Mudik 2016: Persiapan

Tahun ini kami akan mudik dengan road trip pakai mobil pribadi lagi. Saya menulis ini di meja kantor dengan pikiran yang sudah melayang di jalanan. Mencoba menebak pola pikir para pemudik kapan waktu yang tepat untuk berangkat dari rumah. Pekerjaan sehari-hari sulit sekali rasanya buat dilirik, hehehe…

Tahun ini kami lebih nekat dengan memilih hari yang diprediksi puncak arus mudik. Hari Senin sudah libur cuti bersama jadi diperkirakan puncak arus mudik akan ada di hari ini, Sabtu, dan Minggu. Kami akan berangkat nanti malam, insya Allah. Jadi sepertinya tidak ada hal yang bisa dilakukan kecuali pasrah dan berdoa bertawakkal. Kami pernah terjebak macet parah di tol Cikampek waktu libur akhir tahun kemarin. Berangkat dari Jakarta jam setengah delapan malam, sampai Bandung jam empat pagi. Berharap perjalanan mudik kali ini tidak separah itu.

Mobil sudah disiapkan baik-baik. Ganti oli sudah. Pakai oli standar Honda Matic synthetic yang encer. Dua minggu lalu sudah ke bengkel AC. Bengkel AC langganan, Dwi Guna, sudah tutup waktu saya ke sana jam tiga sore. Jadinya ke sebelahnya ke bengkel Jaya AC di Haji Nawi, Fatmawati. Filter udara AC dan spuyer AC diganti. Sekarang jadi dingin banget AC mobilnya.

Satu suku cadang yang tidak biasa yang diganti adalah karet wiper depan. Tahun ini sepertinya musim kemaraunya kemarau basah karena bulan Juli hujan masih deras saja. Kebetulan karet wipernya belum pernah ganti dan sudah tidak nyaman karena sapuannya tidak terlalu bersih. Ternyata memang karetnya sudah kaku dan perlu diganti. Saya gantinya di kompleks onderdil Duta Mas Fatmawati, 200 ribuan satu set.

Terakhir, saya ganti udara ban jadi nitrogen setelah baca-baca nitrogen lebih baik untuk ban daripada udara biasa. Saya juga sudah melihat hampir semua SPBU Pertamina menyediakan pengisian nitrogen ini. Tarifnya 10 ribu per ban. Terus kepala pentilnya diganti dari warna hitam ke warna hijau mencolok. Hmm… kode warna nitrogen emang hijau ya?

Rute mudik rencananya sama dengan tahun kemarin. Tol JORR, masuk tol Cikampek melalui simpang susun Cikunir (kalau macet plan B nya exit Kali Malang lalu putar balik masuk lagi ke Cikunir lewat sisi yang lain). Dari tol Cikampek masuk ke Cipali. Jelang Palimanan kalau gerbang Palimanan macet parah saya akan keluar di Sumberjaya, masuk lagi ke gerbang tol Plumbon masuk lagi tol Palikanci. Sampai di sini exit Ciperna buat pitstop dulu di rumah mertua di Cirebon.

Saya sepertinya tidak akan masuk ke tol Pejagan kalau lihat tahun ini yang sedang naik daun adalah Brexit (Brebes Timur Exit). Rencananya akan menyusuri jalur Pantura, Cirebon – Losari – Brebes – Tegal – Pemalang – Pekalongan sampai Semarang. Masuk tol Krapyak – Jatingaleh, turun ke bawah ke arah Salatiga lewat Bawen. Setelah itu Boyolali – Solo – Sukoharjo – Wonogiri – Ponorogo – Trenggalek hingga akhirnya Tulungagung.

Mohon doanya teman-teman pembaca semua agar dilancarkan perjalanan mudik kami selamat sampai tujuan. Hatur nuhun.

