menulis ini karena tim kecil saya yang merawat sistem Maximo di kantor berhasil memulai sebuah KMS. Secara IT, kami memakai Sharepoint 2013 yang fiturnya cukup untuk membuat sebuah KMS, yaitu search engine yang bagus, Blog, dan Wiki. Dan saya cukup surprise bahwa tim kecil saya memiliki semangat luar biasa untuk berbagi. Setiap pengalaman sehari-hari ditulis baik di Blog atau Wiki. Belum ada sebulan, kami sudah bisa memproduksi 50 posting blog dan 20-an artikel wiki. Salut.

Manfaatnya mulai terasa ketika ketemu masalah sehari-hari, saya tinggal baca apa yang sudah ditulis. Tidak perlu lagi menelusuri masalahnya dari awal, solusinya sudah tersedia. Tinggal pakai.

Sekarang adalah tinggal masalah konsistensi. Blog saja ternyata tren sesaat, apalagi menulis materi berat seperti pekerjaan sehari-hari.

We Stand on The Right Side

Posted by: on Jun 11, 2014 | 4 Comments

Pasca debat Capres-Cawapres episode satu, akhirnya saya menjatuhkan pilihan saya ke pasangan capres nomor 2: Joko Widodo dan Jusuf Kalla, dengan mantap.

Pak Jokowi sebetulnya belum siap jadi presiden, beliau masih junior dan berpengalaman di wilayah kecil kota. Di lingkup DKI yang besar masih banyak yang harus diselesaikan. Beliau masih butuh mengembangkan visi kenegaraan yang lebih luas lagi. Tetapi ya kita cuma punya pilihan dua, kalau ga Pak Prabowo, ya Pak Jokowi.

Sebagai warga DKI, tentu saya mengharapkan Pak Jokowi jadi presiden, lebih banyak lagi yang bisa dilakukan untuk Jakarta. Masalah Jakarta tidak bisa dibebankan ke Pemprov saja. Dan selama ini, inisiatif dari pemprov selalu kandas oleh kebijakan pusat. Dan yang kena getahnya tentu adalah Gubernur yang tidak bisa menyelesaikan masalah lima puluh tahun dalam dua tahun. Siapa pun tak akan bisa. Tak ada Ratu Adil semacam itu.

Bagaimana dengan Prabowo-Hatta? Pertanyaannya sebenarnya simpel, apa yang dimiliki Pak Prabowo yang bisa membuat saya memilih beliau? Ternyata pertanyaan simpel ini tidak bisa dijawab dengan memuaskan. Sebagai seorang tentara, Pak Prabowo adalah seorang tentara yang luar biasa. Jenderal tempur yang cerdas, patriot bangsa yang mengedepankan keselamatan negara di atas apapun. Tapi tentu ini belum cukup untuk menjadikan beliau presiden.

Tim sukses kader dan simpatisan juga tidak bisa meyakinkan saya untuk memilih Prabowo. Adanya malah semakin menjauh. Kebanyakan yang dilakukan adalah negative (cenderung ke black campaign) ke Jokowi. Saya tidak keberatan kalau yang melakukan itu adalah kader Gerindra atau lainnya, tetapi yang ramai melakukannya adalah kader dan simpatisan PKS.  Partai yang mencitrakan dirinya bersih dan membawa panji dakwah Islam. Black campaign, karena sumbernya seringkali tidak jelas dan banyak yang terkonfirmasi setelah itu tidak benar. Kenapa tidak tabayyun, cross check dulu? Apa saja yang menguntungkan di-viral dan di-retweet. Apakah Islam seperti itu? Nggak, Islam seharusnya tidak seperti itu.

Tetapi memang debat kemarin sangat berpengaruh buat saya. Bagaimana saya bisa memilih Pak Hatta jika beliau bicara tentang kesetaraan hukum, sementara anaknya bebas? Dan maling ayam di pelosok kampung bisa tewas digebuki orang? Bagaimana bisa beliau bicara tentang reformasi birokrasi, jika beliau sudah ada di dalamnya selama bertahun-tahun, memiliki otoritas untuk mengubah sistem dan mereformasi birokrasi tanpa harus menjadi wakil presiden?

