Sekolah Usia Dini

Posted by: on Feb 1, 2016 | 4 Comments

Saya sedikit mengerutkan kening waktu melihat postingan seorang rekan di Path. Beliau memposting foto daftar nama anak yang lulus ujian masuk Taman Kanak-Kanak. Di situ tertera jelas mana yang lulus, mana yang jadi cadangan, mana yang tidak lulus lengkap dengan nilai yang diperoleh. Alhamdulillah, anak beliau lulus. Di lain waktu yang berdekatan, ada ibu yang lain yang memposting kalau anaknya yang berumur tiga tahun akan ujian les yang sedang diikuti. Ibunya sedang deg-deg-an menyadari kalau itu ujian pertama anaknya.

Wait… ujian?

Anak sekecil itu sudah harus merasakan beratnya berkompetisi cara orang dewasa. Saya berpikir apa perasaan si anak yang tidak lulus TK? Bahwa dia sudah mengecewakan orang tuanya? Atau lebih parahnya, menganggap diri sendiri lebih bodoh dari anak-anak lain? Bagaimana cara orang tuanya menyikapi ketidaklulusan itu? Bagaimana cara mereparasi luka si anak? Atau lebih parahnya, boleh jadi orang tua malah memarahi anaknya habis-habisan, bikin malu, mau ditaruh di mana muka ibu kalau bertemu teman-teman arisan?

Sedihnya.

Melihat fakta lapangan begini, kami jadi galau. Berat sekali tantangan orang tua jaman sekarang. Apa ada TK atau bahkan playgroup yang murni bermain saja tanpa kurikulum? Jangan-jangan masuk TK saja sudah harus bisa baca tulis hitung? Sekarang saja, ada saja saudara yang membanggakan kalau anak/keponakan/cucunya yang sepantaran Zafran sudah bisa berhitung satu dua tiga begitu. Sementara si Zafran masih cerewet dengan bahasa buatannya sendiri. Anak bayi yang sudah harus dikompetisikan di antara sanak keluarga.

Buat kami, dunia anak adalah dunia bermain. Namanya bermain ya bermain saja tanpa aturan. Tidak ada itu namanya permainan edukasi. Apalagi kurikulum. Anak-anak belajar dari kekacauan bermain itu. Kekacauan yang tidak dimengerti oleh orang tua yang cenderung memaksakan edukasi dan kurikulum.

Di lain pihak, si Zafran tetap butuh sekolah usia dini. Dia perlu bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Di rumah ia terlalu kesepian karena di kompleks perumahan orang kantoran semua. Tapi apa ada sekolah usia dini yang murni bermain? Kami galau jika harus memaksa Zafran masuk sistem yang sudah ada dan ikut berkompetisi.

Mungkin terpaksa begitu. Jika iya, tugas kami yang menjaga dia untuk tidak hanyut dalam kompetisi ala ala kota metropolitan. Dia harus mendapatkan masa kecilnya 100%.

Best Time

Posted by: on Jan 22, 2016 | 3 Comments

Sore kemarin, saya bersiap-siap berbuka puasa. Seperti biasa saya lebih suka makan di lantai sambil membaca buku (saya lagi membaca Twivortiare-nya Ika Natassa). Seperti biasa Zafran bermain berlari-lari ke sana ke mari.

Tiba-tiba Zafran duduk di paha saya lalu merebut sendok lalu menyendok isi piring. Tentu saja berantakan. Si mbak-nya melarang dan mencoba mengalihkan perhatiannya. Saya bilang nggak apa-apa biarin aja.

Hal yang tidak terduga adalah dia lalu menyuapi saya sambil senyum-senyum. Pas nasinya mau jatuh, saya refleks berseru, “Aduh aduh!” Eh lha dia malah ketawa terpingkal-pingkal. Jadi seru sekali karena menyendoknya semakin berantakan karena sambil ketawa dan pas saya bilang, “Aduh aduh!” ia tambah terpingkal-pingkal. Sampai bundanya yang lagi sholat tidak konsen dan bergegas mencari tahu.

One of my best time.