Midnight Sale, Bukber, Persiapan Mudik, dan Sepuluh Malam Terakhir

Hari Jumat lalu saya ikut shalat Jumat di Masjid di lingkungan Rumah Sakit Pusat Pertamina. Khatib berpesan (kurang lebih) bahwa telah terjadi gerakan sistematis dan terstruktur para kapitalis dan liberalis untuk mengaburkan umat Islam dengan cara memberinya iming-iming diskon tengah malam dan kegiatan-kegiatan yang membuat umat Islam semakin lupa dengan Ramadhan. Padahal di sana ada sepuluh malam terakhir yang paling utama, salah satunya ada malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.

Pernyataan khatib tersebut valid karena memang begitulah kenyataannya. Tetapi saya mau kritik sisi pemikiran konspiratifnya bahwa semua ini telah dirancang untuk mengerdilkan Islam.

Ramadhan dan Idul Fitri di Indonesia saat ini tidak hanya menjadi ritual milik umat Islam, tetapi telah menjadi tradisi nasional. Ritual mudik hanya ada di Indonesia dan yang mudik bukan hanya umat Islam saja, tetapi semua kaum urban yang merayakan tradisi pulang kampung bersama-sama. Demikian pula tradisi buka bersama. Kata “buka bersama” ini tidak hanya dilakukan oleh yang berpuasa saja, tapi juga umat agama lain. Saya punya teman-teman non muslim yang acara “Safari Ramadhan”-nya jauh lebih sibuk dari saya. Setiap hari nyaris selalu ada agenda “buka puasa bersama”.

Tentang diskon dan midnight sale, saya rasa itu hanya insting pebisnis yang mengendus potensi pasar. Seperti ikan hiu yang bisa mengendus darah dari jarak jauh. Kenapa harus tengah malam? Karena orang puasa di siang hari sehingga malas keluar, malam hari adalah saat yang tepat untuk mendatangkan mereka. Dan kenapa harus sepuluh hari terakhir? Simpel sebenarnya, karena mayoritas orang sudah gajian dan dapat THR. Awal-awal Ramadhan orang belum pegang uang.

Jadi menurut saya sama sekali tidak ada konspirasi wahyudi di sini. Yaa kalau berpikirnya sudah konspirasi, konspirasi apa saja bisa dihubung-hubungkan sih.

Dan justru di sinilah masalahnya. Inilah tantangan bagi para pendakwah dan ulama. Daripada sibuk berdebat, menyalahkan konspirasi wahyudi, kapitalis, liberalis, menyalahkan pendapat yang berbeda (sholat tarawih 8 rakaat atau 20 rakaat?), menyerang pihak yang menyuruh menghormati orang yang tidak puasa — bagaimana cara mengedukasi umat yang sudah memiliki tradisi/kebudayaan yang kuat ini? Atau setidaknya, bagaimana cara membagi waktu dan mengakali jadwal yang semakin padat tanpa mengurangi intensitas ibadah.

Saya memakai istilah “mengakali” karena tidak mau terjebak untuk men-judge yang ikut midnight sale, bukber, mudik, dan segudang acara lain lebih buruk daripada yang tetap tekun dan istiqomah beribadah. Belum tentu kan? Kita tidak tahu masing-masing orang. Dan kita suka melabeli dan menuduh hanya dari luarnya saja.

Entahlah. Wallahu a’lam.

Ikhlas, Antara Makna Literal dan Sufistik

Saya kemarin baca status di Facebook yang kurang lebih begini, “Ikhlas adalah tanpa mengharapkan apa-apa. Termasuk mengharap pahala.” Benarkah mengharap pahala itu jadi tidak ikhlas? Saya jadi ingat kalimat sufi yang jadi sangat populer setelah dibikin lagu oleh Ahmad Dhani, “Jika surga dan neraka tak pernah ada, masih kah kau sujud kepada-Nya?”

