Dari Hati

Posted by: on Oct 23, 2014 | One Comment

“Masih eksis mas?”

Begitu kata rekan sebelah meja saya ketika menemukan saya sedang menulis blog. Saya tahu maksud dia, jaman sekarang lebih jamak menulis status di Facebook, Twitter, atau Path (dan ask.fm mungkin?).

“Masih, ya begini ini kalau dari hati, bukan karena ingin mendapat pembaca,” jawab saya. Mungkin kalau malah terlalu banyak pembaca, sudah berhenti menulis sejak dulu.

Krenteg, bahasa Jawa-nya. Keinginan yang tidak terbendung. Kalau cuma ingin, mungkin bisa ga jadi tulisan. Apalagi kalau diharuskan menulis, bisa jadi konsistensi menulis itu tidak bertahan lama. Saya bilang ke atasan saya ketika berdiskusi tentang knowledge management system yang baik, kita tidak memaksa orang untuk membagi pengetahuannya. Kita harus bisa membuat orang menulis karena ia ingin menulis, karena ia ingin berbagi, dengan dorongan dari dalam hati, bukan karena diharuskan, bukan karena insentif sesaat. Hasilnya akan jauh lebih berkualitas.

Kemana Arah IHSG?

Posted by: on Oct 22, 2014 | No Comments

Yuk ah, bahas IHSG lagi mumpung sentimen dalam negerinya banyak, pasca pelantikan presiden dan isu kenaikan harga BBM.

Teorinya — yang dibahas di buku-buku dan seminar-seminar mahal itu — setiap swing trader harus memiliki trading plan. Kalau ia adalah trader harian, maka PR buatnya setiap hari adalah menentukan potensi arah pasar besok, di titik mana ia masuk, di titik mana ia harus keluar jual rugi ketika pasar bergerak melawan rencananya, lalu di titik mana ia merealisasikan keuntungan sekaligus berapa banyak uang yang harus ia belanjakan. Dengan begitu, idealnya trader akan terbebas dari pertanyaan tebak-tebak manggis, kemana arah IHSG? Karena kemanapun arahnya, ia sudah punya rencananya.

Praktiknya, jauh dari teori. Sejauh pengalaman saya, saya tidak yakin apakah rencana saya ini betul. Jangan-jangan harga sudah ketinggian, istilahnya sudah ketinggalan kereta. Seringkali, harga bergerak lebih cepat dari kemampuan saya bereaksi. Terlalu cepat. Hitungannya paling menitan saja. Dalam sekejap, harga akan jatuh melewati titik dimana saya harus keluar. Entah karena saya sibuk dipanggil bos atau sedang fokus mengerjakan pekerjaan. Memelototi chart, adalah wajib di sini.

Pada akhirnya saya merasa bahwa swing trading tidak cocok dengan saya yang mudah galau. Terlalu banyak perhatian yang harus dicurahkan untuk melakukan swing trading. Dan dengan modal kecil (dibawah sepuluh juta rupiah), keuntungan y ang didapat rasanya tidak sebanding dengan usaha yang harus dilakukan. Apalagi jika keuntungan itu berikutnya dihajar oleh kerugian yang menyusul di sesi trading berikutnya. Pak pok hehehe…

Jadi sekarang saya menjadi investor, atau long time trader. Very long time trader. Saya memanjangkan waktu hingga lima belas tahun — yak, untuk dana Zafran masuk kuliah kelak. Setiap bulan, dari gaji yang disisihkan, saya beli satu saham berharga murah, sehingga saya bisa beli satu lot saja dengan ratusan ribu rupiah. Saya hanya melakukan timing ala swing trader waktu saham turun, menebak harga ada di titik terendah sebelum memantul ke atas lagi. Saya tidak punya niat untuk menjual kembali untuk mengambil keuntungan/kerugian. Saya akan menjualnya lima belas tahun lagi.

Sehingga yang justru saya cari adalah saham-saham yang sedang terpuruk atau tren turun. Saham batubara, saham properti, apalagi ya? Saya mengamati para konglomerat itu membeli perusahaan waktu mereka sedang bangkrut. Sandiaga Uno membeli Mandala Air waktu bangkrut (meskipun sekarang tambah bangkrut, tapi siapa tahu dua puluh tahun lagi?). Inter Milan dibeli Erick Tohir karena kondisinya sudah mau gulung tikar. Jadi, untuk waktu yang panjang, saya sebaiknya beli saham yang tidak berada di siklus puncak, tetapi siklus bawah yang berpotensi untuk naik.

