Membeli Saham, Transaksi Fiktif?

Posted by: on Jan 27, 2012 | One Comment

Banyak orang yang masih menganggap pasar modal itu adalah transaksi keuangan fiktif yang menjurus pada money game. Barang yang diperjualbelikan tidak ada dan hanya bermain spekulasi pada gejolak indeks dan harga saham. Semua teman saya akan mudah mengerti investasi logam mulia, dengan alasan barang fisiknya ada, nyata, bisa digenggam. Dan semua memicingkan mata ketika saya ajak untuk investasi di saham, dengan alasan barang fisiknya tidak ada. Apa iya?

Saham adalah bukti kepemilikan sebuah perusahaan. Salah satu cara perusahaan mendapatkan modal adalah menjual kepemilikan dalam bentuk lembar-lembar saham. Uang yang secara nyata masuk ke perusahaan adalah saat penawaran harga saham perdana (IPO – Initial Public Offering). Kemudian, bukti kepemilikan ini bisa diperjualbelikan di pasar sekunder dengan harga mengikuti mekanisme pasar. Bisa jadi lebih tinggi atau lebih rendah dari harga penawaran perdana. Nah, gejolak di pasar sekunder inilah yang dijadikan ajang spekulasi oleh spekulan.

Apa bukti bahwa saham adalah bukti kepemilikan? Deviden. Perusahaan, melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), menentukan nilai yang disisihkan dari laba ke pemilik modal sebagai bagi hasil keuntungan. Jumlah nilai itu dibagi per lembar saham yang diterbitkan oleh perusahaan. Perusahaan yang baik biasanya memerlukan waktu 10-20 tahun untuk mengembalikan jumlah modal yang diberikan investor dalam bentuk deviden (dengan asumsi saham tidak pernah dijual, dibeli dari pasar sekunder — jadi tidak ada faktor capital gain). Kepemilikan saham mayoritas bahkan bisa menentukan arah akan dibawa kemana perusahaan itu.

Tapi kan tidak ada bukti kepemilikan secara fisik seperti surat saham?

Mekanisme pasar saham sudah lama meninggalkan surat saham berbasis kertas dan telah sepenuhnya dipindahkan ke media elektronik (database komputer). Kepemilikan surat saham akan terlihat di aplikasi trading dari broker kita yang biasanya diberi judul: “Portofolio”. Lah, kalau begitu saham kita dipegang sama si broker dong? Nah, di sini ada badan bernama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang menyimpan surat-surat saham itu secara elektronik. Setiap investor pasar modal, besar ataupun kecil, bisa memiliki akses ke KSEI dengan menggunakan kartu KSEI. Saya juga punya.

Waktu saya memilih saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saya membelinya tidak hanya sekadar analisis teknikal dan fundamental saja, tetapi juga karena faktor emosional. Saya menabung pertama kali di produk Tabanas BRI. Ibu saya fanatik dengan BRI. Dan jaringan BRI yang sedemikian luas dan mengakar di desa-desa membuat saya suka bank ini. Jadi saya membelinya. Jadi, meskipun kepemilikan saya mungkin ibarat debu pasir di pantai, saya adalah salah satu pemilik Bank Rakyat Indonesia. Sehingga jelas, saya tidak setuju jika jual beli saham itu adalah transaksi fiktif yang tidak ada objek jual belinya.

Liburan Imlek

Posted by: on Jan 25, 2012 | 4 Comments

Terima kasih kepada Gus Dur yang telah mematahkan satu batasan rasisme yang menjadikan perayaan tahun baru Imlek menjadi begitu meriah dan terbuka seperti sekarang. Dan tentu saja buat yang tidak ikut merayakannya: bonus liburan tanggal merah. Dan apalagi jika itu nyambung menjadi long weekend, hal itu patut disyukuri oleh saya yang bisa pulang mudik.

Seperti biasa, saya membawa kamera lengkap saya jika melakukan perjalanan jauh — kamera DSLR, lensa normal, salah satu lensa tele atau wide, dan kamera saku untuk dikantongi. Tapi sepertinya, besok-besok kalau mudik saya cukup bawa kamera saku saja karena nyatanya kamera DSLR segede bagong itu tidak pernah keluar dari tasnya.

