Update Blog Foto

Saya mengganti lagi template blog foto (http://foto.galihsatria.com). Ternyata saya tidak cocok dengan gaya portofolio ala fotografer. Biar bagaimanapun, saya lebih suka memotret dan berceloteh tentang foto itu. Jadi saya kembalikan ke model blog yang kronologis dengan ukuran foto besar-besar seperti Boston Big Picture.

Biarpun mungkin pemirsanya sudah minim (untuk tidak mengatakan tidak ada), ternyata mengasyikkan sekali browsing postingan-postingan lama. Tidak terasa saya sudah posting sejak tahun 2011, sejak masih pakai kamera saku Panasonic Lumix DMC F-3. Jumlah halaman sudah mencapai 35 halaman (209 posts, 62 pages).

CapturePostingan pertama saya, Oktober 2011

Saya sudah kehilangan minat untuk upload di situs-situs fotografi, entah mengapa. Mas Dennis sempat memperkenalkan Pixoto, tapi saya tidak tertarik meskipun upload foto uji coba saya langsung mendapatkan award. Jadi di sini saja, jadi blogger, di blog foto. Kadang-kadang, gambar bercerita lebih banyak daripada yang bisa saya ceritakan di blog ini.

Catatan Mudik: Nyetir Mobil di Saat Puasa

Dengan jarak tempuh Jakarta-Tulungagung yang 750 km, sebenarnya sangat boleh untuk tidak puasa. Tapi saya mau mencoba, kalau masih kuat ya lanjut sampe Maghrib, kalau enggak ya buka di jalan. Mengganti puasa di hari biasa itu lebih berat soalnya, hehe…

Kami memulai perjalanan mudik tanggal 11 Juli, berangkat jam setengah enam pagi dengan tujuan rumah mertua di Cirebon untuk transit istirahat semalam. Kondisi jalanan sudah ramai karena sudah masuk H-6 lebaran. Kami kena macet mulai Cikarang karena gerbang tol Cikarang Utama. Setelah itu lancar sampai masuk ke tol Cipali. Antrian di gerbang tol Cikopo sekitar 1 km. Setelah itu lancar lagi, kecepatan rata-rata 90 km/jam.

Menurut standar keselamatan di kantor, setiap tiga jam mengemudi harus istirahat minimal 20 menit dan maksimal sehari hanya boleh 12 jam mengemudi terus menerus. Melihat kondisi tol Cipali yang diam-diam lancar tapi rawan, saya berhenti di rest area KM 102. Rest area masih dalam pembangunan, debu di sana-sini. Toilet-nya juga masih baru.

km102Kondisi di Rest Area KM 102 Tol Cipali

Saya memeriksa akun Twitter Radio Elshinta, NTMC Lantas Polri, dan Pantau Mudik untuk melihat kondisi jalan. Dilaporkan terjadi antrian parah sampai 15 km menjelang gerbang tol Palimanan. Terkonfirmasi Waze yang saya nyalakan terus, saya keluar di exit tol Sumberjaya, lalu lewat jalur biasa sampai masuk Cirebon. Atas saran pengguna Waze juga, saya masuk kembali ke tol Palimanan – Kanci melalui gerbang tol Plumbon. Selamat dari terjebak kemacetan.

Menginap semalam di rumah mertua, Twitter menginformasikan kalau jalur Pantura sudah sangat padat. Ada kemacetan di tol Palikanci, Kanci Pejagan, dan Pejagan Brebes yang masih konstruksi tapi sudah dibuka sebagai jalur darurat. Jadi saya mengajak istri untuk berangkat lebih pagi. Jadilah kami berangkat jam tiga subuh. Untung Zafran ngga rewel pas dibangunin.

Jam empat pagi kami sampai di Tegal. Kami berhenti untuk sahur dan sholat Subuh di Masjid Ittihad Tegal. Cuaca dingin dan berangin. Khas pantai ya. Jam lima pagi kami melanjutkan perjalanan. Bensin tinggal 1/4 setelah dari Jakarta hampir penuh dan dipakai muter-muter ke rumah kerabat di Cirebon. Saya isi bensin full tank di SPBU Tegal.

tegalDi depan Masjid Ittihad, Tegal

Jam delapan pagi kami sampai di kawasan Alas Roban. Istri saya mengingatkan untuk beristirahat karena sudah tiga jam. Jadi kami berhenti di SPBU di jalur lama Alas Roban. Sudah banyak pemudik yang parkir di sini. Saya tiduran di mushola karena rasanya agak pusing nggliyeng gitu. Banyak yang orang yang menawarkan jasa pijat buat para pemudik. Yang saya butuhkan tidur pak, bukan pijat.