Itu teorinya, hehehe…

E-Learning Rakyat dan Onno W Purbo

Posted by: on Oct 10, 2014 | 5 Comments

Jika ada kuliah gratis dari universitas-universitas luar negeri terkenal oleh Coursera.org, ternyata juga ada produk lokal tentang e-learning, yaitu eLearning Rakyat. Isinya adalah materi kuliah berbagai topik yang bisa diikuti secara free.

Onno W Purbo still rocks! Itu kesan saya waktu melihat web ini. Beliau masih konsisten bergerak di bidang open source dan penyebaran ilmu secara terbuka. Mungkin bisa dikatakan beliau adalah “guru bangsa” bidang telekomunikasi dan informatika Indonesia — meskipun lebih berat ke sisi telco-nya. Ide-idenya soal RT/RW net ketika internet masih menjadi barang yang sangat mewah menurut saya merupakan sebuah milestone perkembangan dunia telematika Indonesia. Sampai sekarang beliau masih “berkelahi” dengan pemerintah soal ide barunya, open BTS.

Wacana santer mengenai dukungan supaya beliau menjadi Menkominfo tentu sangat beralasan. Dengan power, cita-cita dan visi itu bisa menjadi kenyataan. Cyberlearning seperti ini bisa dikembangkan lebih luas lagi. Sayangnya beliau menolak.

Saya sedikit banyak bisa mengerti. Orang yang biasa di posisi bersebarangan, tentu sulit ketika tiba-tiba ada di posisi yang biasa dia serang. Bicara tentang pemerintah Indonesia, khususnya kementerian, adalah bicara mengenai benturan kepentingan, perang politik yang tidak ada habis-habisnya. Sebelum sampai ke perwujudan ide-ide, ada jalan panjang yang harus ditempuh untuk menuju ke sana. Dan berbagai kompromi harus dilakukan, hingga ide-ide yang idealis itu harus terkikis oleh kompromi.

Overrated

Posted by: on Oct 4, 2014 | One Comment

Alias lebay, jika melihat suasana politik Indonesia. Masing-masing pihak memainkan drama sinetron. Ya yang demokrasi telah mati lah, ya yang bilang penyelamatan Indonesia lah. Saya tidak yakin bahwa partai-partai itu tulus berjuang untuk rakyat, adanya kepentingan golongan yang dibungkus dengan kepentingan rakyat.

Waktu memilih pileg dan pilpres kemarin, ekspektasi saya tidak tinggi-tinggi amat. Banyak orang yang mengelu-elukan Prabowo dan Jokowi seperti manusia setengah dewa — mereka akan kecewa. Jokowi, biar bagaimanapun juga adalah seorang politikus. Saya memilih beliau karena saya menilai beliau sedikit lebih baik dari Prabowo. Tetapi urusan menyelesaikan permasalahan bangsa, berkali-kali saya katakan, beliau sendiri tak akan mampu menjadi sosok Sang Ratu Adil. Terlalu banyak kepentingan yang bermain di negeri ini. Program-program pro rakyat akan tersandera kepentingan golongan yang sudah mapan selama bertahun-tahun.

Jadi harapan saya sih ga muluk-muluk: suasana politik yang stabil, ekonomi yang stabil. Ga usah ada krisis ekonomi lagi.

Pasca pelantikan anggota DPR, indeks IHSG terus melorot. Buat saya ini adalah saatnya menambah muatan, khususnya buat investor jangka panjang. IHSG sendiri, setelah menyentuk puncak tertinggi sepanjang masa, memang rawan jatuh. Saya sudah berhenti buat trading jangka pendek karena merasa usaha untuk menentukan masuk-keluar pasar tidak sebanding dengan hasilnya. Ya maklum, modal cuma ratusan ribu rupiah saja hehehe…

Mudah-mudahan kabinet Jokowi-JK memiliki tim ekonomi sekuat kabinet SBY-Budiono. Hal terhebat dari Presiden SBY adalah tim ekonominya yang sangat kuat. Ekonomi yang stabil diperlukan untuk menjaga nilai investasi agar terus bertumbuh.

