Tidak Pakai Kartu

Posted by: on Nov 20, 2014 | No Comments

Kebetulan saya berada di forum ini waktu Walikota Surabaya, Ibu Risma, memaparkan perkembangan e-government di kota Surabaya. Saking kagumnya, saya standing ovation untuk beliau dan berusaha bersalaman waktu beliau keluar ruangan. Di catatan saya, ada belasan aplikasi yang dibuat untuk menjalankan roda pemerintahan kota Surabaya.

Banyak hal yang mengagumkan, tapi yang paling saya kagumi adalah bagaimana Bu Risma mengubah kultur gaptek menjadi kultur internet, mengubah birokrasi menjadi birokrasi yang melayani, yang memangkas “rezeki” banyak orang dan banyak kepentingan. Urusan bikin software e-e-an itu gampang, tapi yang berat adalah membuatnya dipakai dan membawa banyak manfaat.

Ide briliannya adalah tentang kartu. Semua tertawa waktu beliau menohok masalah kartu. Di sini beliau selangkah lebih maju daripada Pak Jokowi yang kebanyakan kartu ini kartu itu. Nomor ID-nya tetap pakai nomor KTP, dan “kartu” digantikan sidik jari yang menghemat biaya cetak kartu. Ngomong soal penghematan, dari e-gov ini bisa dihemat bermiliar-miliar, dan bisa buat bikin taman-taman cantik, bangun box culvert, dll.

Saya berharap tidak ada politisi yang akan mengusung Bu Risma menjadi apa gitu. Biarlah Bu Risma di Surabaya saja. Karena ketika politisi ikut campur, media ikut campur, akan ada banyak kepentingan yang ikut campur, kepentingan rakyat akhirnya terpinggirkan.

Berlangganan Speedy

Posted by: on Nov 1, 2014 | 3 Comments

Saya sudah pakai layanan internet AHA cukup lama, mungkin sudah lima tahunan kali ya. Selama setahun terakhir, performance-nya sudah menurun drastis sejak ia pertama kali diiklankan. Cuma saya masih menoleransinya karena malas pindah layanan. Sampai akhirnya pulsa kuota internet AHA saya dihabisi dalam dua hari. Saya biasanya pakai paket 100 ribu yang berkuota 6 GB sebulan (jangan lihat kuota bonus, itu hanya akal-akalan marketing), tetapi kali itu saya tidak bisa register ulang. Jadi saya register ke paket 2,5 GB yang 50 ribu itu. Dan paket itu habis kuota dalam dua hari.

Sampai saya baca berita bahwa Bakrie Telecom terancam bangkrut. Allrite, it’s time to move.

Sempat saya berpikir buat pindah ke layanan internet modem seperti Bolt. Tetapi saya tahu ini tidak akan banyak berbeda. Internet modem 3G/4G memang sangat cepat, tetapi juga sangat tidak stabil, sering putus nyambung kayak orang pacaran tujuh tahun. Pilihan berikutnya adalah layanan broadband, tetapi mihil bingits. Fastnet tidak akan bisa menjangkau rumah saya yang-DKI-tapi-kalau-lempar-batu-batunya-sampai-Depok.

Saya pernah membaca komentar di Facebook, bahwa internet itu hanya dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu kecepatan, kestabilan, dan harga. Sayangnya, di Indonesia, tiga faktor ini hubungannya masih saling trade off. Cepat dan murah (modem 3G seperti AHA, Bolt, XL, Smartfren, dll), pasti tidak akan stabil. Putus nyambung. Cepat dan stabil (real broadband), harganya amit-amit mihil bingitss. Stabil dan murah, kecepatannya ga akan bisa kencang. Kalaupun ada yang bisa ketiganya (cepat, stabil, dan murah), akan ada halangan faktor berikutnya: yaitu daya jangkau (contohnya Fastnet).

Untuk internet di rumah, saya memilih yang stabil dan murah. Tidak kencang tapi cukup nyaman buat browsing-browsing. Saya sempat geli sendiri kenapa saya tidak pasang telepon rumah dan Speedy saja?

Akhirnya saya daftar melalui iklan di OLX, daftar paket 1 Mbps yang 125 ribu. Mau daftar yang paket 2Mbs, sayang infrastruktur kabel telepon di kelurahan belum memenuhi syarat. Respon dari Telkom di luar dugaan cukup cepat. Hari Kamis saya daftar, hari Sabtu ada petugas datang ngolor kabel dari tiang telepon terdekat. Lalu hari Senin malam ada petugas lagi bawa modem ADSL TP-LINK buat setup internet dan malam itu juga internetnya menyala.

Performance? Sesuai ekspektasi. Saya memang tidak mengharapkan bisa mendapatkan kecepatan downstream maksimal 1 Mbps. Cukuplah nyaman buat buka Path, Twitter, dan Facebook. Dan yang penting lagi, unlimited sebenar-benarnya tanpa dibatasi kuota. Kalau memerlukan download, saya download di Raspberry-Pi, ditinggal semalaman, biasanya besok paginya download sudah selesai.