Menurut saya, kalimat-kalimat sufistik seperti ini benar tapi bukan untuk konsumsi umum karena memerlukan perenungan yang mendalam. Sama halnya dengan liberalis yang menyatakan bahwa semua agama itu sama. Perlu perenungan untuk memahami bahwa kalimat itu tidak sama dengan sinkretisme. Cuma kalau itu dimakan mentah-mentah sama awam seperti saya, ya bahaya, bisa luntur keimanan saya dan malah menjurus ke sinkretisme (saya otaknya masih ga sampai memahami pernyataan liberalis ini). Sinkretisme, menurut Wikipedia, adalah proses perpaduan dari beberapa paham-paham atau aliran-aliran agama atau kepercayaan.

Kembali ke kalimat ikhlas yang sufistik tadi. Kalau bahasannya adalah sufi, makrifat, itu adalah ikhlas yang levelnya tingkat dewa. Saya pernah baca, lupa bacaan yang mana, tapi merujuknya ke kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Athailah. Kira-kira begini: pahala bukanlah tujuan orang yang ingin mengenal Allah (makrifatullah). Bahkan surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai pun tak ingin. Tujuan utamanya adalah Allah sendiri. Kalau dikasih pahala, kalau bisa biarlah pahala itu disumbangkan saja ke yang memerlukan. Gitu, hehe…

Konsep ini saya rasa malah “berbahaya” untuk beberapa pihak. Salah-salah malah bikin sesat, sombong, dan penyakit hati lainnya. Seperti konsep manunggaling kawula lan gusti ajaran Syekh Siti Jenar. Ajaran makrifatullah yang sangat dalam tapi kalau salah menjadi melenceng bisa membuat orang merasa jadi Tuhan (karena kan merasa sudah bersatu?).

Saya tidak menganggap bahwa ilmu sufi/makrifat itu berbahaya. Ilmu makrifat banyak sekali mengajarkan tentang kedekatan hubungan manusia dan Tuhannya, tentang kelembutan akal budi. Ilmu makrifat melengkapi ilmu syariat yang makin hari saya merasa makin terasa kaku dan cenderung menyalahkan pihak yang berbeda. Ada orang yang merasa lebih cocok melalui jalan makrifat, ada yang lebih cocok dengan jalan syariat. Seperti ayat yang kita baca setiap hari, Ihdinasshiratal mustaqim. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Jika ada yang tak kunjung menemukan pencerahan di jalan syariat, mungkin akan menemukan cahaya di jalan makrifat.

Saya ada di mana? Lha tidak tahu. Ibadah saja belum sekenceng teman-teman yang bersemangat menempuh jalan syariat. Disebut makrifat juga baru dzikir 33 kali saja pikiran sudah melayang kemana-mana, hehehe… Idealnya tentu syariat yang bermakrifat. Joss tenan.

Jadi dalam konteks umum, saya rasa, berharap pahala itu masih termasuk ikhlas kok. Malah ada dalilnya bahwa berlomba-lombalah dalam mencari pahala. Pahala itu salah satu motivasi yang diberikan oleh Allah kepada makhluk-Nya. Sedemikian Maha Pemurah nya sampai di bulan Ramadhan ini ada yang dilipatgandakan sampai 700 kali (lha abis itu ada yang ngitung pakai kalkulator jika sedekah Rp. 1000 berarti akan dapat balikan senilai Rp. 700.000).

Menjadi tidak ikhlas jika berharap sesuatu dari makhluk, bukan Allah. Misalnya, berharap dipuji, berharap dianggap baik, dianggap berilmu, pinter, kaya, ganteng, beranggapan lebih baik, lebih khusyuk, lebih tinggi dari orang lain dan hal-hal duniawi begitu. Berharap cintamu diterima gebetan sehingga dijadikan pacar juga termasuk tidak ikhlas lho mblo, kwkwkw…

Entahlah. Wallahua’lam.

1 TB Flickr, Tidak Ada yang Tahu?

Saya dulu pengguna setia Flickr, bahkan menjadi pelanggan premium yang bayar setiap tahun. Saya berhenti langganan ketika Flickr mengubah skema premiumnya dan saya melihat menjadi pelanggan biasa sudah lebih dari cukup dengan aturan baru ini. Flickr menawarkan storage sebesar 1 TB untuk semua penggunanya, baik yang biasa maupun yang berbayar.