Dalam seminggu kami tidak punya terlalu banyak waktu buat bermain bersama. Saya sendiri seringnya sibuk sendiri dengan gadget. Sudah kecanduan parah. Tapi kejadian-kejadian begini yang membuat saya harus segera mengobati kecanduan gadget ini. Di rumah adalah waktu bersama keluarga. Bukan waktu buat ngeblog, ngetwit, atau ngoding.

Tentang Laravel Framework

Posted by: on Jan 18, 2016 | No Comments

Masih soal main-main framework PHP yang enak dan cepat untuk membuat aplikasi. Setelah menulis Yii Framework, ternyata saya kecewa karena tidak semudah yang saya bayangkan. Ada sesuatu yang membuat pengalaman coding menjadi tidak menyenangkan. Adanya CRUD generator tidak serta merta membuat proses coding lebih cepat tapi malah bisa mbulet karena tidak semua entitas perlu operasi Create Update dan Delete.

Saya ingin mencari framework seperti Maximo 7.5. Definisikan data modelnya, desain user interfacenya, buat workflow-nya. Selesai. Nyaris tidak memerlukan coding manual dan semuanya dilakukan di screen konfigurasi. Tentu saja Maximo adalah aplikasi besar rumit dan mahal. Tapi paling tidak saya ingin mencari yang mendekati itu.

Hampir setahun setelah itu — hehe sepertinya mulai terpola, bulan-bulan santai ada di awal tahun — saya utak-atik framework lagi. Saya cukup terkejut ternyata framework PHP yang saat ini paling populer adalah Laravel. CodeIgniter tampaknya hanya populer di Indonesia (dan sedang menurun sepertinya — Mario Teguh di statusnya sedang mencari programmer yang bisa Laravel, bukan CI). Waktu menulis Yii Framework itu, saya juga menemukan Laravel, tapi kesan saya waktu itu Laravel minim dokumentasi dan memerlukan waktu cukup lama untuk mempelajarinya.

Berbekal review website tadi itu, saya memutuskan untuk mempelajari Laravel. Ada dokumentasi tertulis yang agak-tidak-jelas tapi lumayan untuk diikuti. Saya membacanya sambil menghitung seberapa cepat saya bisa memakainya. Ternyata di Laravel ada website Laracasts yang berisi video-video tutorial. Sebagian besar tidak gratis. Jadi karena itulah kenapa dokumentasi tertulisnya tidak terlalu mendetail. Baiklah.

Setelah mengikuti beberapa video tutorial versi gratisnya, saya mulai memahami Laravel. Dan benar, sepertinya ini sesuai dengan yang saya cari. Untuk membuat operasi CRUD, hanya diperlukan beberapa konfigurasi. Generator-nya yang disebut artisan juga menyenangkan. Fitur-fitur seperti validasi, email, database, sudah tersedia out of the box.

Di sini saya juga belajar Bootstrap, framework CSS yang rupanya telah menjadi semacam standar tampilan web masa kini. Membuat tampilan yang indah sekarang ternyata mudah. Tinggal pakai CSS yang sudah disediakan oleh Bootstrap. Tidak perlu pusing mengatur layout tampilan dan ketidak-konsisten-an Internet Explorer yang legendaris itu :mrgreen: .

Screen di bawah ini saya buat hanya dalam waktu sejam dengan Laravel dan Bootstrap. Menyenangkan sekali hehe…

Capture

FAQ:

Kok belajar mlulu to mas? Ini satu-satunya cara saya untuk tetap update dengan perkembangan programming di luar sana. Di kantor, kerjaan saya sangat spesifik dan sudah tidak menulis kode pogram lagi. Saya merasa sangat ketinggalan pas tahu ada Bootstrap ini.

Kok ndak fokus to mas? Ya PHP, ya Java, ya iOS? Hehehe… kalau ini memang kelemahan saya. Saudara sepupu isteri saya yang psikolog pernah menembak sasaran dengan tepat ketika meng-assess saya sambil lalu. Ga bisa fokus.

Mencoba Operation System Media Center (OSMC) di Raspberry Pi

Posted by: on Jan 2, 2016 | 4 Comments

Jika teman-teman di rumah punya TV dan koneksi internet broadband, sayang sekali kalau tidak memanfaatkannya menjadi media center. Media center adalah tempat untuk memutar multimedia seperti film, musik, atau streaming dari Youtube langsung di TV. Seperti paket home theater dengan tambahan keistimewaan berupa konektivitas ke internet.