Saya hanya tiga hari di rumah, saya ingin menghabiskan semua waktu yang sedikit ini di rumah saja. Kalau saja Gajayana itu bisa menempuh jarak Jakarta – Tulungagung itu dalam 6 jam saja ^^ dengan tarif seratus ribu sekali jalan ^^. Nganter ibu ke pasar, nyetirin ortu ke kondangan yang lagi musim, masukin mobil ke garasi — semua hal yang dulu saya males-malesan kalau disuruh, tetapi sekarang saya ingin lakukan tiap hari — kalau bisa…

Tidak ada koneksi internet, ternyata saya bisa mengerjakan banyak hal yang lebih bermanfaat ketimbang sekadar baca dan nulis twit. Dalam tiga hari itu, saya bisa menghabiskan tiga buku: textbook Drupal 7 yang berat, Leadership Secrets of Gus Dur-Gus Miek, dan Manusia Setengah Salmon-nya Raditya Dika yang ringan. Sesuatu yang nampaknya sulit saya lakukan di Jakarta.

Liburan yang sempurna itu ternyata tidak harus ke tempat wisata. Justru kalau sedang banyak pikiran, kemanapun badan di bawa pergi, pikiran tetap tidak bisa nyantai. Kalau semuanya rileks, maka berdiam di rumah menjadi liburan yang sempurna. Tanpa koneksi internet, setumpuk buku, dan pisang goreng. ^^

Don’t Reinvent the Wheel

Posted by: on Jan 18, 2012 | 5 Comments

Kembali ke masa lima atau enam tahun yang lalu waktu saya merilis Content Management System (CMS)* versi terakhir saya untuk www.its.ac.id yang saya beri codename fitri (v3). Saat itu saya tidak menggunakan CMS yang sudah jadi — yang terkenal waktu itu Mamboo — tetapi mengembangkan CMS sendiri berbasis PHP dari awal. Jadi saya membuat satu per satu modul tampilan, dinamisasi konten melalui manipulasi database, hingga manajemen user dan hak aksesnya. Themes atau tampilannya belum bisa dinamis, karena antara kode untuk tampilan dengan kode untuk data tercampur menjadi satu.

Tujuan saya waktu itu hanya satu: belajar. Sebagaimana mahasiswa teknik yang seharusnya. Website-website akademis semacam ITS sebaiknya harus secara aktif berubah secara radikal, karena di sana lah tempat bereksplorasi, belajar, dan bermain. Ngoprek, istilah geek-nya. Tampilan jelek, rusak, dan kacau harus dimaklumi karena untuk belajar. Makanya saya terkejut ketika dikabari bahwa versi obrak-abrik besar yang terakhir dari website ITS itu masih versi kembangan dari fitri itu, setelah sekian tahun.

Zaman sekarang, saya pikir bukan saatnya lagi membuat sebuah CMS dari awal, bahkan untuk kebutuhan belajar sekalipun. CMS-CMS modern sudah sedemikian modular dan dinamisnya sehingga apapun bisa dibuat di atas CMS tersebut. Don’t reinvent the wheel. Sekarang saatnya mempelajari dengan detail salah satu CMS tersebut agar kita bisa dengan maksimal memanfaatkannya. Ketimbang menghabiskan waktu untuk membuat operasi-operasi dasar seperti memasukkan, update, dan hapus data, manajemen user, lebih baik kita memanfaatkan yang sudah disediakan CMS, kemudian memodifikasinya untuk kebutuhan kita.

Gambarannya bisa saya jelaskan dalam diagram di bawah ini:

Secara garis besar, pada umumnya CMS modern memiliki arsitektur seperti diagram di atas. Layer terbawah mengurusi operasi dasar seperti manajemen data, pengguna, session, dan koneksi melalui berbagai protokol (web services, chatting, dll). Di atasnya kemudian ada pengaturan untuk dinamisasi tampilan (themes), dan modul-modul. CMS yang baik selalu dibangun dari modul-modul kecil untuk menjaga agar dia bisa fleksibel untuk kebutuhan yang berbeda-beda. Layer paling atas adalah bagian pengaturan yang spesifik untuk kebutuhan setiap website.

