(Anggap Saja) Taman

Posted by: on Jan 24, 2015 | 4 Comments

Tadi saya barusan menambahkan beberapa tanaman (entah apa namanya, saya ga tahu semua, hehehe). Rumput yang ditanam minggu lalu nampaknya hidup meskipun seminggu ini cuaca hujan terus. Sampai di sini saya menyadari satu hal kalau membuat taman itu luar biasa sulit. Pantas harga bikin taman itu mahal. Membuatnya hidup saja sudah susah apalagi dipadu dengan seni mengaturnya menjadi rapi dan indah. Pantas juga Bu Risma waktu itu marah besar ketika taman yang susah-susah dibangun habis diinjak-injak orang banyak.

Hobi Baru: Berkebun

Posted by: on Jan 19, 2015 | No Comments

Sepupu ipar saya yang psikolog pernah melakukan assessment singkat tentang saya dan saya dinilai begini: hal yang saya minati terlalu banyak sehingga tidak ada yang fokus. Ia memang benar by the way he he he…

Dan ini hobi baru saya: berkebun.

Ada tanah terbuka yang sempit di samping rumah yang selama ini dibiarkan. Rumput Gajah Mini sudah rusak ditumbuhi tanaman-tanaman liar. Cabe yang tumbuh tak sengaja berkembang subur sekali, gemuk ginuk ginuk tapi tak berbuah. Ada keengganan begitu deh turun merapikan. Mau panggil jasa tukang taman pasti mihil.

Sampai kami jalan-jalan ke Taman Buah Mekarsari akhir tahun kemarin. Dari sana beli bibit Mangga Manalagi dan Rambutan. Eh berhasil ternyata, sampai sekarang dua pohon itu bertahan hidup. Dari situ semangat berkebun mulai menyala. Saya bertahap setiap minggu membersihkan tanaman liar, mencangkuli rumput yang sudah rusak.

Akhir pekan kemarin, saya mulai menanaminya dengan bibit rumput. Rumput Gajah Mini juga sih. Terus saya beli tanaman hias dua puluh biji buat ditanam. Diatur sedemikian rupa sehingga harapannya nanti bisa seperti taman-taman di kantor-kantor atau rumah-rumah orang kaya begitu. Ternyata tanamannya masih kurang, pantesan jasa bikin taman itu mahal, sebijinya aja cukup mahal, hehehe…

Sayang kemarin tidak sempat memotretnya, keburu sore. Ini kalau berhasil, saya akan membuat taman bunga di depan rumah (sekarang juga tak terurus), terus bikin taman hidroponik, lalu bikin sistem pengairan otomatis yang bisa dikontrol dari email… halah…

GMail vs Inbox

Posted by: on Jan 14, 2015 | One Comment

Akhir-akhir ini Google merilis aplikasi baru untuk manajemen email yang bernama Inbox. Saya sudah mendapatkan undangannya dan mencobanya di web dan mengunduh aplikasinya di App Store. Seperti yang sudah-sudah, Google selalu mengesankan aplikasi ini sebagai terobosan yang revolusioner (jadi ingat Google Buzz dan Google+).

Kesan saya, Inbox sangat cocok buat yang bekerja setiap hari dengan email Google. Ini seperti Outlook di kantor yang bisa memilah-milah pekerjaan mana yang sudah mana yang belum. Tetapi karena saya tidak memakai GMail sebagai email utama untuk pekerjaan, saya merasa Inbox kurang cocok untuk saya. Saya lebih menyukai GMail konvensional.

Internet Cepat Buat Apa?

Posted by: on Jan 9, 2015 | 2 Comments

Semua netizen tentu kenal dengan pertanyaan legendaris ini, hehehe…

Baru semingguan ini, saya merasakan internet cepat sebenar-benarnya yang membuat saya tidak perlu berpikir panjang soal kuota, kecepatan, dan tetek bengek lainnya. Saya beruntung ternyata jalan depan rumah dilewati jaringan baru kabel First Media. Saya sama sekali tidak pernah berharap karena lokasi rumah yang Jakarta Selatan coret, lempar batu saja batunya sudah sampai Jawa Barat. Sampai sore-sore waktu beli Aqua galon, saya lihat ada sales First Media jualan di depan kantor kelurahan.