Solusi komersilnya saat ini adalah smart TV, TV yang bisa koneksi ke internet. Ada juga Apple TV sebagai tambahan perangkat. Seperti yang sering saya tulis di sini, jika sudah ada TV, tidak perlu beli smart TV, karena Raspberry Pi bisa mengubah TV kita menjadi smart TV, bahkan TV tabung tua sekalipun.

Teman saya ada yang bertanya, apa bedanya dengan USB berisi film dicolokin ke USB-nya TV? Ya sama saja sebetulnya. Ini juga sama dengan nonton film di notebook. Tapi namanya media center, kegiatan menonton film ini jadi praktis karena tidak perlu repot menyalakan laptop, atau copy dulu filenya ke USB disk. Langsung pencet-pencet pakai remote TV saja.

Beberapa waktu ini saya cukup puas dengan kinerja RaspBMC, sistem operasi Linux yang saya pakai untuk Raspberry Pi. Bahkan seperti sudah menjadi satu dengan TV karena dipakai untuk nonton Youtube channel Masha and the Bear dan Chu Chu TV kesukaan si Zafran. Kalau sekarang solusi komersilnya adalah TV on demand seperti IndiHome dan FirstMedia X1.

RaspBMC ternyata sudah discontinued tidak didukung lagi oleh pembuatnya. Si pembuat berpindah ke project baru yang lebih komersil bernama OSMC. Karena itu kemarin saya mencoba upgrade dan menginstall OSMC.

Ternyata OSMC lebih bagus daripada generasi pendahulunya. Tampilannya yang lebih bersih dan #kekinian. Dan fitur yang paling saya suka adalah adanya BitTorrent client yang sudah terinstall dan bisa diakses dari web. Jadi bisa download langsung film-film *bajakan*. Selama ini saya pakai rtorrent yang berbasis command line. Jadi harus akses console dulu lalu ketik-ketik perintah. Sangat IT banget lah pokoknya. Kalau ini orang awam bisa juga pakai. Malamnya didownload, besoknya bisa langsung ditonton.

Capture

Capture

Kira-kira begitu. Silakan ke web OSMC buat download dan instalasi image-nya ya.

Cara Mengetahui IP Address Raspberry Pi

Posted by: on Dec 31, 2015 | 4 Comments

Raspberry Pi, komputer kecil luar biasa itu, saya gunakan untuk server kecil-kecil. Jadi setelah tersetup, dia jarang disambungkan ke monitor dan keyboard.

Tadi pagi, Raspberry Pi saya bawa ke kantor dan saya sambungkan ke network kantor. Masalah timbul, bagaimana mengetahui alamat IP-nya? Kalau tidak tahu alamatnya, percum tak bergun.

IMG_3972

Dari hasil Googling, saya menemukan cara dengan menggunakan perintah nmap:

nmap -n -sP -PE [blok range ip]

Idenya adalah mendeteksi dari satu subnet network, IP mana saja yang up. Sebelum Raspberry Pi dicolokkan ke network, saya jalankan perintah di atas dan di-dump ke file teks. Setelah itu, Raspberry Pi dicolokkan ke network dan tunggu sebentar sampai dia mendapatkan IP address dari DHCP server. Setelah itu jalankan perintah yang sama dan di-dump lagi ke file teks kedua. Lalu kedua file itu dibandingkan. Pasti ada satu IP yang muncu. Dan itulah IP Raspberry Pi. Membandingkannya pakai perintah:

diff ip1.txt ip2.txt

Kira-kira begitu. Untuk pengingat saya pribadi saja ini.

Saya jadi kepikiran, kalau kotak Raspberry Pi ini berisi alat-alat untuk hacking, betapa mudah menyelundupkannya ke sebuah jaringan korporasi, lalu scanning ke semua komputer dan menemukan berbagai macam kelemahan yang bisa dibobol. Wew…

Pinterest

Posted by: on Dec 23, 2015 | 2 Comments

Sebut saya ketinggalan jaman, tapi sekarang saya lagi suka Pinterest. Di jaman ketika informasi terlalu berlimpah, sangat penting untuk memilih informasi yang benar-benar berkualitas. Pinterest itu seperti Intisari, atau seperti kliping. Sudah dikategorisasi berdasarkan minat pembaca.