Jika seorang progammer akan membangun CMS sendiri, mau tidak mau ia harus membuat itu semua. Ibaratnya, dia akan membangun sebuah rumah, dia membuat sendiri batu batanya, mengolah pasir untuk menjadi semen, membelah kayu untuk dijadikan pintu dan jendela, dst.Baru dari bahan-bahan itu, dia mulai membangun rumah sesuai dengan desainnya. Sebaliknya, dengan menggunakan CMS yang sudah jadi, ibaratnya dalam membangun rumah sudah disediakan semen, jendela, batu, bahkan hingga pintu, lemari, dan atap. Dia tinggal merakit, merangkai, menyusun, dan menyesuaikan warna, peletakannya sesuai dengan selera. Tentu saja ia harus mengerti cara merakit pintu dan kawan-kawannya itu. Tetapi paling tidak, ia tidak harus mulai membuat pintu dulu untuk membuat rumah.

Bayangkan berapa banyak waktu yang bisa dihemat untuk membuat sebuah website jadi yang lengkap. Kesulitan utama mungkin ada pada mempelajari CMS itu sendiri sebagai framework. Bagaimana cara memodifikasi modul dan mengaplikasikan desain tampilan HTML dan CSS ke dalam theme engine CMS tersebut. Tetapi jika learning curve itu sudah dicapai, saya kira semuanya akan menjadi mudah.

Ada banyak CMS modern yang populer, misalnya WordPress, Joomla, dan Drupal. WordPress adalah yang paling sederhana dan paling mudah dipelajari, tetapi kurang dalam fleksibilitas. Jika Anda akan membangun sebuah website yang tidak hanya melulu tentang publikasi teks, mungkin Anda bisa mempertimbangkan Drupal atau Joomla. Saya sendiri sekarang sedang tertarik untuk memahami Drupal, setelah sekian lama saya tidak mendapatkan feeling dengan Joomla.

*) Content Management System (CMS) dalam ini merujuk pada Web Content Management System.

Antara Hemat, Pelit, Boros, dan Financial Planning

Posted by: on Jan 15, 2012 | 11 Comments

Financial planning selalu identik dengan hemat cenderung pelit. Banyak orang yang sangat cermat dengan catatan keuangannya, dan juga sangat pelit dengan dirinya sendiri. Untuk beli sebuah handphone baru saja butuh riset yang begitu lama, dan ujung-ujungnya beli second yang harganya sebenarnya hanya sepersekian dari gaji bulanannya.

Menurut saya, memiliki catatan keuangan yang baik tidak boleh seseorang menjadi pelit — bahkan untuk dirinya sendiri. Hidup dengan standar gaya hidup tertentu menurut saya adalah sah-sah saja, asal kita tahu dimana kemampuan kita. Mengejar gengsi, membeli barang-barang branded, menurut saya adalah sebuah penghargaan terhadap kerja keras yang telah dilakukan. Salah satu cara menikmati hidup. Hidup kan bukan hanya setelah pensiun kan? Percuma juga kaya raya di usia tua kalau fisik sudah tidak mendukung lagi untuk melakukan kegiatan seperti masa muda.

Saya sendiri sering dicap hedon oleh teman-teman saya — sebagai balasan untuk saya yang memang sering mencela gaya hidup begitu. Hehehe, harus diakui, saya memang hidup dengan standar gaya hidup yang saya tentukan sendiri. Tetapi itu saya lakukan karena saya tahu dan saya mau hidup di gaya hidup yang mana. Gaya hidup yang menurut saya cukup, tidak berlebih-lebihan, sekaligus tidak terlalu menyengsarakan (menikmati hasil kerja keras). Ow, tentu saja, “cukup” di sini sangat relatif ^_^.

Memiliki perencanaan keuangan yang baik akan membuat kita lebih bijak dalam mengelola pengeluaran. Di sinilah mengapa tujuan keuangan itu sangat penting. Ketika semua tujuan keuangan telah tercicil, kebutuhan telah diamankan (sandang, pangan, papan, zakat, infak, transportasi, hiburan), jika masih ada space, di situlah saatnya hura-hura! Bayangkan jika perencanaan keuangan itu membabi buta tanpa tujuan, semua sisa penghasilan akan masuk pos investasi dan ujung-ujungnya jadi pelit terhadap diri sendiri.

Semakin kita terlatih dengan perencanaan keuangan, tahu betul kondisi kesehatan keuangan kita, akan semakin mudah kita memilah-milah mana kebutuhan, keinginan, dan hasrat. Ketika saya menyelesaikan tabungan untuk membeli laptop baru, saya pun masih ragu-ragu untuk mengeksekusinya karena faktor “hasrat”-nya masih besar disaat laptop saya yang lama masih bisa dipakai. Sehingga sebenarnya kebutuhan belum ada. Membeli laptop ASUS atau Lenovo adalah keinginan. Dan membeli Apple MacBook Pro jelas adalah hasrat.