Horee, Akhirnya Mau Naik Stroller

Posted by: on Oct 27, 2014 | One Comment

Hari Minggu kemarin, untuk pertama kalinya Zafran ikut berbelanja bulanan di Carrefour Lebak Bulus. Ini juga karena ibunya memaksa untuk ikut meskipun badan sedang tidak fit — biasanya saya sendiri yang belanja berbekal catatan. Jadilah semua dibawa.

Sebelum-sebelumnya, Zafran tidak pernah mau ditaruh di stroller lama-lama. Selama pengalaman travel-nya ke rumah sakit buat imunisasi, biasanya stroller berubah fungsi jadi tempat naruh tas isi pampers cadangan. Tetapi kemarin untuk pertama kalinya, ia santai sekali duduk di stroller sambil tengok kiri kanan lihat keramaian keriuhan orang-orang yang habis gajian pada belanja. Mungkin karena dia sudah bisa tengkurap juga kali ya. Dia baru nangis pas sudah ngantuk pengen tidur atau haus.

Dari Hati

Posted by: on Oct 23, 2014 | 3 Comments

“Masih eksis mas?”

Begitu kata rekan sebelah meja saya ketika menemukan saya sedang menulis blog. Saya tahu maksud dia, jaman sekarang lebih jamak menulis status di Facebook, Twitter, atau Path (dan ask.fm mungkin?).

“Masih, ya begini ini kalau dari hati, bukan karena ingin mendapat pembaca,” jawab saya. Mungkin kalau malah terlalu banyak pembaca, sudah berhenti menulis sejak dulu.

Krenteg, bahasa Jawa-nya. Keinginan yang tidak terbendung. Kalau cuma ingin, mungkin bisa ga jadi tulisan. Apalagi kalau diharuskan menulis, bisa jadi konsistensi menulis itu tidak bertahan lama. Saya bilang ke atasan saya ketika berdiskusi tentang knowledge management system yang baik, kita tidak memaksa orang untuk membagi pengetahuannya. Kita harus bisa membuat orang menulis karena ia ingin menulis, karena ia ingin berbagi, dengan dorongan dari dalam hati, bukan karena diharuskan, bukan karena insentif sesaat. Hasilnya akan jauh lebih berkualitas.

Kemana Arah IHSG?

Posted by: on Oct 22, 2014 | No Comments

Yuk ah, bahas IHSG lagi mumpung sentimen dalam negerinya banyak, pasca pelantikan presiden dan isu kenaikan harga BBM.

Teorinya — yang dibahas di buku-buku dan seminar-seminar mahal itu — setiap swing trader harus memiliki trading plan. Kalau ia adalah trader harian, maka PR buatnya setiap hari adalah menentukan potensi arah pasar besok, di titik mana ia masuk, di titik mana ia harus keluar jual rugi ketika pasar bergerak melawan rencananya, lalu di titik mana ia merealisasikan keuntungan sekaligus berapa banyak uang yang harus ia belanjakan. Dengan begitu, idealnya trader akan terbebas dari pertanyaan tebak-tebak manggis, kemana arah IHSG? Karena kemanapun arahnya, ia sudah punya rencananya.

Praktiknya, jauh dari teori. Sejauh pengalaman saya, saya tidak yakin apakah rencana saya ini betul. Jangan-jangan harga sudah ketinggian, istilahnya sudah ketinggalan kereta. Seringkali, harga bergerak lebih cepat dari kemampuan saya bereaksi. Terlalu cepat. Hitungannya paling menitan saja. Dalam sekejap, harga akan jatuh melewati titik dimana saya harus keluar. Entah karena saya sibuk dipanggil bos atau sedang fokus mengerjakan pekerjaan. Memelototi chart, adalah wajib di sini.

Pada akhirnya saya merasa bahwa swing trading tidak cocok dengan saya yang mudah galau. Terlalu banyak perhatian yang harus dicurahkan untuk melakukan swing trading. Dan dengan modal kecil (dibawah sepuluh juta rupiah), keuntungan y ang didapat rasanya tidak sebanding dengan usaha yang harus dilakukan. Apalagi jika keuntungan itu berikutnya dihajar oleh kerugian yang menyusul di sesi trading berikutnya. Pak pok hehehe…

Jadi sekarang saya menjadi investor, atau long time trader. Very long time trader. Saya memanjangkan waktu hingga lima belas tahun — yak, untuk dana Zafran masuk kuliah kelak. Setiap bulan, dari gaji yang disisihkan, saya beli satu saham berharga murah, sehingga saya bisa beli satu lot saja dengan ratusan ribu rupiah. Saya hanya melakukan timing ala swing trader waktu saham turun, menebak harga ada di titik terendah sebelum memantul ke atas lagi. Saya tidak punya niat untuk menjual kembali untuk mengambil keuntungan/kerugian. Saya akan menjualnya lima belas tahun lagi.

