Machine Learning, Kecerdasan Buatan

Posted by: on Dec 15, 2014 | No Comments

Isteri saya seorang akuntan yang setiap hari memelototi jutaan angka-angka kecil di spreadsheet untuk mengontrol budget dan spending perusahaan. Setelah Zafran lahir, saya bertanya apakah ada yang bisa saya bantu untuk mempercepat pekerjaannya supaya tidak sering lembur sehingga Zafran bisa ketemu bundanya setiap hari. Sesuatu yang berulang, biasanya bisa dibantu oleh komputer.

Ternyata ada. Setiap bulan ada ribuan daftar transaksi yang harus dipilah-pilah berdasarkan nomor kontrak dan itu harus dilakukan satu per satu. Biasanya makan waktu tiga hari lembur untuk menyelesaikan itu. Saya lihat sekilas memang nampak tidak terpola, sehingga sulit untuk diotomatisasi sistem dan memerlukan expert judgement dari si pengontrol anggaran.

Demi anak, saya memeras otak dan berusaha mengumpulkan segala daya upaya. The power of kepepet itu memang hebat ya. Saya berusaha mengingat-ingat konsep kecerdasan buatan yang dulu kuliahnya termasuk saya benci karena penuh dengan notasi Matematika (siapa yang ingat eigen value, kovarian, naive bayes, hahaha…)

Kembali ke spreadsheet isteri, jadi memang ada polanya jika saya bisa memberikan set training data kepada si sistem untuk dipelajari. Jadi saya membuat sebuah classifier sederhana untuk mengelompokkan data transaksi itu. Semakin banyak informasi yang dipelajari si sistem, harapannya dia akan semakin cerdas. Itu konsepnya.

Implementasinya menggunakan macro Excel. Setiap bulan, data-data yang tidak dikenali sistem akan dimasukkan ke training set untuk dipelajari si sistem. Bulan depan, seharusnya dia sudah mengenali itu. Setelah memproses data tiga bulan pertama, sistem berhasil mengelompokkan hingga 75% data. Tidak sempurna sih, tapi itu bisa membantu pekerjaan yang bisa hingga tiga hari menjadi dua jam saja. Setengah hari laporan bisa jadi. Dan Zafran akan gembira, seperti Ayahnya, hehehe…

PS: Textbook acuan saya, Machine Learning: Hands-on for Developers and Technical Professionals.

Mengerti, Cuma Belum Bisa Mengungkapkan

Posted by: on Dec 12, 2014 | No Comments

Sabtu kemarin, saya dan isteri pergi keluar mencari weekend banking karena ada sesuatu yang mendesak. Supaya tidak terlalu lama meninggalkan Zafran, kami naik sepeda motor. Jangan harap bisa ke suatu tempat lalu balik lagi di rumah dalam waktu dua jam kalau keluar naik mobil, apalagi tujuan kami adalah Mal Pondok Indah, tempat bank-bank membuka kantor cabangnya di akhir pekan.

Di jalan, ada insiden yang membuat kami spontan beristighfar. Ada pemotor, sekeluarga nampaknya, ayah mengendarai motor, ibu di belakang dan seorang anak yang masih kecil di depan. Ayah sedang marah nampaknya, ia ngomel-ngomel sambil memukul-mukul helm ibu di belakang. Entah apa yang dilakukan Ibu sehingga Ayah sampai muntab sedemikian rupa. Apakah Ayah tidak memikirkan perasaan Anak yang diam di depan? Apakah Ayah tidak menganggapnya ada?

Semoga hal-hal begitu dijauhkan dari keluarga kami!

Di rumah, saya yakin Zafran sudah mengerti apa saja yang sedang terjadi dan kami lakukan, hanya saja ia tidak bisa mengungkapkan. Lhawong sejak di dalam kandungan saja ia sudah bisa diajak berkomunikasi (dengan menendang-nendang perut ibunya), apalagi kalau sudah lahir dan terus tumbuh berkembang seperti sekarang. Ia cuma belum bisa berkomunikasi dengan bahasa orang dewasa saja.

Ia bisa ngambek kalau saya pulang dari dinas lapangan. Ia bisa ngambek kalau kami pulang kerja terlalu malam. Cara yang ditunjukkannya adalah tidak mau tertawa seceria biasanya atau bercerita ngoceh ngalor ngidul (dengan bahasa ia sendiri tentu saja). Karena itu ibunya selalu minta izin atau pamitan dulu kalau mau ninggal dia. Kalau pulang telat, nelpon Zafran buat bilang kalau akan pulang telat. Kami percaya bahwa ia sudah mengerti dan ia berhak tahu apa yang sedang dilakukan oleh ayah bundanya.

Dan memang benar kok, begitu kami muncul di depan pintu, Zafran menyambut dengan senyum ceria sambil menandak-nandak minta digendong.