Jadi, tidak seharusnya perencanaan keuangan yang rapi membuat orang pelit terhadap diri sendiri. Justru akan membuat kita bisa memilih standar gaya hidup yang dikehendaki, sekaligus mengejar apa yang dinamakan gengsi itu — karena pepatah don’t judge the book by its cover itu benar adanya, kebanyakan orang akan melihat bungkus, bukan isi.

Hidup sederhana, menurut saya, bukan hidup dengan pas-pasan cenderung kekurangan, tetapi hidup yang sesuai dengan kemampuan, tidak berlebih-lebihan, sekaligus tidak berkurang-kurangan. Hehe…

Tentang Vandroid, Tablet dari Advan

Posted by: on Jan 13, 2012 | 10 Comments

Teman-teman mengenal brand Advan? Saya mengenalnya sebagai produk lokal berbasis Cina yang bermain di semua produk hardware, mulai notebook, netbook, flashdisk, sampai tablet! You name it lah pokoknya. Nah, rupanya, strategi branding Advan adalah menggunakan Advan sebagai umbrella brand, yaitu setiap produk-nya diberi sub-brand di belakang nama Advan yang lebih dahulu dikenal. Seperti produk tablet-nya ini, dia bernama Vandroid.

(Contoh umbrella brand lain adalah mobil Honda dengan City, Jazz, Freed; Toyota dengan Kijang Innova, Corolla Altis, Camry; produk snack Gery dengan Chocolatos, Solut, Coklut, dll).

Tidak lama setelah menyatakan ketidaksukaan saya terhadap tablet PC karena memang saya belum butuh, teman saya, seorang brand manager Advan, tiba-tiba meminjami saya produk kebanggaannya itu untuk saya review. Waduh, apa nggak salah nih kasih review ke orang yang bukan penyuka tablet? Dia malah ngotot sambil promosi kalau produknya barusan mendapatkan award tablet PC terkomplit dari PC Plus. Di akhir kalimatnya dia menambahkan, gratis aja pulak, sambil sodorin emoticon senyum jahil. Ya sudah, jangan salahkan saya kalau saya mereview-nya secara “objektif”.

Baiklah. Jadi ini binatangnya.

Android yang dipakai masih versi jadul, Android Froyo — jadul buat saya yang sudah pernah melihat Honeycomb beraksi di Galaxy Tab 8.9. Tetapi memang secara fitur hardware, benar apa kata PC Plus: komplit; kartu GSM, fungsi telepon, kamera dua sisi untuk video conference, GPS, hingga WiFi. Baterai tahan lumayan, dengan kondisi aktif terkoneksi ke jaringan GSM, dia bisa tahan seharian penuh. Ketika saya tanya ke teman saya itu, produk ini dimaksudkan head to head dengan siapa? Dia jawab dengan penuh percaya diri: Samsung Galaxy Tab! What?

Dengan bandrol harga dua jutaan, saya cukup surprise kalau ini dimaksudkan untuk melawan GTab (meskipun yang versi Froyo juga maksudnya mungkin). Kalau dimaksudkan melawan produk-produk sejenis macam ZTE begitu, saya mungkin masih cukup mahfum. Tapi ya, itu kan pekerjaannya dia, hehehe…

Secara hardware, saya bilang what do you expect with 2 mio tablet PC? Prosesor standar 800 MHz sudah cukup maksimal untuk menjalankan Froyo. Touch screen resistif-nya cukup menyebalkan karena suka salah-salah mencet huruf di tepi screen-nya — apalagi untuk jempol segede punya saya. Saya tidak cukup sabar dengan GPS-nya yang lambat memutuskan saya ada di ujung bumi sebelah mana. Fungsi yang menyenangkan mungkin WiFi dan koneksi GSM-nya sendiri (ya eyalah kalau ga bisa jadikan ganjal pintu aja).