Notepad++

Posted by: on Sep 30, 2014 | 5 Comments

Saya heran, kenapa sampai sekarang Windows tidak menyediakan sebuah text editor yang bagus. Sampai versi terbarunya, Windows 8.1 hanya menyediakan Notepad dengan fungsi yang sangat dasar. Bahkan untuk undo saja hanya bisa sekali saja. Tidak pernah berkembang.

Padahal buat kami para programmer, fungsi editor teks itu sangat penting. Saking terbiasanya, untuk mencatat hal-hal yang perlu dicatat, saya menggunakan Notepad juga. Dan bencana terjadi kalau lupa save, komputer tiba-tiba shut down. Notepad mana ada punya fitur auto save. Saya malas membuka Microsoft Word yang berat untuk hal yang ringan-ringan begitu.

Untung ada Notepad++, editor teks biasa yang punya fungsi macam-macam yang sangat berguna. Mengingatkan saya ke ViM, tetapi dengan antar muka yang jauh lebih mudah.

Salah satu fitur penting adalah syntax highlighting. Di dunia ini banyak sekali bahasa pemrograman dengan aturan yang berbeda-beda. Pasti pusing sekali membaca bahasa planet begitu jika tidak ada pembeda warna untuk tanda.

Fitur yang menarik lainnya adalah seleksi kursor secara kolom. Kalau selama ini fungsi seleksi kursor adalah dari kiri ke kanan mengikuti baris, kalau ini dari atas ke bawah mengikuti kolom. Dan masih banyak lagi fitur-fitur yang berguna untuk manipulasi teks.

Menariknya, proyek ini adalah proyek open source. Ini salah satu proyek open source yang menghasilkan produk yang luar biasa. Silakan diunduh di http://notepad-plus-plus.org/

Penulis Favorit

Posted by: on Sep 23, 2014 | No Comments

Mana yang duluan, tokoh-tokoh dalam buku yang mempengaruhi karakter atau pembaca buku memilih buku yang sesuai dengan karakternya? Dalam kasus saya, saya rasa pemilihan bacaan saat saya SD hingga SMP sangat mempengaruhi perkembangan karakter saya.

Waktu SD, saya dikenalkan dengan Lima Sekawan (Enyd Blyton) dan kisah Trio Detektif. Saya sangat tertarik dengan tokoh Jupiter Jones karena ia berperawakan gemuk dan mengutamakan kecerdasan berpikir daripada fisik. Di perpustakaan kecil di sekolah, saya mengenal betul perjuangan Letkol Soeharto dalam kisah Serangan Umum 1 Maret. Lengkap, ada bentuk komik dan novel. Sekarang saya sangat mengagumi bagaimana cara Orde Baru melakukan pencitraan sejak dini di sekolah-sekolah.

Di SMP, saya sebenarnya ikut-ikutan kakak. Bacaan saya masih seputar kisah detektif. Tetapi bukan Sherlock Holmes yang lebih populer di kalangan remaja saat itu, saya lebih mengenal tokoh Hercule Poirot. Jika teman-teman mengenal saya sebagai orang yang sombong dan angkuh, mungkin kalian akan menemukan sedikit kemiripannya dengan tokoh ini.

Tidak banyak nama penulis yang saya kenal, jadi jika ditanya siapa penulis favorit, jawaban saya pasti Agatha Christie karena pengaruh tokoh-tokoh ciptaannya yang lumayan mencuci otak. Selain Poirot, saya mengenal Sir Charles Cartwright (Three Act Tragedy) dan Anthony Cade (The Secret of Chimneys).

Di salah satu cerita, Poirot mengenal karakter korban dengan cara mengenali buku-buku yang dibacanya. Orang cenderung memilih buku yang sesuai dengan karakternya, begitu teorinya.

Untuk penulis lokal, penulis favorit saya adalah Dee. Saya suka detail dan kedalaman risetnya. Jarang ada penulis Indonesia yang begitu kecuali penulis-penulis klasik seperti Pramoedya, Mira W, atau Sutan Takdir Alisyahbana. Dee bisa membawakan hal yang detail dengan cara populer sehingga enak dibaca generasi sekarang. Tokoh-tokoh ciptaannya yang berkesan buat saya adalah Elektra dan Diva. Saking berkesannya, sampai-sampai salah satu blogger yang artikelnya sering saya baca mengingatkan saya pada tokoh Diva. Sama-sama pedas :D

Kemampuan membaca buku saya menurun drastis mungkin sejak adanya Twitter. Entah kenapa saya kehilangan kemampuan mengikuti sebuah alur dan lebih suka membaca kultwit-kultwit para selebritis Twitter. Mungkin saya belum menemukan buku yang bagus kali ya. Kalau teman-teman sidang pembaca blog saya punya judul buku yang sesuai dengan selera saya ini, mohon dengan sangat diinformasikan.