Sebelumnya, saya pakai Feedly untuk koleksi feed dari teman-teman Blogger. Dulu saya merasa cukup dengan hanya membaca update-an dari para blogger. Tapi ketika tren sesaat ini sudah berlalu, Feedly jadi terlalu sepi.

Saya kemudian menggunakan Twitter untuk update berita dengan cara mem-follow seleb-seleb Twit. Siapa sekarang yang masih pakai Twitter buat nyampah? Saya tidak merasa perlu untuk follow akun-akun berita karena jadinya terlalu banyak informasi yang datang. Dengan follow para selebtwit, informasi itu sudah tersaring. Netizen. Istilah yang sering dicibir para selebtwit, padahal merekalah netizen itu.

Hal yang sama dengan Pinterest ini. Saya lagi suka browsing Pinterest dengan topik berkebun dan furnitur. Sesuatu yang ingin saya lakukan sebagai hobi tapi sayang waktunya masih belum ada.

Alat-Alat untuk Membuat Aplikasi iOS

Posted by: on Dec 13, 2015 | 3 Comments

Apa saja yang diperlukan untuk membuat sebuah aplikasi iOS? Saya belajar banyak dari teman-teman yang mengajak saya terlibat dalam proyek mereka. Jadi saya banyak-banyak berterima kasih karena ada banyak sekali yang bisa dipelajari dari proyek itu.

Saya mencatat ada beberapa tools yang digunakan:

  1. Mac dan XCode.
    Tentu saja. Inilah entry barrier terbesar para programmer untuk masuk ke dalam lingkungan pengembangan Apple. Swift memang baru saja dibuat open source oleh Apple, tapi pustaka-pustaka standar-nya tidak. Jadi saya pikir masih perlu waktu dua sampai tiga tahun lagi untuk bisa melihat ada lingkungan pengembangan untuk iOS hadir di non Mac.
  2. Cocoapods.
    Ini adalah situs kumpulan pustaka-pustaka tambahan di luar pustaka standar iOS. Tidak perlu membuat dari awal, istilahnya don’t reinvent the wheel. Misalnya ingin membuat menu geser, kita tinggal cari di Cocoapods, install, lalu pakai.
  3. Gitlab.
    Gitlab adalah situs manajemen dan kolaborasi source code pengembangan. Di kantor, kami masih memakai CVS dan SVN untuk kolaborasi. Jadi penggunaan Gitlab ini masih baru buat saya. Banyak fitur Gitlab yang bermanfaat yang tidak dimiliki oleh CVS. Jadi mungkin ke depan saya akan terapkan ini di tim saya di kantor.
  4. DeployGate
    Ini situs untuk pengetesan. Paket binary dari aplikasi iOS dibundel dalam satu file *.ipa. Apple mengharuskan setiap device yang melakukan pengetesan dicatat dan didaftarkan dalam sebuah sertifikat. Jadi tidak semua device bisa menjalankan ini. Situs DeployGate ini memudahkan proses pengetesan ini.
  5. OneSignal
    Untuk masalah push notification, karena satu proyek biasanya harus mengerjakan di minimal dua platform (iOS dan Android), menulis prosedur satu per satu tentu tidak praktis. Situs ini menyediakan layanan push service untuk semua platform.
  6. Macincloud.com
    Macbook Pro saya masuk bengkel lagi pada waktu proyek masih berjalan. Saya rasa Mac saya tidak akan pernah kembali ke kondisi semua setelah logic board nya kena. Kalau dapat proyek iOS lagi, mungkin mendingan saya beli baru dan Mac yang ini saya jual.
    Jadi saya menyewa Mac dari Macincloud.com untuk meneruskan proyek ini. Yang diperlukan hanya koneksi internet yang cukup (tidak perlu kencang, tapi cukup). Saya mendapatkan Mac Mini yang lebih kencang daripada MacBook saya. Saya jadi berpikir mungkin lebih menguntungkan sewa begini daripada beli Mac baru.

Apa lagi ya? Sementara itu dulu. Monggo kalau mau menambahkan.