Android Froyo. Saya belum menemukan killing apps yang memaksa saya beli sebuah tablet Android (seperti ketika saya beli BlackBerry karena peer factor adanya BBM). Kebanyakan di Android Market masih menyediakan aplikasi untuk smartphone yang belum diadaptasi untuk tablet. Bahkan Uber Social atau TweetCaster pun tidak menarik. Mungkin seperti problem Linux pada umumnya, Android yang dikirim gratis oleh Google ini menghadapi masalah standardisasi dan keseriusan dalam penggarapan aplikasi. Maksud saya, aplikasi gratis rata-rata dibuat tidak serius alias asal jadi. Berbeda dengan aplikasi-aplikasi Apple yang harus membayar, tetapi user mendapatkan kepuasan penuh dalam pemakaiannya.

Seminggu saya memakai Vandroid, aplikasi yang saya pakai adalah GMail dan Google Docs yang berjalan dengan baik. Saya belum menemukan aplikasi pengamat pasar saham IHSG yang bagus. Saya memakai TweetCaster untuk ngetwit. Saya memakai Yahoo! Messenger, yang ternyata lebih menyenangkan daripada Y!M di BlackBerry. Saya coba install Angry Birds, tapi ternyata saya sudah bosan dengan game ini (pada dasarnya saya tidak suka nge-game). Satu-satunya aplikasi yang cukup berguna adalah DJView Viewer. Ini aplikasi pembaca e-book berformat djvu, format yang digunakan di Api di Bukit Menoreh yang sampai sekarang belum selesai saya tamatkan. Cukup menyenangkan untuk membacanya daripada di Kindle, karena tinggal download dan langsung baca.

Wrap Up

Kesimpulannya, untuk sebuah tablet dua juta, Vandroid cukup affordable dengan segala keterbatasannya. Cukup untuk memenuhi kebutuhan. Tapi saya sendiri jika punya duit nganggur — artinya budget unlimited — eh, semua orang juga pengen punya budget unlimited. Ralat. Katakanlah jika saya punya duit dan butuh sebuah tablet, saya akan masih memilih Samsung Galaxy Tab demi mengejar kenyamanan pakainya. Atau malah, saya akan memilih iPad dengan alasan aplikasi-aplikasinya lebih mature dan kenyamanan pakai yang terbaik di kelas tablet PC.

Official homepage Vandroid ada di sini, kalau-kalau ingin lihat detailnya.

Sepuluh Foto Terbaik Saya di 2011

Posted by: on Jan 10, 2012 | 6 Comments

Meskipun sedikit terlambat, saya akhirnya merilis sepuluh foto terbaik saya di sepanjang tahun 2011 yang baru saja lewat. Secara kuantitas, sepanjang tahun 2011 memang lebih rendah dari 2010 karena memang saya tidak melakukan banyak kegiatan hunting. Tetapi saya cukup senang karena sebagai gantinya saya bisa menghasilkan satu lagi essay foto yang berjudul “Jatuh Cinta di Jogja”. Mungkin setelah ini akan saya publish untuk Anda semua. Ditunggu yaaa, hehehe…

Karena saya sudah punya rumah baru untuk tempat foto-foto, silakan menikmatinya di http://foto.galihsatria.com ;) Dan berikut adalah bonus untuk foto-foto di tahun-tahun 2007-2010. Enjoy!

Krisis Yunani dan Eropa, dalam Penjelasan Sederhana

Posted by: on Jan 4, 2012 | 4 Comments

Tidak mudah menjelaskan sebab musabab terjadinya krisis moneter di sebuah negara karena banyak sekali faktor yang saling berkaitan. Ini juga sama sulitnya dengan keputusan mem-bail-out Bank Century, misalnya, karena banyak faktor yang saling kait mengait dan saling berantai — benar atau salahnya keputusan tersebut tergantung siapa yang beranalisa dan berkepentingan :) . Tetapi pada intinya, sebuah krisis ekonomi selalu kait mengait.

Krisis Yunani, dan Eropa pada umumnya, bisa dijelasin dengan mudah: karena terbelit hutang! Titik. Hutang yang jatuh tempo juga menghancurkan Indonesia di tahun 1997-1998.

Dalam teori anggaran, ada beberapa pendekatan yang bisa dipakai pemerintah suatu negara untuk membuat ekonomi berjalan efektif dan berkembang. Yunani memakai pendekatan defisit anggaran yang sangat agresif untuk pembiayaan keuangannya. Gampangannya begini, saya punya gaji sejuta. Gaji saya hanya cukup untuk membiayai biaya operasional bulanan saya. Secara ekonomi, saya tidak bisa berkembang karena tidak ada dana mengembangkan aset (bisnis, investasi, dll). Karena itu saya menganggarkan dana tambahan untuk modal bisnis dan investasi. Dari mana defisit anggaran itu harus ditutup? Ya saya ngutang. Dalam hal suatu negara, mereka menerbitkan surat utang, atau government bonds (obligasi). Kalau di sini kira-kira sama dengan ORI atau sukuk.