Hatur nuhun.

Reverse Development

Posted by: on Sep 14, 2014 | No Comments

Dua belas tahun saya menjadi programmer komputer, tujuh tahun di profesional, saya menyadari ada dua pendekatan besar dalam membuat sebuah paket perangkat lunak, yaitu cara normal dan cara terbalik yang saya sebut “reverse development”. Ini bukan tentang metodologi pembuatan perangkat lunak ya, seperti model waterfall atau agile development itu, tapi lebih tentang pendekatannya.

Cara normal adalah seperti membangun rumah. Alurnya maju. Dimulai dari proses desain, mengumpulkan bahan bangunan, dan membangun rumah sampai selesai. Pembuatan perangkat lunak beralur maju juga begitu. Mulai dari proses analisis kebutuhan, mendesain perangkat lunak, membuat purwarupa (prototype), penulisan program, pengetesan, dan akhirnya proses produksi ketika perangkat lunak itu digunakan. Lebih menyentuh ke hal teknis, programmer harus membuat struktur basis data, memilih teknologi dan tumpukan pustaka program, menulis baris demi baris logika bisnis menjadi rutin perintah komputer, dan seterusnya.

Contoh teknologi yang digunakan misalnya di lingkungan PHP adalah framework Code Igniter, di lingkungan Java ada rangkaian Struts/Spring/Hibernate. Pendekatan ini lebih kurang membuat dari yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Fleksibilitas tak terbatas. Apapun yang dibutuhkan bisa dibuat.

Cara terbalik adalah kebalikannya. Saat ini sudah banyak sekali paket-paket perangkat lunak jadi siap pakai. Pengembangan di sisi ini adalah menyesuaikan produk jadi supaya sesuai dengan kebutuhan. Istilahnya customization (apa ya padanan bahasa Indonesianya). Diperlukan kemampuan khusus untuk bisa melakukan ini, karena masing-masing produk memiliki arsitektur dan bahasa yang berbeda-beda. Dari sini muncul para programmer spesialis seperti SAP, Oracle, Maximo, Sharepoint, dll. Para spesialis ini selain harus mempunyai pengetahuan di bahasa umum (PHP, Java, C#, Python), juga harus mengetahui bagaimana produk-produk itu bisa di-custom.

Jika dibawa ke pembuatan web, cara pertama adalah membuat desain HTML, CSS, membuat dinamisasi sistem manajemen konten (CMS), dan membawanya ke web. Sementara cara kedua adalah mengambil produk yang sudah jadi seperti WordPress, Joomla, atau Drupal.

Fleksibilitas tentu saja menjadi terbatas, tetapi cara ini adalah seperti merakit rak knock-down. Semua materi dasar sudah jadi. Tinggal menyesuaikannya dengan kebutuhan. Tentu saja penyesuaian ini tidak efektif jika kebutuhannya berkembang dari yang awalnya rak buku menjadi lemari pakaian.

Cara pertama adalah waktu saya kuliah hingga tahun kedua karir saya menjadi programmer profesional. Cara kedua adalah waktu saya ditarik jadi spesialis untuk mendalami Maximo.

Cara pertama saya lakukan waktu membuat invest.galihsatria.com. Menggunakan PHP tanpa framework. Cara kedua saya lakukan waktu meng-custom Drupal di www.galihsatria.com. Motif keduanya sama, iseng belaka. Coding for fun. Saya memang sedang tertarik dengan Drupal setelah melihat fleksibilitasnya yang mirip Sharepoint. Saya seperti melihat saya bisa membuat apa saja (dengan batasan tertentu) dengan Drupal dan menghemat waktu untuk menulis baris-baris program dasar seperti membuat koneksi ke database, membuat form untuk create-update-delete, membuat halaman untuk menampilkannya.

Switch to our mobile site