Wait, 1 TB? Satu tera byte? 1000 GB? Rasanya saya susah membayangkan angka itu sehingga saya mengabaikannya dan baru menyadari kalau angka itu luar biasa besar. Tidak akan habis jika saya pakai untuk berboros-boros menyimpan semua koleksi foto saya di hardisk (yang kebanyakan sampah digital). Maksimal 100 GB paling, dan itu cuma 10% dari yang dikasih Flickr.

Tapi kenapa sepertinya ga banyak orang yang tahu ya? Saya juga tidak serta merta langsung memindahkan foto saya ke Flickr.

Mungkin karena cara orang berbagi sudah berubah. Orang sekarang lebih suka pakai Instagram, Path, Snapchat, Steller, Line, dan segudang layanan lain. Dan tentu saja jangan lupakan sang raja media sosial Facebook dan Twitter untuk berbagi foto. Mungkin juga itu yang membuat minat fotografi saya menurun. Fotografi, nowadays, sudah menjadi bagian dari social media life. Jadi bukan hobi yang spesifik seperti dulu yang setara dengan filateli atau memancing. Semakin mudah dan instan membuat foto dan meng-upload ke media sosial. Bukan jamannya lagi membawa-bawa kamera semi pro yang berat, yang setelah itu masih harus melalui proses editing. Sudah lewat momentumnya.

Kembali ke Flickr, mungkin Flickr masih menjadi tempat utama para fotografer profesional, saya tidak tahu. Yang jelas tidak ada kawan-kawan dalam circle saya yang pakai Flickr. Saya sekarang juga pakai Instagram. Belum tahu itu storage 1 TB di Flickr mau dipakai apa.

Capture

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1437H buat teman-teman sidang pembaca yang muslim. Mari menjalankan ibadah tidak hanya ritual lahiriahnya saja, tapi mencoba memasukkannya ke dalam sanubari jiwa.

Misalnya, ingin buka puasa tepat waktu, ingin sholat Maghrib berjamaah di masjid di rumah, tapi pulangnya main serobot sana sini, masuk jalur busway, melanggar lampu merah.

Itu saja dulu.

Nuwun.

Hadir Seutuhnya

Hari Minggu kemarin adalah hari keluarga. Setelah kehilangan beberapa weekend karena saya harus lembur di kantor dan mengajar pelatihan iOS Development di Fasilkom UI, kemarin saya menemani Zafran mencoba bermain di Chipmunks, Kota Kasablanka.

Awalnya si Zafran takut-takut untuk mencoba wahana permainan petualangan yang beberapa mengandung unsur ketinggian. Tapi saya dorong dia dan menemaninya naik tangga sampai lantai tiga. Setelah itu dia ketagihan dan berulang-ulang naik perosotan sampai sore. Bapaknya yang akhirnya ngos-ngosan mengejar-ngejar. Sampai tak berasa sampai ada lebam di kakinya. Tampaknya sempat kebentur apa gitu. Tapi dia tidak menangis dan malah ketawa-tawa.

One of our best time.

Saya sempat melihat anak-anak lain bermain. Banyak yang bermain sambil ditemani mba pengasuhnya. Ada yang pengasuhnya dua (pakai seragam yang sama). Lha saya jadi bertanya-tanya, kemana orang tuanya? Ada beberapa yang duduk-duduk di ruang tunggu sambil menyeruput Frappucino. Sudah bayar mahal, yang dapat bonding-nya embaknya lagi. Kita ini weekdays sudah tidak bisa ketemu dengan anak, kok weekend masih dikasih ke pengasuhnya, kapan anak bisa akrab dengan ayah bundanya dong?

Saya lupa mulai kapan, saya tidak mengajak mbak pengasuhnya Zafran kalau keluar weekend. Cukup bertiga saja. Pasalnya, saya sering tidak kebagian gendong. Akhirnya saya main gadget sendiri. Saya kadang-kadang sampai dicap pelit karena tidak mau mengajak pengasuh keluar. Bahkan ada yang mengkritik buat apa mahal-mahal bayar pengasuh kalau harus menggendong sendiri. Alasannya, saya tidak ingin Zafran lebih akrab ke pengasuh daripada ke ayah bundanya sendiri. Capeknya dobel memang, karena pulangnya masih harus menyetir mobil. Tapi puas.