Pak Prabowo, yang dicitrakan tegas dan piawai berpidato, ternyata tampil tidak terlalu meyakinkan. Beliau berputar menjawab masalah HAM. Hubungan dengan cawapres-nya juga tidak kompak. Sementara Pak Jokowi di luar dugaan tampil dengan baik, meskipun terasa visi-nya adalah visi seorang kepala daerah dan banyak programmer yang terluka (haha, dua minggu software e-gov selesai, cuma programmer level dewa yang bisa, emploken kui).

Tentang jika Jokowi jadi presiden, Jakarta akan dipimpin oleh non muslim, maafkan saya ya Allah. Jika hal itu untuk kebaikan, karena selama ini para pemimpin muslim jauh dari amanah, kenapa tidak? Seharusnya kita para kaum muslim malu melihat kaum kita kaum muslim seperti ini, jauh dari perilaku islami. Kementerian Agama yang korup? Bagaimana bisa hal itu disebut islami dan apakah kita diharuskan memilih yang demikian? Pemimpin non muslim tidak korupsi sementara pemimpin muslim korupsi? Apakah kita tetap diharuskan memilih pemimpin yang muslim meskipun dia korupsi? Bukankah iman itu tercermin dari perilakunya?

We stand on the right side.

Akhirnya, Indovision

Posted by: on Jun 9, 2014 | 4 Comments

Berawal dari capeknya komplain ke BigTV, kemudian saya biarkan TV itu ga beres sampai berminggu-minggu (dan tontonan kami setelah itu hanyalah YKS), akhirnya saya berlangganan Indovision. Pilihan terakhir yang saya buat dengan pertimbangan pamungkas bahwa kita harus mau membayar lebih mahal untuk layanan yang berkualitas. Isteri saya senyum-senyum saja waktu saya girang bisa nonton pertandingan final Roland Garros antara Nadal vs Djokovic semalam. Quote of the day darinya kemarin adalah, “Yang bisa kasih tahu Mas Galih ya Mas Galih sendiri…” he he he…

Lha ya gimana, Indovision emang mahal. Kalau ada yang murah dan bagus, kenapa tidak? Saya memilih BigTV karena memang tayangan HD-nya banyak. Saudara tuanya, FirstMedia, memiliki reputasi yang bagus. Jadi saya pikir BigTV juga bagus, good for value.

Ketika akhirnya memutuskan mencari TV langganan lain, pilihan saya jatuh ke Telkomvision. Ternyata Telkomvision sudah dibeli taipan bisnis Chairul Tanjung dan menjadi TransVision. Saya cek harganya mahal juga.

Tiba-tiba saya berpikir, BigTV butuh 140 ribu per bulan. Indovision butuh 170 ribu per bulan. Cuma 30 ribu bedanya dan saya bilang itu overpriced? Hwaa… kenapa saya baru sadar yah? Tanpa pikir panjang lagi, saya nelpon customer care-nya untuk daftar pasang baru.

Hanya berselang tiga hari, saya ditelepon orang Indovision dan menanyakan apakah bisa hari Sabtu dipasang. Satu wow. Saya bilang saya sedang diluar kota apakah bisa dipasang hari Minggu sore. Ternyata bisa dipasang. Dua wow. Dan Minggu malam, HBO dan Fox Sport sudah bisa tayang. Tiga wow. Kenapa saya bilang wow, karena perlu waktu 2 minggu untuk BigTV menelepon saya bahwa TV-nya bisa dipasang. Karena tukang pasang BigTV tidak mau instalasi di akhir pekan sore menjelang malam. Karena BigTV baru muncul tayangannya keesokan harinya.

Saya tidak suka nonton bola, makanya faktor bahwa bola sudah tidak ada lagi di Indovision sama sekali tidak berpengaruh buat saya. Jadi saya tidak perlu mempertimbangkan OrangeTV. Saya sering heran kenapa para pria itu sedemikian tergila-gilanya sama bola sampai sebegitu fanatik-nya. Real Madrid kalah dan bisa menghilangkan semangat? Agak absurd sih. Atau saya yang ga normal?

