Deret Eksponensial

Lalu lintas di Jakarta itu mengikuti deret eksponensial. Kemarin berangkat jam 05:28, sampai kantor jam 06:55. Hari ini berangkat keluar rumah jam 05:23, sampai kantor jam 06:05. Harus presisi sampai ke menitnya karena setiap satu menit begitu bernilai. Jarak rumah ke kantor kurang lebih 14 km. Moda transportasi menggunakan kendaraan roda empat. Kalau roda dua deret matematikanya masih deret linear.

Tentang Yii Framework

Zaman sekarang, bukan saatnya lagi reinvent the wheel. Atau kurang lebih mengulangi mengerjakan apa yang sudah dikerjakan orang lain. Fokus ke kebutuhan.

Misalnya membuat website. Bukan saatnya lagi – setidaknya – mendesain degan Photoshop, mengguntingnya menjadi potongan gambar kecil-, lalu menyelesaikannyadi Dreamweaver. Itu metode sepuluh tahun yan lalu. Sekarang yang saya lakukan adalah memulainya dengan meng-install WordPress, lalu menyesuaikannya menurut kebutuhan. Baik di sisi tampilan, menambahkan plugin, dll.

Saya sejak lama ingin memiliki tools yang secepat custom WordPress kalau ingin membuat aplikasi berbasis web. Harapannya simpel, bahan dasarnya sudah ada, tinggal ngelanjutin. Kalau bisa tinggal rakit kayak lemari Olympic (eh, sekarang jamannya IKEA ding). Jadi saya tidak ingin membuat form untuk Create, Update, Delete (CRUD), membuat validasi input, dan sebagainya.

Sempat saya eksplorasi Drupal, dan menemukan ternyata Drupal terlalu sulit disesuaikan untuk aplikasi web. Sempat eksplorasi framework Code Igniter, tetapi saya melihat CI masih hanya menyediakan semen dan batu saja, belum sampai ke “tinggal rakit”. Memang banyak cara menjadikan CI seperti itu, tapi karena itu bukan bawaan CI, jadi sebaiknya saya pakai framework yang lain.

Di Java, dulu saya pernah membuat aplikasi dengan JBoss Seam dengan cepat. Seam punya generator untuk CRUD sehingga saya cukup membuat database-nya saja. Kakak saya, pengguna aplikasi itu, bisa dibujuk untuk bersusah-susah dengan antar muka yang sangat basic itu. Itu saja sudah banyak membantu pekerjaan yang biasanya manual. Lupa saya nama aplikasinya.

Saya pun ingin seperti itu di PHP. Mengapa tidak Java? Karena Java sama sekali tidak populer selain di dunia enterprise. Lagian, sepertinya Seam juga tidak populer. Rekan-rekan programmer yang masih aktif menulis program Java lebih suka memakai PrimeFaces atau RichFaces. Lalu, hosting web di luar sana hanya menyediakan platform berbasis PHP. Kalau mau maksa pakai Java, harus sewa VPS atau Cloud server sendiri.

Waktu menemani Zafran bobok siang, saya mencari tahu framework PHP yang paling populer. Yang punya generator CRUD secara built-in. Saya menemukan ada Lavarell dan YII. Saya memutuskan untuk mencoba YII dulu.

Sepertinya YII adalah framework yang saya cari. Kenapa CRUD generator penting? Karena setiap database penyimpan data memerlukan operasi ini. Dan membuat antar muka ini satu per satu sangat menyita waktu dan melelahkan. Tentu sangat menyenangkan jika saya tinggal sebutkan database-nya, lalu antar mukanya dibuatkan secara otomatis. Selanjutnya, saya tinggal melakukan penyesuaian. Langsung fokus ke kebutuhan bisnis.

Kira-kira begitu.

Upgrade WordPress 4

Akhirnya upgrade juga ke WordPress terbaru. Ada fitur baru, post type, yaitu Asides, catatan pinggir. Theme bawaannya juga keren, bikin semangat nulis. Saatnya bikin blog ini lebih kaya tulisan, meskipun ga penting kayak begini, hehehe…

Adanya Twitter dan Facebook membuat kemampuan menulis secara rapi, baik, dan benar menurun. Bahkan untuk menulis satu buat post yang utuh saja tantangan tersendiri dan sering numpuk di Draft tidak pernah terpublish.

Mungkin karena saya sendiri jadi memberlakukan “aturan” layak posting. Sehingga posting-posting ga penting seperti ini ga bisa masuk. Lho, blog aja kok banyak aturan. Yang penting nulis dulu.

Tips and Trick Vi

Vi atau ViM buat saya adalah editor teks yang terkenal susah (karena berbasis command line) tetapi sekaligus yang paling praktis dan enak. Meskipun Mac punya ratusan editor, tapi untuk mengedit konfigurasi file, Vi masih yang terbaik.

Salah satu kepraktisan Vi adalah kemampuannya bisa menulis hasil perintah di command line masuk ke dalam teks. Misalnya untuk mengetik lokasi folder yang panjang. Kalau di command line, ada tombol [Tab] sebagai fitur auto complete. Lha kalau di editor, kan harus diketik manual, atau kalau tidak, di command line dulu lalu copy paste. Ga praktis. Sepuluh tahunan yang lalu, saya pernah melihat Vi bisa langsung memasukkan itu. Jadi kita bisa pakai [Tab].

Caranya, pindah ke mode Visual dulu (V), lalu tekan “!” Misalnya !echo /opt/My… [tab]/Docu…[tab], lalu enter. Full path dari folder tersebut sudah masuk ke Vi.

Bingung? Hehehe… Ga apa-apa, postingan ini sepertinya untuk konsumsi pribadi saja, sebagai pengingat :D

JD-GUI, Java Decompiler

Delapan tahun yang lalu saya menulis tentang kegunaan sebuah Java decompiler. Salah satu cara untuk mengetahui jalan sebuah program adalah membongkar source code-nya. Meskipun ada dokumentasi, seringkali dokumentasi tidak membahas sampai jatung program. Jika source code-nya tidak disertakan, maka satu-satunya cara adalah melakukan decompile.

Kebetulan saya memang sedang akan melakukan penyesuaian (apa padanan kata customization) sistem Maximo. Penyesuaian ini tidak dimungkinkan di tingkat konfigurasi sehingga harus dilakukan di tingkat Java class-nya. Setelah sekian lama, ternyata JAD, tool favorit saya untuk men-decompile sudah tidak dilanjutkan lagi pengembangannya.

Untung sudah ada pengganti yang malah lebih enak dan hasilnya lebih rapi. Namanya JD Project. Java Decompiler Project. Berbasis GUI tanpa harus repot-repot command line, tinggal masukkan file *.class-nya, hasilnya langsung source code Java-nya. Menyenangkan sekali.

Silakan dikunjungi website-nya di halaman ini.

A Personal Blog of an IT freak, photographer, and also musician :))