ChartNexus Error Download Daily Data di Windows 8

Posted by: on Dec 9, 2014 | No Comments

Notebook kantor saya baru diganti jadi Lenovo T440s touch screen dengan sistem operasi Windows 8.1. Salah satu efeknya adalah Chart Nexus yang saya pakai untuk analisis teknikal saham tidak mau update data. Macet dengan pesan “Retrying”. Awalnya saya pikir karena proxy internet kantor ngeblok situs update data Chart Nexus. Tetapi pas saya coba saya pakai koneksi handphone, tetap juga tidak bisa update.

Error yang muncul adalah saat download data, muncul pesan error “Exception occured.” Error yang sama sekali tidak jelas!

Googling, saya menemukan petunjuk yang tidak persis, tapi soal mengubah lokasi download data. Nah. Saya baru ingat kalau Windows 8.1 ini sok-sok-an secure ala ala Linux dengan memproteksi drive C-nya sehingga tidak bisa ditulisi oleh pengguna biasa. Akhirnya setelah folder tempat Chart Nexus menyimpan update data saya ubah permission-nya menjadi writable, Chart Nexus bisa update lagi — sehingga saya bisa posting artikel barusan.

Kutipan di web tersebut adalah:

[Case B]
You are experiencing with data installation issue:

  1. Installing market data repeatedly, but stock charts are still blank or market data shown as incomplete, or
  2. Market data is not updated properly each time.

Resolution steps for Case B:

  1. Go to Menu Help => Change Data Folder, and click “Yes” to continue.
  2. Select your data folder (e.g. C:/Program Files/ChartNexus or installation folder) since 2.4.1. You may also choose a new folder, and you will need to install data again.
  3. Restart ChartNexus.

Dinamika Pasar

Posted by: on Dec 9, 2014 | No Comments

Ini adalah chart-nya SSIA, salah satu watchlist saham yang saya amati. Saya punya beberapa lembar di sana dan sebenarnya berharap jangan naik dulu karena menurut saya termasuk saham bagus yang sedang murah.

Entah apa alasannya (saya belum baca berita), tiba-tiba dia loncat naik dan saya harus menghitung lagi apakah ini masih termasuk murah atau saya harus cari saham lain yang masih murah.

Tapi itulah dinamika pasar saham. Saham cenderung datar atau diam selama berbulan-bulan, lalu loncat naik atau meluncur turun dalam beberapa hari saja, lalu datar dan diam lagi. Kapan terjadinya, investor mikro seperti saya tidak tahu kapan investor besar akan datang atau akan pergi. Makanya kalau mau trading, harus benar-benar punya waktu untuk mengamati gerak saham tiap hari.

Energi Alternatif dan BBM

Posted by: on Nov 25, 2014 | One Comment

Hyak, BBM naik dan seperti biasa muncul berita-berita peneliti yang berhasil membuat energi alternatif, dari yang ilmiah sampai yang gak ilmiah. Sebetulnya energi-energi itu bisa dipakai dalam kehidupan sehari-hari ga sih?

Hal yang sering terlupakan adalah bahwa setiap pembangkitan energi memerlukan biaya. Sejak saya SMA pun, guru Kimia saya sudah bilang bahwa air bisa menjadi energi. Komponen air H2O, ketika diuraikan menjadi 2H2 + O2 sambil melepaskan energi. Persoalannya adalah apakah energi yang dilepaskan lebih besar daripada usaha yang dikeluarkan untuk menguraikan air menjadi hidrogen dan oksigen.

Merujuk pada konsep tersebut, akhirnya nanti kita dapatkan bahwa ternyata bahan bakar fosil lah yang paling murah untuk menghasilkan energi — setidaknya sampai saat ini.

Saya pernah membaca tentang energi matahari (solar cell). Negara kita kan negara khatulistiwa, sinar matahari ada sepanjang hari sepanjang tahun, kenapa energi ini tidak populer? Lalu saya menghitung-hitung berapa biaya yang dibutuhkan untuk investasi sel surya (solar cell), aki berkapasitas besar, kabel-kabel, lalu saya bandingkan dengan listrik PLN. Ternyata hasilnya masih lebih murah listrik PLN. Jadi meskipun sinar mataharinya gratis, ternyata untuk mengubahnya menjadi energi listrik yang butuh biaya. Seperti air itu.

Kembali ke soal BBM, cadangan minyak kita semakin tipis. Itu fakta, bukan imajinasi. Lima tahun lagi mungkin saya tidak bekerja di perusahaan minyak lagi karena produksi saat ini sudah hampir setengah lebih kecil daripada waktu saya masuk dulu. Jadi jika cadangan minyak semakin habis, wajar kan kalau harganya semakin mahal? Adalah sangat tidak sehat untuk mensubsidinya karena subsidi akan semakin membengkak. Tidak perlu masuk hitungan detail ala pakar dah ahli BBM. Seharusnya dari logika sederhana begini saja sudah membuat kita bisa memahami keputusan pemerintah menaikkan harga BBM.