Tanpa berpikir panjang, saya langsung daftar paket internet dengan TV berlangganan. Lupakan Speedy yang layanannya ternyata juga memprihatinkan. Dan lupakan juga Indovision.

Saya mungkin norak ya, tapi kecepatan di atas 1 Mbps itu hanya bisa di kantor. Itupun sebagian besar diblok atas nama not-business-related. Jadi mengalami kecepatan 3 Mbps tanpa bayangan kuota habis itu luar biasa. Saya jadi bisa mengikuti kursus-kursus di Coursera, iTunes University, dan Youtube. Gudang ilmu pengetahuan yang nyaris tanpa batas.

Saya jadi mikir dibuat apa ya bandwidth nganggur yang ngga kepakai kalau ditinggal ngantor? Pasang robot forex barangkali, hihihi…

Tentang Gelombang

Posted by: on Jan 1, 2015 | 5 Comments

Saya selalu menyukai novel yang detail. Novel yang mampu menerbangkan imajinasi sehingga pembaca seolah-olah berada di waktu dan tempat si tokoh novel. Salah satu alasan saya menyukai seri novel Supernova karena detailnya. Mulai Ksatria Putri dan Bintang Jatuh (Diva), Akar (Bodhi), Petir (Etra), Partikel (Zarah Amala), dan terakhir Gelombang (Alfa), semua menunjukkan detail dan kedalaman riset penulis. Saya sengaja tidak mau menonton film Supernova yang baru itu karena tidak ingin merusak imajinasi saya.

Gelombang memikat saya sejak awal karena kedetailannya menggambarkan Sianjur Mula Mula, Karo. Saya beruntung pernah ikut tur Geotrek Indonesia menyusuri Danau Toba mulai dari ujung air terjun Sipiso-piso, menyusuri lembah pegunungan Sibayak-Sinabung, melihat tanah Karo dimana suku Batak berasal, lalu masuk pulau Samosir dari belakang, bukan menyeberang dari Parapat yang lebih populer. Ketika membaca Gelombang, saya serasa kembali ke tur itu dan merasa sangat akrab dengan deskripsi daerah Sianjur Mula Mula, tempat sang tokoh utama, Thomas Alfa Edison Sagala, berasal.

Di Gelombang ini, ketersambungan serial Supernova mulai jelas. Jika sebelumnya terkesan sebagai novel yang keterkaitannya cenderung dipaksakan, maka di Gelombang ini mulai jelas apa itu maksudnya Supernova. Tetapi saya malah tidak terlalu suka bagian utama ini. Seperti saya lebih menyukai kisah usaha warnet-nya Elektra di Petir, kisah karir fotografi wild life-nya Zarah di Partikel, saya lebih menyukai kisah sukses Alfa sebagai trader di Wallstreet. Bukan pencarian maksud mimpinya yang merupakan garis utama serial Supernova.

Tahun 2014 ini, minat baca saya menurun drastis, mungkin karena semakin susah menemukan novel yang cocok dengan selera saya. Novel-novel best seller sekarang ini sepertinya sedang tren ala ala Tere Liye atau Asma Nadia begitu. Andrea Hirata juga sepertinya tidak bisa membuat cerita di luar kisah Laskar Pelangi. Lagian saya juga jadi lebih suka baca kultwit dan twitwar, hal yang merusak kemampuan membaca buku.

*) Di ujung lembah nun jauh di sana, itulah Tanah Karo, tempat suku Batak bermula, tempat daerah Sianjur Mula-Mula selengkapnya ada di essay foto saya, Horas Medan!, di blog foto di sini.

Gagal Berangkat Tahun Depan

Posted by: on Dec 24, 2014 | 4 Comments

Barusan dapat kabar dari mbah kakung dan mbah putri-nya Zafran, kalau beliau berdua gagal masuk daftar untuk bisa berangkat haji tahun depan. Sedih sekali mendengarnya, lebih-lebih karena tidak bisa berbuat banyak. Ini karena Indonesia dipotong kuotanya 20% oleh pemerintah Arab Saudi. Saya lihat juga nomor porsi bapak dan ibu masih jauh dan memang kemungkinan besar baru angkat berangkat 2016.