Setengah jam tidur-tidur ayam, badan segar kembali. Kami melanjutkan perjalanan. Masuk tol Krapyak – Banyumanik Semarang alhamdulillah lancar. Langsung bisa ngebut di tol Ungaran – Bawen. Lanjut terus ke Salatiga lalu Boyolali. Sampai sini saya sudah kenal jalurnya karena dulu pernah mengemudi Tulungagung – Boyolali waktu berkunjung ke rumah Mas Dennis yang masih dinas di Boyolali.

Masuk kota Solo jam 12 siang. Kami mencari makan siang untuk Zafran. Jadilah kami ke Pizza Hut di Jl. Slamet Riyadi. Saya juga ditawari berbuka sama istri karena mungkin melihat muka saya yang mulai pucat (dan kurus). Saya merasa masih kuat untuk berpuasa sampai sore. Setelah makan siang, kami sholat Dzuhur jamak-qasar Ashar dan saya numpang tidur sebentar di mushola-nya Pizza Hut.

Sekitar pukul setengah dua kami melanjutkan perjalanan. Wisata kulinernya nanti saja pas arus balik (lha lagi puasa je). Saya memilih jalur Sukoharjo – Wonogiri – Ponorogo karena tidak ingin terjebak kemacetan di jalur Caruban – Ngawi – Madiun. Ternyata jalur Wonogiri – Ponorogo tidak sebagus dulu. Jalannya tetap kecil dan naik turun, ditambah berlubang-lubang di beberapa tempat. Kalau tadi masih excited karena pengalaman baru lewat jalur Pantura, yang ini sudah ingin cepat-cepat sampai rumah.

Jam lima sore masuk kota Ponorogo. Berhenti sebentar saja karena saya ingin melewati bukit Ponorogo – Trenggalek sebelum Maghrib. Gelap kalau lewat situ malam-malam.

Saya berbuka puasa dengan minum air di bukit Ponorogo-Trenggalek itu. Alhamdulillah ternyata kuat mengemudi Cirebon – Tulungagung dalam kondisi berpuasa. Jam tujuh malam akhirnya sampai rumah dan disambut dengan suka cita oleh kakek, nenek, dan pakdenya Zafran. Bagaimana rasanya setelah dua tahun ngga pulang? Luar biasa.

Tentang Apple Music

IMG_3469 (2)

Jika saya pernah bilang secara device, Apple (iPhone) telah ketinggalan melawan Android, inilah hal-hal yang masih sangat sulit disaingi oleh kompetitor-nya: layanannya. Jika anda pernah membandingkan Apple Store dengan Google Play, tentu terasa bedanya. Kurator-kurator Apple rajin sekali membuat kelompok-kelompok aplikasi yang membuat semakin menarik.

Apple Music, saya rasa tingkat inovasinya setara dengan iPod (dengan iTunes). iPod telah mengubah bisnis musik dari jualan album, CD, dan kaset, menjadi jualan lagu ketengan. Lewat digital. iPod juga mengubah cara orang mendengarkan musik. Dari sini muncul masalah baru dimana orang-orang menjadi semakin malas beli CD ke toko musik karena kita cukup download dan copy file MP3-nya saja.

Musisi-musisi berteriak-teriak karena karya mereka semakin luas dibajak dan pemasukan lewat penjualan CD nyaris nol. Toko semacam Disctarra tinggal tunggu waktu tutup kalau mereka tidak mau berubah. KFC jadi jualan CD dengan cara yang “memaksa” pelanggan beli CD yang tidak diinginkan karena paket ayam-nya menempel dengan CD-nya. Kualitas CD-nya pun jelek ternyata, kayak CD bajakan. Trend RBT di ponsel juga sudah tidak populer lagi.

Apple Music menawarkan hal yang baru. Kita bisa menikmati seluruh koleksi musik di dunia ini tanpa harus membelinya. Cukup berlangganan seperti berlangganan majalah atau TV kabel. Kita bisa menikmati musik dengan legal (musisi-musisi bisa mendapatkan penghasilannya lagi).