Tidak Pakai Kartu

Posted by: on Nov 20, 2014 | No Comments

Kebetulan saya berada di forum ini waktu Walikota Surabaya, Ibu Risma, memaparkan perkembangan e-government di kota Surabaya. Saking kagumnya, saya standing ovation untuk beliau dan berusaha bersalaman waktu beliau keluar ruangan. Di catatan saya, ada belasan aplikasi yang dibuat untuk menjalankan roda pemerintahan kota Surabaya.

Banyak hal yang mengagumkan, tapi yang paling saya kagumi adalah bagaimana Bu Risma mengubah kultur gaptek menjadi kultur internet, mengubah birokrasi menjadi birokrasi yang melayani, yang memangkas “rezeki” banyak orang dan banyak kepentingan. Urusan bikin software e-e-an itu gampang, tapi yang berat adalah membuatnya dipakai dan membawa banyak manfaat.

Ide briliannya adalah tentang kartu. Semua tertawa waktu beliau menohok masalah kartu. Di sini beliau selangkah lebih maju daripada Pak Jokowi yang kebanyakan kartu ini kartu itu. Nomor ID-nya tetap pakai nomor KTP, dan “kartu” digantikan sidik jari yang menghemat biaya cetak kartu. Ngomong soal penghematan, dari e-gov ini bisa dihemat bermiliar-miliar, dan bisa buat bikin taman-taman cantik, bangun box culvert, dll.

Saya berharap tidak ada politisi yang akan mengusung Bu Risma menjadi apa gitu. Biarlah Bu Risma di Surabaya saja. Karena ketika politisi ikut campur, media ikut campur, akan ada banyak kepentingan yang ikut campur, kepentingan rakyat akhirnya terpinggirkan.

Berlangganan Speedy

Posted by: on Nov 1, 2014 | 3 Comments

Saya sudah pakai layanan internet AHA cukup lama, mungkin sudah lima tahunan kali ya. Selama setahun terakhir, performance-nya sudah menurun drastis sejak ia pertama kali diiklankan. Cuma saya masih menoleransinya karena malas pindah layanan. Sampai akhirnya pulsa kuota internet AHA saya dihabisi dalam dua hari. Saya biasanya pakai paket 100 ribu yang berkuota 6 GB sebulan (jangan lihat kuota bonus, itu hanya akal-akalan marketing), tetapi kali itu saya tidak bisa register ulang. Jadi saya register ke paket 2,5 GB yang 50 ribu itu. Dan paket itu habis kuota dalam dua hari.

Sampai saya baca berita bahwa Bakrie Telecom terancam bangkrut. Allrite, it’s time to move.

Sempat saya berpikir buat pindah ke layanan internet modem seperti Bolt. Tetapi saya tahu ini tidak akan banyak berbeda. Internet modem 3G/4G memang sangat cepat, tetapi juga sangat tidak stabil, sering putus nyambung kayak orang pacaran tujuh tahun. Pilihan berikutnya adalah layanan broadband, tetapi mihil bingits. Fastnet tidak akan bisa menjangkau rumah saya yang-DKI-tapi-kalau-lempar-batu-batunya-sampai-Depok.

Saya pernah membaca komentar di Facebook, bahwa internet itu hanya dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu kecepatan, kestabilan, dan harga. Sayangnya, di Indonesia, tiga faktor ini hubungannya masih saling trade off. Cepat dan murah (modem 3G seperti AHA, Bolt, XL, Smartfren, dll), pasti tidak akan stabil. Putus nyambung. Cepat dan stabil (real broadband), harganya amit-amit mihil bingitss. Stabil dan murah, kecepatannya ga akan bisa kencang. Kalaupun ada yang bisa ketiganya (cepat, stabil, dan murah), akan ada halangan faktor berikutnya: yaitu daya jangkau (contohnya Fastnet).

Untuk internet di rumah, saya memilih yang stabil dan murah. Tidak kencang tapi cukup nyaman buat browsing-browsing. Saya sempat geli sendiri kenapa saya tidak pasang telepon rumah dan Speedy saja?

Akhirnya saya daftar melalui iklan di OLX, daftar paket 1 Mbps yang 125 ribu. Mau daftar yang paket 2Mbs, sayang infrastruktur kabel telepon di kelurahan belum memenuhi syarat. Respon dari Telkom di luar dugaan cukup cepat. Hari Kamis saya daftar, hari Sabtu ada petugas datang ngolor kabel dari tiang telepon terdekat. Lalu hari Senin malam ada petugas lagi bawa modem ADSL TP-LINK buat setup internet dan malam itu juga internetnya menyala.

Performance? Sesuai ekspektasi. Saya memang tidak mengharapkan bisa mendapatkan kecepatan downstream maksimal 1 Mbps. Cukuplah nyaman buat buka Path, Twitter, dan Facebook. Dan yang penting lagi, unlimited sebenar-benarnya tanpa dibatasi kuota. Kalau memerlukan download, saya download di Raspberry-Pi, ditinggal semalaman, biasanya besok paginya download sudah selesai.

Switch to our mobile site