Analisa Fundamental dan Laporan Keuangan

Posted by: on May 25, 2014 | No Comments

Sambil kembali mengumpulkan modal sedikit demi sedikit, saya sedang mengubah total strategi investasi saya di pasar modal. Melihat kesibukan saya di kantor saat ini, dan komitmen saya untuk menjadi seorang family man, praktis saya tidak punya waktu untuk trading — analisa chart dan pergerakan harga harian. Sehingga saya bergerak dari analisa teknikal ke analisa fundamental.

Ada yang bilang kenapa tidak dicampur saja strategi analisis itu? Pakai FA untuk memilih, dan pakai TA untuk timing kapan mau masuk dan keluar. Menurut saya strategi trading dan investasi memang tidak bisa dicampur. Kalau tujuannya trading, tidak perlu susah-susah beranalisa fundamental karena begitu ada sinyal keluar, segera keluar secepat kilat (kalau ga bakalan nyangkut!), dan begitu ada sinyal masuk, segera masuk secepat kilat (kalau ga bakalan ketinggalan kereta!).

Dan saya bukan orang yang jago meramal arah gerak saham. Dan adakah yang bisa? Bisanya adalah patuh dengan rencana trading yang dimiliki, dan lakukan tanpa terpengaruh emosi. Dalam sepuluh kali trading, bisa saja hanya dua kali untung dan delapan kali merugi, tapi jika ditotal tetap untung karena ruginya sedikit saja (cut loss). Untuk konsisten begitu, perlu komitmen waktu. Pengalaman dua tahun, 2011-2013, meskipun bisa dapat profit yang konsisten sekitar 15% setahun, rasanya kok ga worth it dengan capeknya (mungkin karena modalnya juga super kecil, hehehe). Sementara reksadana saya yang saya top-up rutin tiap bulan Rp. 300 ribu tanpa melihat harga saham, berhasil memberikan profit 20% dalam dua tahun. Atau 10% setiap tahun. Sudah di atas deposito kan? Lumayan ga kerasa.

Saat ini saya sedang akan menyiapkan dana pendidikan saya untuk anak saya (insya Allah, beberapa minggu lagi kelahiran, doakan sehat dan lancar yah). Rencananya mau nabung setiap bulan dalam lima belas tahun. Dan kali ini saya ingin mengelola “reksadana” saya sendiri dengan membelikannya langsung di pasar saham. Karena itulah, analisa fundamental menjadi penting.

Apa yang susah dari analisa fundamental? Banyak sekali yang harus dianalisa. Rasio-rasio keuangan seperti ROE, Current Ratio, P/E Ratio, dll. Banyak yang harus dibandingkan. Setelah dapat short-list dari perusahaan dari berbagai sektor, mau beli yang mana? Mana yang lagi mahal? Mana yang lagi murah?

Untuk valuasi mahal dan murah, rasio yang dipakai biasanya adalah P/E ratio. Tetapi tidak bisa juga diterjemahkan langsung begitu. P/E juga bisa ditafsirkan optimisme pasar terhadap suatu saham. P/E yang tinggi, berarti pasar optimis perusahaan akan berkembang pesat. P/E yang rendah berarti pasar pesimis. Wajar sih, ada harga ada rupa. Saham yang dipercaya bagus sudah pasti mahal karena banyak orang yang cari.

Lebih lanjut dari itu, semua rasio dan catatan keuangan adalah catatan masa lalu. Sementara yang sedang dicari adalah potensi masa depan. Tidak ada yang tahu apakah suatu perusahaan yang bercatatan bagus akan bisa mencetak prestasi yang sama bahkan lebih tinggi lagi.