Daripada mbayar kan tetep saja enak download? Iya sih, tapi ribet. Saya bisa download dari torrent lagu-lagu top hits bulan ini. Setelah didownload, file-file ini perlu dicopy/diimport ke perangkat pemutar musik. Dua tiga bulan setelah itu, file-file itu akan menjadi sampah digital karena sudah bosan. Akhirnya, koleksi musik saya di iPhone hanya itu-itu saja karena malas juga nyari torrent buat didownload.

Dengan Apple Music, begitu ingin mendengarkan lagu, tinggal search, lalu bisa langsung streaming ga perlu download. Kurator-kurator Apple Music juga membuatkan playlist yang disesuaikan dengan minat musik kita sehingga variasi musik yang didengarkan benar-benar sangat luas. Apalagi kalau dibandingkan dengan koleksi lagu offline saya yang ga jauh-jauh dari Lionel Ritchie dan Diana Krall.

Kelemahannya, lagi-lagi, di koneksi internet. Perlu koneksi internet yang cepat agar lagu-lagunya tidak buffering. Internet cepat buat apa? Internet cepat masih mahal pak, hehehe…

Sekarang saya sedang mencoba layanan free trial tiga bulan. Langganannya kalau mau lanjut sekitar 70 ribu per bulan, which is, terlalu mahal buat saya. Tapi Apple ternyata juga menawarkan fitur family share, jadi kita bisa gabung satu account berbagi sampai 6 orang. Kalau ga salah kata teman saya, Ardi, yang mau lanjut langganan sekitar 100 ribuan. 100 ribu dibagi enam orang, setiap orang urunan sekitar 20 ribuan. Boleh juga.

Jadi ternyata begitulah. Inovasi yang saya tunggu-tunggu ternyata bukan di device-nya (inovasi di level device tidak ada yang fenomenal, marketing gimmick semua). Inovasinya ada di level layanan. Apakah ini akan sekali lagi mengubah model bisnis musik dunia? Mari kita amati.

 

Catatan Mudik Tentang Tol Cipali

Tol Cikopo – Palimanan yang baru dibuka sebelum lebaran memang jadi buah bibir. Mulai dari matinya perekonomian di jalur Pantura hingga banyaknya kecelakaan yang terjadi di tol ini. Sayangnya, yang lebih banyak dibahas malah sisi mistik-nya, tentang kuburan yang dipindah, tentang batu yang misterius, dsb. Justru sisi safety-nya jarang atau malah tidak mendapat fokus utama.

Waktu saya mencoba tol ini waktu mudik kemarin, memang bahayanya sangat terasa. Lebih berbahaya daripada tol Purbaleunyi yang naik turun. Banyak faktor yang jika pengemudi tidak waspada dan menerapkan safety driving, bisa berujung celaka. Faktor pertama, tol ini lurus dan mulus. Yang ga niat ngebut aja pasti kaget waktu lihat speedometer. Saya tidak merasa menginjak gas, tapi tiba-tiba saja jarum sudah di 130 km/jam. Cenderung malas buat menurunkan ke kecepatan normal yang aman 80-100 km/jam.

Faktor kedua, karena materialnya kebanyakan dari beton, di siang hari silau. Bikin nglangut, ngelamun, dan akhirnya ngantuk. Faktor ketiga, angin samping yang kencang. Makin kencang mobil, makin kerasa anginnya. Siapapun yang memacu kecepatan mobil di atas kemampuan aerodinamika aslinya dalam ancaman.

Tapi siapa yang peduli dengan safety driving? Siapa yang kenal dengan kemampuan mobilnya? Setiap orang berlagak seperti Fernando Alonso atau Sebastian Vettel. Tidak mengambil jarak aman, minimal 100 meter dari mobil depan (by the way itu space-nya cukup lebar buat dimasuki mobil lain, biasanya orang jarang yang mau kasih space, ga mau disalip) Masya Allah. Avanza atau Xenia dikebut 140 km/jam, zig-zag, mendahului lewat bahu jalan. Saya pernah bawa Xenia om saya di tol Jakarta-Merak, jalan 90 km/jam saja sudah ngeri, nggobik ke kanan ke kiri kalau bermanuver.

Entah saya yang ngga bisa nyetir atau nggak punya nyali, saya tidak tahu.