Sehingga yang justru saya cari adalah saham-saham yang sedang terpuruk atau tren turun. Saham batubara, saham properti, apalagi ya? Saya mengamati para konglomerat itu membeli perusahaan waktu mereka sedang bangkrut. Sandiaga Uno membeli Mandala Air waktu bangkrut (meskipun sekarang tambah bangkrut, tapi siapa tahu dua puluh tahun lagi?). Inter Milan dibeli Erick Tohir karena kondisinya sudah mau gulung tikar. Jadi, untuk waktu yang panjang, saya sebaiknya beli saham yang tidak berada di siklus puncak, tetapi siklus bawah yang berpotensi untuk naik.

Itu teorinya, hehehe…

E-Learning Rakyat dan Onno W Purbo

Posted by: on Oct 10, 2014 | 5 Comments

Jika ada kuliah gratis dari universitas-universitas luar negeri terkenal oleh Coursera.org, ternyata juga ada produk lokal tentang e-learning, yaitu eLearning Rakyat. Isinya adalah materi kuliah berbagai topik yang bisa diikuti secara free.

Onno W Purbo still rocks! Itu kesan saya waktu melihat web ini. Beliau masih konsisten bergerak di bidang open source dan penyebaran ilmu secara terbuka. Mungkin bisa dikatakan beliau adalah “guru bangsa” bidang telekomunikasi dan informatika Indonesia — meskipun lebih berat ke sisi telco-nya. Ide-idenya soal RT/RW net ketika internet masih menjadi barang yang sangat mewah menurut saya merupakan sebuah milestone perkembangan dunia telematika Indonesia. Sampai sekarang beliau masih “berkelahi” dengan pemerintah soal ide barunya, open BTS.

Wacana santer mengenai dukungan supaya beliau menjadi Menkominfo tentu sangat beralasan. Dengan power, cita-cita dan visi itu bisa menjadi kenyataan. Cyberlearning seperti ini bisa dikembangkan lebih luas lagi. Sayangnya beliau menolak.

Saya sedikit banyak bisa mengerti. Orang yang biasa di posisi bersebarangan, tentu sulit ketika tiba-tiba ada di posisi yang biasa dia serang. Bicara tentang pemerintah Indonesia, khususnya kementerian, adalah bicara mengenai benturan kepentingan, perang politik yang tidak ada habis-habisnya. Sebelum sampai ke perwujudan ide-ide, ada jalan panjang yang harus ditempuh untuk menuju ke sana. Dan berbagai kompromi harus dilakukan, hingga ide-ide yang idealis itu harus terkikis oleh kompromi.

Overrated

Posted by: on Oct 4, 2014 | One Comment

Alias lebay, jika melihat suasana politik Indonesia. Masing-masing pihak memainkan drama sinetron. Ya yang demokrasi telah mati lah, ya yang bilang penyelamatan Indonesia lah. Saya tidak yakin bahwa partai-partai itu tulus berjuang untuk rakyat, adanya kepentingan golongan yang dibungkus dengan kepentingan rakyat.

Waktu memilih pileg dan pilpres kemarin, ekspektasi saya tidak tinggi-tinggi amat. Banyak orang yang mengelu-elukan Prabowo dan Jokowi seperti manusia setengah dewa — mereka akan kecewa. Jokowi, biar bagaimanapun juga adalah seorang politikus. Saya memilih beliau karena saya menilai beliau sedikit lebih baik dari Prabowo. Tetapi urusan menyelesaikan permasalahan bangsa, berkali-kali saya katakan, beliau sendiri tak akan mampu menjadi sosok Sang Ratu Adil. Terlalu banyak kepentingan yang bermain di negeri ini. Program-program pro rakyat akan tersandera kepentingan golongan yang sudah mapan selama bertahun-tahun.

Jadi harapan saya sih ga muluk-muluk: suasana politik yang stabil, ekonomi yang stabil. Ga usah ada krisis ekonomi lagi.

Pasca pelantikan anggota DPR, indeks IHSG terus melorot. Buat saya ini adalah saatnya menambah muatan, khususnya buat investor jangka panjang. IHSG sendiri, setelah menyentuk puncak tertinggi sepanjang masa, memang rawan jatuh. Saya sudah berhenti buat trading jangka pendek karena merasa usaha untuk menentukan masuk-keluar pasar tidak sebanding dengan hasilnya. Ya maklum, modal cuma ratusan ribu rupiah saja hehehe…

Mudah-mudahan kabinet Jokowi-JK memiliki tim ekonomi sekuat kabinet SBY-Budiono. Hal terhebat dari Presiden SBY adalah tim ekonominya yang sangat kuat. Ekonomi yang stabil diperlukan untuk menjaga nilai investasi agar terus bertumbuh.

Switch to our mobile site