Saya tahu, bapak dan ibu baru bisa berangkat di usia lanjut karena buat beliau berdua, kepentingan anak-anaknya di atas segalanya termasuk untuk pergi haji sekalipun. Saya melihat ketika saya selesai pendidikan, kemudian mendapat pekerjaan, bapak dan ibu berusaha menyelesaikan hutang-hutangnya, kemudian baru mencicil untuk biaya haji. Tahun 2010 baru mendaftarkan diri untuk pergi haji, waktu antrian sudah mulai membludak.

Sejak adanya pembiayaan haji oleh Bank Syariah, antrian memang seperti tak terkendali. Saya waktu melihat perkiraan berangkat di provinsi DKI Jakarta, jika saya mendaftar hari ini, saya baru bisa berangkat tahun 2028 atau 14 tahun lagi. Syarat untuk mendapatkan nomor porsi adalah memiliki tabungan haji minimal 25 juta rupiah.

Saya sedang menimbang-nimbang jika 25 juta itu diinvestasikan, bisa nggak yah sepuluh tahun lagi untuk mendaftar haji plus. Saya juga ragu apakah biaya haji 14 tahun lagi masih 40 jutaan. Jika membengkak jadi 80 juta? Berapa sisa yang harus dilunasi ketika akan berangkat? Nampaknya opsi investasi untuk bisa ikut haji plus jadi semakin menarik di kepala saya.

Labaik Allahumma Labaik!

Machine Learning, Kecerdasan Buatan

Posted by: on Dec 15, 2014 | No Comments

Isteri saya seorang akuntan yang setiap hari memelototi jutaan angka-angka kecil di spreadsheet untuk mengontrol budget dan spending perusahaan. Setelah Zafran lahir, saya bertanya apakah ada yang bisa saya bantu untuk mempercepat pekerjaannya supaya tidak sering lembur sehingga Zafran bisa ketemu bundanya setiap hari. Sesuatu yang berulang, biasanya bisa dibantu oleh komputer.

Ternyata ada. Setiap bulan ada ribuan daftar transaksi yang harus dipilah-pilah berdasarkan nomor kontrak dan itu harus dilakukan satu per satu. Biasanya makan waktu tiga hari lembur untuk menyelesaikan itu. Saya lihat sekilas memang nampak tidak terpola, sehingga sulit untuk diotomatisasi sistem dan memerlukan expert judgement dari si pengontrol anggaran.

Demi anak, saya memeras otak dan berusaha mengumpulkan segala daya upaya. The power of kepepet itu memang hebat ya. Saya berusaha mengingat-ingat konsep kecerdasan buatan yang dulu kuliahnya termasuk saya benci karena penuh dengan notasi Matematika (siapa yang ingat eigen value, kovarian, naive bayes, hahaha…)

Kembali ke spreadsheet isteri, jadi memang ada polanya jika saya bisa memberikan set training data kepada si sistem untuk dipelajari. Jadi saya membuat sebuah classifier sederhana untuk mengelompokkan data transaksi itu. Semakin banyak informasi yang dipelajari si sistem, harapannya dia akan semakin cerdas. Itu konsepnya.

Implementasinya menggunakan macro Excel. Setiap bulan, data-data yang tidak dikenali sistem akan dimasukkan ke training set untuk dipelajari si sistem. Bulan depan, seharusnya dia sudah mengenali itu. Setelah memproses data tiga bulan pertama, sistem berhasil mengelompokkan hingga 75% data. Tidak sempurna sih, tapi itu bisa membantu pekerjaan yang bisa hingga tiga hari menjadi dua jam saja. Setengah hari laporan bisa jadi. Dan Zafran akan gembira, seperti Ayahnya, hehehe…

PS: Textbook acuan saya, Machine Learning: Hands-on for Developers and Technical Professionals.

Switch to our mobile site