Belajar iOS Development

Tren dunia IT boleh dikatakan saat ini sedang ada di era mobile. Ini merupakan lanjutan dari era website, setelah menggantikan era desktop. Apa-apa sekarang pakai apps. Setiap orang yang memakai smartphone lebih akrab dengan Apple App Store dan Google Play. Rasanya kalau sebuah layanan hanya tersedia mobile web saja tanpa aplikasi, seperti ada yang kurang dan bikin malas memakai layanan tersebut.

Dunia programming tentu saja mau tidak mau mengikuti tren tersebut. Dari era desktop, waktu itu Visual Basic dan Delphi adalah rajanya. Pada waktu tren aplikasi web, PHP muncul dan meledak menjadi bahasa sejuta umat programmer web. Java meskipun tidak terlalu populer, tetapi memiliki pondasi yang sangat baik sehingga lebih banyak digunakan sebagai aplikasi berskala besar (enterprise). Menariknya, jika aplikasi web “membunuh” aplikasi desktop, website dan mobile saling melengkapi. Aplikasi-aplikasi mobile sangat tergantung terhadap aplikasi web untuk dijadikan backend.

Para kuli IT macam saya mau tidak mau harus selalu belajar supaya bisa mengikuti perkembangan jaman (baca: dapat proyek dan duit). Ketika saat ini membuat web sudah sedemikian gampangnya, tentunya harga pasaran bikin web sudah sewajarnya semakin turun. Dari yang puluhan sampai ratusan juta sampai ratusan ribu saja. Sudah tidak bisa mengandalkan proyek website biasa.

Belajar iOS Programming

Saya cukup susah menemukan sumber belajar yang cocok. Ada banyak sumber tapi tidak ada yang sesuai dengan kondisi saya. Model e-learning class macam Coursera atau iTunes U ternyata juga tidak cocok karena saya tidak terlalu punya banyak waktu luang lagi sekarang. Banyak buku yang terlalu detail, padahal saya sudah ada dasar-dasar programming seperti Java dan PHP.

Akhirnya saya menemukan buku yang cocok, yaitu Learn iOS 8 App Development, terbitan Apress, karangan James Bucanek. Ini sesuai dengan kebutuhan saya. Saya ingin belajar dulu bagaimana seluk beluk membuat aplikasi, langsung praktik dengan XCode di komputer. Saya ingin mengenal antar muka standar iOS yang sering muncul di aplikasi-aplikasi populer macam Twitter, Facebook, Instagram, dkk. Saya belum mau masuk terlalu detail ke konsep bahasa pemrograman Swift-nya, tentang konsep MVC-nya, tentang apa itu variabel optionalunwrapped optional, dll (Swift agak berbeda dengan Java, jadi perlu penyesuaian — lain halnya kalau Android yang sama-sama Java).

Buku ini membahas bagaimana membuat alur layar (storyboard), mengenal lingkungan pengembangan aplikasi XCode, cara menangkap event jika device digoyang-goyang (shake), cara beroperasi dengan multimedia, cara share di media sosial, dsb.

Harapan saya begitu selesai baca buku ini, saya sudah langsung bisa membuat aplikasi. Sudah ada project bantu teman yang menunggu. Juga saya ingin mengembangkan aplikasi yang ada di kantor untuk dijadikan prototipe iOS app untuk dikenalkan ke manajemen. Siapa tahu bisa goal dan minimal jadi dibelikan Mac sama kantor buat pengembangan selanjutnya hehehe…

Auto Feeder

Aquascape kecil saya, ikan-ikannya masih bertahan hidup sampai hari ini. Hanya saja tanamannya saya hilangkan semua karena terserang hama keong. Tiba-tiba muncul keong-keong kecil yang memakan daun-daun tanaman sehingga makin lama rontok dan mati.

Timbul persoalan bagaimana cara kasih makan ikan-ikan itu selama ditinggal mudik? Biasanya kalau ke rumah mertua di Bandung, paling banter tiga hari, si ikan-ikan itu kuat puasa sampai tiga hari.

Akhirnya saya membeli auto feeder Resun AF-2005D dari toko online IndoAquashop.com. Meskipun cara settingnya agak susah, tapi dia bisa bekerja dengan sangat baik. Setiap jam yang telah ditentukan, kompartemennya berputar secara otomatis dan menuangkan pakan ikan ke aquarium.

Urusan ikan beres. Nah sekarang yang saya pikirin, siapa yang menyirami tanaman waktu ditinggal mudik? Mungkin perlu juga bikin auto watering system.