Ada lagi anak yang bermain ditemani orang tuanya. Tapi orang tuanya lebih sering melihat ke gadgetnya. Mereka hanya hadir separuh, fisiknya saja, tapi pikirannya tidak di sana. I have to do better than them.

Saya melihat dan mengamati untuk belajar. Saya adalah orang yang kecanduan gadget parah. Sangat sering istri saya mengingatkan kalau saya tidak hadir seutuhnya untuk Zafran. Pengalaman melihat begini membuat saya introspeksi. Kebetulan kemarin HP saya batreinya habis. Saya tidak suka bawa-bawa power bank. Ketika tidak ada gadget, ternyata saya bisa menghadirkan diri sepenuhnya untuk Zafran. Tertawa bersama-sama. Mungkin nanti, sebaiknya memang tidak usah ada gadget.

2016-05-23_08-33-47_26908366450_o

#AADC2

Dian Sastro adalah first crush kebanyakan cowok-cowok ABG waktu #AADC1 keluar. Definisi wanita cantik itu ya Dian Sastro. Berapa banyak yang patah hati ketika Dian Sastro menikah? Nicholas Saputra juga, sangat digila-gilai oleh semua cewek pada masa itu. Jadi, film #AADC2 tidak hanya tentang reuni Cinta dan Rangga tetapi membangkitkan kenangan lama semua fans Dian Sastro dan Nicholas Saputra.

Saya dari bangku kedua paling bawah bioskop XXI Trans Studio Mall Bandung menikmati itu semua. Saya kebetulan tidak punya kenangan romantis khusus waktu #AADC1, tapi buat yang punya, pasti efeknya jadi dobel.

Saya menikmati betapa kuatnya chemistry antara Cinta dan Rangga. Pemain watak semua. Tidak ada kesan mereka berdua sedang berakting. Saya seperti benar-benar melihat dua orang yang memendam perasaan yang belum selesai selama bertahun-tahun, dan dengan kesempatan yang singkat itu mereka ingin menyelesaikan semuanya. Melihat senyum Dian Sastro yang charming, tetap amat sangat super duper cantik. Brrrr. What a woman! MILF! Pertemanan Sehat! Jangan sampai kendor!

Majalah Rolling Stone Indonesia memberikan kritik bahwa tidak ada dasar yang kuat untuk melanjutkan cerita Cinta dan Rangga karena tidak realistis. Saya setuju, tapi mungkin karena memang film ini dibuat untuk tidak realistis! Bagaimana bisa Cinta yang tinggal di Jakarta, Rangga di New York, bertemu tak sengaja di Yogyakarta! Probabilitasnya hanya 0,000000009283728%.

Film ini dibuat untuk membangkitkan kenangan lama, reuni Cinta dan Rangga dalam kondisi yang sudah dewasa yang tumbuh bersama fans-nya. Saya tidak butuh cerita realistis. Saya butuh Dian Sastro beradu akting lagi dengan Nicholas Saputra untuk menyelesaikan kisah lama mereka. Antusiasme itu jelas terlihat waktu iklan Line yang viral. Sayang jika tidak dimanfaatkan.

Jadi satu-satunya kekuatan film ini adalah kekuatan chemistry antara Cinta dan Rangga ditambah dukungan Geng Cinta. Itu sudah lebih dari cukup. Mungkin tidak ada yang bisa melakukannya kecuali Dian Sastro dan Nicholas Saputra. Tidak juga mereka di film yang lain. Terima kasih telah menghidupkan kembali dua tokoh yang telah menjadi bagian buku sejarah semua anak-anak 90-an. Dan ga usah ada sekuel-nya. Cerita mereka sudah selesai di #AADC2.