Nah, potensi masa depan itu bisa sedikit banyak diketahui melalui laporan tahunan perusahaan. Bahkan jika investor besar, ada yang perlu bertemu langsung dengan manajemen perusahaan tsb, untuk menggali potensi dan strategi di masa depan. Perusahaan yang manajemennya bagus pasti rajin memberikan laporan tahunan. Isinya sih membosankan, ga seperti baca novel. Tapi itu perlu dilakukan. Jangan sampai seperti orang yang beli tiket kereta api, tapi tak tahu kereta apinya mau kemana. Bahkan tak tahu apakah kereta api itu jadi berangkat apa dibatalkan.

Memilih Calon Presiden

Posted by: on May 22, 2014 | 4 Comments

Jadi kita sudah punya dua pasangan calon presiden-wakil presiden. Pak Jokowi dengan Pak Prabowo. Memilih diantara dua ini susah sekali karena masing-masing punya plus dan minusnya. Betul, saya punya harapan besar dengan Jokowi waktu awal-awal menjadi gubernur DKI dan rasanya akan saya dukung kalau nyalon presiden. Tapi kemudian rasanya kok ada yang salah. Pencitraannya overdosis. Beliau sebenarnya tidak sehebat yang media citrakan. Bahwa tidak mungkin ada seorang pemimpin sang ratu adil, tapi semua adalah soal sistem. Dan sistem yang buruk, sebaik apapun pemimpinnya, akan membuat pemimpin itu kelihatan buruk.

Di lain sisi, Prabowo juga merupakan calon kuat. Ia mengisi dengan telak kelemahan Jokowi yang dicitrakan sebagai petugas partai, presiden boneka, dll. Indonesia merindukan sosok pemimpin yang tegas setelah sepuluh tahun dipimpin seorang peragu yang selalu menghindari risiko dan kehilangan momentum. Terkait dengan kasus penculikannya, saya sering membaca bahwa dilema selalu melanda seorang decision maker, apalagi dalam operasi intelijen militer seperti itu, nyawa dikesampingkan atas nama darurat dan keselamatan negara. Lihat saja operasinya CIA di film-film-nya Jason Bourne, British M16 di film James Bond. Atau bahkan operasi-operasinya BIN.

Jadi sampai di sini, skor buat beliau-beliau berdua di saya adalah 1-1.

Kemudian saya melihat siapa saja mitra koalisinya. Jokowi membawa bendera PDIP yang saya tidak pilih di Pileg. Tak ada caleg berkualitas dan sesuai kriteria saya di PDIP.

Lha yang menarik, PKS merapat ke Prabowo. Saya jadi membayangkan jika Menkominfo-nya tetap Pak Tifatul Sembiring. Atau yang satu visi dengan beliau. Saya setuju kita memerangi pornografi, tapi metodologi yang dilakukan sangat tidak efektif dan buang-buang biaya. Dan nampaknya kecepatan internet Indonesia akan begitu-begitu saja. Lalu mari kita lihat Pak Suswono Mentan. Konsep swasembada sapi tidak masuk di saya. Impor dibatasi dan harga dibiarkan naik demi mengejar swasembada?

Saya mulai bisa melihat perbedaan visi kedua capres ini. Jokowi akan berpandangan liberal seperti halnya Presiden SBY. Prabowo akan berpandangan nasionalisme mengarah ke fasisme dimana semua harus dikelola dan dihasilkan sendiri, which is good but unfortunately we are not ready yet because we didn’t prepare for that. Makanya Jokowi lebih disukai pasar modal karena kepentingan asing jelas lebih aman.

Sampai di sini, saya lebih condong ke Jokowi. Saya tidak mau lima tahun lagi saya tetap mengeluarkan biaya 100 ribu hanya untuk kuota 7 GB saja. Saya juga melihat infrastruktur negara kita ini sudah liberal, ekonominya sudah liberal. Saya sendiri bekerja di perusahaan asing yang ikut membantu sekuat tenaga SDA kita diangkut ke Inggris dan Italia. Jadi saya lebih setuju Indonesia melanjutkan dirinya untuk berkembang dan segera menyusul negara-negara lain.

Masih ada waktu untuk menimbang-nimbang dan melihat visi misi masing-masing calon. Saya tidak terlalu memperhatikan debat kusir macam isu ras, cina, agama dalam hal ini. Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan negara kita.

Switch to our mobile site