Pengalaman Service MacBook Pro

Seperti yang saya ceritakan di sini, tiba-tiba MacBook saya mati total. Alhamdulillah sekarang sembuh kembali. Sekarang saya ingin cerita pengalaman service MacBook Pro di bengkel-bengkel Apple di Jakarta.

Pertama kali begitu si Mac ini mati, pikiran saya membawanya ke service centre resminya, yaitu iBox. Lokasinya di Ratu Plaza dan di Menteng. Ini kali kedua saya dikecewakan oleh service center ini (pertama kali waktu LCD iPhone isteri saya jatuh dan pecah). Saya mencoba menghubungi nomor-nomor kontaknya, tidak ada yang mengangkat. Kesimpulan: bengkel iBox tidak bisa diharapkan.

Kemudian saya mencoba mencari bengkel lain yang dekat kantor. Ketemu bengkel Warung Mac (Mac Arena) di mal Ambasador. Dari websitenya sih cukup menjanjikan karena teknisinya bersertifikasi. Waktu ke sana, laptop dibuka, dicolek sana-sini. Kemudian si masnya berkata, “Ini biaya pengecekan 3,8 juta, waktu pengecekan seminggu.”

Kaget dong saya, ngecek doang masak bisa jutaan gitu. Iye, saya maklum kalau barang-barang Apple itu kemahalan overpriced, tapi masak sampe segitunya. Saya tanya lagi ke masnya buat memastikan, “Ini ngecek doang mas? Belum sama spare part kalau ada yang rusak?”

“Iya, paling ini IC powernya biasanya minta diganti.”

“Ya udah sini saya bawa lagi kalau gitu”. Dari hasil saya telpon ke beberapa bengkel lain, mereka mengenakan biaya pengecekan cuma 50-100 ribu saja. Sampai sekarang saya tidak tahu pasti apa iya ngeceknya sampai segitu mahal. Saya kadung ilfil. Kesimpulan: Warung Mac mengecewakan.

maclogicboard

Perjalanan saya kemudian berlanjut ke bengkel OPIANS di Roxy Square. Orangnya ramah dan baik, tapi sayang tidak bisa mereparasi karena harus ganti mesin (mother board/logic board). Mereka tidak punya spare part nya. Mereka sudah mencoba mengganti IC powernya dan tidak berhasil. Kalau mau ganti motherboard, harganya USD $700 atau sekitar 9 jutaan. Sudah bisa buat beli laptop Windows baru. Tapi ya buat apa laptop Windows? Saya sudah ada laptop Windows punya kantor. Ini yang saya bikin pupus harapan dan memutuskan untuk belajar Android ketimbang belajar iOS.

Dari OPIANS, saya menyiapkan rencana B. Saya mau beli logic board bekas dari ebay. OPIANS bilang bisa masangin dan biayanya 600 ribuan. Saya mulai searching-searching di eBay dan rata-rata yang jual lokasinya di Amerika. Harganya sekitar USD $320. Jadi kalau ditambah biaya kirim dan pajak, kira-kira saya harus siap 5 jutaan. Uang yang tidak sedikit.

Tapi saya atas saran isteri memutuskan untuk mencari second opinion. Dokter aja kita mintai pendapat dari dokter lain, masak ini engga. Saya menemukan Zapplerepair, bengkel Mac cabang Singapura yang katanya teknisinya langsung dari Foxconn. Saya makin semangat waktu tahu ternyata ada cabangnya di Melawai, cukup dekat dengan kantor. Asli males juga kalau harus ke kantor pusatnya di Jakarta Pusat.

Jadi sabtu sore, hari ketiga puasa, saya bawa Mac ke Zapplerepair. Hari Selasa saya dikontak kalau logic boardnya memang kena, sama seperti pendapat Opians. Tapi mereka bisa mengusahakan spare part karena motherboard saya akan dibawa ke Cina. Saya setuju karena secara budget jauh di bawah jika saya beli dari eBay.

Hari Selasa kemarin saya dikontak Zapplerepair bahwa Mac saya sudah bisa diambil. Penyakitnya sesuai dengan yang diramal Warung Mac: IC Power. Saya dikenakan biaya 2,3 juta. Alhamdulillah, normal kembali, sudah bisa untuk menulis postingan ini. Bersiap buka XCode lagi.

macisback

Berkah Ramadhan.