Hutang tidak selamanya buruk. Terbukti dengan strategi anggaran seperti itu, Yunani mampu berkembang lebih cepat dibanding negara-negara tetangganya. Perekonomian Yunani tumbuh melesat dalam kurun waktu 2000-2007. Tapi peningkatan utangnya juga meningkat tak terkendali, tahun 2010, rasio utangnya (terhadap Pendapatan Domestik Bruto – PDB) mencapai 142%. Gila nggak tuh?

Karena semikian besarnya utang, lembaga-lembaga keuangan dunia mempertanyakan kemampuan Yunani. Oh iya, jadi di dunia ini ada lembaga tukang menilai kualitas kemampuan bayar semua negara dan perusahaan di seluruh dunia. Contohnya ada Fitch, Standard and Poor’s, dan Moody. Nah, si Yunani ini obligasinya dicap sebagai junk bond. Dengan kata lain, potensi mampu bayarnya sudah sedemikian rendah. (Ya gila aja rasio utang 142% gimana cara bayarnya?). Bandingkan dengan level Indonesia yang masuk investment grade, atau negara layak sebagai tujuan investasi.

Nah, dan krisis pun dimulai.

Terus kenapa jadi berantai dan bikin Eropa mabuk? Bayangkan Yunani punya utang ke Italia misalnya, lalu gagal bayar. Si Itali, yang kadung mengandalkan duit kembalian untuk bayar utang ke Spanyol, jadi gak bisa bayar hutang saja. Spanyol akhirnya kalang kabut juga, wong dia sedang ditagih sama si kaya Jerman. Jerman tidak bisa menggerakkan roda ekonominya karena uangnya tidak kembali, akhirnya perekonomian melambat. Ekspor barang tidak ada yang mau beli. Perusahaan lama-lama bangkrut karena beban operasional. Akhirnya terjadi PHK. Dan seterusnya…

Lha, sebelum keadaan semakin parah, datanglah dokter yang berusaha mengobati penyakit ini. Namanya IMF. Obatnya bernama dana bail out. Namun dia sendiri tidak bisa dengan mudah menuliskan resep yang manjur. Bail out yang sukses jika efeknya juga berantai. Dari kasus di atas, bail out akan sukses jika Yunani bayar utang ke Itali, Itali kemudian menyetorkan dananya ke Spanyol, lalu Spanyol bayar utang ke Jerman. Usut punya usut, dana IMF ini ternyata dari Jerman juga, mbulet kan? Tapi everybody happy karena semua hutang telah terbayar. Sebaliknya, bail out akan bermasalah jika hanya Itali dan Spanyol yang selamat, sedangkan Yunani tetap saja punya hutang besar.

Kenapa Efeknya Sampai Indonesia?

Sektor yang paling rentan kena dampak adalah sektor keuangan seperti pasar saham dan obligasi. Sebagai salah satu negara emerging market, BEI adalah salah satu bursa favorit investor asing. Ketika negaranya sendiri mengalami krisis, tentu saja mereka memilih menarik investasinya untuk menyelamatkan perekonomian negaranya. Ketika arus investasi mengalir keluar, pasar modal akan bergejolak, dan lagi-lagi, segera berimbas ke sektor lain. Contoh yang paling dekat adalah nilai tukar rupiah yang akan melemah. Dan nilai tukar akan berdampak langsung ke sektor riil. Jadi kata siapa pasar modal hanyalah meja spekulasi? Pasar modal adalah salah satu komponen penting dalam perekonomian suatu negara.

Disclaimer

Tentu saja penjelasan ini terlalu banyak hal yang dilewati dan disederhanakan, sehingga mungkin informasi yang ada di sini tidak terlalu akurat. Saya hanya mencoba membuat analogi sesederhana mungkin bagaimana sebuah krisis di Eropa bisa berdampak kemana-mana. Data-data diambil dari berbagai sumber, terutama dari Wikipedia dan majalah Investor edisi Desember 2011.

Switch to our mobile site